Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Pertandingan di mulai


__ADS_3

"Yah...kamu fikir aku ini tukang heboh apa?" Gerutu Yuli ketus.


"Merasa ni ye..." Balas Diya dan berlalu dari situ.


Yuli tersenyum dan heran melihat perubahan sikap sahabatnya.


"Gak biasa nya Diya seperti ini. Yah...Mudah-mudahan deh Diya terusan aja seperti ini. Gak serius mulu" Fikirnya lagi dengan tersenyum.


*****


Setelah merapikan pakaiannya, Diya pun keluar dari wc. Belum jauh gadis itu melangkah, Ivan sudah ada disampingnya membuat dirinya kaget.


"Astaghfirullahalazim" Ucap Diya memegang dadanya. Gadis itu menghembus nafas panjang.


"Maaf telah membuatmu kaget. Aku tidak bermaksud seperti itu" Kata Ivan merasa bersalah.


"Pertemuan kita mengejutkan saja ya? Lain kali jangan seperti itu lagi. Untung aku gak jantungan"


"Kalau jantungan, paling-paling aku yang repot. Betulkan?" Sambung Ivan dengan tersenyum.


Diya menghentikan langkahnya lalu tersenyum.

__ADS_1


"Kamu gak ikut pertandingan?" Tanya Diya berjalan lagi diantara koridor-koridor sekolah diikuti Ivan.


"Ikut...Kan belum mulai. Masih ada 5 menit. Nanti beri suportnya ya" Kata Ivan bersemangat.


"Mana boleh begitu. Aku pasti mendukung tim sekolah ku"


"Ya....Setidaknya kehadiran kamu itu sudah cukup bagiku" Diya tersenyum mendengar Ivan berkata seperti itu.


"Emangnya, aku ini spesial buat kamu? Hingga kamu bisa berbicara seperti itu?" Canda Diya.


"Iya....Spesial sekali" Jawab Ivan serius. Diya menghentikan langkahnya dan mengerut keningnya tidak mengerti apa maksud pemuda itu bisa berbicara seperti itu.


"Kenapa? Bingung?" Tegur Ivan melihat gadis itu terdiam. Diya tersenyum dan sadar.


"Kamu memang istimewa buatku" Kata Ivan meyakinkan gadis itu lagi. Lagi-lagi Diya menghentikan langkahnya tercengang mendengar pemuda itu blak-blakan berkata dengan nya membuat gadis itu bingung. Ivan tersenyum lagi malah ia tertawa kecil melihat Diya bengong seperti itu. Diya sadar.


"Kamu gak ikut pertandingan? Tuh ada panggilan buat mu untuk ikut pertandingan basket" Ujar Diya merubah topik pembicaraan bila mendengar nama Ivan di panggil pakai pengeras suara agar segera menuju ke arena basket.


"Oh...Iya...Yuk kita ke sana" Ajak Ivan ketika suara itu terdengar lagi.


"Kamu duluan saja. Ntar aku nyusul" Elak Diya gak mau nantinya kepergok kak Ferdi.

__ADS_1


"Ntar berabe urusannya" Fikir Diya.


"Ua udah...Tapi benar ya kamu akan hadir disana?" Kata Ivan meyakinkan Diya untuk berjanji.


"Inshaallah" Jawab Diya tersenyum.


"Da....",


Ivan pun segera berlari meninggalkan Diya yang menghembuskan nafas lega.


"Hampir saja" Fikirnya bersyukur kepada yang maha kuasa.


*****


Sorak sorai penonton riuh rendah memberi semangat pada timnya masing-masing.


Ferdi dan teman-teman yang lain sudah mengambil posisi masing-masing untuk memulai pertandingannya. Pemuda itu mengerut keningnya dan berfikir.


"Kok Diya tidak ada? Dimana gadis itu?" Fikirnya melihat Yuli sendirian di tempat duduknya. Ferdi memberi isyarat kepada Yuli Diya dimana? Yuli menjawab dengan isyarat pula kalau Diya ke wc. Ferdi mengangguk-ngangguk mengerti. Sekarang, ia harus berkonsentrasi dalam pertandingannya.


*****

__ADS_1


Diya menghempaskan tubuhnya diatas kursi taman sekolah. Gadis itu tidak mengerti apa maksud Ivan berkata seperti tadi. Diya menarik nafas lalu dilepasnya kuat-kuat untuk menghilangkan kegelisahan hatinya. Ada kekawatiran di hatinya.


"Mudah-mudahan ini cuma perasaan ku saja" Fikirnya masih dengan termangguk-mangguk.


__ADS_2