
Ferdi sadar dari pingsan nya dan berteriak memanggil nama Diya.
Yah, semua tentang gadis yang ia kenal saat duduk di kelas tiga SMA itu kembali lagi. Dia telah mengingat semua nya. Saat pertama bertemu, mengungkapkan perasaan cinta nya, menyakinkan cinta nya untuk Diya saat gadis itu ragu, mengungkapkan janji setia, sampai pada malam yang membuat mereka terpisah begitu lama ini terjadi.
"Nak, kami sudah sadar? Apa yang sakit?" Tanya Mira berusaha memeriksa anak semata wayang nya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Sonia mendekat dengan perasaan yang lega.
Ferdi tampak sedikit heran melihat keberadaan Sonia. Pikiran nya saat ini belum stabil. Ia hanya mengenang gadis yang bernama Diya itu.
Sonia memeluk Ferdi sambil menangis bahagia.. Namun Ferdi tidak membalas pelukan itu. Diya tampak masih kebingungan.
"Aku senang banget sayang kamu sudah sadar. Aku takut sekali sesuatu yang buruk akan terjadi kepadamu. Aku tidak mau kehilangan kamu sayang" Sonia berkata dengan penuh haru.
"Ma, Siapa?" Tanya Ferdi heran.
Degg....
hati Sonia terasa sakit saat Ferdi menanyakan hal itu. Wajar saja Ferdi sedikit bingung karena ia baru saja mendapatkan kembali memori nya yang hilang. Yah memori dimana saat ia bertemu dengan Diya gadis pujaan hatinya.
"Kamu tidak ingat siapa aku?" Tanya Sonia dengan nada yang gemetar. Yah, gemetar karena menahan gejolak di dadanya yang sulit di ungkapkan.
"Dia Sonia, istri kamu" Jawab Mira.
"Istri? Ulang Ferdi" Kembali rasa nyeri di kepala nya. Ferdi mulai berusaha mengingat tentang Sonia.
Mata nya membulat kaget. Memori saat awal bertemu dengan Sonia berputar jelas di dalam ingatan nya. Sampai ia melafalkan ijab kobul di depan para penghulu dan saksi saat itu.
"Bagaimana mungkin ? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa lupa semua tentang Diya" Pikirnya.
Ferdi kembali berusaha mengingat peristiwa tujuh tahun yang lalu.
Saat dirinya baru saja menghubungi Diya, pikiran dan hati nya berkecamuk. Hati nya begitu kecewa melihat keputusan sepihak dari mama nya. Yah mama nya yang sangat menentang hubungan Ferdi dan Diya.
Waktu Diya meminta Ferdi untuk meminta maaf kepada mama nya, tentu saja lelaki itu menuruti apa yang di perintahkan oleh gadis impian nya itu.
"Ma, pa, maaf atas sikap ku tadi saat di pesta" Ucap Ferdi mendekat saat mama dan papa nya duduk di meja makan.
"Fer, selama ini kamu tidak pernah menentang mama. Tidak pernah melawan mama, bahkan kamu tidak pernah membuat mama malu. Tapi kenapa? Kenapa hanya karena gadis kampungan itu yang tidak tahu asal usulnya, bibit bobotnya membuat kamu seperti ini?" Ucap Mira dengan nada meninggi.
"Gadis itu sudah membawa pengaruh buruk terhadap mu. Mama tidak suka kamu berhubungan dengan dia. Mama tidak sudi. Ingat Fer kamu anak seorang dokter yang terkenal di kota ini. Papa mu juga orang terpandang karena mempunyai beberapa usaha bisnis nya. Diya tidak sepadan dengan kita" Tambahnya lagi.
"Diya gadis yang baik kok ma, Diya tidak seperti apa yang mama dan papa pikirkan. Diya gadis yang baik ma. Jika masalah asal usulnya, aku tahu siapa Diya. Keluarganya aku tahu ma. Mereka orang baik-baik kok ma" Bela Ferdi.
