
"Assalamualaikum" Sapa Ivan saat dirinya tiba di rumah Diya.
Terdengar beberapa kali pemuda itu mengucapkan salam. Namun, tiada sahutan dari dalam rumah.
"Apa Diya sudah tidar?" Pikirnya.
Tidak menyerah begitu saja. Lagi-lagi lelaki itu mengucapkan salam untuk yang kesekian kalinya.
Masih tiada sahutan. Kini Ivan mengambil ponsel di saku celananya berencana ingin menghubungi Diya. Namun, lelaki jtu sedikit ragu melaksanakan niatnya. Kasihan gadis itu sedang terlelap tidur bahkan mungkin sedang bermimpi indah. Bisa jadikan gadis itu sedang memimpikan memakai gaun putih dengan bunga di tangan nya, menanti seorang lelaki berkuda putih untuk menjemputnya. Dan lelaki itu adalah dia. Harap nya.
Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan khayalan anehnya.
"Pikir apa sih kamu Van" Tegur nya pada dirinya sendiri.
"Telpon, tidak, telpon, tidak....Aduh pusing sendiri aku harus berbuat apa" Katanya kepada dirinya sendiri. Dilirik jam di tangan nya,
"Sudah pukul 24.30 wib. Tidak baik jika aku bertamu kerumahnya jam segini. Tapi bagaimana dengan makanan ini? Apa aku memberikan kepada orang lain saja?" Kata nya lagi pelan.
"Ah coba sekali lagi, jika masih belum menjawab, aku pergi saja" Batin nya lagi.
"Assalamualaikum" Kembali salam itu di ucapkan. Masih tiada sahutan sehingga Ivan memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Baru saja berbalik. Terdengar suara kunci pintu di buka.
"Walaikumsalam" Sahut seseorang dari dalam rumah.
Ivan mengerutkan alisnya melihat seorang gadis yang sedikit gendut itu membuka pintu. Begitu juga dengan gadis itu. Dia pun sedikit heran ada lelaki tampan bertamu kerumahnya malam hari seperti ini. Mimpi apa gadis itu sehingga kejatuhan pangeran yang gagah nan tampan seperti Ivan.
"Kamu, sepertinya aku pernah ketemu sama kamu. Tapi dimana ya?" Ivan mulai mengingat.
"Iya, sepertinya wajah kamu juga tidak begitu asing" Yuli pun ikut membenarkan.
"Aduh, aku baru ingat. Kamu kan Yuli teman nya dia" Gelak tawa Ivan mulai terdengar. Ia menertawai dirinya sendiri karena dirinya lupa selain Diya ada Yuli yang ikut tinggal di rumah nya. Ya tentu saja lupa toh dia tidak begitu mengingat sosok Yuli. Yang selama ini dia hanya mengigat Diya gadis idamannya.
"Tunggu, tunggu, kamu Ivan. Ivan kan ketua Osis itu kan?" Tanya Yuli meyakini.
"Sekarang jadi general manager nya Diya. Wah memang hebat ya. Memang kamu ditakdirkan menjadi pimpinan kayak nya", Puji Yuli.
"Kamu bisa saja Yul. Oh ya, Diya nya sudah tidur?"
"Hmm....sepertinya sih sudah ya. Soalnya dari tadi lampu kamarnya sudah mati"
"Kamu tidak tidur?" Tanya Ivan.
"Sebenarnya aku sudah tidur sih tadi, tiba-tiba haus ke dapur deh ambil minuman. Eh sayup-sayup ku dengar suara orang ucapkan salam. Lama sih aku berdiri di belakang pintu untuk memastikan apa benar apa yang mu dengar. Takutnya kan malam-malam begini....arrgg" Yuli tidak melanjutkan cerita nya. Ia sedikit mengangkat bahu nya dan menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan akan hal horor yang bisa saja terjadi.
"Yah, kamu ini. Harus nya dari tadi dong buka pintu nya, jadi gak lama aku menunggu. Hampir jenggotan aku nya" Protes Ivan.
"Lagian kamu ada-ada saja. Masa hantu bisa ngucapin salam" Tambahnya lagi.
