
...Kerinduan.....
...Rasa rindu dihatiku...
...Terasa sangat menggebu...
...Saat aku dan kamu...
...Terpisah jarak dan waktu...
...Dan disini .....
...Kutunggu kau dengan cinta...
...Bersama lantunan do'a...
...Kusingkap memory lama...
...Tentang indahnya cinta kita...
...Sejenak.....
...Semua itu buatku bahagia...
...Tapi semakin lama...
...Rinduku semakin menggila...
...Aku rindu canda tawamu...
...Hangatnya pelukan mesramu...
...Bahkan bau aroma tubuhmu...
...Sungguh......
...Aku sangat merindukan itu...
...Semoga......
...Kau segera kembali...
...Dan tak pernah pergi lagi...
...Karena sungguh.....
...Tanpamu hari-hari ku hampa sekali...
...Tanpa sengatan Indah sang matahari...
...Karena kau......
__ADS_1
...Adalah matahari terindahku......
...----------------...
Melihat pertemuan Desty dan Brandon, Reva sahabat Desty sangat bahagia. Sampai tak terasa dia menitihkan air mata. 3 bulan bersama Desty, Reva bisa belajar arti pentingnya kesabaran dan keikhlasan. Desty tak pernah menunjukkan rasa sakit atau kecewa dihadapannya.
"Kau sudah menemukan kebahagiaanmu Desty...," ucap Reva sembari menyeka air matanya.
Disatu sisi Dania yang sedari tadi mencari keberadaan Brandon, langkahnya terhenti saat melihat Brandon sedang tersenyum kearahnya menurutnya. Dania sangat bahagia dia ingin menyapanya, namun dia urungkan saat menyadari Brandon bukan tersenyum untuknya. Seorang wanita menerima uluran tangan Brandon lalu Brandon memeluknya. Terlihat wajah Brandon sangat bahagia berbeda saat bersamanya beberapa bulan ini.
"Sekarang aku mengerti alasannya Brandon... hiks.. hiks.. hiks..," ucap Dania langsung pergi begitu saja.
Dania sengaja berpamitan kepada Rayyan terlebih dulu. Dania pulang menggunakan Taxi tanpa memberitahu Brandon.
"Kenapa kau lakukan ini padaku Brandon... kenapa kau lakukan ini disaat aku mulai sayang padamu. Apa kau tak pernah memikirkan perasaanku selama ini... hiks.. hiks.. hiks..," Dania terus merutuki dirinya sendiri.
Cukup lama Dania berada di kendaraan yang dia anggap Taxi itu, sopir pengendara mobil itu akhirnya memberanikan diri menyapa Dania.
"Maaf nona, bisakah anda memberitahuku kemana tujuan anda?" tanya sopir yang tak asing.
Menyadari pertanyaan sopir tersebut, Dania baru sadar jika dirinya belum mengatakan kemana tujuannya.
"Maaf Pak, antar ke pantai Anyer aja" jawab Dania.
"Ngapain malam-malam ke pantai Anyer? mau ngobrol sama angin...," ledek sopir tersebut.
"Eh... bapak kok nyolot sih, serah akulah mau ke pantai Anyer ngapain... tugas bapak tuh anterin penumpang kemana dia mau," sahut Dania ikut nyolot.
"Lu kata gua bapak elu...! daritadi bapak mulu manggilnya. Udah salah, nyolot! lu nyadar gak sih, lu naik kendaraan pribadi gua Dania...." Steve memperjelas kalimat terakhirnya.
"Steve? itu kau Steve?" tanya Dania memastikan.
"Iya... ini gua, lu pikir gua bapak elu apa...!" Lagi-lagi Steve sewot.
"Sorry Steve... aku pikir tadi... ini tadi... ah....! sekali lagi maaf Steve... aku benar-benar gak tahu jika ini kau," Dania terus saja meminta maaf.
"Aku sedang kacau Steve, maafkan aku jika tak melihat itu kau." ucap Dania lagi.
"Ya sudah... jadi ke Anyer gak? pumpung gua baik hati mau anterin" ucap Steve langsung mendapat tanggapan setuju dari Dania.
Sesampainya di pantai Anyer, Dania berjalan mendekati ombak yang menyisir bibir pantai. Melihat Dania tak seceria biasanya, Steve memutuskan untuk menemani Dania malam itu. Steve mengikuti Dania dari belakang takut-takut jika Dania melakukan sesuatu diluar pikirannya.
"E... e... e... mau ngapain lu?" Steve spontan menarik pergelangan tangan Dania yang akan mengejar ombak.
"Kau masih disini?" tanya Dania heran.
"Masih la... gua takut lu bunuh diri, bisa-bisa gua kena getahnya nanti kalau terjadi sesuatu sama lu," jawab Steve.
