
"Van, kamu kapan cuti nya? Acara pernikahan kita sudah di depan mata lo Van. Masa kamu masih kerja sih" Ujar Diya.
"Aku akan usahakan untuk libur ya sayang sekitar tiga hari sebelum hari H nya. Soal nya masih ada proyek yang belum selesai sayang. Ini lihat baru saja klien komplen masalah proyek nya ada masalah" Jelas Ivan.
"Lagian, aku haru selesaikan masalah ini secepatnya. Agar aku dan kamu bisa menikmati bulan madu di kapal persiar sesuai dengan impian kamu. Jika proyek ini selesai, maka keuntungan yang aku peroleh akan bisa membawa kita hany moon sesuai dengan impian kamu sayang" Jelas nya lagi.
"Sebentar ya sayang aku mau mengangkat telfon nya dulu" Ujar Ivan pergi ke luar untuk mengangkat ponsel nya yang berdering.
Diya mengerutkan kening nya. Merasa aneh dengan sikap nya Ivan. Bagaimana tidak, biasanya Ivan selalu mengangkat ponsel nya di hadapan nya. Tentang apa pun itu. Tapi ini kenapa ia malah keluar dari kamar seolah-olah menghindar dan tidak mau aku tahu urusan nya.
"Apa ada yang di sembunyikan sama Ivan?" Diya mulai curiga
***
"Hallo" Jawab Ivan saat memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti dan mendengar pembicaraan nya.
"Kalian tolong selidiki wanita yang bernama Virda. Tolong carikan semua informasi tentang dia" Ujar Ivan kepada beberapa mata-matanya untuk menyelidiki Virda.
"Nanti gadis. Itu akan ku kirimkan ke kalian" Tambahnya lagi langsung menutup ponsel nya.
"Kita memang sudah berteman lama Vir, kita sudah melewati masa sulit bersama. Tapi melihat kamu berubah seperti ini, Aku menjadi tidak mengenal mu. Kamu seperti orang asing yang baru ku jumpai" Batin Ivan.
"Van, kamu belum tidur?" Tanya Mirna melihat menantunya masih mematung di ruang tamu dengan berbagai pikiran di otak nya.
"Belum buk, tadi ada klien yang nelpon Ada sedikit masalah di proyek. Jadi besok pagi aku harus berangkat pagi-pagi ke sana" Ivan berbohong
"Oh gitu, semoga masalah nya cepat selesai ya"
"Iya buk"
"Ya sudah ibu ke kamar dulu"
Ivan mengangguk.
Kembali Ivan mengetik salah satu nomor di ponsel nya.
Terdengar suara sambungan dari ponsel nya.
"Hallo" Ujar Ivan saat terdengar suara dari seberang.
"Hallo pak Ivan, ada yang bisa saya bantu?" Ujar orang tadi.
"Iya, saya meminta bantuan sama pak Robert kebetulan pak Robert ini salah satu orang yang penting rumah sakit bunda kasih" Ujar Ivan basa-basi.
"Apa yang bisa saya bantu pak?"
"Tadi siang, saya melakukan tes DNA bersama seorang gadis bernama Virda atas janin yang ada di dalam kandungan nya. Namun saya merasa ada yang aneh dengan hasil tes itu pak. Saya merasa, saya tidak pernah berhubungan dengan nya namun kenapa hasil tes DNA itu menunjukkan bahwa dia sedang mengandung anak ku" Jelas Ivan.
"Apakah tes itu bisa di lakukan ulang pak?" Tanya Ivan lagi.
"Mohon maaf pak, jika bapak mau melakukan tes ulang, maka kita harus mengambil ulang sempel yang di perlukan dari bapak dan juga janin yang ada di dalam kandungan Virda itu. Karena sampel yang di ambil tadi hanya bisa di lakukan tes satu kali" Jelas orang tadi yang tak lain adalah seorang dokter di rumah sakit itu dan kebetulan dia juga adalah seorang maneger di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Jika bapak ingin melakukan tes ulang, boleh kok pak. Kita kan melakukan nya lagi. Karena bapak masih meragukan hasil tes tadi siang. Namun, saya saran kan bahwa resiko untuk buk Virda akan tinggi pak. Terlebih lagi, dia baru saja melakukan tes DNA itu tadi" Jelas dokter itu lagi.
Mendengar penjelasan dari dokter tadi membuat Ivan tampak berpikir dia masih memikirkan keadaan Virda bagaimana mungkin dia melakukan tes DNA itu lagi yang pasti akan membahayakan nyawa Virda. Jika terjadi sesuatu kepada Virda, pasti dia lah yang akan di salahkan karena atas keegoisan nya membuat Virda seperti ini.
"Bagaimana pak?" Tanya dokter tadi.
"Baik pak, terima kasih atas informasinya. Nanti saya kabari lagi jika saya jadi untuk melakukan tes DNA ulang" Ujar Ivan menutup ponsel nya.
__ADS_1
"Van, tes DNA? Siapa yang mau melakukan tes DNA Van?" Tanya Diya yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Ivan.
