
"Diya kenapa sih? Buru-buru banget. Mana sudah malam begini lagi. Aduh aku jadi khawatir juga deh sama Diya. Anak gadis keluar malam-malam di kota besar seperti ini" Ujar Yuli mulai gelisah.
"Aduh Diy, apa sih yang terjadi sama Ivan? Apa aku susul saja ya Diya. Yah aku harus menyusul Diya takut nanti terjadi apa-apa sama Diya" Ujar Yuli setelah berpikir keras.
Yuli melangkah ingin keluar rumah. Namun, langkah nya terhenti.
"Aku mau menyusul Diya, tapi kemana? Aku gak tahu Diya mau kemana" Kata Yuli lagi.
"Semoga saja Diya akan baik-baik saja. Dan sesuatu yang buruk tidak akan terjadi kepada Ivan" Ujar Yuli lagi.
***
"Ya Allah semoga Ivan baik-baik saja" Doa Diya saat dirinya berada di dalam taksi online yang ia pesan menuju ke tempat Virda.
Diya bergegas keluar dari mobil taksi itu dan berlari menuju apartemen nya Virda.
Diya mencoba membuka pintu apartemen nya Virda. Namun ternyata apartemen itu di kunci.
"Vir, Vir" Teriak Diya.
"Diya? Benar-benar nekat. Ngapain dia ke sini?" Ujar Virda mendengar suara Diya dari luar apartemen nya.
"Van, Ivan buka pintu nya" Teriak gadis itu lagi.
Virda tersenyum senang memikirkan suatu rencana untuk membuat Diya semakin cemburu.
Virda pergi menuju Ivan yang masih tergeletak lelah di atas sofa nya. Di buka beberapa kancing baju kemeja nya Ivan. Rambut Ivan di acak-acak kelihatan berantakan.
Kini giliran Virda nya yang rambut nya ia acak-acak sendiri sangat berantakan. Baju kaos yang ia kenakan kini di buka nya dan di lempar ke lantai. Ia menyambar kain selimut yang berada di tempat tidur nya dan di baluti di tubuh nya.
"Vir....Vir" Teriakan Diya terhenti saat pintu apartemen sudah di buka oleh Virda yang mengenakan selimut yang membaluti tubuh nya.
Diya membulatkan mata nya melihat penampakan di depan nya.
"Ada apa Diy?" Ujar Virda tampak santai.
"Vir, kamu, kamu ngapain seperti ini?" Tanya Diya dengan gagap nya.
"Apa ada yang salah?" Tanya Virda lagi masih dengan santai nya.
"Ivan mana?" Tanya Diya lagi mencoba mencari keberadaan Ivan yang berada di belakang nya Virda. sengaja.
"Ada, lagi kecapean. Jadi nya tidur. Ya biasa lah anak zaman sekarang. Udah lumrahnya kok" Ujar Virda tersenyum bangga nya.
"Gak mungkin Ivan seperti itu" Ujar Diya tidak percaya.
"Gak mungkin gimana? Kamu gak lihat keadaan ku sekarang bagaimana?" Tanya Virda.
"Mana Ivan" Ujar Diya memaksa masuk
Diya menolak Virda yang berada di ambang pintu agar ia bisa masuk.
"Van, Ivan" Teriak Diya.
"Van...I...." Mata nya tertuju pada tubuh yang terbaring di atas sofa.
Rambutnya kelihatan berantakan sekali. Baju kemeja nya terbuka, begitu pun dengan ikat pinggang nya.
"Ivan" Diya berdiri mematung melihat pemandangan di hadapan nya. Di sebelah sisi ia merasa tidak percaya, namun di sisi lain dengan keadaan Ivan seperti ini membuat ia ragu untuk tidak percaya atas apa yang terjadi.
"Ivan lelah Diy, Kami habis bertempur. Coba aja kamu bangunin nya pasti gak akan ngaruh. Toh orang nya saja kelelahan karena habis menikmati surga dunia" Ujar Diya lagi dengan penuh kebanggaan di dada.
