
...Jangan terlalu menganiaya diri sendiri, ada saatnya untuk beristirahat. Istirahatkan hati dan pikiran....
...Biarlah takdir datang sebagaimana seperti yang sudah di gariskannya. ...
...Terkadang takdir dari Tuhan yang kita alami lebih baik dari pada mimpi-mimpi. ...
...Selamat malam dan selamat melepas lelah... ...
...----------------...
Pagi ini bukan hanya Cherry dan baby Adhyaksa yang mengunjungi makam baby Abimana. Mama Risti dan papa Hadi juga ikut turut serta. Sebenarnya Yora juga ingin ikut, tetapi Lexi melarangnya dengan alasan kondisi Yora yang sedang hamil muda.
"Assalamu'alaikum nak... mama datang menjengukmu Abimana," suara Cherry mulai serak menahan sesak didadanya. Lucas yang mengerti langsung memegangi kedua bahu Cherry dari belakang. Meski hatinya jauh lebih sakit, tetapi Lucas harus bisa lebih kuat dari istrinya.
"Kau tahu nak, mama selalu merindukanmu setiap malam... kau selalu bangun terlebih dulu mengingatkan mama untuk memompa ASI untuk kau dan Adhyaksa. Sekarang kau tahu nak, tugasmu sudah digantikan olehnya," Cherry menjeda ucapannya, tersenyum sembari menyeka air matanya.
"Aksa melakukan persis seperti apa yang kau lakukan." ucap Cherry kini salah satu tangannya mengusap nisan Abimana.
"Meski sekarang Abimana jauh dari mama, tapi mama Abimana selalu di hati mama."
Lucas dan yang lain bisa mengerti perasaan Cherry saat ini, mama Risti juga ikut terharu. Adhyaksa yang pagi tadi rewel juga sudah kembali tenang saat berada di makam Abimana. Seolah paham dengan rasa rindunya, Adhyaksa selalu melemparkan senyum. Konon katanya seorang bayi dapat melihat hal ghaib, mungkin saat ini Adhyaksa sedang melihat Abimana makanya dia terus melemparkan senyum.
Selesai dari makam Abimana, Lucas sengaja mengajak Cherry dan baby Adhyaksa ke kantornya. Sedangkan mama Risti kembali ke rumah bersama papa Hadi.
"Sayang... aku tinggal sebentar ya, kau dan Aksa istirahatlah...," ucap Lucas.
Cherry tersenyum lalu mengangguk, dia mengerti jika pekerjaan suaminya sedang sibuk-sibuknya. Untungnya ruangan Lucas di desain selayaknya ruangannya di rumah. Ruangan itu memiliki pintu ajaib yang jika disentuh dengan kode tangannya dan Cherry akan terbuka menjadi kamar tidurnya yang lengkap dengan peralatan lainnya.
Cherry menidurkan baby Aksa, lalu meninggalkan sebentar ke kamar kecil yang jaraknya hanya 5 langkah dari bednya.
"Ssst... sssttt... mama ke kamar mandi dulu ya nak...," ucap Cherry.
Benar saja, Cherry hanya sebentar ke kamar kecil. Setelahnya berbaring disamping baby Aksa. Cherry mengambil ponselnya dibukanya chat yang sudah menunggu balasan darinya.
"Bagaimana dengan Aksa? apa dia masih rewel?" tulis chat Yora.
"Alhamdulillah Aksa udah ga rewel kak," balas chat Cherry.
Kemudian Cherry scroll-scroll chatnya lagi. Disitu ada chat dari nomor baru. Cherry buka chat tersebut,
"Bagaimana kabarnya nak? maafkan ibu baru memberi kabar, nomor ibu baru. Ibu sudah mendengar berita kelahiran si kembar. Ibu ingin sekali kesana, tetapi semenjak suamimu mendirikan kios untuk ibu, ibu jadi ga bisa kemana-mana karena banyak pembeli silih berganti berdatangan. Suamimu sangat baik nak... dia sangat mencintaimu dan anak-anak. Jaga dia ya nak..." bunyi chat ibu Sri.
"Bu Sri...," ucap Cherry lirih.
__ADS_1
"Maafkan Cherry baru membalas chat ibu. Akhir-akhir ini Cherry sedang tidak baik-baik saja. Cherry ingin memeluk ibu...," balas chat Cherry.
"Ibu bisa mengerti apa yang kau rasakan nak, bersabarlah karena semua yang terjadi sudah atas kehendak dan takdirnya" balas chat ibu Sri kembali.
Cherry sedikit terharu juga mendapatkan dukungan baru dari ibu Sri. Kemudian dia menoleh kearah baby Aksa. Baby Aksa yang menggeliat pelan menampilkan wajah imut dan gemasnya. Cherry mencium pipinya perlahan lalu memeluknya dan ikut tertidur.
