
Hadinata masih berdiri di balkon kamarnya, perbincangan tadi membuatnya berpikir kembali.
"Apa yang anak-anak katakan ada benarnya. Apa Zain dan Rahayu memiliki anak selain menantuku?" gumam Hadinata.
"Pa... kenapa belum tidur?" tanya mama Risti baru masuk kedalam kamar.
"Papa sedang berpikir, apa Zain dan Rahayu memiliki anak selain menantu kita?" jawab papa Hadi.
"Maksud papa gimana? mama belum paham pa..." tanya mama Risti sedikit terkejut.
"Mama ingat berita tentang Zain kehilangan putrinya?"
Mama Risti mencoba mengingatnya lalu menganggukan kepalanya.
"Peristiwa Rudi terjadi sekitar 20 tahun dimana Lucas berusia 15 tahun. Jika Cherry lahir lebih muda 10 tahun dari Lucas ada kemungkinan sisa 5 tahun tersebut terjadinya Zain kehilangan anaknyanya," ucap papa Hadinata menjelaskan.
"Astaga, kau benar pa.. seharusnya anak Zain berusia 5 tahun lebih muda dari Lexi. Tapi ini Cherry berusia 10 tahun lebih muda dari Lucas. Rahayu pernah bercerita dengan mama, jika anaknya yang hilang seorang putri yang cantik dan pintar. Apakah ada kemungkinan Cherry memiliki saudara?" sahut mama Risti teringat semuanya.
"Kita harus menyelidikinya ma,"
"Kau benar pa... jika itu benar bawa dia kembali berkumpul bersama menantu kita,"
"Sekarang papa istirahat, jangan sampai papa sakit" saran mama Risti.
Diruang tengah Lexi, Lucas dan yang lain masih membahas persoalan yang mereka bicarakan tadi.
"Bagaimana jika kita mencari tahu tentang berita kematian pak Rudi?" saran Vino.
"Setuju Vin," sahut Steve.
"Gue setuju banget, karena bagaimanapun teror yang menimpa kita semua ini ada kaitannya dengan masalalu" pendapat Brandon.
"Bagaimana dengan pendapat kalian?" tanya Brandon kepada Lexi dan Lucas.
"Kita akan menyelidiki mereka secepatnya," sahut Lexi setuju.
"Bagaimana denganmu Lucas?"
"Aku setuju dengan ide kalian," jawab Lucas mantap.
Keesokan pagi semuanya sudah mulai sibuk dengan persiapan grand opening yang akan dijadwalkan nanti malam. Hari ini, Cherry dan Neva harus mendapatkan pengawalan yang ketat seperti papa Hadi.
"Cherry...," panggil Vino.
"Ada apa sepupu?" tanya Cherry dengan nada menggoda.
"Ihhhht dasar bocah somplak," gerutu Vino.
"Tau bos dimana?" tanya Vino serius.
"Taulah... kan suami aku," jawab Cherry dengan nada sedikit keras agar Susi mendengar dengan jelas.
"Mulai deh ngajak gelut," gumam Vino.
__ADS_1
"Ratu baskom yang baik hati, telfon gih suaminya... ada berkas yang harus ditanda tangani," bisik Vino.
"Kristen Stewart mau ikut hadir di grand opening kita," imbuh Vino masih berbisik.
"Serius Vino?" Vino hanya menanggapi dengan tersenyum.
"Eh tunggu, emang Kristen Stewart mau ngapain hadir kesini?" tanya Cherry menyadari ada yang aneh.
"Mau cuci piring," jawab Vino asal.
"Vino.......!" teriak Cherry, sayangnya yang dipanggil sudah berlari sejauh-jauhnya.
"Cherry...," panggil Neva dengan wajah sedih.
"Apa yang terjadi Neva?" tanya Cherry.
"Karyawan boutique itu melakukan kesalahan kembali, mereka tak membuatkan pesanan kita. Bagaimana dengan malam nanti Cherry?" jawab Neva.
"Aku sudah menduganya Neva, untung saja teman dari tante ada yang mampu menjahit, tapi--"
"Tapi apa Cherry?" tanya Neva karena Cherry memotong ucapannya.
"Tapi yaitu hasilnya tak seperti yang di boutique, tapi untuk jahitan dan kerapian tak kalah dengan hasil boutique" jawab Cherry sambil merangkul Neva.
"Cherry... pesanan sudah datang, kau coba sekarang karena penjahitnya masih menunggu untuk kau coba," sahut Desty.