"Gak mungkin Ivan seperti itu. Kamu kan yang menjebak nya. sehingga ia bisa seperti ini?"
"Hei Diy, kamu jangan salah ya. Kita sudah sering melakukan ini kok. Aku dan Ivan sudah kenal lama. Jauh sebelum kalian bertemu. Kita dekat. Kita sering bareng-bareng. Makan,.minum, mandi, tidur bahkan bersama" Ucap Virda dengan senyuman sinis nya penuh dengan kebanggaan.
"Tapi kalian kan hanya sahabat. Ivan tidak mencintai kamu" Ujar Diya dengan mata yang memerah menahan gejolak di dada nya.
"Sahabat, Iya kami memang sahabat. Emang sahabat tidak bisa melakukan hal itu? Ya bisa dong. Melakukan nya bukan harus karena cinta bukan?" Ujar Virda lagi.
__ADS_1
"Diy, mendingan kamu lupakan Ivan. Kamu gak pantas sama dia. Lagian apa kamu mau mendapatkan suami yang sudah pernah menjadi teman tidur ku?" Tanya Virda dengan tersenyum senang nya.
"Gak, gak mungkin....kamu bohong kamu hanya ingin merusak hubungan kami dengan keadaan ini. Kamu pura-pura sakit hingga Ivan percaya bahwa kamu menang sakit dan membutuhkan nya. Tapi ternyata kamu mempunyai maksud lain" Ujar Diya dengan marah nya.
"Maksud lain apa sih? Diya, diam-diam Ivan sering datang kok ke apartemen ku. Meminta kepuasan nya. Ivan berlaga sok polos seolah-olah tidak pernah berbuat hal itu kepada siapa pun padahal dia sering ketagihan untuk ku layani" Virda terus mengompori Diya.
"Gak, aku gak percaya sama kamu. Ivan..." Teriak Diya ingin membangun kan Ivan yang memang tampak kelelahan karena di kasih obat tidur oleh Virda. Jadi lelaki itu tidur dengan lelap nya tidak menyadari apa yang telah terjadi kepada nya.
Diya berlari menuju ke arah Ivan yang berbaring di sofa.
"eeeiittt...... Jangan Diya. Kamu tidak boleh membangunkan nya kasihan dia. Biarkan dia beristirahat sejenak. Mendingan kamu keluar dan pulang. Tidak baik anak gadis keluyuran malam-malam begini" Ujar Virda menahan lengan Diya yang hendak membangun kan Ivan.
"Sekarang kamu keluar dari apartemen ku. Jika ingin meminta kejelasan kepada Ivan dan ingin ia menceritakan bagaimana kenikmatan itu ia rasakan, besok saja ya. Keluar kamu Diy" Ujar Virda lagi menyeret Diya keluar dari apartemen nya.
"Lepas kan aku Vir. Ivan...Van.....Bangun" Teriak Diya penuh dengan histeris.
Virda tidak peduli dengan Diya yang teriak-teriak memanggil nama Ivan. Ia terus saja menyeret gadis itu hingga keluar dari apartemen nya.
Virda menolak kasar Diya hingga membuat nya tersungkur jatuh di atas lantai.
"Vir, kamu kenapa seperti ini? Kenapa kamu tega menjebak Ivan hingga melakukan hal ini. Bukan nya kalian bersahabat" Tanya Diya dengan deraian air mata di pipinya.
"Aku melakukan apa Diy? Aku melakukan tugas ku untuk membuat Ivan puas. Dan itu juga merupakan kebutuhan ku. Kamu ingat, dulu kami pernah kuliah di luar negeri. Hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan setiap orang di negara itu. Sehingga kami pun mengikuti kebiasaan itu. Hingga kami menjadi sama-sama ketagihan" Jelas Virda lagi. Jika Diya bisa berpikir dengan jernih saat itu pasti ia tidak begitu saja bisa percaya dengan semua yang Virda jelaskan.
