
"Mari mbak saya antar ke kantor" Sapa pak Udin kepada Diya saat dirinya telah sampai di rumah Diya.
"Lo, Diy, Ivan mana?" Tanya Yuli yang kebetulan ingin berangkat ke kantor saat itu juga.
"Ivan ada keperluan mendadak. Jadi gak bisa pergi ke kantor sama-sama pagi ini. Nanti siang ia akan kembali ke kantor jika sudah kelar urusan nya" Jawab Diya berbohong.
"Aku duluan ya Yul. Kamu pergi bareng Zaki?"
"Iya, eh tu orang nya udah datang" Ujar Yuli melihat kekasih nya datang menjemputnya menggunakan sepeda motor bebek.
"Duluan ya Diy"
"Iya hati-hati ya" Jawab Diya melambaikan tangan nya.
"Silahkan masuk mbak" Kata pak Udin.
Yah hari ini pak Udin lah yang bertugas membuka pintu mobil, biasanya ada Ivan yang selalu membuka pintu mobil untuk gadis idaman nya itu.
"Iya pak makasih" Jawab Diya masuk ke bangku belakang tepat dimana ia dan Ivan selalu duduk di sana.
***
"Van, udah siap? Ayo berangkat" Ajak Virda saat mereka selesai menyantap sarapan nya.
"Berangkat kemana?" Tanya Ajeng penasaran.
"Gak ngantor kamu Van?" Tanya Herman menempeli.
"Enggak pa, pagi ini aku gak masuk kantor. Aku mau bantu-batu Virda pindah ke apartemen baru nya dan menemani nya membeli beberapa keperluan untuk apartemen nya" Jawab Ivan.
"Oh gitu, pindah hari ini kamu Vir?" Tanya Ajeng.
"Iya tante, tidak enak juga lama-lama di sini" Jawab Virda dengan raut wajah agak kesal karena yah tahu sendiri bahwa ia selalu di usir oleh keluarga Ivan agar cepat pindah dari rumah nya.
Yah karena Virda nya juga yang bersikap seenak nya kepada Ivan. Yang membuat Ivan merasa risih kepadanya.
"Oh ya pa, papa pagi ini gak ada kegiatan kan? Aku mau pinjam mobil papa untuk mengantar Virda ke apartemen nya. Mobil ku di bawa pak Udin untuk mengantar Diya ke kantor" Jelas Ivan.
"Jadi Diya di antar sama pak Udin? Apa-apaan sih Ivan. Perhatian banget sama Diya. Biarin aja lah tuh cewek naik taksi. Berlaga menjadi nyonya besar lagi pakai di antarin segala lagi" Batin Virda melihat sinis kearah Ivan.
"Pakai aja Van. Papa juga di rumah aja hari ini. Itu anak-anak papa sudah lama gak papa kunjungi. Kasihan mereka" Ujar Herman terdengar bercanda.
"Anak-anak?" Tanya Ivan.
"Itu lo, tanaman papa di kebun Van" Sambut Ajeng.
"Iya Van, lihat tanaman papa yang papa anggap sebagai anak sendiri. Papa rawat dengan kasih sayang, tumbuh dengan subur dan indah bukan?" Ujar Herman menjelaskan.
Ivan dan Ajeng tersenyum mendengar ungkapan dari lelaki paruh baya itu seraya menggelengkan kepala.
"Ya sudah kami pamit dulu ya pa, ma" Ujar Ivan.
"Ya sudah hati-hati ya kalian" Ucap Ajeng.
"Ya ma" Jawab Ivan mencium punggung tangan papa dan mama nya tak lupa kecupan sayang di jidat mama tercintanya.
"Permisi om, tante" Ujar Virda berlagak sopan.
***
"Bagaimana Van apartemen nya? Bagus kan? Dan yang paling penting nyaman" Tanya Virda saat mereka sudah sampai di apartemen yang akan Virda tempati.
"Iya bagus kok. Nyaman juga" Ivan berkomentar.