"Teman ku, cewek nya hamil, Cewek nya bilang itu anak dari hubungan nya dengan teman ku. Tapi teman ku tidak merasa bahwa dia melakukan itu kepada cewek nya. Karena itu dia mau melakukan tes DNA atas anak yang di kandung oleh nya untuk membuktikan benar atau tidak nya janin itu adalah anak nya" Bohong Ivan.
"Terus bagaimana apakah sudah melakukan tes DNA dan hasilnya sudah keluar?"
"Belum sih Diy, kata dokter yang aku telfon tadi, melakukan tes DNA itu akan beresiko tinggi kepada ceweknya dan juga janin yang ada di dalam kandungannya. Bisa menyebabkan keguguran dan untuk ceweknya itu akan terjadi pendarahan yang hebat. Jadi ya aku nggak tahu sih apakah temanku mau mengambil resiko sebesar ini untuk ceweknya itu" Jelas Ivan berbohong lagi.
"Oh begitu lagian temen kamu itu apa-apaan sih Van . Kok jadi laki-laki nggak mau bertanggung jawab. Masa mau enaknya aja dan nggak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Kamu lihat sekarang sudah hamil malah nggak di akui kalau itu adalah anaknya"
"Tapi Diy, temanku bilang dia tidak pernah melakukan hal itu kepada ceweknya. Masa bisa hamil sih anaknya jadi dia meragukan bahwa janin yang ada di dalam kandungannya itu adalah anaknya. Begitu Diy, kamu jangan salah paham gitu dong sama temanku" Bela Ivan
Diya mengerut kening nya.
"Kok kamu malah marah sih sama aku. Kan aku cuma bilang ya laki-laki Kebanyakan sih seperti itu. Sudah dapat enaknya dan resikonya nggak mau dia tanggung terbukti kan sudah hamil masa ditinggal dan nggak mau bertanggung jawab" Jelas Diya.
"Itu kebanyakan laki-laki ya Diy. Jangan samakan dengan aku. Aku nggak seperti itu loh" Puji Ivan kepada dirinya sendiri.
"Siapa bilang kamu nggak seperti itu" Goda Diya.
Deg....
Jantung Ivan berdegup kencang mendengar ucapan Diya barusan.
"Apa Diya tahu bahwa yang aku bilang barusan adalah aku?" Batin Ivan dengan raut wajah yang berubah pias.
Diya tertawa lepas melihat ekspresi Ivan yang tampak serius seperti itu.
"Kok wajahmu jadi serius seperti itu sih Van. Aku kan cuma bercanda. Aku percaya kok sama kamu. Kamu nggak mungkin melakukan hal itu. Karena itu aku mau menikah sama kamu dan menjadikan kamu sebagai suamiku. Aku yakin kamu adalah laki-laki yang baik dan bisa menjadi imam serta ayah yang baik untuk aku dan anakku kelak. Malahan dari yang terbaik di atas yang terbaik" Puji Diya.
Ivan bernapas lega mendengar ucapan istri nya barusan.
"Maaf kan aku Diy, jika kamu tahu yang sebenarnya. Apa kamu masih mau menganggap aku sebagai suami yang baik untuk mu? Aku telah berbohong kepada mu Diy, aku lakukan ini karena aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu Diy. Aku sudah menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan kamu. Dan ketika aku telah mendapatkan kamu, tidak mungkin aku bisa melepaskan kamu begitu saja. Maafkan aku Diy, sekali lagi maafkan aku" Batin Ivan merasa bersalah.
Diya melangkah menuju kamar nya.
"Diy" Tegur Ivan.
"Ya ada apa?" Diya menghentikan langkahnya.
"Aku boleh nggak tidur di samping kamu untuk malam ini? aku mau memeluk kamu di dalam tidurku. Tapi aku janji kok aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Aku hanya ingin memeluk kamu untuk menenangkan pikiran ku dengan semua pekerjaan di kantor. Semua ini membuat pikiranku jadi mumet boleh ya" rengek Ivan.
Sejujurnya Ivan sangat membutuhkan pelukan hangat dari istri nya sebagai penguat diri nya yang tengah rapuh. Masalah Virda membuatnya sangat frustasi.
Harusnya menjelang pernikahannya bersama Diya, laki-laki iti merasakan kebahagiaan selayaknya para calon pengantin lainnya di mana mereka antusias menyambut hari bersejarah dalam hidup mereka itu. Namun berbeda dengan Ivan. Ivan sangat frustasi karena dia takut nanti Virda nya akan bersikap nekat di acara pernikahannya itu. Jika gadis blasteran itu akan memberitahu Diya bahwa dirinya tengah berbadan dua, itu otomatis akan membuat Diya sangat kecewa dan jelas akan meninggalkan Ivan untuk selamanya. Tidak bisa Ivan bayangkan jika dirinya hidup tanpa gadis yang ia impikan selama ini.
Hancur, pasti sangat hancur diri nya saat ini.
Diya mengangguk mengizinkan. Diya tahu bahwa suami nya saat ini tengah berada di dalam masalah. Namun, gadis itu tidak ingin memaksa Ivan untuk menceritakan nya. Mungkin Ivan butuh waktu untuk menceritakan masalah nya nanti.
