
Epsd. 53. Seharusnya aku tak meninggalkannya
Bukan tak ikhlas melepaskan ...
dan membiarkan semua kenang hanyut begitu saja.
Tapi, untuk saat ini dan mungkin selamanya
memilih menyimpanmu di suatu sisi lain dalam hati
masih perlu dilakukan.
Karena darimu,
aku melihat Indah dan sakit sebagai pelajaran di waktu yang sama.
"Bukannya tadi lu yang ngajak makan gudeg, giliran sudah sampai malah ngajakin pulang. Hati nuranimu dimana Cherry... tidakkah ada rasa empati serta belas kasih pada perutku yang keroncongan ini?" gerutu Vino sepanjang perjalanan. Sayangnya Cherry tak mendengarkan ucapan Vino, karena Cherry sedang memikirkan sosok Lucas ditempat tadi.
"Terus kalau begini, gimana dengan nasib perutku? siapa yang akan bertanggung jawab?" gerutu Vino lagi.
"Cherr.. Cherry.. lu dengerin ga sih daritadi gue ngomong apa?" tanya Vino tak mendapatkan jawaban. Vino lalu meminggirkan motor maticnya ke pinggir jalan.
"Cherr.. lu nangis?" tanya Vino melihat Cherry meneteskan air mata.
"Kenapa nasibku seperti ini.... hiks.. hiks.. ibu.. ayah.. andai kalian masih disini hidupku tak akan serumit ini.. hiks.. hiks.. hiks.." tangis Cherry.
Melihat Cherry sedih seperti ini, Vino merasa iba.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega.." ucap Vino sembari menarik kepala Cherry ke dada bidangnya.
"Seharusnya aku tak meninggalkannya, tak seharusnya aku memenuhi permintaan mbak Reta, seharusnya aku tetap bertahan di samping om," ucap Cherry sangat kesal. Rupanya tanpa Cherry dan Vino ketahui seseorang sudah mengikutinya.
"Cherry...," panggil seseorang dengan suara yang sangat familiar di telinganya.
Cherry menjauhkan tubuhnya dari Vino, begitupun dengan Vino dia melepaskan pelukannya. Mereka berdua sama-sama menoleh kearah sumber suara.
Dibawah sinar lampu temaram, pria bertubuh atletis dengan baju cassualnya tersenyum kearah Cherry.
"Cherry.. aku datang untuk menjemputmu" ucap pria tersebut.
"O-- om..," panggil Cherry lirih.
Lucas melangkahkan kaki mendekati Cherry yang masih berdiri disana, mengulurkan tangannya menangkap jemari lentik milik Cherry. Sungguh indah pemandangan malam ini, dua insan yang terpisah bersatu kembali.
"Aku sangat merindukanmu, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku" ucap Lucas penuh haru.
Cherry tak mampu lagi berkata-kata, dia hanya bisa merasakan bahagia karena pada akhirnya kerinduan yang selalu menyiksa hatinya hilang sudah. Tanpa memikirkan rasa malunya lagi Cherry langsung memeluk Lucas dengan erat. Menangis dalam peluknya adalah hal terbaik.
"Cherry Berry strawberry mangga manalagi jangan bandel lagi, aku akan menghukummu lebih berat dari ini" ucap Lucas mencairkan suasana agar Cherry tak menangis lagi.
"Maafkan aku om... maafkan aku.. hiks.. hiks.. hiks..," ucap Cherry dengan suara parau.
__ADS_1
"Berjanjilah kau tak akan melakukan hal bodoh ini lagi. Biarlah aku dipenjara asalkan kau tak pergi dariku" sahut Lucas.
"Ehem!" Vino sengaja berdehem mengganggu suasana romantis.
"Napa lu?" tanya Brandon.
"Kejombloanku benar-benar diuji" jawab Vino.
"Salah sendiri jomblo" ledek Brandon.
Vino menoleh kearah Brandon, "Eh, siapa yang jomblo? gue punya cewek kali..,".
"Kan situ sendiri tadi yang bilang kalau jomblo, napa sekarang jadi protes" protes Brandon tak mau dikalahkan.
"Gue ga bilang jomblo, salah denger telinga elu" sahut Vino.
"Eh.. ngajak gelut nih orang"
"Siapa takut.. gue juara beladiri tingkat RT kalau cuma ngadepin orang kayak elu mah kecil" tantang Vino kepada Brandon.
