Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Siasat Virda


__ADS_3

Kling.....Kling.....Kling.....


Ponsel Ivan berbunyi terdapat beberapa notifikasi yang mengirimkan pesan gambar melalui WhatsApp.


Ivan mengambil ponsel nya yang sedari tadi tergeletak di atas meja kerja nya.


"Virda foto apa yang ia kirim" Pikirnya.


Ivan membuka isi pesan itu. Mata nya membulat setelah melihat isi dari pesan yang di kirimkan oleh Virda.


"Diya dan Ferdi? Iya ini seperti mereka. Mereka ketemuan? Ini tempat nya seperti di kantin lantai bawah deh" Ujar Ivan lagi memperhatikan lokasi tempat Diya dan Ferdi itu bertemu.


"Ngapain juga Ferdi masih berani-berani nya datang dan menemui Diya. Di kantor ini pula" Ivan merasa geram kepada Ferdi yang masih saja mengganggu Diya calon istrinya.


Ivan keluar dari ruangan nya ingin mencari Diya dan Ferdi memastikan apa kah benar kejadian di foto itu.


***


"Lo Diy dari mana?" Tanya Ivan ketika berpapasan dengan Diya saat gadis itu keluar dari life sedangkan Ivan ingin masuk turun ke lantai bawah.


"Eh Van" Ucap Diya kaget melihat Ivan berada di depan pintu life.


Diya keluar dari life itu.


"Dari mana saja kamu aku cariin juga" Ujar Ivan.


"Oh tadi aku dari kantin di lantai bawah. Ada apa kamu mencari ku?" Tanya Diya.


Degg...


Jantung Ivan jadi tidak karuan.


"Jadi benar mereka ketemuan di lantai bawah? Tapi untuk apa?" Ujar Ivan mulai merasa tidak enak hati nya.


Ivan menghela napas berat.


"Kenapa Van?" Tanya Diya dengan lembut nya.


"Kamu habis ketemuan sama Ferdi?" Ivan langsung to the poin


"Ha?" Diya kaget. Kini jantung gadis itu yang berdegup kencang.


"Dari mana Ivan tahu jika aku bertemu dengan Ferdi?" Pikir gadis itu.


"Maaf ya Van. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini semua sama kamu. Kami bertemu bukan ada maksud apa-apa kok. Dia hanya memastikan apakah benar aku akan menikah dalam waktu dekat ini. Dan dia juga ingin memastikan apa benar laki-laki itu adalah kamu" Jelas Diya.


"Terus kamu jawab apa?" Tanya Ivan menyelidik.


"Ya aku apa adanya. Gak mungkin kan aku berbohong tentang semua itu" Ujar Diya lagi.


"Aku juga meminta dia untuk tidak menganggu hidup ku lagi. Aku mau dia jalani hidup nya seperti dulu bersama keluarga kecil nya" Tambah nya lagi.


"Maaf ya Van, sudah beberapa kali kak Ferdi nekat menemui ku dan meminta ku kembali. Aku tidak menceritakan hal ini sama kamu karena aku tidak mau kamu dan kak Ferdi bertengkar. Hal itu jelas akan merusak persaudaraan kalian. Biar bagaimana pun Ferdi adalah suami dari adik sepupu mu Sonia. Maaf ya Van aku tidak berkata jujur sama kamu" Ujar Diya tertunduk lesu merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini kepada Ivan.


"Kamu marah sama aku ya Van? Kamu pasti kecewa kan sama aku. Aku benar-benar minta maaf ya" Diya memohon dengan nada yang lesu. Sesekali ia tatap mata lelaki yang ada di hadapan nya dengan sayu.


Ivan menghela napas berat. Ia tarik napasnya dalam-dalam lalu di hembusnya kuat-kuat untuk menenangkan hati nya yang telah gundah gelana.


"Aku tidak marah kok Diy sama kamu. Malahan aku senang karena kamu bisa menjaga perasaan ku. Kamu dengan tegas menolak Ferdi agar ia tidak menganggu mu lagi. Hanya saja Ferdi yang tidak tahu malu terus-terusan mengejar mu agar kamu kembali kepada nya" Ujar Ivan merasa geram kepada Ferdi.


"Benar kamu tidak marah?" Tanya Diya lagi meyakinkan.


"Iya" Jawab Ivan tersenyum ramah.


"Bagaimana bisa aku marah sama gadis yang sangat aku cintai ini" Ujar Ivan mencubit manja hidung mungil gadis di hadapan nya.


Diya tersipu malu.


"Ya sudah ayo kita ke ruangan ku" Ajak Ivan.


"Ngapain?" Tanya Diya kaget.


"Siapin file yang akan kita bawa untuk meeting siang ini" Jawab Ivan.

__ADS_1


"Lupa jika ada meeting siang ini?" Tanya Ivan.


Diya nyengir salah tingkah. Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal karena pikiran nya kini kembali somplak. Gadis itu tadi nya berpikir hal yang bukan-bukan akan terjadi ketika Ivan mengajak nya ke ruangan Ivan.


Ivan meninggalkan Diya yang masih salah tingkah nya.