"Dari mana kamu tahu isi hati mereka. Gadis miskin itu pasti mempunyai maksud tertentu mendekati kamu. Apa lagi dia tahu kamu anak siapa. Yah zaman sekarang tidak bisa begitu saja mempercayai orang" Sindir Mira.
"Maksud mama, Diya punya maksud lain gitu? Maksud lain seperti apa ma?" Tanya Ferdi dengan nada yang sedikit meninggi.
"Secara orang miskin ingin cepat kaya. Apa lagi jika tidak mendekati anak orang yang beruang untuk di porotin uang nya."
"Diya tidak seperti itu ma. Mama belum kenal saja dengan Diya. Jika sudah kenal, pasti mama dan papa suka sama Diya"
"Fer, apa yang di katakan mama mu ada benarnya juga. Kamu jangan terlalu percaya begitu saja dengan orang" Agus menimpali.
"Pa, aku kenal kol Diya siapa. Diya tidak seperti itu ma, pa. Tolong percaya sama aku" Ferdi memohon.
"Gak Fer, mama tidak mau kamu berhubungan sama Diya. Jika kamu mau menjalin hubungan dengan gadis, Coba lah bersama Khetrine. Khetrine lebih sempurna dari gadis kampungan itu. Dia cantik, baik, dan yang pasti bibit bobot nya jelas. Dan tentu saja Khetrine dan keluarganya setara dengan kita" Mira terus meyakinkan Ferdi.
"Aku tidak mencintai Khetrine ma"
__ADS_1
"Cinta bisa tumbuh begitu saja Fer. Cobalah dulu" Mira terus saja bersuara.
"Tidak ma, aku tetap mencintai Diya. Hanya Diya, Diya, Diya, Diya titik gak pakai koma. Hati ku hanya untuk Diya ma. Jangan memaksa ku. Dan jujur saja aku meminta maaf kepada mama dan papa atas permintaan nya Diya"
Degg....
Mira kaget, tentu saja hal itu membuatnya bertambah marah. Bagaimana tidak, anak semata wayang nya menuruti permintaan dari gadis yang baru ia kenal. Sedangkan keinginan nya tidak di dengar sama sekali. Dan hal itu juga membuat harga dirinya jatuh hanya karena gadis kampungan itu.
"Fer,. cobalah untuk mendengar mama mu. Diya hanya ingin yang terbaik untuk mu" Agus ikut berbicara.
"Pa, aku bukan anak kecil lagi. aku berhak untuk menentukan hidup ku seperti apa. Termasuk kepada siapa aku harus menambatkan hati. Selama ini aku selalu menuruti kemauan mama dan papa. Tapi aku mohon, untuk kali ini izinkan aku bersama Diya ma, pa" Ucap Ferdi dengan nada memohon.
"Gak, mama gak setuju titik" Mira masih dengan keras kepalanya.
"Baik jika mama tidak setuju, aku akan pergi dari rumah" Ucap Ferdi mengancam.
"Jadi, kamu rela meninggalkan mama dan papa hanya untuk gadis itu?" Emosi Mira semakin menggebu. Mata nya kini mulai memerah menahan emosi yang begitu bergejolak mendapati anak semata wayang nya membela gadis kampungan itu.
Ferdi menunduk diam tidak berani menatap bola mata mamanya. Hati nya pun kini merasa sedikit bersalah karena telah membuat mama nya marah seperti itu.
Ferdi termasuk anak yang baik. Dia selalu saja menuruti kemauan mama dan papa nya. Namun untuk masalah Diya gadis pujaan hatinya membuatnya seperti ini. Bukan bermaksud menjadi anak durhaka. Ferdi hanya ingin bahagia bersama Diya. Jika hubungan mereka di restui, pasti akan berkali lipat bahagian nya.. Begitulah yang ada di pikiran Ferdi saat ini.
Namun mama dan papa nya tetap kekeh tidak ingin menerima Diya walau hanya sekedar pacaran.
