
...Jangan menjadikan kesepian sebagai alasan untuk jatuh cinta,...
...Karena banyak yang telah jatuh cinta namun tetap merasa kesepian....
......................
Semenjak kejadian itu Lucas sangat berhati-hati dalam pergaulannya dengan wanita. Mau itu muda tua Lucas selalu salah dimata Cherry, maka dari itu Lucas meminta Brandon untuk membatasi pertemuannya dengan klien wanita.
"Begini nih kalau suami kalah sama istri pasti ribet" gerutu Brandon karena lagi-lagi dia harus mewakili Lucas bertemu kliennya dari Swiss.
"Bukan suami kalah sama istri tapi suami takut istri," sahut Vino terkekeh.
"Buruan berangkat takut telat." perintah Brandon.
Pagi ini Lucas yang dijadwalkan akan meeting dengan kliennya dari Swiss lagi-lagi harus dibatalkan karena Cherry mengetahuinya.
Lucas akhirnya meminta Brandon untuk mewakili meeting tersebut. Bukan Brandon tak mau, hanya saja ternyata asisten pribadi dari kliennya adalah Elsa. Brandon tak mau bertemu apalagi berhadapan dengannya. Tapi, karena ini demi kemaslahatan dirinya agar tidak mengembalikan fasilitas yang sudah membuatnya merdeka, dengan amat sangat terpaksa Brandon menerimanya.
Brandon tiba di sebuah tempat yang dijanjikan untuk mereka melakukan pertemuan.
"Selamat pagi nona, maaf kami sedikit telat" sapa Brandon dibelakangnya diikuti oleh Vino.
Wanita berambut sedikit pirang itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lalu mempersilahkan Brandon dan Vino untuk duduk dengan kode tangannya.
Brandon tak memperdulikan keberadaan Elsa sama sekali, Elsa sendiri terkadang mencuri pandang kearah Brandon yang duduk berada di depannya.
"Dimana Lucas, apa yang membuatnya tidak hadir hari ini? apa dia menghindariku?" tanya wanita tersebut.
"Mohon maaf nona bukan bos kami menghindari anda, melainkan bos kami sedang menunggu istrinya yang mengalami kontraksi di kehamilan tuanya" jawab Brandon beralasan.
"Istri?" ucap wanita bernama Dasya.
"Iya nona, istri tuan Lucas" sahut Brandon memperjelas.
'Kau sudah beristri Lucas, ini sangat tak adil untukku' batin Dasya.
"Elsa kau ambilkan kontrak kerjasama kita" perintah Dasya kepada Elsa.
"Tuan Brandon sepertinya kita tak perlu berlama-lama, langsung saja... perusahaan kami sepakat untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan anda" Dasya langsung saja menandatangani kontrak kerjasama tersebut lalu mengakhiri pertemuan pagi ini.
Brandon dan Vino sedikit merasa aneh dengan Dasya. Dimana-mana orang melakukan kerjasama harus dengan diskusi yang matang, tapi tidak dengan Dasya dia langsung saja memutuskan tanpa harus mendengarkan penjelasan dari Brandon.
"Terimakasih tuan Brandon, selamat bekerjasama dengan perusahaan kami" ucap Dasya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Nona Dasya, maaf sebelumnya mengapa Anda tak menanyakan soal kerjasama kita?" tanya Brandon pada akhirnya.
__ADS_1
"Aku tak perlu meragukan Lucas. Anggap saja ini awal pertemuan yang indah buatku" ucap Dasya tak dimengerti oleh Brandon.
Dasya kemudian beranjak dari duduknya merapikan kemeja serta kaca mata hitamnya lalu meninggalkan Brandon dan Vino.
"Apa maksud ucapannya?" gumam Vino.
"Vino... coba kau cari tahu nama wanita itu," perintah Brandon.
Tanpa menolak Vino langsung saja membuka map yang sudah ditandatangani oleh Dasya.
"Namanya Dasya Angelina Jackson" jawab Vino.
"Angel...!" ucap Brandon terkejut menyadari jika Dasya adalah Angel wanita yang pernah suka kepada Lucas saat dirinya jauh dari Reta.
**
"Apa!" Lucas sangat terkejut mendengar jika kliennya tadi pagi adalah Angel.
"Kenapa kau tak mengecek sebelumnya?" protes Lucas.
"Mana gua tahu, bukannya seharusnya elu sendiri yang ngecek. Itu kan tugas elu." sahut Brandon tak terima disalahkan.
"Aaargh!" Lucas menjambak rambutnya karena kesal. Kesal kepada dirinya sendiri.
"Ada apa Lucas?" tanya mama Risti kebetulan lewat.