Namun karena hati dan pikiran nya telah tertutupi dengan pikiran yang bukan-bukan dengan rasa cemburu di hati nya hingga membuat gadis itu percaya dengan penjelasan Virda.
"Diy, Ivan bukan laki-laki lugu seperti yang kamu pikirkan. Dia bukan laki-laki lugu yang tidak terbiasa dengan kebiasaan ini. Dia membutuhkan ini semua. Hanya aku yang tahu lebih tentang diri nya. Karena kami sama, sama-sama membutuhkan kenikmatan ini" Ujar nya lagi.
"Sekarang lebih baik kamu pulang saja. Biarkan malam ini bersama ku" Ujar Virda langsung membanting pintu apartemen nya.
"Virda....tungg...." Ujar Diya bangkit dan berusaha menahan pintu apartemen itu. Namun Virda lebih cepat menutup pintu apartemen nya.
"Virda.....Vir....." Teriak gadis berambut sepinggang itu lagi.
"Diy, lebih baik kamu pulang. Tidak ada guna nya kamu di sini. Dan tolong jangan membuat keributan, nanti penghuni apartemen yang lain terganggu. Jangan membawa kebiasaan kampung mu itu di tempat ini" Balas Virda mengejek.
Diya tidak menjawab. Hati nya kini telah hancur melihat penampakan Ivan yang kusut masat seperti tadi.
Gadis itu masih masih berdiri di depan pintu apartemen nya Virda. Ia bersandar pada pintu itu untuk menahan tubuh nya yang terasa begitu lemah.
Setelah beberapa lama Diya berdiri di ambang pintu, akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Langkah nya yang lesu dan lunglai keluar dari apartemen nya Virda.
***
"Bagus, Diya sepertinya telah termakan sama apa yang aku rencanakan. Sekarang, aku menjalankan rencana yang berikut nya. Membuat Ivan yakin bahwa ia telah melakukan ini bersama ku. Ketika ia bangun besok pagi, ia mengetahui bahwa malam ini adalah malam yang tidak bisa kita berdua lupakan" Ujar Virda tersenyum senang.
Virda menyambar ponsel nya. Ia menekan salah satu nomor kontak yang ada dan menghubungi nomor tersebut.
"Hello, tolong kalian datang ke apartemen ku" Ujar Virda.
Tak berapa lama, dua orang laki-laki berbadan agak tegap masuk ke apartemen nya Virda.
"Tolong kalian pindah kan dia ke dalam kamar ku" Perintah Virda kepada kedua orang tadi.
Tanpa di suruh dua kali, kedua orang tadi pun mengangguk mengerti dan melaksanakan tugas nya.
"Sekarang kalian boleh keluar" Ujar Virda lagi setelah tugas kedua orang itu selesai.
Mereka pun keluar menuruti perintah nya Virda.
Virda mendekati Ivan yang tertidur pulas nya.
"Ivan, sayang. Begitu ganteng nya diri mu ketika sedang tidur seperti ini. Roti sobek di perut mu pun terlihat begitu seksi di mata ku" Ujar Virda membelai lembut ke pipi Ivan dan beralih ke tubuh nya yang sixpack.
"Kita telah ditakdirkan untuk bersama. Kita akan melewati semua malam ini bersama" Ujar Virda lagi.
Virda berbaring di samping nya Ivan dan memeluk tubuh kekar itu dengan mesranya.
"Oh ya. Aku harus mengabadikan ini" Ucap Virda tersenyum puas dan mengambil sebuah foto Ivan yang kini telah berada di kamar nya.
__ADS_1
***
Kling.....
Notifikasi ponsel nya Diya berbunyi. Tampak Virda telah mengirimkan sebuah foto lagi kepada Diya. Setelah beberapa jam Diya sampai di rumah nya.
Virda sengaja mengirim foto-foto itu berjarak beberapa jam karena jika ia mengirimkan dengan waktu yang tidak berjarak, pasti Diya akan tidak percaya dengan semua yang ia katakan tadi.