"Hahaha.. cuma tingkat RT, gue nih tingkat international, gue ladenin orang songong kayak elu!" sahut Brandon.
"Oke, siapa takut" Vino sudah bersiap memasang kuda-kuda.
Mendengar kegaduhan Brandon dan Vino membuat Lucas dan Cherry terganggu, bahkan Cherry sudah mempersiapkan sesuatu jika diantara keduanya mengalami tumpah darah. Agak lebay memang tapi inilah yang ada dipikiran Cherry.
"Eits.. mau ngapain?" tanya Lucas menarik tangan istrinya.
Pletak!
Pletak!
"Sakit Cherr..." keluh Vino.
"Bocah ingusan ga takut kualat lu!" ucap Brandon.
"Kalian bisa ga sih bersikap dewasa ga kayak bocah!" protes Cherry.
"Om Branded yang lebih tua kudu bisa nahan emosi, jangan malah ikut-ikutan ga waras" omel Cherry kepada Brandon.
"Kamu Vin.., kamu kan memang jomblo harusnya menyadari bukannya marah" omel Cherry kepada Vino gantian.
Eh dasar si mulut bar-bar, enteng banget ngomongnya yak...
"Om.. aku lapar, kita makan aja yuk.." Cherry berbalik mengajak Lucas dan meninggalkan Vino dan Brandon berduaan.
"Kenapa kita jadi yang salah ya?" gerutu Brandon.
"Si echer-echerr memang selalu benar" gumam Vino.
Mereka berdua memperhatikan Lucas dan Cherry yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
** Di warung gudeg
"Apa?! jadi ini semua permainan mba Reta!" teriak Cherry sangat kesal.
"Sssttt... jangan keras-keras ga enak di dengerin banyak orang, nanti dikiranya kita ada apa-apa" sahut Lucas.
"Aku kesel banget om.. tau ga gimana cara dia meminta om dariku. Katanya aku ga pantas dapetin om.. apa dia ga tau kalau yang mengejarku pertama adalah om"
"Uhuk.. uhuk..,"
"Om.. om ga apa-apa? ini diminum dulu" Cherry menyodorkan segelas Es Krampol kepada Lucas yang tersedak.
"Ga apa-apa" ucap Lucas.
'Anak ini kenapa ngomongnya keras-keras semua orang jadi ngira aku yang bukan-bukan, Cherry... Cherry..' batin Lucas.
"Aku bakal kasih pelajaran buat dia," ancam Cherry sangat kesal. Pasalnya Cherry tak terima jika jatuhnya serta keguguran Reta karenanya sedangkan aslinya Reta sudah mengalami keguguran sehari setelah kejadian itu akibat dia sengaja menenggak minuman keras. Jika saja Ammar tak berterus terang kepada sahabat Brandon yang juga seorang dokter kandungan kebenaran ini tak akan terungkap dan masih menjadi misteri.
"Kenapa om malah senyum?" tanya Cherry.
"Kita pasti akan membalasnya, tapi tidak saat ini. Karena saat ini aku masih ingin menikmati kebersamaanku denganmu. Cukup untuk sekali ini, jangan pernah lagi kau pergi dengan alasan apapun" ucap Lucas dengan tatapan yang hangat.
"Besok pagi kita berangkat ke Jakarta" imbuh Lucas.
"Om.. sebelumnya aku minta maaf" ucap Cherry.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Lucas.
"Aku ga bisa balik ke Jakarta" jawab Cherry sedih.
"Apa kau masih meragukan kesetiaanku?" tanya Lucas.
"Bukan itu om masalahnya..." jawab Cherry.
"Lalu apa?" tanya Lucas kembali.
"Aku sudah mendaftar sekolah disini, ditempat keluarga besar Ibu. Aku ga bisa meninggalkannya om..," jawab Cherry pada akhirnya.
Lucas terdiam sejenak.
"Om.. om marah dengan keputusanku?" tanya Cherry.
Lucas menarik kedua ujung bibirnya, menangkup wajah istrinya.
"Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu" ucap Lucas.
"Om...terimakasih" ucap Cherry memeluk Lucas dan mencium pipinya tanpa sadar. Ini pertama kali Cherry bersikap agresif dengan mencium Pipi Lucas. Dengan wajah bersemu kemerahan Cherry menundukkan pandangannya.
"Lain kali sering-sering ya Cherry..." sahut Lucas.
Bersambung...
__ADS_1