"Apa Cherry membuatmu pusing lagi?" tanya mama Risti kembali.
"Tidak ma... Cherry sedang beristirahat, dia mengeluh seluruh badannya sakit semua tak bisa tidur dengan nyaman dan nafasnya sedikit sesak" keluh Lucas yang seharian ini merasa kasihan kepada istrinya.
"Usia kandungan Cherry akan memasuki bulan ke 9, wajar kalau dia mulai merasakan tak enak. Apalagi didalamnya ada 2 bayi, mama saja yang dulu cuma 1 sakit semua... apalagi Cherry... jadi, mama minta jangan membuat Cherry merasa insecure dengan kondisinya saat ini. Kamu harus bisa menjadi support system terbaik untuknya" ucap mama.
"Terimakasih ma... Lucas bersyukur memiliki mama yang sangat perhatian kepada anak, menantu dan cucunya" sahut Lucas memeluk mama Risti.
"Enak ya punya mama... jadi keingetan almarhumah mama" celetuk Brandon.
Mama Risti kemudian beralih mendekati Brandon.
"Eh tante... Brandon hanya bercanda" ujar Brandon dengan sedikit gugup.
"Brandon, kamu sudah mama anggap seperti anak mama sendiri. Ga usah merasa sungkan atau bagaimana. Mamamu dulu sering banget titipin kamu ke tante. Tante tak menyangka jika ucapan titip itu menjadi kenyataan, mamamu menitipkanmu untuk selama-lamanya" ucap mama Risti sembari mengingat pertemuan terakhirnya dengan mamanya Brandon.
"Terimakasih tante... kalau tak ada om, tante, Lucas, Lexi dan Neva aku bukan siapa-siapa" ucap Brandon.
"Kenapa jadi maaf-maafan segala... lebarannya masih lama ngerti kagak." sahut Lucas.
__ADS_1
"Aaaaa.... kaka om...!" teriak Cherry membuat Lucas langsung berlari kearah sumber suara diikuti Brandon dan mama Risti.
"Sayang... kau kenapa?" tanya Lucas tiba didepan kamar.
"Cherry kau kenapa?" semuanya terkejut disaat melihat Cherry berdiri sedang dibawahnya terdapat air sedikit keruh.
"Astagfirullah... Lucas segera bawa istrimu ke Rumah sakit" perintah mama Risti.
"Ka Yora... mama... Cherry takut," keluh Cherry.
"Emang Cherry kenapa ma? dia kan ngompol kenapa harus dibawa ke Rumah sakit?" Lagi-lagi pertanyaan Lucas membuat sang mama ingin menjewer mulutnya yang lagi lemes.
"Itu air ketuban Lucas bukan ngompol!" bentak Yora ikut kesal.
Lucas langsung saja mempersiapkan semuanya, Cherry langsung saja dibawa masuk ke mobil menuju Rumah sakit.
"Kaka om... kenapa sampai sini rasanya jadi sakit," keluh Cherry merasakan kontraksi kembali.
"Kamu yang sabar ya sayang sebentar lagi kita nyampe Rumah sakit" Lucas mencoba menenangkan kondisi Cherry.
"Brandon ngebut dikit lagi!" perintah Lucas.
"Ngebut... ngebut! lu enak udah tau rasanya kawin, lah gua masih bayangin doang. Ogah mati duluan gua!" protes Brandon.
Sepanjang perjalanan Lucas dan Brandon saling mengejek, hal itu bukan membuat Cherry pusing tetapi mama Risti yang sekarang merasakan migran.
"Kalian bisa ga diam, lihat Cherry sudah mulai kesakitan" ucap mama Risti.
"Ma... apa yang terjadi pada Cherry?" tanya Lucas.
"Sepertinya anak-anakmu ingin keluar lebih dulu jauh dari hari perkiraan lahirnya," jawab mama Risti sembari mengelus-elus ujung kepala Cherry .
"Itu artinya aku akan bertemu dengan mereka," ucap Lucas dengan bahagia.
Singkat cerita mereka tiba di Rumah sakit. Cherry langsung mendapatkan pemeriksaan.
"Dokter ini sakit sekali..." keluh Cherry.
"Maaf nyonya saya akan mengecek pembukaannya terlebih dulu," ucap Dokter Anggia
"Eh... eh... dokter mau ngapain? itu daerah teritorial terlarang, hanya saya saja yang boleh mendekatinya" tolak Lucas menahan dokter Anggia. Mendengar sang anak berkata gitu, mama Risti langsung saja menjewer telinga Lucas.
"Aduh ma... sakit ma... sakit... " keluh Lucas.
"Mendingan kamu pulang rendam kepalanya pake es"
__ADS_1
Bersambung....