"Aduh, Diy, apaan sih kamu. Ngeras aja sih pikiran nya" Ujar Diya.


***


Diya dan Ivan keluar dari kantor mereka. Mereka bebicara seperti biasa penuh dengan canda tawa dan kehangatan di antara kedua nya. Hingga mobil yang mereka gunakan untuk pergi ke tempat meeting kini telah sampai. Seperti biasa Ivan selalu membuka pintu mobil untuk Diya gadis pujaan hati nya.


Virda yang menyaksikan hal itu dari seberang jalan tampak begitu marah dan kecewa. Foto yang ia kirimkan kepada Ivan harus nya bisa membuat mereka bertengkar dan salah paham bukan malah semakin hangat seperti ini.


"Kurang ajar, apa-apaan ini? Mereka malah semakin hangat dan mesra seperti itu. Ivan memang telah di butakan oleh cinta nya gadis kampung itu, Harus nya mereka bertengkar bukan malah seperti ini" Virda menggenggam tangan nya kuat-kuat.


"Oke tunggu saja rencana ku selanjut nya. Ini pasti berhasil. Aku akan memisahkan kalian berdua dan Ivan akan kembali kepada ku" Ujar nya tersenyum dengan puas.


***


Waktu telah menunjukan pukul lima sore. Yah waktu nya untuk pulang bagi para karyawan kantor nya Ivan.


"Sayang, sudah siap?" Tanya Ivan menghampiri gadisnya di meja kerja gadis itu.


"Sudah kok. Ayo" Ucap Diya bangkit dari tempat duduk nya.


Sore ini mereka telah membuat janji dengan salah satu pihak hotel untuk menyewa hotel tersebut sebagai tempat acara pertunangan dan pernikahan mereka.


Ponsel Ivan berdering begitu mereka baru saja masuk ke dalam mobil ingin pergi ke hotel yang mereka janjikan.


Ivan mengangkat ponsel nya.


"Hallo" Sapa Ivan kepada orang seberang sana.


"Hallo Van bisa kamu datang ke apartemen ku sekarang? Aku lagi gak enak badan Van. Kepala ku pusing badan ku lemas-lemas semua. Aku gak bisa berdiri. Tolong aku Van" Ujar Virda dengan suara yang lemah seperti layak nya orang sakit.


"Aduh gimana ya Vir. Aku sudah ada janji dan harus aku temui sekarang. Nanti setelah pulang dari sana aku ke tempat mu ya" Ujar Ivan.


Diya yang duduk di samping nya merasa sedikit cemburu saat nama Virda di sebut-sebut oleh Ivan. Gadis itu hanya diam menunduk dan mendengarkan apa saja yang Ivan dan Virda bicarakan di ponsel mereka masing-masing.


Ivan menghela napas berat.


"Aduh bagaimana ya ini? Aku harus bertemu dengan pihak hotel sore ini. Tapi jika nanti Virda kenapa-kenapa bagaimana?" Batin Ivan gelisah.


"Ya sudah aku ke tempat mu sekarang ya Vir" Jawab Ivan setelah beberapa saat ia berpikir.


"Makasih ya Van. Aku tunggu" Virda menutup ponsel nya.


Gadis indobel itu meloncat-loncat kegirangan karena Ivan telah berhasil temakan oleh akting nya saat itu.


"Aku tahu kamu tidak bisa melihat ku sakit Van. Sedikit banyak nya rasa perhatian kamu ke aku masih ada" Ujar Virda tersenyum puas.


"Sekarang aku harus berpura-pura sakit agar Ivan percaya aku sakit beneran" Ujar Virda menyusun rencananya.


Gadis itu berbaring di tempat tidur selayaknya orang sakit. Ia memake up wajah nya agar terlihat lebih meyakinkan dengan bibir di buat pucat, mata di huat sembab.


Virda tersenyum puas melihat hasil make up nya yang tampak begitu sempurna.


"Ada apa Van?" Tanya Diya penasaran.


"Virda Diy, dia sakit. Katanya kepala nya pusing badan nya lemas-lemas semua. Dia sana sekali tidak bisa bangun. Gak apa-apakan kita tunda pergi ke hotelnya?" Tanya Ivan merasa cemas dengan keadaan Virda.


"Gak apa-apa kok Van. Kamu hubungi saja pihak hotel nya supaya mereka tidak menunggu kita nanti nya. Kita tunda saja pertemuan nya hari ini. Dan besok kita akan kembali menemui mereka" Jawab Diya tersenyum menahan cemburu di hati nya.


"Aduh Diy, kenapa sih kamu terlalu cemburuan seperti ini. Virda sedang sakit dan dia lagi membutuhkan Ivan saat ini. Dia tidak mempunyai siapa-siapa di sini selain Ivan" Batin Diya.


"Diy, kok melamun. Benar nih tidak apa-apa?" Tanya Ivan melihat gadis itu diam.


"Iya Van gak masalah kok. Virda lebih membutuhkan mu" Ujar Diya lagi dengan senyuman yang tampak di buat-buat.


