Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Malam. pertama


__ADS_3

"Diy, kenapa? Dari tadi kamu perhatikan kamu tampak diam" Ujar Ivan melihat istri nya terus berdiam diri.


Diya yang tadi nya sibuk menghapus semua make up yang menghiasi wajah nya di depan cermin, kini berbalik menatap Ivan yang duduk di kasur yang terdapat di salah satu kamar hotel. Yah mereka memutuskan untuk menginap di hotel tempat mereka melaksanakan pernikahan nya tadi.


Diya menarik napas nya dalam-dalam lalu di hembuskan nya kuat-kuat.


"Van, sekarang lebih baik kamu jujur. Apa yang kamu sembunyikan dari ku?" Desak Diya.


Deg....


Jantung Ivan kembali bereaksi saat Diya mendesak nya dengan pertanyaan itu.


"Diy, gak ada yang aku sembunyikan dari kamu. Aku sudah berjanji bahwa aku takan selalu terbuka tentang masalah apa pun kepada mu" Ujar Ivan.


"Tapi sikap mu akhir-akhir ini berbeda Van. Kamu seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu kepada ku"


"Tidak sayang, aku tidak pernah menyembunyikan apa pun kepada mu. Diy, aku sangat mencintai kamu. Tidak mungkin aku menyembunyikan masalah ku kepada kamu sedangkan kamu tahu hanya kepadamu lah tempat aku berbagi masalah demi masalah yang ada di hidupku" Ujar Ivan.


"Tapi apa maksud dari Virda yang mengatakan ada sesuatu yang kelak akan membuat kalian bersatu" Ujar Diya.


"Virda ngomong begitu? " Ulang Ivan.


"Kurang ajar Virda, apa dia sengaja untuk mengatakan kepada Diya tentang apa yang terjadi kepadanya? Apa dia sengaja untuk membuat Diya curiga? Ini benar-benar gak bisa di biarkan aku harus menegur nya" Batin Ivan.


"Sayang, kamu jangan termakan sama omongan nya Virda. Kamu tahu sendiri bahwa Virda akan melakukan apa pun untuk memisahkan kita. Dia akan rela melakukan apa pun agar kita berpisah" Ivan memberi alasan.


"Pasti apa yang dia omongin ke kamu untuk membuat mu curiga kepada ku. Dan pada akhirnya kita bertengkar" Alasan Ivan memang ada benar nya juga.


"Iya ya Van kamu benar. Selama ini Virda selalu melakukan hal yang aneh-aneh demi mendapatkan kamu untuk kembali ke dalam pelukannya" Diya mulai percaya.


Ivan mendekati istri nya yang masih duduk di depan meja hias nya.


Ivan berlutut


"Sayang, aku sangat mencintai kamu. Aku sangat menyayangi kamu. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Jadi aku mohon sama kamu, apa pun yang di ucapkan Virda kepada mu, jangan kamu percaya ya. Itu hanya siasat nya untuk memisahkan kita" Ucap. Ivan meyakini gadis yang ia nikahi secara sah oleh agama dan hukum.


Diya mengangguk mengerti.


Ivan memeluk tubuh mungil istrinya. Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya yang sangat ia cintai itu.


Perlahan Ivan menurunkan ciuman nya ke kening, hidung dan berhenti di b*birnya Diya.


B*bir mereka saling menyatu. B*bir Ivan yang tebal dan hangat menyatu dengan B*bir Diya yang lembut dan manis. B*bir ini sekarang sudah menjadi candu bagi Ivan. Apa lagi b*bir ini telah sah untuk nya di sentuh.


.


Lama mereka saling *******, hingga saling bertukaran saliva. Hingga l*dah kedua nya kini bertemu dan saling bersatu. Bergelut di dalam rongga mulut mereka masing-masing.