Yuli hanya nyengir.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pamit pulang dulu. Aku ke sini hanya ingin memberikan ini. Tadi sepupuku lagi ngidam ayam geprek. Saat aku belikan untuk nya, kepikiran Diya. Jadi aku belikan untuk Diya juga" Kata Ivan menyodorkan sebungkus ayam geprek kepada Yuli.
"Untuk Diya saja ni? Aku gak?" Canda Yuli.
"Eh, maaf ya Yul. Aku gak tahu jika kamu sudah pulang. Ku pikir kamu masih di Jakarta" Ivan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya deh paham, Diya kan gadis spesial untuk mu" Sidir Yuli.
Ivan tidak menjawab. Dirinya hanya senyum menanggapi perkataan sahabat gadis impian nya itu.
"Ya sudah aku pamit dulu ya. Maaf sudah menganggu mu malam-malam begini" Pamit Ivan yang kedua kalinya.
"Okez hati-hati ya" Seru Yuli melambaikan tangan mengiringi kepergian Ivan.
Yuli kembali masuk ke rumah. Mengunci pintu dan betapa kaget nya ia saat berbalik tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Asstafirullahalazim Diy, hampir saja jantungku copot tahu gak?" Yuli mengusap dadanya.
"Maaf Yul. Siapa sih?" Tanya Diya penasaran.
"Bos mu" Jawab Yuli cepat.
"Ivan maksud kamu?"
"Iya lah, emang bos kamu ada berapa?"
Diya nyengir.
"Ngapain dia ke sini malam-malam begini?"
"Nih, mau ngasih ini ayam geprek" Yuli menyodorkan sebungkus ayam geprek kepada Diya. Diya mengambil nya dan di lihat isi dalam bungkusan itu.
Yuli berlalu meninggalkan Diya menuju ke dapur untuk menunaikan niat awalnya yaitu minum.
__ADS_1
"Aku gak pesan ini kok" Diya mengerut keningnya heran lalu mengikuti Yuli.
"Iya, kamu memang gak pesan, tapi sepupunya lagi ngidam pesan itu. Terus tiba-tiba saja teringat kamu. Makanya dia beliin juga untuk kamu" Jelas Yuli mengambil botol minuman di dalam lemari es dan menuangnya ke dalam gelas lalu meneguknya.
"Ha" Diya masih belum nyambung. Otak nya sedikit lemot karena terpaksa bangun tidur untuk membasahi tenggorokan nya yang kering.
"Udah jangan di bahas lagi ah. Capek aku ngulang-ngulang nya" Protes Yuli.
"Ya sudah, kebetulan aku lapar. kamu gak mau kan? Untuk aku ya?" Pinta Yuli.
"Ye....enak aja. kan Ivan beli nya untuk aku"
"Kamu nya banyak tanya"
"Iya, iya. Ayo kita makan sama-sama. Kalau tunggu besok baru di makan, mana enak lagi"
"Ya setuju itu" Yuli bersorak senang.
Mereka pun membuka bungkusan ayam geprek di tadi. Terdapat sepotong besar ayam geprek dengan lalapan dan sebungkus kecil sambal cabe merah dengan ada sepotong tempe dan tahu di sana.
"Aduh Diy, untung Ivan pengertian ya. Potong ayam nya jumbo. Jadi bisa deh kita makan berdua"
"Ya sudah aku ambil nasi dulu ya di rice cooker dan piring nya"
"Aduh Diy, jika begini terus bisa gendut aku nya" Protes Yuli.
"Kalau tidak mau gendut ya gak usah makan malam-malam kayak gini. Biar aku saja yang makan" Jawab Diya seenaknya.
"Ya gak bisa dong Diy, rezeki jangan di tolak toh"
"Kalau gitu jangan berisik. Badan mu gendut itu sudah resiko. Makan aja udah"
"Ya Diy ya, yang penting sehat"
Diya mengangguk.
"Tapi besok sore setelah pulang kerja, kita olahraga ya" Pinta Yuli.
