
Di pantai.
Salman dan Nathalia terlihat sedang berjalan santai di pinggir pantai sambil berbincang - bincang.
"Kamu sudah lama jadi pengajar disini, man,"
"Ya lumayan lah, sejak kejadian yang terjadi di perusahaan itu,"
"Kamu sangat mencintainya ya,"
"Aku sudah menyukainya sejak masih duduk di bangku kuliah,"
"Pantesan saja kamu terlihat begitu sangat kehilangan. Rupanya kamu sudah lama menyimpan rasa padanya,"
"Ya seperti itulah. Udah ah kenapa jadi sedih begini sih suasananya,"
Nathalia pun hanya tersenyum kecil kepada Salman.
******
Pukul 21:00.
Sebuah handphone terletak di atas meja sebuah kamar. Dan tak lama kemudian, notifikasi panggilan telepon pun muncul di layar handphone itu. Suara dering telepon itu membuat Nathalia yang baru saja selesai mandi langsung berjalan mendekat ke arah meja dan mengambil handphone itu dari atas meja.
"Nomor ini lagi. Sebenarnya ini nomor siapa sih? Apa ini nomornya Afnan? Tapi untuk apa dia menghubungiku lagi. Apa aku angkat saja ya,"
Nathalia awalnya ragu ingin mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal itu atau tidak. Tetapi dirinya yang penasaran siapa orang dibalik nomor itu, akhirnya Nathalia pun memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo, siapa ini?,"
"Amanda, Ini papa nak,"
"Amanda?! Maaf sepertinya anda salah sambung, saya bukan Amanda. Tapi saya Nathalia,"
"Tidak Nak, saya memang benar Papa kandung kamu,"
"Saya tidak mengerti apa maksud bapak, tolong ya Pak jika anda ingin melakukan penipuan. Maka saya tidak akan tertipu. Asal, bapak tau Papa saya itu saat ini sedang berada di penjara. Jadi tidak mungkin jika anda itu adalah Papa saya,"
"Apakah kamu memiliki waktu luang? Mari kita bertemu. Biar saya dan istri saya akan menjelaskan semuanya,"
"Baik, seminggu lagi saya akan kembali ke Jakarta. Jika anda ingin bertemu dengan saya maka temui saya di Jakarta seminggu lagi. Biarkan tempat bertemunya saya yang urus. Dan jangan coba - coba untuk macam - macam dengan saya,"
"Baik, seminggu lagi saya dan istri saya akan menemui kamu di Jakarta,"
__ADS_1
Panggilan telepon itu pun berakhir. Nathalia masih memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh orang yang ada di dalam telepon itu. Ia terus bertanya - tanya apakah ia memang benar bukan anak kandung dari keluarganya yang sekarang.
**********
Seminggu kemudian.....
Cafe Melati.
Nathalia berjalan menghampiri Rayyan dan juga Lalita yang sudah cukup lama menunggu kedatangannya.
"Maaf jika saya agak lama soalnya saya masih memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus diurus," Ucap Nathalia sembari menarik kursinya dan duduk.
"Tidak apa - apa, saya dan istri saya bisa mengerti kesibukanmu,"
"Baiklah sekarang jelaskan pada saya mengapa bapak dan juga istri bapak ini ingin sekali bertemu dengan saya,"
"Amanda, ini mama kamu sayang. Kamu itu anak yang sudah kami cari selama bertahun-tahun,"
"Saya tidak mengerti apa maksud ibu, bagaimana mungkin saya bisa menjadi anak kalian berdua. Sementara saya masih memiliki orangtua,"
"Kamu lihat foto ini," Lalita memperlihatkan foto saat Nathalia masih berumur 2 bulan.
"Itu adalah foto kamu saat masih berumur 2 bulan,"
"Jika saya memang anak kalian berdua. Lalu, mengapa kalian membuang saya dan membiarkan saya diasuh oleh keluarga lain,"
"Kami tidak pernah membuang kamu. Kamu hilang saat mama membawamu bermain di taman. Mama dan papa tidak pernah menyerah untuk mencari keberadaan kamu. Dan akhirnya kami berhasil menemukanmu,"
"Mama, Papa," Ucap Nathalia dengan mata berkaca - kaca.
Nathalia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati kedua orangtuanya. Rayyan dan Lalita pun juga berdiri menatap ke arah Nathalia. Lalu, Nathalia pun memeluk mereka berdua dan menangis di pelukan kedua orangtuanya.
*******
Rumah Sakit Jiwa Setia Abadi.
Nathalia masuk ke sebuah kamar rawat di rumah sakit itu. Di dalam sana terlihat seorang wanita yang sedang berbicara sendirian dengan sebuah boneka.
"Mama," Panggil Nathalia.
Wanita itu tidak menoleh sedikitpun saat Nathalia memanggilnya dengan sebutan Mama. Dan seorang dokter pun datang menghampiri Nathalia.
"Begitulah kondisi Bu Nayla sekarang, dia mulai tidak memperdulikan siapapun. Dia asik berbicara dengan boneka yang ia anggap sebagai kamu saat kecil. Bahkan sekarang Bu Nayla sudah mulai tidak mau makan dan minum obat lagi,"
__ADS_1
*******
Penjara.
Seorang pria paruh baya dengan baju tahanan dan tangan yang terborgol di temenin seorang polisi berjalan perlahan menghampiri Nathalia. Pria paruh baya itu duduk di hadapan Nathalia.
"Papa,"
"Untuk apa kamu kesini?,"
"Aku merindukan sosok Papa. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Papa,"
"Apa kamu tidak malu memiliki seorang Papa narapidana seperti ini,"
"Tidak, aku tidak pernah malu menjadi seorang anak dari Papa narapidana dan Mama yang memiliki gangguan kejiwaan,"
"Kalau boleh Papa tau bagaimana dengan keadaan Mamamu sekarang,"
"Mama baik - baik saja kok, Pa,"
"Baguslah kalau mama kamu baik - baik saja,"
"Pa, Nathalia boleh tanya satu hal gak,"
"Kamu mau tanya apa?,"
"Apa memang benar kalau Nathalia ini bukan anak kandung Papa dan Mama?,"
"Kenapa kamu tiba - tiba bertanya seperti itu,"
"Soalnya ada sepasang suami istri yang mengaku sebagai orangtua kandung Nathalia,"
"Sepertinya sudah saatnya kamu tau semuanya. Iya, kamu memang bukan anak kandung Papa dan Mama. Tapi mama tidak tau akan hal itu karena saat anak kami lahir anak kami tidak terselamatkan. Disaat itu Papa datang ke panti asuhan untuk mengadopsi kamu untuk menggantikan anak kami yang telah tiada,"
"Jadi aku memang bukan anak kandung Papa dan Mama,"
"Kamu tidak perlu sedih seperti itu. Pergilah kembali kepada kedua orangtuamu, setidaknya mereka akan merawatmu dengan lebih baik daripada kami. Dan kamu akan menemukan arti keluarga yang sebenarnya disana,"
"Pa, makasih ya untuk semuanya,"
"Sama - sama sayang. Kamu akan tetap menjadi anak Kesayangan Papa dan Mama,"
"Iya Pa, Nathalia izin pamit ya Pa. Papa baik - baik disini ya, Nathalia janji sesekali akan datang untuk menjenguk Papa disini,"
__ADS_1
"Iya sayang, pergilah dan temui kebahagiaanmu di keluarga kandungmu,"