"Orang aneh... aku cuma mau mengejar ombak itu... aku paling suka mengejar ombak kata papa ombak itu ibarat sebuah mimpi yang harus digapai. Jika dia lari, berarti itu bukan mimpi yang tepat untukmu. Tapi sayangnya aku mempercayai itu, ombak akan terus membuat kita berharap. Berharap sesuatu yang tak pasti...," ucapan Dania terdengar sedih di akhir kalimatnya.
"Dania... lu perlu tahu kalau di dunia ini itu tak ada yang pasti. Sekuat-kuatnya kita melawan takdir pada akhirnya akan tetap sama dan berujung mengikhlaskan." entah mengapa tiba-tiba saja Steve mengingat Cherry. Steve memang dari awal menyukai Cherry sejak dari mereka duduk di bangku Sekolah. Hanya saja Steve tak mampu mengungkapkan isi hatinya karena Cherry lebih memilih Lucas. Disaat Steve mengetahui jika Neva juga menyukainya, Steve memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya jika dirinya tak pernah memiliki perasaan kepada Neva. Steve hanya ingin menjaga persahabatan mereka. Maka dari itu Steve memutuskan untuk mereka tetap bersahabat selamanya.
__ADS_1
"Apa kau pernah berada di posisi seperti ini Steve?" tanya Dania melihat Steve berubah ekspresi. Terlihat jika Steve mampu melewati hal berat dalam hidupnya.
Steve tersenyum, "mencintai seseorang yang tak mencintaimu sama sekali bukan suatu akhir kehidupan. Tetapi bagaimana cara kita masih bisa membuat suasana hati tetap nyaman meski tak memiliki itu adalah suatu tantangan" ucap Steve.
"Karena cinta sejatinya tak bisa dipaksakan, pasrahkan semuanya kepada sang kuasa karena dia satu-satunya yang bisa merubah takdir." imbuh Steve.
Dania terdiam memikirkan ucapan Steve. Kini Dania sadar dirinya tak sendiri, ada Steve yang juga mengalami hal yang sama.
"Steve... ajarkan aku untuk melewati semua ini" pinta Dania.
"Itu hal gampang... ikhlaskan yang harus diikhlaskan." jawab Steve.
Malam itu kesedihan Dania berkurang karena banyak pelajaran yang bisa Dania petik dari Steve.
"Steve... terimakasih." ucap Dania.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Steve.
"Terimakasih karena kau sudah membuatku sadar jika cinta tak harus memiliki. Sakit tak berdarah ini seolah kering setelah mendengar ucapanmu. Apa kau juga sangat mencintainya?" tanya Dania yang belum mengerti siapa wanita yang dicintai Steve.
"Lu nanyain cinta..." sahut Steve.
"Setiap orang yang suka dengan seseorang pasti timbul rasa cinta. Gak mungkin gua gak cinta kalau gua bisa mengikhlaskan. Lagian juga dia juga sudah sangat bahagia, dia sudah mendapatkan pria yang tepat dalam hidupnya" ucap Steve.
"Kau terlalu dalam mencintainya sehingga kau tak sadar jika terluka," sahut Dania.
"Luka. Gua hanya anggap ini sebagai sebuah kenangan bukan luka. Kenangan kalau gua pernah mencintai seseorang yang sempurna menurut penilaian gua." ucap Steve.
"Kau sangat hebat Steve. Ajarkan aku melupakan Brandon." ucap Dania sedih.
"Bos Brandon? apa lu ngelihat bos Brandon bertemu dengan Desty?" tanya Steve keceplosan menyebut nama Desty.
"Jadi, wanita itu bernama Desty?" gumam Dania.
Steve menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Dania.
"Mereka berdua couple partner sejak lama. Tetapi diantara mereka tak satupun mengungkapkan perasaannya, padahal mereka berdua saling tertarik antar satu sama lain. Keegoisan serta keras kepala mereka yang menyebabkan mereka terpisah 3 bukan ini." Steve menjelaskan.
"Mereka sudah lama kenal?"
...----------------...
Hari minggu rasanya cepet banget ya kak, kelihatannya baru bangun tidur detik ini udah mau tidur lagi. Hoam.... Eits! ada juga loh yang sebelumnya baca novel dulu.
Nih... aku rekomendasi karya temanku dengan judul "Terpaut 20 Tahun"
Cinta akan menemukan pemiliknya. Sebuah ketidaksengajaan, keterpaksaan, dan perjodohan, bisa menjadi jalan untuk menyatukan dua hati yang berbeda.
Seorang gadis SMA bernama Aira, terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang duda bernama Affan yang merupakan ayah sahabatnya, Faya.
__ADS_1
Mengapa pernikahan itu bisa terjadi?
Akankah pasangan beda usia itu bisa saling mencintai?