"Berat badan ku bertambah deh sepertinya. Ni, celana ku sudah banyak yang gak muat"
"Aku gak janji ya Yul. Kamu tahu sendiri jadi sekretaris kan gampang-gampang susah. Siapa tahu besok ada pertemuan mendadak dengan klien" Jelas Diya.
"Oke gak apa-apa. Jika kamu tidak bisa, aku pergi nge gym saja"
"Hore....terima kasih Diy"
Mereka pun melahap makanan yang ada di atas meja makan mereka dengan sangat nikmat.
"Hmm....enak, enak" Komentar Yuli saat mulai mencicipi secuil daging ayam yang di cocol kan ke sambal merah.
"Hmm....emang gak salah Ivan mencari makanan. Memang enak banget ini ayam geprek nya. Sambal nya juga, gurih, pedas, manis, asin nya terasa" Komentar nya lagi.
"Iya Yul. Kamu benar"
"Diy, jika sebelum menikah saja Ivan begitu perhatian nya dengan mu, apa lagi sudah menikah nanti ya. Pasti akan semakin perhatian sama kamu" Yuli mulai menghayal.
"Jodoh sudah ada yang ngatur Yul"
"Iya tahu kok Diy. Semoga saja aturan jodoh mu sama Ivan Senang banget aku"
"Ya Yul terserah kamu saja ya. Di aamiinin aja" Diya tidak mau terlalu melayani ucapan sahabatnya itu. Jujur saja ingin rasanya Diya berkata aku muak dengan omongan kamu yang itu-itu saja. Namun, ia enggan mengatakan nya takut jika Yuli akan tersinggung. Jadi ia memilih untuk mengalah dah diam saja
"Oh ya Diy, Ivan kan ganteng ya terus pasti banyak kenalan rekan bisnis dia yang ganteng dan mapan kayak dia. Kapan-kapan kamu bilang dong ke Ivan. Minta cariin aku pendamping hidup. Kasihan kan aku sendiri mulu" Yuli berkata dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.
"Ada sih Yul, banyak rekan bisnis Ivan. Tapi kebanyakan om-om. Kamu mau jadi simpanan mereka"
"Ih....Diya....masa kamu jodohin aku sama om-om sih. Bisa-bisa aku di cincang sama istrinya. Enggak ah. aku gak mau jadi pelakor"
"Kan kamu sendiri yang mau di jodohin sama rekan bisnis Ivan"
"Ya tapi kan bukan sama om-om juga lah Diy" Yuli kesal.
"Habis nya kamu sih minta nya yang bukan-bukan. Tapi aku doain deh kamu mendapatkan lelaki yang terbaik" Doa Diya tulus
"Aamiin makasih Diya, ayo makan lagi. Jangan malu-malu" Seru Yuli seenak nya.
Diya menggeleng kepala melihat perangai sahabatnya itu.
"Alhamdulillah....kenyang. Jadi terlelap tidurnya" Yuli mengelus-elus perut nya yang sedikit buncit itu.
"Sudah jam berapa?" Tanya Yuli melirik jam yang ada di dinding di ruang tengah rumah nya. Setelah santai mereka duduk di ruang tengah yang merupakan ruang keluarga.
"Hampir jam 02.00 wib Diy....Aduh....bisa telat nanti aku bangun nya. Aduh, tidur ku jadi tidak cukup delapan jam. Bisa-bisa, aku cepat tua" Panik Yuli.
__ADS_1
"Ya sudah Diy, aku tidur dulu ya...." Seru Yuli bergegas menuju kamarnya.
"Ya ampun Yul, segitu nya kamu. Gak baik tahu baru siap makan langsung tidur. Tunggu beberapa menit dulu biar makanan yang kamu makan di olah dulu. Entar jadi penyakit tahu" Jelas Diya. Yuli menghentikan langkahnya. Gadis gendut itu kembali mendekati Diya..
"Apa iya Diy?"
Diya mengangguk. Lihat aja di google jika tidak percaya.
"Diy, jangan-jangan aku semakin gendut lantara makan tengah malam dan langsung tidur" Tebak Yuli.
"Bisa jadi Yul" Jawab Diya seenaknya.
"Aaaaahhh....." Yuli menjerit. Diya kaget.