"Sekarang aku perlu membelikan beberapa perabotan lagi seperti kulkas, lemari, tempat tidur, sofa dan barang lain nya" Ujar Virda.
__ADS_1
Memang apartemen yang akan di tempati Virda masih kosong dengan perabotan-perabotan nya, hanya ada beberapa perabotan saja yang memang ada di sana seperti kompor listrik, oven, televisi, dan lain-lain pokok nya barang perabotan kecil-kecil saja yang ada di apartemen itu. Selebihnya Virda harus membeli sendiri.
"Ayo Van kita ke toko untuk membeli perabotan yang kurang" Ajak Virda.
Tampa di ajak dua kali Ivan pun menuruti kemauan Virda.
"Jika masih duduk bersantai lagi, bisa telat nanti nya aku ke kantor" Ujar Ivan dalam hati.
Setelah beberapa jam mereka keliling membeli perabotan-perabotan yang kurang dan telah mendapatkan nya, mereka pun kembali ke apartemen. Menunggu para karyawan yang kerja di toko tempat mereka membeli perabotan tadi mengantar ke alamat apartemen nya Virda.
Setelah beberapa menit mereka sampai, para karyawan yang mengantar pesanan perabotan pun sampai. Dan mereka pun menyusun dan mengatur di mana letak perabotan yang mereka beli tadi di dalam apartemen itu.
"Akhirnya selesai juga" Ujar Ivan setelah beberapa jam mereka beres-beres di apartemen itu.
Di lirik jam yang ia kenakan di tangan nya pukul Sebelas siang. Waktu istirahat. Masih sempat aku pergi kekantor nanti nya.
"Van kamu makan siang di sini aja ya, aku sudah pesan makanan untuk kita" Ujar Virda.
Ivan mengangguk setuju.
Virda tersenyum senang mendengar nya. Saat Ivan pergi ke toilet, Virda pun bertindak. Ia mengambil ponsel Ivan yang tergeletak di atas meja makan.
"Ternyata, kata sandi di ponsel mu tidak berubah Van?" Ujar Virda mengotak atik ponsel Ivan.
Pencarian nya terhenti ketika mendapati apa yang ia cari. Yaitu nomor kontak nya Diya. Virda tersenyum senang dan menyalin nomor kontak itu ke dalam ponsel nya. Setelah itu meletakan kembali ponsel Ivan ke tempat nya semula.
Virda tersenyum senang dengan apa yang ia dapatkan barusan.
"Tunggu Diya, tunggu lah permainan ku. Aku akan membuat kamu dan Ivan bertengkar hebat. Dan Ivan akan kembali kepada ku yang memang harus nya Ivan untuk ku" Ujar Virda tersenyum puas.
"Vir, aku berangkat ke kantor dulu ya" Ujar Ivan setelah ia keluar dari toilet.
"Lo Van, baru juga jam sebelas. Sebentar lagi dong. Ini kan jam istirahat. Lagian makanan yang aku pesan juga belum sampai" Ujar Virda.
Ivan kembali duduk di kursi meja makan tepat dimana Virda duduk di sama.
Mereka pun menyantap makanan itu dengan lahap nya.
"Diy, Sudah makan?" Ivan mengirimkan pesan kepada Diya yang berada di kantor.
"Belum sih, ini mau ke kantin untuk makan siang" Jawab Diya dengan emod tersenyum.
"Kamu sendiri sudah makan belum" Tanya nya lagi.
"Ini lagi makan sama Virda di apartemen nya" Jawab Ivan.
Degg....
Entah mengapa mendengar nama itu membuat hati nya terasa sakit.
"Ya sudah jika sedang makan, lebih baik makan saja dulu. Nanti baru sambung chat nya jika sudah selesai makan" Pesan Diya.
"Oke deh sweety. Tunggu aku ya, sebenar lagi aku ke kantor" Balas Ivan.
Diya hanya membalas dengan stiker Oke.