Dengan tangan yang gemetar, Diya membuka foto itu. Tampak Ivan kini telah berada di kamarnya Virda.
Di foto itu tertulis caption "Setelah bangun, berpindah untuk suasana dan ronde selanjutnya"
Tangan Diya semakin bergetar. Hati nya memanas, tak terasa beberapa air bening kembali membasahi pipinya yang mulus..
"Diy, kamu sudah pulang?" Terdengar pintu kamar Diya di ketuk oleh Yuli.
Cepat-cepat Diya menghapus air matanya.
"Iya Yul aku sudah pulang kok" Ujar nya.
"Aku masuk ya"
"Masuk aja Yul"
Yuli masuk ke kamarnya Diya dan duduk di samping sahabat nya.
"Diy, kamu kenapa?" Tanya Yuli penasaran melihat sahabat nya yang tampak murung.
"Gak apa-apa kok Yul" Ujar Diya memalas.
"Oh ya gimana keadaan Ivan? Apa Dia baik-baik saja?"
Diya mengangguk.
"Emang nya ada apa sih Diy sampai kamu harus pergi malam-malam begini? Apa yang terjadi sama Ivan sebenarnya tadi?
"Apa tadi ibu mencari ku?" Bukan nya menjawab pertanyaan Yuli, Diya malah balik bertanya mengubah topik pembicaraan.
Yuli menggeleng kepalanya.
"Ibu gak cariin kamu kok. Mungkin ibu sudah tidur dengan pulas" Jawab Yuli.
"Diy, ada apa sebenarnya?" Tanya Yuli lagi.
Diya menghela napas berat nya.
"Yul, aku gak mau membahas masalah ini sekarang. Aku capek dan ngantuk. Besok saja ya kita bahas nya" Ujar Diya tidak mau membahas masalah yang telah membuat hati dan pikiran nya tidak karuan. Karena jika di bahas maka semakin membuat hati nya semakin tidak karuan lagi berlipat-lipat.
"Lebih baik kamu juga istirahat deh, sudah terlalu larut. Besok kamu juga harus kekantor" Ujar Diya.
"Tapi benar kamu gak apa-apa?" Tanya Yuli sedikit merasa aneh kepada sikap Diya yang tidak semangat itu.
Diya mengangguk.
"Aku baik-baik saja kok Yul. Saat ini jangan membahas masalah ini dulu ya. Hati dan pikiran ku lagi kurang membaik. Beri aku waktu untuk memenangkan diri. Jika sudah tenang aku pasti menceritakan nya" Ujar Diya tersenyum yang memang tampak di buat-buat.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya. Kamu istirahat juga ya Diy. Jangan terlalu memikirkan masalah ini meski aku tidak tahu masalah nya apa. Kamu harus jaga kesehatan. Kan sebentar lagi mau jadi pengantin" Ujar Yuli.
"Itu dia Yul, apa benar aku akan menjadi pengantin nanti nya? Mengingat Ivan yang sekarang telah berbuat serong bersama Virda. Hal ini membuat ku ragu akan cinta nya kepada ku" Ujar Diya dalam hati.
"Diy, Diy malah bengong" Panggil Yuli melihat Diya melamun.
Diya sadar.
"Aku ke kamar ya. Jika membutuhkan apa-apa aku ada di kamar." Ujar Yuli bangkit dan keluar dari kamar nya Diya.
***
"Ada apa sih sebenarnya? Tumben Diya murung begitu saat bertemu dengan Ivan tadi. Apa yang sebarnya terjadi kepada Ivan? Biasa nya apa pun kejadian yang terjadi kepada Diya, pasti ia menceritakan nya kepada ku. Gak pakai acara rahasia-rahasia seperti ini" Ujar Yuli ketika diri nya sudah keluar dari kamar nya Diya.
__ADS_1
"Ah sudah lah, lebih baik aku tidur cantik di kamar. Besok Diya pasti akan cerita. Biarkan dia memikirkan semua ini dan menenangkan hati nya" Ujar Yuli menuju kamarnya.