"Kamu kenapa Yul?" Tanya Diya panik.
"Nyesel aku Diy, makan malam langsung tidur. Aku gak tahu sama sekali lo tentang ini" Yuli sedih.
"Ya ampun Yul. Kamu ngagetin aja. Aku pikir kenapa tadi. Lagian kamu berteriak malam-malam kayak gini. Nanti tetangga dengar lalu berpikir yang bukan-bukan bagaimana?" Protes Diya.
"Habis nya aku nyesel Diy"
"Ya kesal gak gitu juga kali"
"Ya sudah kamu duduk dulu di sini tunggu beberapa menit. Kalau bisa satu jam juga gak apa-apa" Diya memberi solusi asal-asalan.
"Harus ya Diy?"
"Ya harus lah. Kalau tidak ingin bertambah gendut dan berpenyakitan"
"Aku harus nge gym besok. Harus, harus, harus" Yakin Yuli.
"Aku gak mau sakit dan bertambah gendut" Tambahnya lagi.
Diya tersenyum mendengar semangat yang bergelora pada Yuli.
***
Di tempat lain
Ferdi memberikan dua bungkus ayam geprek yang di pesan istri nya tadi.
"Ayo kita makan" Ajak Ferdi.
Sania mengangguk. Terpancar senyuman manis di wajahnya.
"Kamu duduk saja di sini, biar aku yang mengambil piring dan nasi nya" Perintah Ferdi mempersilahkan istri kesayangan nya duduk di meja makan.
Sesaat sedang mengambil piring. Kepalanya mulai terasa nyeri kembali. Tiba-tiba Piring yang ada di tangan nya terlepas dan menghantam ke lantai membuat nya berserakan.
"Ya ampun lah, kamu kenapa?" Tanya Sania panik. Menghampiri Suami nya yang masih memegang kepalanya yang sakit.
"Kepala ku sakit" Jawab nya cepat.
"Ayo kita ke rumah sakit saja" Ajak Sania cemas.
"Gak usah, aku hanya butuh istirahat saja. Nanti juga hilang"
"Tapi kamu kesakitan seperti ini lo pa, lebih baik kita ke rumah sakit saja. Periksa apa yang sebenarnya terjadi sama papa" Pinta Sania.
"Gak usah sayang, aku gak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat. Tolong antar aku ke kamar ya sayang. Biarkan aku istirahat" Pinta Ferdi. Sania mengangguk dan mencoba menopang lengan Ferdi untuk membantunya berjalan.
"Terima kasih ya sayang" Ucap Ferdi lirih.
Sania mengangguk. Dia baringkan suami tercinta di atas ranjang dan menyelimuti tubuh gagah itu dengan selimut.
"Kamu lanjutin makan nya ya sayang. Maaf aku gak bisa temenin kamu"
"Gak, aku jadi gak nafsu makan karena kamu seperti ini. Ayo kita ke rumah sakit aja ya pa" Lagi-lagi Sania memohon.
"Jangan seperti itu sayang. Aku mutar-mutar lo cari makanan itu untuk kamu. Jika kamu tidak memakan nya aku akan sedih karena pengorbanan ku tidak kamu hargai. Lagian kasihan juga dengan adik nya Junior tidak bisa memakan makanan yang ia mau." Ucap Ferdi masih dengan suara lemas mencoba untuk tersenyum.
"Ya sudah, aku akan memakan nya nanti. Tapi kamu janji mau ke rumah sakit ya untuk periksa"
Ferdi mengangguk.
"Tapi untuk malam ini izinkan aku beristirahat ya sayang. Mungkin karena terlalu capek jadi seperti ini aku nya"
"Kamu juga sih kerja mikirin kesehatan badan mu. Jika sudah sakit begini, bagaimana?" Wajah cantik sania kelihatan sedih.
"Aku kerja keras kan untuk keluarga kita sayang. Untuk memberikan kehidupan yang layak sama kamu dan Junior"
"Tapi harus perhatian kesehatan juga pa"
__ADS_1
"Iya, aku minta maaf ya sayang. Besok aku lebih memperhatikan tubuh ku lagi" Ferdi mengalah.