Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Risih


__ADS_3

Ivan tampak sedikit heran ketika Ferdi menghubungi nya.


"Ya Hallo" Sapa Ivan.


"Hallo, maaf mengganggu. Sibuk?"


"Gak, kebetulan sedang istirahat. Ada apa?"


"Aku mau minta tolong sama kamu. Boleh?" Ucap Ferdi.


"Tolong? Tolong apa?"


"Besok aja aku jelasin ke kamu. Bagaimana besok saat makan siang kita ketemuan? Nanti aku kabari lagi dimana lokasinya" Ucap Ferdi.


"Oke" Sahut Ivan menutup ponsel nya.


"Siapa?" Tanya Virda kepo.


"Suami adik sepupu ku" Jawab Ivan acuh tak acuh.


"Oh..." Virda mengangguk tidak mau melanjutkan lagi pertanyaan nya. Toh tidak pantas juga bukan dia harus mengetahui semua urusan orang. Pikirnya.


Selama di dalam ruangan, Virda terus-terusan mengoceh bercerita macam-macam. Mulai dari pekerjaan nya, liburan nya, bahkan ia bercerita bahwa di tempat kerja ada seseorang menyukainya. Bermaksud Ivan akan cemburu bahwa ada yang menyukai dirinya. Bukan nya cemburu, malahan hal itu membuat pikiran Ivan sedikit terganggu. Ia tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja.


"Aduh, ya ampun....Ini anak buat kepala ku pecah saja" Ucap Ivan dalam hati.


"Jika aku tidak mengingat bahwa kamu adalah sahabatku yang sudah ku anggap sebagai adik sendiri, dan juga jika aku tidak memikirkan kamu datang ke sini hanya sehari, sudah ku suruh kamu pulang" Ucap Ivan memijit kepalanya yang pusing karena Virda.


***


"Sayang gimana keadaan mu?" Ucap Mira datang menjenguk Ferdi saat makan siang. Dirinya langsung menuju ke rumah sakit tempat di mana Ferdi di rawat saat istirahat siang dari rumah sakit tempat nya bekerja.


Ferdi bangkit dari rebahan nya dan duduk di tempat tidur miliknya.


"Baik kok ma, nanti sore juga sudah boleh pulang" Ferdi tampak acuh tak acuh. Sejujurnya hati nya masih sakit mengingat semua yang tejadi pada dirinya adalah ulah dari mamanya yang begitu keras kepala tidak mementingkan kebahagiaan nya.


"Sudah makan kamu?"


"Sudah kok"


"Sonia mana?"


"Lagi keluar sebentar. Mungkin menjemput Junior" Ucap Ferdi cuek.


Mira duduk di kursi samping tempat tidur Ferdi.


"Kamu kenapa?" Tanya Mira.


"Gak capek aja" Ucap Ferdi singkat. Jika bukan karena Mira mamanya. Mungkin Ferdi sudah sangat memarahi nya saat ini. Namun Ferdi masih memiliki etika untuk menghormati mama kandungnya. Oleh karena itu ia bersikap dingin terhadap mamanya untuk melampiaskan kekecewaan di hatinya saat ini.


"Fer, kamu masih marah sama mama? Mama minta maaf ya. Tolong jangan bersikap dingin seperti ini sama mama ya" Ucap Mira penuh dengan penyesalan.


"Kenapa mama tega memisahkan aku dan Diya? Bukan nya mama tahu aku sangat mencintai Diya? Mama memanfaatkan kecelakaan ku untuk melupakan Diya. Sehingga semua ini terjadi ma" Ucap Ferdi.


"Mama tahu, beberapa bulan belakangan ini, Diya selalu hadir dalam mimpiku. Meski aku hanya bisa melihatnya dengan samar-samar. Tapi aku yakin Diya lah gadis itu. Awalnya aku hanya berpikir itu hanyalah bunga tidur. Dan aku berpikir kenapa aku bisa memimpikan Diya. Seperti ada sesuatu yang terlupakan bersama Diya. Semakin hari semakin jelas wajah itu. Dan pada akhirnya aku melihat nya nyata di depan ku. Sehingga membuatku ingat semua memori tentang nya" Jelas Ferdi.