"Terimakasih Desty, aku akan mencobanya" ucap Cherry kemudian masuk kedalam ruangan Lucas untuk berganti baju. Selang beberapa menit, Cherry keluar dengan gaun yang sederhana namun terlihat elegant .
"Cherry kau membuatku iri dengan kesempurnaan yang Tuhan berikan kepadamu," sahut Desty sangat kagum pula.
"Hilih... masih cakepan Neva menurutku," celetuk Vino yang entah kapan kembali lagi.
"Aw... saranghae ka Vino," sahut Neva sambil menyodorkan fingerlove.
"Kalian berdua tumben kompak," sindir Brandon yang baru tiba bersama Lexi, Lucas dan Steve.
"Mereka memang berjodoh," sahut Steve. Mereka lalu tertawa bersama, terkecuali Lexi dan Lucas mereka berdua masih fokus kepada Cherry yang terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan gaun yang baru dia coba.
"Ehm!" Brandon sengaja berdehem menyadarkan keduanya.
"Ga gitu juga kali mandangin si anak ingus," sindir Brandon.
Lexi yang merasa tersindir lalu menoleh kearah Brandon dan menepuk pundaknya pelan. Sedangkan Lucas masih dibiarkan menatap istrinya.
"Dunia seperti milik mereka berdua, yang ngontrak minggir yuk" ajak Neva sambil terkekeh kecil.
"Nasib jomblo ga cuma meronta-ronta, ini mah udah mirip cacing kepanasan" gerutu Brandon.
"Yakin ka Brandon jomblo?" tanya Neva.
"Harus yakin la...," jawab Brandon dengan tenang dan santai namun dengan hati yang kocar-kacir.
Kini disana hanya ada Cherry dan Lucas berdua, sepertinya sahabat maupun team kerjanya sangat kompak dalam hal lain juga. Contohnya saat ini, mereka membiarkan keduanya menikmati waktu berduanya.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat cantik," ucap Lucas.
"Bukannya dari dulu aku cantik om...," sahut Cherry masih menata gaunnya didepan cermin.
Lucas lalu memeluk Cherry dari belakang, lalu menciumi tengkuk leher Cherry dengan lembut.
"Om.. geli tau," protes Cherry.
"Emang kenapa? aku kan suamimu jadi aku berhak menikmati apa yang ada pada diri istriku," bisik Lucas masih memeluk Cherry dari belakang.
"Iya om... tapi kan ini di kantor, malu tau kalau yang lain lihat..," alasan Cherry.
Bukannya menanggapi, Lucas masih terus saja mencium istrinya.
"Om... geli tau," protes Cherry lagi.
"Ih... Om, geli tau!" bentak Cherry pada akhirnya. Benar saja Lucas langsung menghentikan aksinya.
"Sayang... tapi aku suka," rayu Lucas.
"Suka sih suka tapi bukan di ketek juga kali nyiumnya," ledek Cherry. Sedangkan Lucas tertawa mendengarnya.
**
"Lucas, malam ini kau akan menjadi milikku" ucap Reta sangat yakin.
"Reta...," panggil Lionel membawa alat beserta bom yang sudah disiapkan.
"Apa ini Lionel?" tanya Reta belum mengetahui rencana ini.
"Kami sudah membebaskanmu dari penjara, jadi sekarang saatnya timbal balik kepada kami" jawab Lionel.
"Maksudmu apa Lionel?" tanya Reta kembali.
"Apa yang kau tanyakan lagi Reta, semuanya sudah jelas. Bom ini hanya bisa masuk lewat dirimu. Jadi, tau kan maksudnya?" ucap Lionel dengan senyum smirk.
"Aku tak mau melakukannya," tolak Reta.
PLAK!
"Apa yang kau katakan Reta! orang yang sudah masuk kedalam anggota kami, maka mereka sudah bersiap dengan konsekuensinya," ucap Lionel tegas.
Kini yang dirasakan Reta adalah ketakutan, Reta menahan tangis meratapi nasibnya. Harapan kembali kepada Lucas pupus sudah. Kembali untuk pergi selama-lamanya, kalimat yang pas untuk menggambarkan isi hati Reta.
"Lakukan sesuai arahan, jangan sampai kau gegabah" pesan Lionel.
"Sekarang kau ikut aku ke suatu tempat," ajak Lionel.
Reta menyeka air matanya lalu mengikuti Lionel kesebuah tempat tersembunyi.
"Aku ingin kau memandikan dan membuatnya cantik meski dia tertidur,"
Bersambung.....
__ADS_1