Diya memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat dari suami nya. Yah, mungkin malam ini gadis itu harus siap merelakan kesucian nya untuk suami nya ini. Bagaimana pun Ivan sudah menepati janji nya bahwa akan menyentuhnya ketika mereka sudah sah menikah secara hukum dan agama. Terlebih acara resepsi juga sudah selesai, jadi tidak ada alasan lagi bagi Diya untuk menolak nya.


Jika terlalu lama Diya menolak, maka ia pun merasa kan kasihan untuk suami nya yamg telah lama menanti momen-momen ini.


Diya melingkarkan lengan nya ke leher Ivan. Meski bisa dia bilang bahwa Diya belum siap, namun sentuhan demi sentuhan dari Ivan membuat nya terbuai.


Detak jantung kedua nya semakin berdetak cepat. Seperti baru selesai berlari 100 km.


Yah, mereka sama-sama akan melepaskan masa lajang nya malam ini. Menikmati malam pertama yang di impikan oleh setiap pasangan suami istri yang baru menikah.


Kedua nya berjalan perlahan menuju tempat tidur tampa melepaskan c*uman hangat yang telah beberapa menit terjalin.


Ivan menekan tengkuk Diya agar c*uman yang mereka lakukan semakin dalam dan dalam lagi.


Seketika tangan Ivan mencoba perlahan memainkan aksi nya. Mere mas dengan lembut bukit kembar nan kenyal yang ada di hadapan nya.


Diya melenguh ke enakan. Baru kali ini dia merasakan sentuhan demi sentuhan yang membangkitkan keinginan nya melakukan lebih lagi dan lebih lagi. Terbuai dengan sentuhan sentuhan yang dilakukan Ivan kepadanya.


Diya memejamkan matanya. menikmati permainan yang dimainkan oleh suaminya terhadap t*buh nya.

__ADS_1


Ivan menurunkan c*uman nya di le*er jenjang istrinya. Ia menjelajahi setiap jengkal demi jengkal le*er yang belum pernah ia rasakan. Wangi tubuh Diya yang semerbak akibat suhu badan nya yang meningkat membuat Ivan semakin kecanduan dengan aroma itu.


Diya memberikan ruangan membuka lebih lebar lehernya dengan cara mendongak kepalanya ke atas agar memberi ruang yang cukup luas untuk suami nya bermain dan menyapu dengan bib*r dan l*dah nya.


Secara tidak sadar, Diya mer*mas rambut Ivan dan memeluk kepala suami nya dengan erat.. Sungguh diri nya kini merasa seperti di alam mimpi yang sangat indah.


"Ternyata begini rasanya di sentuh oleh seorang suami" Batin nya.


Setelah puas bermain di gunung kembar yang masih di baluti dengan baju, kini tangan nakal nya Ivan mulai menyelinap masuk ke dalam kain yang menutupi t*buh istrinya. Bersentuhan kulit dengan kulit membuat Diya semakin terbuai dan pasrah.


Jari jemari Ivan berhenti di sebuah permen berwarna merah muda yang terdapat di puncak kembar nya Diya. Di sama ia memijit, menggosok, dan memerasnya dengan penuh kelembutan. Membuat Diya semakin menggelinjang ke enakan.


Puas bermain di bagian atas, Ivan tangan nya mencoba untuk bermain lebih ke bawah lagi hingga mencapai lembah surga kenyal dan padat di sana. Berbentuk donat yang terdapat yang sangat menggairahkan dan sangat enak jika di cicipi.


Mengusap dengan lembut jari jemari Ivan di sana. Menikmati larva panas yang tampak membasahi lembah surga itu.


Setelah terasa cukup basah, Ivan membuka satu persatu helai kain yang menutupi t*buhnya dan t*buh istrinya.


Hingga tampak lah dada bidang nan kekar di hadapan Diya. Dan terdapat juga sebuah tiang penopang yang telah berdiri tegak siap untuk menyelusuri area lembah surgawi nya.


Diya membulat kan mata nya melihat tiang tegak kokoh di hadapan nya itu. Berkali-kali gadis yang berambut sepinggang itu menelan saliva nya.