"Ma, meski ingatan hilang tentang dirinya. Tapi hati ku, hai selalu untuk nya ma" Tambahnya lagi.


"Maaf kan mama ya Fer. Mama benar-benar menyesal" Mira memohon.


"Kata maaf tidak akan bisa mengubah semua nya ma. Kata maaf tidak akan bisa membuat hidup ku yang hancur kembali seperti dulu ma" Ucap Ferdi dengan mata yang memerah.


"Ya mama tahu, mama minta maaf untuk semua ini. Mama benar-benar tidak tahu semua ini akan terjadi. Mama, mama...."


"Sudah lah ma, semua juga sudah terjadi. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini" Potong Ferdi.


"Tapi mama minta sama kamu jangan kamu bersikap dingin kepada Sonia. Sonia tidak tahu semua ini. Apa lagi dia sedang hamil. Pasti dia sedih dan akan membuatnya kepikiran tentang mu. Bisa-bisa akan membuat kandungan nya bermasalah nanti" Pinta Mira.


"Ma, aku akan bersikap sebisa ku kepadanya. Jika mama menginginkan aku untuk bersikap hangat seperti dulu, aku belum bisa ma. Aku butuh waktu. Tapi aku akan berusaha untuk sebisa nya menerima dia. Bagaimana pun Sonia adalah Istriku" Ucap Ferdi mantap.


"Papa....." Junior berhamburan ke dalam pelukan Ferdi.


"Sayang" Ucap Ferdi memeluk dan mencium putra nya.


"Papa baik-baik saja kan? Papa sudah sembuh? Kapan papa pulang?" Celoteh anak dalam pangkuan Ferdi.


"Nanti papa juga akan pulang" Ucap Ferdi.


"Fer, kamu dan keluarga mu pulang ke rumah mama dan papa ya" Ucap Mira.


"Kenapa?" Tanya Ferdi heran.


"Ya kamu kan baru sembuh. Takut nanti terjadi apa-apa lagi sama kamu. Lagian kasihan juga kan Sonia. Dia kan harus banyak istirahat" Mira memberi alasan.


Mira berharap Jika Ferdi akan tinggal untuk sementara waktu di rumah nya. Agar ia bisa memberikan keyakinan agar Ferdi harus melupakan Diya.


"Gak perlu ma, aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian nya. Dan kamu Sonia, jika ingin menginap di rumah mama juga gak apa-apa. Aku izinkan" Ucap Ferdi dengan suara yang datar.


"Gak kok, aku tetap ikut kamu ke rumah ko yang" Ucap Sonia.


"Gak mungkin aku pergi Fer, gak mungkin aku biarin kamu sendirian dalam situasi seperti ini. Aku akan merebut hati mu kembali Fer. Aku akan membuktikan aku lah yang terbaik untuk mu" Ucap Sonia dalam hati.


"Pa, aku ada sesuatu untuk papa" Ucap anak berumur empat tahun itu.


"Oh ya, apa sayang?" Tanya Ferdi penasaran.


Junior mengeluarkan sebuah buku gambar dari dalam tas nya.


"Ini pa, Ini adalah papa" Junior memperlihatkan sebuah gambar lelaki dengan belakangnya terdapat sehelai kain di belakangnya. Seperti gampar superman.


"Papa adalah pahlawan mu. Papa selalu melakukan hal yang membuat aku dan mama senang selama ini. Aku sangat bangga punya papa seperti papa" Ucap Junior tulus.


Sejujurnya hati Ferdi sangat tersentuh dengan ungkapan tulis oleh anak nya itu. Meski dia belum bisa menerima Sonia sepenuhnya, tapi jika masalah Junior lain hal nya. Tidak mungkin ia bersikap dingin dengan anak nya sendiri. Anak yang tidak tahu apa-apa itu. Ferdi memeluk Junior dengan kelembutan dan menciumnya lembut.


Junior membuka lembaran kedua di buku gambarnya.

