Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Fist kiss


__ADS_3

"Tapi kak, kakak harus meminta maaf kepada kedua orang tua kakak. Aku gak mau gara-gara aku, kakak jadi anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tua. Aku gak mau itu terjadi" Ferdi mengangguk membenarkan apa yang di katakan Diya.


"Ya...Aku akan meminta maaf kepada mama dan papa"


"Janji?" Ujar Diya serius.


Lagi-lagi pemuda itu mengangguk.


"Terima kasih ya kak" Ucapnya senang lalu memeluk pemuda itu. Hati dan perasaan nya sedikit tenang mendengar Ferdi berkata seperti itu.


"Sampaikan juga maaf ku kepada mereka ya kak"


"Baik lah" Mereka pun sama-sama tersenyum, sama-sama merasakan beban yang mengganjal di benak mereka sedikit berkurang.


"Oh ya, kenapa kakak tidak memberi tahu ku kalau hari ini adalah hari ulang tahun kak Ferdi? Ya setidak nya aku akan membawakan kakak hadiah" Katanya mencoba tersenyum.


"Sebenarnya, aku mau memberikan kejutan untuk mu. Tapi gara-gara mama yah...Jadi berantakan deh" Jawab pemuda itu sedikit kecewa.

__ADS_1


"Oh ya, emang nya apa yang akan kamu berikan kepada ku di hari ulang tahun ku ini?" Tanya Ferdi mulai menggoda. dan wajahnya pun sedikit ceria tidak murung seperti tadi.


Diya sedikit kaget.


"Apa?" Tanya nya berpura-pura.


"Hadiah? Sekarang memang gak ada. Tapi kalau besok pasti aku akan memberikan nya untuk kakak"


"Gak perlu besok" Ujar Ferdi.


"Sekarang kamu sudah membawanya untuk ku"


"Ada" Jawab Ferdi serius dan menatap mata gadis itu dengan penuh perasaan yang bergejolak di jiwa. Pelan-pelan wajah pemuda itu mendekat, mendekat, dan mendekat.


"Dulu, aku pernah bilang padamu bahwa aku akan meminta sesuatu padamu. Ingat itu Diya?" Ucap nya lembut. Diya mengangguk, jantung nya berdegup kencang. Desah nafas Ferdi menyentuh pipinya. Seketika bulu kuduk nya pun berdiri.


"Apa aku boleh memintanya sekarang?"

__ADS_1


"Apa?" Tanya Diya deg-degan. Ferdi tidak menjawab. Wajah nya semakin mendekat. Diya pasrah apa yang akan dilakukan Ferdi padanya.


Gadis itu memejamkan matanya saat bibir Ferdi menempel di bibirnya yang basah, hangat, dan lembut. Lama mereka saling menglumat, melepaskan dahaga yang sejak lama mereka impikan. Diya membuka matanya saat ciuman itu berakhir. Ferdi tersenyum lembut kepadanya.


"Terima kasih Diy" Ucap nya lirih.


"Kamu telah memberi hadiah yang sangat berharga bagiku yang akan selalu ku kenang sampai kapan pun" Katanya dengan senyuman yang sangat di sukai gadis itu.


"Aku sangat mencintai mu Diy, Aku takut sekali kehilangan mu" Katanya lagi.


"Aku juga kak" Jawab Diya membalas tatapan pemuda itu. Mereka sama-sama tersenyum, sama-sama merasakan kebahagiaan yang tidak akan terlupakan. Bulan sabit menampak kan cahaya nya yang samar-samar di balik awan yang hitam. Ia menjadi saksi kisah cinta dua insan yang lagi kasmaran. Beberapa muda mudi berpasang-pasangan meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Ferdi dan Diya. Di roro itu lah mereka mengucapkan janji setia nya.


*****


Diya terbangun dari tidur nya saat ponsel yang di berikan Ferdi padanya berdering.


Diya melirik jam yang tertempel di dinding kamar nya.

__ADS_1


"Setengah dua" Fikirnya.


"Siapa yang menelefon ku malam-malam begini?" Fikirnya lagi seraya mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat.


__ADS_2