"Tapi kenapa perasaan mu tidak enak ya? Ada hal yang membuat hati ku tidak enak saat ini yang jelas-jelas akan terjadi nanti nya. Tapi apa?" Batin Diya.


"Pak, kita ke apartemen nya Virda ya" Ujar Ivan kepada pak Udin yang mengendarai mobil nya.

__ADS_1


"Baik mas" Jawab pak Udin.


***


Beberapa menit kemudian Ivan dan Diya sampai di apartemen nya Virda. Ivan membuka pintu apartemen itu dan Diya mengikuti nya dari belakang.


"Vir, Vir" Teriak Ivan cemas mencari sosok sahabat nya.


"Ivan....." Jawab Virda dengan suara yang lemah dari arah kamar.


Ivan berlari menuju kamar nya Virda. Diya pun mengikuti nya dari belakang.


"Vir, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ivan dengan sangat panik melihat sahabat nya terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Iya aku gak apa-apa Van. Makasih ya sudah mau datang" Ucap nya mencoba bangkit dan memeluk lelaki yang duduk di samping nya


Ivan kaget saat diri nya di peluk oleh Virda.


"Terima kasih ya Van. Ternyata kamu masih peduli kepada ku" Ujar nya lagi terus memeluk Ivan.


Diya membulatkan matanya melihat adegan itu. Gadis itu merasa sakit, mata nya memanas melihat adegan yang memilukan hati nya.


Diya tidak tahan lagi ia memilih keluar dari kamar Virda dan memilih untuk duduk di sofa luar kamar nya Virda.


Diya menghela napas berat. Menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.


"Diy, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus membuang rasa cemburu ini" Ujar Diya pada dirinya sendiri.


Virda terus memeluk Ivan namun Ivan tidak membalas pelukan nya.


"Vir, lebih baik kamu istirahat saja. Jangan memaksa kan diri untuk bangun" Kata Ivan melepaskan pelukan itu dan membaringkan kembali Virda di tempat tidurnya.


"Apa kita ke dokter saja ya Vir biar kamu bisa di periksa lebih lanjut" Saran Ivan.


"Gak perlu Van. Tadi aku sudah minum obat juga. Nanti pasti juga akan baikan" Jawab Virda masih dengan suara yang lemah nya.


Sesekali gadis indobel itu berpura-pura batuk agar lebih meyakinkan Ivan.


"Benar kamu gak perlu ke dokter?" Yakin Ivan lagi.


Virda mengangguk membenarkan.


"Van, tolong temani aku ya di apartemen ini. Setidak nya sampai tubuh ku merasa membaik. Aku takut jika sendirian Van. Nanti jika sakit ku makin parah bagaimana?" Virda memohon dengan harapan yang sangat besar.


"Tapi kan Vir aku masih ada urusan" Jawab Ivan menolak.


"Aku mohon Van. Untuk kali ini saja. Aku kan sedang sakit Van. Jika aku tidak sakit aku tidak akan meminta mu untuk menemaniku seperti ini" Ujar Virda lagi dengan mata yang sayu.


Ivan menghela napas berat.


"Aduh, bagaimana ini?" Ivan tampak berpikir.


"Ya sudah aku akan menemani mu malam ini. Tapi tidak untuk tidur di sini ya. Aku hanya menemani hingga kamu merasa baikan" Jawab Ivan setelah lama berpikir.


"Terima kasih ya Van. Terima kasih kami mau menemaniku" Ujar Virda tersenyum senang.


"Sebentar ya Vir aku mau menemui Diya dulu" Ujar Ivan keluar dari kamar nya Virda.


Virda mengangguk.


"Yes....Akhirnya aku berhasil membuat mu tetap tinggal di sini bersama ku Van. Yah walaupun sebentar, tapi setidak nya aku telah berhasil membuat api cemburu untuk Diya. Dan aku harap dengan keadaan ini kamu dan Diya akan bertengkar hebat" Ujar Virda dengan senyuman kepuasan di bibir nya.


"Dan ketika itu terjadi, aku akan semakin memanasi keadaan hingga kamu akan membenci Diya dan akan kembali kepada ku. Hanya aku yang pantas untuk kamu Van. Jika kamu tidak bisa ku miliki, maka gadis mana pun juga tidak boleh memiliki kamu Van" Ujar nya lagi menatap tajam ke depan penuh dengan siasat.


"Diy" Sapa Ivan melihat Diya yang mencari kesibukan sendiri dengan membaca majalah yang tergeletak di meja depan sofa itu.


Ivan melihat kearah sumber suara.


Ivan duduk di samping gadis berambut sepinggang itu.


"Diy, kamu pulang nya di antar sama pak Udin gak apa-apa ya? Aku mau temani Virda. Kasihan dia masih sakit begini tinggal sendiri. Jika sesuatu terjadi nanti nya akan repot karena dia sendiri" Ujar Ivan memberi pengertian.


Diya hanya diam tidak menjawab.

__ADS_1


"Aku tidak nginap di sini kok Diy, aku hanya menemani setidak nya sampai dia merasa baikan" Tambah nya lagi.


__ADS_2