__ADS_1


"Ini gambar papa, aku, dan mama" Jelas junior memperlihatkan gambar nya yang terdapat tiga orang di gambarnya.


"Pa,. tadi di sekolah teman aku nangis. Katanya mama sama papa nya bertengkar. Aku sedih deh melihat teman ku itu pa. Papa sama mama gak akan seperti itu kan?" Junior meminta kepastian kepada papa nya


Degg.....


Sontak pertanyaan itu membuat Sonia dan Mira tersentuh. Tidak hal nya dengan Ferdi. Ia pun merasa tersentuh dan kasihan anak nya bertanya seperti itu.


"Ya Allah, kasihan cucu ku. Jika dia tahu bahwa papa nya sedang memikirkan gadis lain? Jika dia tahu papa nya belum bisa sepenuhnya menerima mamanya? Pasti dia sedih sekali. Maaf kan oma sayang. Oma yang salah" Ucap Mira dalam hatinya.


"Ya Allah, Junior kasihan sekali kamu nak. Kamu harap bersabar ya sayang. Mama akan membuat keluarga kita kembali hangat seperti sebelumnya. Doa kan mama ya sayang mama berhasil membuat papa mu kembali mencintai kita" Ucap Sonia dalam hatinya.


"Maaf kan papa ya sayang. Papa belum bisa bersikap seperti dulu sewaktu papa belum mengingat semua nya. Maaf kan papa nak" Batin Ferdi.


***


"Eh, Virda kamu ngapain?" Tanya Ivan sedikit kaget melihat Virda masuk seenak nya di mobil Ivan di tempat duduk belakang di mana tempat itu di duduki oleh dirinya dan Diya.


"Ya mau ikut kamu pulang lah. Gak mungkin kan kamu tinggalin aku di sini?" Sahut Virda memberhentikan langkahnya masuk ke dalam mobil itu.


"Iya gak di sana juga kamu duduk nya"


"Terus dimana?" Tanya gadis itu.


"Di depan sama pak Udin" Sahut Ivan seenaknya.


"Apaan sih kamu Van. Masa aku di suruh duduk sama pak Udin sih? Kamu kan sendirian di belakang. Mendingan aku sama kamu lah" Ucap nya sedikit kesal.


"Aku gak sendirian kok di belakang"


"Ha?" Virda kesal.


"Pasti gadis kampungan itu yang duduk bersama Ivan. Ngapain sih Ivan perhatian banget sama gadis itu. Cantikan juga aku bukan dia" Batin Virda.


"Tu, Diya sudah datang" Ucap Ivan saat melihat gadis impian nya berjalan keluar dari kantor.


"Lama banget sih" Ucap Ivan lembut.


"Maaf habis dari toilet juga" Ucap Diya dengan senyuman yang manis.


"Ayo kita pulang" Ajak Ivan mempersilahkan Diya masuk duluan ke dalam mobil nya. Diya pun memasuki mobil Ivan dan di ikuti oleh Ivan.


Virda masih berdiri mematung di tempat nya. Perasaanya sakit sekali melihat Ivan mengabaikan nya. Baru kali ini dia di abaikan oleh Ivan gara-gara gadis bernama Diya.


"Benarkan apa yang aku pikirkan. Pasti gadis ini yang membuat Ivan seperti ini. Lagian kenapa sih Ivan seperti ini. Sebel deh" Virda kesal.


"Van, aku boleh ya duduk bersama kamu. Aku kan cuma sehari di sini. Kasihan aku kan jauh-jauh datang ke sini tapi gak di hargai sama kamu"


"Gak di hargai gimana sih maksud kamu? Kamu sudah seharian lo bersama ku. Dan aku tidak melarang mu untuk terus berada di kantor bersama ku" Ucap Ivan lembut.


"Aku mau duduk bersama mu" Ucap Virda manja seperti anak kecil.


"Aduh Vir, kamu kan sudah besar ya. Masa masalah tempat duduk saja kamu ributin. Kan tujuan nya sama" Ucap Ivan dengan nada marah yang di tahan. Jujur saja memang dari tadi ia pusing melihat perangai gadis indobel itu.


