
Keesokan harinya....
Pukul 19:00
"Ma, apakah benar kita akan pergi bersama ke pasar malam hari ini?,"
"Iya benar sayang makanya mama izin pulang cepat hari ini. Tapi darimana kamu tau soal itu?,"
"Dari Tante Gisella,"
"Oh dari Tante Gisella, yaudah kamu cepetan sana ganti baju. Mama tunggu di mobil ya,"
"Baik, Ma. Kenzie ganti baju dulu ya Ma,"
"Iya sayang,"
Kenzie pun berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara, Irene keluar dari rumah terlebih dahulu.
*******
Drrttt....Drrrrttt...Drrrrttt
Getaran telepon terdengar dari saku celana Afnan. Afnan yang baru saja keluar dari perusahaan miliknya itu pun langsung mengecek siapakah yang menelepon dirinya. Dari layar handphone miliknya terlihat bahwa ia mendapat panggilan telepon dari mamanya.
"Mama?! Tumben sekali meneleponku di jam segini,"
Afnan pun langsung mengangkat telepon dari mamanya itu.
"Iya halo, Ma. Ada apa?,"
__ADS_1
"Kamu lagi dimana sayang?,"
"Aku lagi kantor, Ma. Baru aja mau pulang. Emangnya kenapa ya, Ma?,"
"Oh hohoho, tidak apa - apa kok anak mama tercinta. Mama cuma mau suruh kamu untuk jemput calon istri baru kamu di Bandara. Dia udah nungguin kamu tuh,"
"Hah? Calon istri baru? Sejak kapan aku menyuruh Mama untuk mencarikan istri baru untukku, Ma,"
"Kamu memang tidak pernah menyuruh Mama untuk mencarikan istri baru untuk kamu. Tapi mama memiliki inisiatif sendiri untuk mencarinya soalnya sudah hampir 7 tahun kamu masih saja berharap dengan istri kamu yang kabur menghilang entah kemana itu. Lagipula Kan gak tau juga kalau dia sudah menikah lagi,"
"Ma, tapi Afnan hanya cinta sama Irene. Afnan gak mau menikah lagi. Bahkan Afnan dan Irene belum resmi bercerai. Secara hukum, Afnan dan Irene masih sah sebagai suami istri,"
"Sejak kapan kamu mulai mencintai istrimu itu. Bukannya dulu kamu sendiri yang minta sama Mama dan Papa untuk tidak menjodohkan kamu dengannya. Lalu, kenapa sekarang kamu sangat begitu ingin mempertahankannya,"
"Ma, Afnan tidak ingin menikah lagi,"
"Ma, bisa tidak Mama dan Papa tidak terus memaksakan kehendak kalian berdua pada Afnan. Jika Afnan menikah lagi. Lalu bagaimana dengan Irene,"
"Ya kamu tinggal urus aja perceraian kamu di pengadilan. Gitu aja kok susah, lagipula istri yang suka kabur - kaburan gitu gak worth it banget untuk dipertahankan. Pokoknya Mama gak mau tau kamu harus temui perempuan itu, titik gak pakai koma. Lagipula ya sayang, Papa kamu itu sudah dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk bertahan hidup lebih lama jadi Mama mohon sama kamu untuk bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan. Kamu pasti gak mau kan kalau Papa kamu pergi untuk selamanya sebelum memiliki seorang cucu dari kamu,"
Setelah itu, percakapan antara Afnan dan juga mamanya pun berakhir. Afnan terpaksa harus menuruti permintaan dari Mamanya untuk menemui seorang wanita yang sudah dipilihkan untuknya. Tetapi bukan berarti, Afnan akan dengan begitu saja melepaskan pernikahannya dengan Irene. Ia hanya mencoba untuk membuat mamanya senang untuk sementara sampai ia bisa membawa Irene kembali bersama dengannya.
******
Bandara.
Afnan mencari - cari dimana wanita yang akan dijodohkan padanya. Dan pada saat itulah, Seorang wanita muda cantik berdiri di belakangnya dan memanggil namanya.
"Afnan,"
__ADS_1
Afnan pun membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Kamu wanita itu yah,"
"Iya, kenalkan namaku Nabila. Aku wanita yang akan dijodohkan denganmu,"
"Oh gitu, kamu sudah lama menunggu disini,"
"Tidak kok, oh ya karena aku baru pertama kali datang ke kota ini. Bisakah kamu mengajakku berkeliling,"
"Bisa kok, ayo ikut denganku. Mobilku ada di depan sana,"
"Baiklah,"
"Wah ternyata Afnan lebih ganteng dari yang di foto ya. Sayang banget deh ganteng - ganteng begini udah duda," - Batin Nabila sambil tak bisa berhenti tersenyum.
*****
Di dalam mobil terlihat Kenzie yang senang melihat keluar jendela mobil.
"Ma, indah sekali ya kota di malam hari,"
"Iya sayang, di pasar malam nanti akan lebih indah lagi,"
"benarkah Mama?!,"
"Iya Kenzie, sekarang duduklah dengan bagus dan pasang kembali seatbelt mu,"
"Baik, Mama,"
__ADS_1