"Selamat siang Diy" Sapa seseorang yang bukan lain adalah Ferdi.
"Kak Ferdi, ngapain ke sini" Tanya Diya dengan kaget.
"Mau menemui mu lah, masa seorang teman tidak boleh bertemu dengan teman nya" Ujar Ferdi merasa tidak bersalah.
"Lo kak, ini kan di kantor. Aku sedang kerja lo kak" Jawab Diya dengan merasa tidak enak.
"Iya, aku tau kok, tapi kan ini waktu nya istirahat siang. Aku mau mengajak mu makan di luar. Mau kan?" Tawar Ferdi dengan penuh harapan.
__ADS_1
"Maaf kak aku gak bisa. Aku mau makan di sini saja" Jawab Diya menolak.
"Lo, kenapa? Apa salah nya kita pergi makan siang sebagai seorang teman" Jawab Ferdi.
"Memang tidak ada salah nya jika mereka berpikir kita hanya sebagai teman. Tapi apa setiap orang itu mempunyai pikiran yang sama kak? Tidak bukan? Terlebih lagi mama dan istri mu Sonia. Jika mereka melihat kita, pasti mereka berpikir buruk lagi tentang ku" Jawab Diya dengan sedikit meninggi.
"Berpikir buruk lagi? Tunggu, tunggu perkataan kamu tadi seolah-olah mereka pernah berpikir buruk tentang mu" Kata Ferdi heran.
"Iya,. memang pernah berpikir buruk tentang ku. Dan sampai sekarang mama mu masih berpikir buruk tentang ku. Kak aku mohon, jangan lah seperti ini. Lupakan lah aku kembali lah bersama keluarga mu. Aku lelah kak, aku lelah di hakimi dan di tuduh berbuat hal yang tidak pernah aku lakukan"
"Apa sih Diy maksud mu? Siapa yang menghakimi mu? Apa mama? Atau Sonia?" Tanya Ferdi tidak mengerti.
"Tidak perlu kamu tahu siapa yang menghakimi ku. Yang harus kamu tahu kita jangan pernah saling berhubungan lagi. Kita sudah mempunyai kehidupan kita masing-masing. Sekarang kita sudah berbeda kak. Aku mohon jalani lah kehidupan kita masing-masing" Ucap Diya memohon.
"Semudah itu kah kamu meminta ku untuk melupakan mu Diy? Jika aku mengetahui bahwa kamu tidak menginginkan ku lagi, dan jika aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk tidak sembuh dari amnesia ku. Lebih baik aku seperti dulu tidak mengingat semua tentang mu Diy" Ucap Ferdi lirih.
"Maaf kan aku kak, kita sekarang berbeda. Tolong pahami itu. Aku tidak mau jadi duri di dalam keluarga kalian"
"Diy, takdir telah berkata lain Diy, Aku telah mengingat semua nya. Aku yakin takdir menginginkan kita bersama. Mewujudkan semua mimpi kita bersama" Ferdi memohon.
"Apa maksud mu kak? Kamu menginginkan ku untuk kembali, terus bagaimana dengan Sonia istri mu? Apa kamu masih mau bersama nya? Atau meninggalkan nya demi aku?" Tanya Diya dengan emosi. Tidak terasa beberapa air bening membasahi pipinya. Yah sungguh hati nya sakit saat ini. Di saat dia berusaha melupakan Ferdi, laki-laki itu terus saja memohon dan mengejar nya.
"Apa yang kamu ingin kan? Jika kamu meminta ku untuk melepaskan nya aku akan lakukan itu demi kamu. Dan jika kamu meminta ku untuk terus bersama nya juga aku akan melakukan nya. Asalkan kamu terus bersama ku. Aku ingin mewujudkan mimpi kita Diy" Ferdi memohon.