Entah mengapa gadis itu sekarang terlihat lebih agresif memaksakan orang lain mengikuti kehendaknya. Hal itu membuat Ivan merasa sangat tidak nyaman dengan gadis itu. Mungkin dirinya merasa tersaingi dengan keberadaan Diya. Jelas saja Ivan lebih perhatian terhadap Diya dari dirinya.


Namun, hal itu berubah saat dirinya bertemu dengan Diya. Gadis itu benar-benar telah membuat lelaki yang ia incar selama ini berubah drastis.


Bahkan saat Vidio call dan chattingan saja Ivan bersikap cuek tidak sehangat dulu. Ivan selalu mencari alasan untuk menghindar dari nya dengan berdalil sibuk banyak kerjaan.


"Bengong lagi. Ayo masuk!" Perintah Ivan.


"Enggak apa-apa kok pak. Biar aku saja yang duduk di depan bersama pak Udin" Diya mengalah. Hati nya merasa tidak enak melihat Virda bertingkah seperti itu.


"Gak Diy, kamu di sini aja" Ucap Ivan.


"Ayo masuk" Tambahnya lagi ke Virda. Dengan kesal akhirnya Virda masuk ke dalam mobil itu bersebelahan duduk dengan pak Udin.


"Jalan pak" Ucap Ivan. Mobil pun melaju membelah jalan raya kota itu.


"Gadis ini benar-benar kelewatan. Aku gak mungkin membiarkan nya lebih dekat dengan Ivan. Jika terus-terusan begini, pasti Ivan akan semakin lengket dengan nya" Batin Virda melihat sinis kearah Diya melalui kaca mobil.


"Aku gak akan membiarkan nya. Aku harus bisa memisahkan Ivan dan Diya. Aku gak mau kehilangan Ivan. Aku harus melakukan sesuatu" Tambahnya lagi.


Diya menyadari sedari tadi dirinya di pantau dari kaca mobil oleh Virda. Sesekali ia melirik ke arah kaca tersebut dan beralih melihat ke luar jendela.


"Duh.....Virda kenapa sih dari tadi ngelihatin aku seperti itu? Aku jadi serba salah sama dia. Jadi gak enak deh" Ucap Diya dalam hati.


Diya melihat Ivan yang tampak sibuk dengan ponsel nya.


"Ivan juga apa salah nya aku duduk di depan. Pakai acara gak di bolehin juga lagi. Kan si Virda jadi kesal sama aku. Kau jadi serba salah di buat nya" Tambahnya lagi dalam hati.


"Seperti nya aku harus bertindak cepat. Aku harus berhenti dari kantor ku sekarang. Aku harus cari cara untuk bisa keluar tampa harus membayar kontrak perjanjian kerja di kantor itu. Aku gak mau Ivan di rebut sama gadis kampungan itu. Aku gak rela dan tidak sudi. Ivan pantasnya bersanding dengan ku" Batin Virda.


"Tapi apa ya? Alasan seperti apa yang harus aku lakukan?" Virda tampak berpikir.


"Sepertinya aku mempunyai ide bagus untuk bisa cepat keluar dari kantor itu" Virda tersenyum puas dengan ide buruk yang ia pikirkan.


"Ivan, tunggu aku dalam waktu satu atau dua bulan aku akan kembali untuk mu. Untuk membuatmu kembali seperti dulu. Kalo ini aku harus memastikan kamu akan menjadi milik ki seutuhnya" Virda tersenyum sinis dengan apa yang ada di dalam pikiran nya.


***


"Selamat sore tante" Sapa Virda berlari kecil masuk kedalam rumah megah milik keluarga Ivan.


"Hei" Sambut Ajeng dengan ramah. Ajeng tampak sedang duduk santai membaca majalah di kursi taman belakang rumah nya. Mereka pun cupika-culiki. Tentu saja Ajeng sudah sangat mengenal Virda. Secara sewaktu Ivan dan Virda kuliah dulu, Virda sering berkunjung ke rumah Ivan saat liburan. Bahkan beberapa kali.