"Apa kah benda itu bisa muat di tempat nya?" Batin Diya.


Ivan mengerti akan tatapan istri nya yang terlihat sedikit ketakutan itu. Oleh karena itu, ia kembali menjalankan aksi nya untuk memberi ketenangan kepada istrinya.


Ia kini bermain gunung kembar yang terdapat permen kecil di puncak nya dengan menggunakan l"dah nya. Men jilat, men yapu, dan sesekali meng hisap dengan lembut permen kecil itu.


Semakin tergelinjang lah Diya di buat oleh permainan suami nya itu.


Sungguh ini memang kali pertama ia merasakan sentuhan demi sentuhan yang akan bisa membuatnya kecanduan nanti nya.


"Tahan sedikit ya sayang, ini mungkin akan terasa sakit" Ujar Ivan berbisik di telinga istri nya.


Diya memejamkan matanya dengan kuat. Untuk menantikan tiang penopang itu masuk ke tempat nya.


Bisa gadis itu rasakan sakit, perih di bagian inti nya. Diya mengigit bib*r bawah nya menahan sakit sebagai pelepasan harta nya yang paling berharga yang selama ini ia jaga dengan baik.


Tidak putus asa, Ivan mencoba lagi untuk yang ke empat dan kelima kalinya. Hingga membuat gawang itu jebol oleh tiang penopang nya.


Ivan memompa dengan pelan dan lembut saat melihat istri nya mengigit bib*r bawah nya untuk menahan sakit.


Kembali ia melancarkan aksi nya men jilati kuping Diya dan berbisik "I LOVE YOU sayang. Punya mu memang sempit dan rapat." Ujar nya memuji.


Mendapati kuping nya di ji lati oleh Ivan, rasa sakit yang tadi ia rasakan kini berubah kembali menjadi kenikmatan.


Terdengar lah suara percikan cairan magma yang membasahi tiang penopang itu hingga mengakibatkan suara itu terdengar.


Kembali Ivan memompa dengan irama percikan yang terdengar di ruangan itu. Kamar itu merupakan sebagai saksi bisu perlepasan masa lajang kedua insan yang berlainan jenis kelamin itu.


Semakin laju, semakin laju Ivan memompa.


Terdengar suara erangan yang keluar dari mulut mungil gadis yang ada di ba wah nya itu.


Diya meramas sprei yang berwarna putih yang menutupi kasur nya itu.


"Ivan.... Ah.... " Ujar Diya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sungguh ia merasakan kenikmatan yang tiada ketara nya. Seperti nya saat ini ia akan terbang ke awan putih yang lembut dan halus melewati taman bunga indah berwarna warni.


Mendengar Diya mengatakan itu, semakin cepat lah Ivan melancarkan pergerakan nya. Laju, laju, dan laju hingga akhir nya...


"Ah.... " Kedua nya mengerang panjang. Sama-sama mengeluarkan larva magma panas kenikmatan mereka masing-.masing.


Ivan berbaring di samping Diya. Napas mereka terhengah-hengah kecapean karena melakukan update pertama mereka.


Keringat panas mengalir membasahi t*buh keduanya.


Ivan menarik Diya kedalam pelukan nya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, malam ini adalah malam yang paling istimewa untuk ku" Ujar Ivan mengecup hangat puncak kepala istrinya.


Diya tersenyum mendapati perlakuan hangat dari suami nya.


"Iya Van. Sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melayani suami ku" Ujar nya tersenyum manis di hadapan suaminya.


Capek bertukang malam ini membuat kedua nya terlelap tidur masalah yang dipertengkarkan tadi menjadi hilang seketika karena momen-momen indah yang mereka lalui barusan.


***


"Selamat pagi istri ku yang cantik" Ucap Ivan membangunkan istri nya dengan lembut.