**
"Vino... ngapain lu disini?" tegur Brandon melihat Vino bukannya di bagian akomodasi malah menunggu Neva sesi pemotretan selanjutnya.
"Ada berkasku yang tertinggal," Vino beralasan.
"Alasan terus....," ledek Brandon.
"Neva... apa ini yang kau---" suara Desty terhenti saat tak sengaja berhadapan dengan Desty. Keduanya terlihat canggung antara satu sama lain. Bahkan Brandon mampu mengusir kecanggungannya dengan cuek. Sedangkan Desty masih belum bisa. Bayang-bayang kejadian malam itu seolah tak mau pergi, Desty masih terus mengingatnya.
"Desty... apa kau menemukannya?" teriak Neva.
Desty langsung menoleh kearah Neva, mengalihkan pandangannya dari Brandon. Alih-alih Brandon yang ingin cuek ternyata Desty jauh lebih cuek darinya. Hal itu membuat Brandon malah sedikit kesal. Desty melewati Brandon begitu saja menghampiri Neva.
"Sial! kenapa jadi gini perasaanku...," ucap Brandon lirih.
"Ngomong apa bos?" tanya Vino samar-samar mendengar ucapan Brandon.
Brandon langsung melirik kearah Vino. "Lu kalau masih betah kerja disini segera lakukan tugasmu." ucap Brandon sedikit ketus lalu melewati Vino.
"Neva... kau sangat cantik dengan gaun itu," puji Desty.
"Harus dong... dua kakaknya aja tampan-tampan... hahaha...," sahut Neva.
"Dasar kau---" sahut Desty namun tibatiba kepala Desty sedikit pusing.
"Desty... apa yang terjadi?" tanya Neva khawatir.
Masih dengan memegangi kepalanya, Neva lalu menggandeng untuk duduk di dekatnya.
"Mungkin tensiku turun Nev..." jawab Desty.
"Lebih baik kau periksakan kondisimu Desty, wajahmu juga terlihat pucat." ucap Neva.
"Tidak apa-apa Nev... aku baik-baik saja. Terimakasih sudah memperhatikan kondisi ku... kau dan Cherry adalah sahabat terbaikku." ucap Desty dengan mata berkaca-kaca.
"Desty... tak usah berterimakasih, kita sudah menganggapmu seperti saudara kandung sendiri." Neva lalu menyeka air mata Desty yang mengalir.
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur Neva sudah dipertemukan dengan kalian berdua. Jika tak ada kalian berdua, hubunganku dengan kak Anton serta aku tak akan pernah bisa berada disini. Ini semua berkat kalian." ucap Desty kembali.
"Ih... dibilangin jangan sedih, malah sedih... tuh kan mataku ikut berair...," sahut Neva.
Mereka berdua kemudian saling berpelukan.
"Apa-apaan kalian peluk-pelukkan... Jangan-jangan kalian kaum-kaum....," sahut Steve yang entah sejak kapan memperhatikan mereka.
Pletak!
Sebuah buku besar mendarat diatas kepalanya.
"Aw... sakit Neva... ini kepala bukan kelapa..., " keluh Steve.
"Yang bilang itu kelapa siapa?" tanya Neva.
"Makanya kalau mikir yang normal... sekali lagi mikir seperti tadi beneran kelapa yang mendarat diatas kepala," ancam Neva.
"Tuan Sean baru saja tiba, kita disuruh ke ruangan bos Lucas menyambut kedatangan beliau," sahut Steve tak mau berdebat dengan Neva.
"Tapi aku masih pemotretan Steve... sedangkan Desty tiba-tiba tak enak badan. Nanti selesai pemotretan aku dan Desty akan menyusul kesana." ucap Neva memberitahu kondisi mereka.
"Oke!" sahut Steve.
Singkat cerita, selesai pemotretan. Desty dan Neva menuju ruangan Lucas bareng bersama tuan Sean berpamitan. Desty langsung menghentikan langkahnya, "Pria itu ternyata..."
Bersambung...
...----------------...
Mampir yuk ke karya temanku "Belenggu Hasrat Tuan Muda"
Warning!!
Cerita ini bukan untuk anak di bawah umur, berisi adegan baper dan kebucinan yang hakiki.
***
"Lepaskan aku, Bangs*t! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud!"
"Lepaskan? Jangan harap! Kamu harus bertanggung jawab atas kematian adikku!"
__ADS_1
Lyla tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia diculik tanpa tahu sebab yang sebenarnya. Dituduh menjadi penyebab kematian adik seorang laki-laki asing yang bahkan baru saja dia lihat.
Apa yang akan terjadi kepada Lyla. Dapatkan dia meyakinkan penculik dan bebas? Atau ....