Bahkan Ajeng cukup kenal dengan mama nya Virda yang merupakan orang Indonesia yang dulu satu kuliah dengan nya. Yah mama Virda dulunya tinggal di Pekanbaru juga. Semenjak menikah, mama Virda ikut suaminya ke belanda untuk mengurusi bisnis nya.


Bisa saja Virda melanjutkan usaha bisnis papanya. Namun, ia tidak mau melakukan itu. Ia lebih suka mencari pengalaman sendiri di perusahaan lain dan lebih suka hidup mandiri untuk mencari pengalaman tampa bergantung kepada orang tua. Begitu lah Virda. Terbukti ia mampu bekerja di salah satu perusahaan di Singapura.


Virda dan Ivan bertemu saat mereka kuliah di Australia. Di sana lah mereka menjalin hubungan persahabatan.


"Kapan datang ke sini? Kenapa gak kabarin sih mau datang? Tante kan bisa masak makanan kesukaan kamu" Ucap Ajeng dengan ramah.


"Tadi pagi kok tante aku baru nyampe di sini. Terus langsung ke kantor Ivan dan bantu-bantu dia di kantor" Jawab Virda.

__ADS_1


"Wah, bagus dong" Ucap Ajeng kagum.


"Ma, aku ke kamar dulu ya mau bersih-bersih" Ucap Iva berlalu meninggalkan kedua wanita itu untuk bercengkrama.


"Tan, om mana?" Tanya Virda melihat sekeliling tidak terlihat sama sekali lelaki paruh baya itu.


"Belum pulang om kamu sekarang sangat sibuk"


"Sibuk? Sibuk apa tante"


"Sibuk berkebun. Tuh lihat bagus kan taman di rumah tante. Ini semua om kamu yang tanam" Jawab Ajeng.


"Selain berkebun dia juga sibuk bermain golf dengan teman-teman nya. Mencari keringat katanya. Menikmati hari tua" Ajeng sedikit tertawa begitu pun dengan Virda.


"Iya Vir, selama tidak ngantor lagi om mu mencari kesibukan sendiri"


"Oh gitu ya tante. Bagus dong hitung-hitung menyenangkan hati. Toh selama ini om sibuk bekerja sampai-sampai tidak ada waktu untuk bermain golf atau yang lain nya"


"Oh ya tante, malam ini aku nginap di rumah tante ya. Cuma semalam kok. Besok aku juga udah pulang" Ucap Virda.


"Boleh-boleh aja sih. Malahan tante senang lo jika kamu nginap di sini rumah kan jadi ramai" Ucap Ajeng dengan tersenyum lebar.


"Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih ya. Tahu kan kamar tamu di mana? Masih ingat kan?" Canda Ajeng.


"Masih dong tante. Ya sudah aku ke kamar dulu ya" Ucap nya berlalu meninggalkan Ajeng di sana. Baru beberapa langkah, Virda memberhentikan langkah nya dan berbalik.


"Oh ya tante aku dan Ivan nanti makan di luar gak apa-apa kan tan? Sekalian mau jalan-jalan melihat kota ini. Secara aku kan sekali-kali cuma ke sini. Boleh kan?"


"Ya boleh dong sayang" Ucap Ajeng tersenyum ramah.


"Makasih ya tante"


Ajeng mengangguk sambil tersenyum.


"Virda? Kapan kamu datang?" Tanya Herman melihat gadis indobel itu saat dirinya baru pulang dari main golf nya. Virda dan Herman berpaspasan jalan saat herman mau ke belakang dan Virda ingin ke kamarnya.


"Tadi pagi om. Ada sedikit kerjaan di Jakarta. Setelah beres menyelesaikan pekerjaan aku langsung terbang ke sini. Udah lama juga tidak berkunjung ke sini" Jawab Virda.


"Aku nginap sini ya om untuk malam ini. Besok juga udah pulang kok om"


"Jangan kan semalam, selamanya juga boleh kok" Canda Herman.