Diya membuka matanya. Wajah tidur nya terlihat begitu menggemaskan oleh Ivan. Wajah polos tanpa goresan bedak dan make up membuat Diya terlihat cantik alami.


Diya menutupi wajah nya dengan selimut yang ia kena kan tadi malam. Merasa malu atas peristiwa yang ia alami bersama Ivan. Ada rasa canggung di hatinya ketika mengingat malam istimewanya bersama Ivan tadi malam. Pipi nya berubah memerah seperti kepiting rebus ketika mengingat kembali sentuhan demi sentuhan dala permainan yang Ivan tunjukan kepadanya.


Gadis itu memang belum terlalu lihai bermain. Maklum sama sekali belum ada pengalaman dan juga masih awam untuk melakukan permainan itu. Berbeda dengan Ivan, meski ini merupakan hal pertama bagi nya, tapi Ivan sudah sering menonton film begituan untuk sebagai pengetahuan nya. Terlebih saat Ivan akan menikahi Diya, lelaki itu semakin sering menonton film itu sebagai bekal nya untuk malam pertaman nya. Terbukti, sentuhan demi sentuhan yang ia tunjukan membuat Diya tak berkutik dan melenguh keenakan.


"Kenapa kamu tutupi wajah cantik mu sayang?" Tanya Ivan terdengar menggoda.


Diya menggeleng kepalanya.


"Kenapa? Malu?" Tebak Ivan.


Diya mengangguk.


"Kenapa mesti malu, kita kan sudah sah sebagai suami istri. Jadi wajar saja kita update seperti itu. Bahkan kalau setiap malam pun boleh" Ujar Ivan lagi menggoda.


Diya masih saja menutupi sebagian wajah nya dari Ivan.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu bangun dan bersih-bersih. Kita akan ke bawah untuk sarapan" Ujar Ivan lagi.


"Tapi kamu sana dulu, jangan dekat-dekat sama aku. Aku masih tidak mengenakan kain sehelai pun" Ujar Diya meminta Ivan untuk menjauh.


"Lo, tadi malam kamu sangat menikmati nya, kenapa sekarang malu? Aku sudah melihat nya kok tadi malam" Ujar Ivan lagi.


"Tadi malam lain cerita. Sekarang lain ceritanya"


"Lain cerita bagaimana? Masih orang yang sama juga kan?"


"Aduh Ivan, maksud ku tadi malam aku terbawa suasana jadi pasrah aja dengan apa yang kamu lakukan.. Kalau sekarang aku merasa malu" Ujar Diya lagi berkata jujur.


Ivan menggeleng kepalanya melihat peringai istrinya itu. Ia tersenyum lucu melihat wajah istrinya seperti kepiting rebus itu.


"Sungguh gadis yang polos" Batin nya.


"Iya, iya aku ke balkon ya. Agar kamu bisa bergerak" Ivan mengalah. Lelaki itu pun pergi ke balkon sambil menikmati udara pagi yang sejuk.


Diya mencoba berdiri, namun terasa perih di bagian inti nya.


"Aduh, berdarah lagi" Batin nya.


Lama Ivan menunggu akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya kembali.


"Diy, lagi ngapain?" Tanya Ivan melihat Diya sibuk membersihkan sprei yang menutupi kasur nya.


Diya menggunakan tisu dan juga air untuk membersihkan noda darah yang menempel di sana. Yah, Diya memutuskan untuk. Membersihkan noda itu setelah ia selesai bersih-bersih.


"Ini Van, darah" Ucap nya.


Ivan tersenyum.


"Itu bukti bahwa kamu masih bersegel"


"Iya tahu, tapi nanti jika pelayan hotel ini membereskan kamar ini, terus dia melihat noda darah itu bagaimana? Mereka tahu dong kita habis ngapain tadi malam" Ujar Diya.


"Oh, Jadi karena itu. Oke kita bawa sprei ini pulang saja"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Untuk di simpan, sebagai kenang-kenangan malam pertama kita" Ujar Ivan.


__ADS_2