"Jika aku ingin kalian tetap bersama, artinya aku harus membagi cintaku dan tentu nya itu akan membuat ku sakit hati karena aku tahu semua lelaki pasti tidak akan bisa belaku adil. Jika bukan aku yang tersakiti, pasti Sonia yang akan tersakiti. Dan Jika aku meminta mu untuk meninggalkan nya. Arti nya aku adalah orang jahat. Gadis perusak rumah tangga orang. Yang telah memisahkan seorang wanita hamil dari suami nya dan seorang anak dari ayah nya. Tidak kak, aku tidak akan melakukan hal itu. Aku bukan orang seperti itu. Lebih baik kita jalani hidup kita seperti sekarang. Kamu bersama hidup mu dan aku bersama hidup ku" Jawab Diya mantap dengan keputusan nya.
"Diy, coba tatap mata ku dan katakan bahwa kamu membenci ku dan tidak mencintai ku lagi" Ujar Ferdi memegang kedua bahu gadis itu meminta kepastian.
Diya menunduk gadis itu tidak berani menatap mata lelaki yang sekarang sudah menjadi milik orang lain itu.
"Ayo Diy, katakan seperti apa yang aku katakan tadi agar aku bisa melepaskan mu dan yakin bahwa kamu memang tidak mencintai ku lagi" Ujar Ferdi lagi.
Sekian detik kemudian, akhirnya Diya memberanikan diri menatap lelaki yang ada di hadapan nya.
"Aku tidak mencintai mu kak Ferdi. Aku tidak mengharapkan mu kembali dalam hidup ku. Lupakan lah aku, kembali lah bersama Sonia istri yang harus kamu sayangi dan kamu kasih" Ujar Diya mantap menatap dengan sendu ke mata Ferdi.
Perlahan Ferdi melepaskan genggaman nya di bahu Diya. Lelaki itu menunduk tidak percaya akan apa yang barusan ia dengar.
"Kak, aku mohon lupakan aku. Dan sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Aku harap kamu mengerti dan kamu bisa terima semua ini" Ujar Diya dan berlalu meninggalkan Ferdi yang masih mematung tidak percaya dengan apa yang Diya ucap kan.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin Diya tidak mungkin tidak mencintai ku. Diya pasti bercanda. Dan masalah ia akan menikah itu pun hanya candaan nya saja agar aku cemburu. Yah dia pasti bercanda, dia tidak serius dengan semua ucapan nya barusan" Batin Ferdi yang masih berpikir bahwa Diya memang masih mencintai nya.
"Diy, sebelum janur kuning melengkung, kamu bukan milik siapa-siapa. Kamu masih bisa ku rebut dan ku miliki seperti dulu. Aku akan meyakini kan mu, bahwa aku lah yang pantas menjadi lelaki mu" Batin nya lagi penuh keyakinan.
***
"Aduh" Diya menabrak seseorang.
"Diy, kenapa? Kamu menangis?" Tanya Ferdi melihat mata sembab gadis yang ia cintai itu saat Diya mau keluar dari life di lantai bawah. Diya mau menuju ke kantin dan Ivan baru mau masuk ke life karena mau pergi ke lantai tempat di mana ruangan nya berada.
"Van, Kamu sudah kembali?" Tanya Diya melihat siapa yang ia tabrak barusan.
"Iya, kamu kenapa? Mata mu sembab seperti ini? Habis menangis?" Tanya Ivan dengan cemas.
"Gak apa-apa kok Van. Tadi terlalu lama di depan laptop jadi perih mata ku dan yah seperti ini lah jadi nya" Ujar Diya memberi alasan yang bohong.
"Oh gitu, tapi benarkan kamu tidak apa-apa. Apa kita perlu periksa ke dokter dengan mata mu?" Tanya Ivan lagi.
"Gak usah deh Van. Nanti juga baikan kok. Hanya perlu istirahat saja mata ku" Jawab Diya lagi berbohong.
"Ya sudah, kamu mau kemana?" Tanya Ivan.
"Mau ke kantin belum makan soal nya"
"Ayo aku temani kamu makan"
__ADS_1
Diya mengangguk setuju.