Virda tersenyum senang mendengarnya. Karena berpikir dia telah mendapat lampu hijau dari kedua orang tua Ivan. Terlihat mereka sangat menyukainya sehingga ia memiliki keyakinan hubungan nya akan di restui dan kedua orang tua Ivan akan mendukungnya untuk bersama Ivan di bandingkan Ivan bersama gadis kampung bernama Diya itu. pikirnya.


"Om baru pulang?"


"Iya, lagi menikmati masa tua. Dari pada hanya melamun di rumah, mending olahraga kan. Badan jadi sehat. Dan otot-otot yang dulu nya lemas, jadi tegang kembali" Ucap Herman.


Virda hanya tersenyum mendengar herman berkata seperti itu.


"Aku ke kamar dulu ya mau bersih-bersih" Ucap Virda.


"Yah silahkan" Ucap Herman.


***


"Diy, lagi ngapain?" Ivan memberi pesan kepada Diya melalui ponsel nya


Diya duduk di samping kasur nya. Dia tampak baru selesai mandi dan memakai baju tidur berwarna biru dengan handuk yang masih melilit di kepalanya karena rambut nya yang basah. Diya mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping kasurnya yang sempat berdering singkat karena mendapati pesan dari Ivan.


"Baru selesai mandi" Balas Diya.


"Wah, pantesan aku mencium bau yang wangi-wangi. ternyata berasal dari mu?" Ivan mengetik dengan senyum-senyum sendiri.


"Menghina atau menghibur ni?" Balas Diya.


"Gak menghina, gak juga menghibur. Ini adalah fakta nya" Jawab Ivan.


"Makasih ya, kamu sendiri sudah mandi?" Tanya Diya.


"Belum"


"Kenapa? Ini hampir magrib lo masa belum mandi sih"


"Malas rasanya mau mandi. Malas mau keliling sama Virda. Aku risih sama dia. Tidak tahu kenapa semakin lama semakin melonjak dia nya" Ivan memberi pesan.


"Jangan begitu. Kamu kan sudah memberi janji pada nya. Kasihan lo dia hanya datang berkunjung untuk mu"


"Habis nya dia mengoceh mulu. Seharian ini aku cukup pusing di buatnya. Dulu dia tidak begitu. Entah mengapa sekarang dia telah berubah. Pusing aku Diy" Ivan memberi pesan.


"Sabar, besok dia juga akan pulang" Balas Diya.


"Diy, kamu ikut ya" Pinta Ivan.


"Gak bisa Van. Nanti Virda akan marah kepada ku. Aku tidak mau menganggu waktu mu untuk nya"


"Tapi aku jadi tidak semangat jika tidak bersama mu Diy"


"Cuma hari ini kok Van waktu mu untuk Virda. Sabar ya" Balas Diya dengan emod tersenyum.


"Udah ah, mandi gih sana. Bau asem nya sampai kesini" Canda Diya.


"Hahaha....Oke aku mandi dulu ya, bye gadis ku" Ivan.


Diya hanya membuat emod tersenyum sebagai balasan.


Ivan menghempas tubuhnya di atas kasur miliknya. Di pandang langit-langit kamar nya. Ivan tersenyum membayangkan wajah gadis impian nya.


"Diya, dia sungguh bisa membuat mood ku kembali" Ucap nya sendiri.


"Oh ya, aku belum sempat membawa Diya ketemu sama mama dan papa. Mereka pasti senang jika bertemu dengan Diya gadis pilihan ku. Aku harus mengatur waktu untuk membuat mereka bertemu" Ucap Ivan lagi.


"Tapi kapan ya waktu nya?" Ivan tampak berpikir.


"Minggu ini saja sepertinya waktu yang tepat deh" Ucap nya lagi.

__ADS_1


"Setelah Diya bertemu dengan mama dan papa, aku juga ingin berkenalan dengan orang tua nya Diya di kampung. Aku akan meminta Diya untuk mengenali ku dengan orang tua nya. Sebelum mendapati hati anak nya, aku mau mendapati hati orang tua nya dulu dan meyakini kan mereka bahwa aku pantas bersamanya" Ucap Ivan mantap penuh dengan keyakinan


__ADS_2