Jika sudah waktunya tiba pasti Ivan akan menceritakan semua masalahnya kepada Diya.
***
Di dalam kamar.
Ivan berbaring di samping Diya.
"Tidur lah Van, hari sudah malam. Cobalah untuk memejamkan mata" Ujar Diya mengelus lembut rambut suaminya.
__ADS_1
Ivan memejamkan mata nya.
Diya menatap wajah suami nya. Tampak di wajah itu penuh dengan kelelahan. Hati nya terhenyuh melihat wajah yang di hadapan nya menyembunyikan masalah dari nya.
"Van, andai aku bisa membantumu untuk menyelesaikan semua masalahmu, aku pasti akan melakukannya untuk kamu Van aku benar-benar enggak tega melihat kamu seperti ini tertekan dengan masalah-masalah yang menimpamu. Meskipun aku tidak tahu masalahnya itu apa. Tapi aku yakin masalah itu sangat membuat kamu terbebani" Ujar Diya dalam hati nya.
"Aku siap kok Van menjadi pendengar cerita keluh kesah mu. Apa pun itu meskipun aku tidak mengerti, tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadi pendengar setia mu. Setidak nya dengan bercerita akan mengurangi beban di hati mu" Ujar Diya lagi.
Kini Diya pun memejamkan mata nya.
***
Ponsel Ivan berdering.
"Siapa sih yang menelepon ku pagi-pagi begini?" Ujar Ivan mengosok-gosok mata nya yang masih terasa berat. Lelaki itu melirik jam. yang ada di nakas samping tempat tidur nya.
"Masih pukul setengah enam pagi" Batin nya.
Ivan melirik ponsel nya untuk melihat siapa yang menghubungi nya pagi ini.
Ivan membulatkan matanya setelah mengetahui siapa yang menghubungi nya.
"Ngapain lagi sih ni anak menghubungi ku?" Batin Ivan sedikit kesal.
Ivan menolak panggilan dari Virda
Tidak mudah menyerah Virda mencoba nya lagi sampai beberapa kali.
Namun panggilannya tetap diabaikan oleh Ivan.
"Kurang ajar kamu Van, bisa-bisa nya kamu menolak panggilan ku" Kata Virda penuh amarah.
[Van, angkat telfon ku] Ujar Virda.
[Jika kamu tidak mau mengangkat telfon ku, jangan salah kan aku untuk mengatakan semua nya kepada istri tercinta mu] Kembali Virda mengancam.
[Aku masih di rumah sakit. Kata dokter hari ini aku boleh pulang. Kamu bisa kan menjemput ku?]
[Jika kamu tidak bisa menjemput ku dengan alasan apa pun nanti kamu jangan kaget ya apa yang akan terjadi selanjut nya. Aku pastikan Diya akan mengetahui semua ini dan aku juga akan memastikan bahwa Diya akan pergi meninggalkanmu karena dia merasa kecewa kepada suaminya. Dan tentu saja pernikahan kalian itu hanyalah mimpi]
[Kamu gak mau kan itu terjadi. Kamu tahu sendiri bukti kuat tentang tes DNA itu ada pada ku] Tambah nya lagi.
Ivan memijit kepalanya. pusing dengan semua ancaman demi ancaman yang Virda berikan kepadanya.
"Ya ampun, baru juga bangun tidur, malah ada masalah lagi seperti in.i Aduh aku benar-benar pusing menghadapi ini orang" Batin Ivan.
[Baik aku ke sana] Balas nya.
Virda tersenyum puas membaca balasan pesan dari Ivan. Ia merasa menang bahwa Ivan sekarang menuruti semua keinginannya.
"Gitu dong Van, kamu tuh harus selalu perhatian sama aku. Aku kan sedang mengandung anak kamu. Ya sedikit banyaknya kan aku ngelakuin ini semua hanya untuk bersamamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadaku" Ujar Virda tersenyum puas.
"Van, kamu sudah bangun" Ujar Diya saat melihat Ivan memainkan ponsel nya.
"baru aja bangun, kok kamu dari mana?" Tanya Ivan. Melihat Diya baru saja masuk ke kamar nya.
"Aku baru dari dapur kok untuk menyiapkan sarapan kita nanti. Ya aku datang ke sini untuk membangunkan kamu kan kamu sendiri yang bilang kalau hari ini kamu harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Ada proyek yang harus kamu selesaikan" Jawab Diya.
"Ya jadinya aku masak sarapan kita pagi-pagi supaya kamu bisa sarapan dan berangkat ke kantornya cepat hari ini" Tambah gadis berambut sepinggang itu.
__ADS_1
"Oh iya sayang aku lupa kalau hari ini ada proyek penting yang harus aku selesaikan pagi ini. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu. Setelah itu kita sarapannya sama-sama ya" Ujar Ivan lagi.
"Ya sudah kamu mandi saja dulu Aku tunggu kamu di meja makan ya" Ujar Diya meninggalkan Ivan