Ferdi menarik napas dalam-dalam lalu di hembusnya kuat-kuat.
"Maafkan aku ma, pa. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ma, pa, aku hanya ingin bahagia. Tolong restui kami" Ucapnya lagi lirih.
Mira memandang marah kearah Ferdi. Ingin rasanya mira menampar anak nya agar ia sadar dan terbangun dari mimpinya. Yah mira berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi bahwa anak nya, anak satu-satunya, anak yang paling ia sayang dan ia banggakan kini telah berbuat hal membuatnya malu.
Mau di tarok.di mana muka nya saat teman-teman se profesi dengan nya mengetahui bahwa Ferdi berhubungan dengan anak tukang bakso. Pikirnya.
"Ma, pa, tolong" Ucap Ferdi memohon.
"Ma, aku begitu mencintai Diya. Cinta kami tulus dan murni jangan berbicara yang bukan-bukan tentang Diya"
"Terserah kamu. Jika mau tinggal di rumah ini, maka ikuti kemauan mama dan papa. Jika tidak, terserah kamu mau kemana. Mama tidak peduli" Mira bangkit dari duduknya bermaksud ingin pergi ke kamarnya.
Ferdi diam sejenak.
"Baik, aku akan pergi dari rumah" Jawab Ferdi mantap.
"Kamu yakin?" Tanya Agus.
"Yakin. Jika mama dan papa tidak merestui hubungan kami, aku akan pergi dari rumah" Ancam nya.
"Ya sudah jika begitu. Pergi saja!" Kata Agus.
Mira berhenti melangkah. Lalu berbalik menyaksikan kedua lelaki nya masih berargumen di meja makan itu.
"Tapi ingat, Jika kamu pergi, jangan kamu kembali. Papa ingin melihat bisa apa kamu tanpa kami"
"Baik, aku bisa membuktikan aku bisa tampa kalian" Ucap Ferdi mantap berlari keluar rumah.
"Ferdi...." Teriak Mira ingin menahan putra nya jangan pergi. Semarah apa pun dan bagaimana pun seorang ibu, pasti tidak akan rela melihat anak nya pergi dari rumah. Pasti berpikir juga bagaimana kehidupan nya kelak tampa kehadiran orang tua.
Namun, Ferdi tidak menanggapi panggilan mamanya. Ia terus berlari keluar rumah menuju motor ninja miliknya dan meninggalkan rumah tempat nya berteduh selama ini.
"Pa, Ferdi" Ucap Mira kepada suaminya.
__ADS_1
"Biarkan saja ma. Bisa apa dia tampa kita" Ucap Agus acuh tak acuh..
Mira memang mengizinkan Ferdi pergi dari rumah jika Ferdi masih berhubungan dengan Diya. Tapi itu hanya lah gertakan saja tidak sesungguhnya. Akan tetapi Ferdi memang melakukan itu dan pergi dari rumahnya.
***
Motor Ferdi berhenti di sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Ferdi turun dari motor dan mondar mandir sangat gelisah. Hatinya benar-benar hancur dan tidak tahu harus bagaimana saat ini.
Setelah mondar mandir, Ferdi duduk di kursi taman. Otak nya kalut tidak bisa berpikir.
"Ah....." Teriak Ferdi frustasi.
Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa mama nya begitu tega berpikir hal yang bukan-bukan tentang gadis impian nya? Kenapa mama nya begitu menilai perilaku orang hanya karena materi? Kenapa mama nya bisa berpikir gadis baik-baik seperti Diya bisa melakukan hal kotor hanya untuk mendapatkan uang?
"Ah......" Lagi-lagi Ferdi berteriak. Untung waktu sudah menunjukan pukul 01.00 wib. Jadi orang tidak ada di sekitar situ. Jika ada orang, mungkin orang-orang di sana akan berpikir Ferdi orang yang gila karena berteriak malam-malam seperti ini.
"Ma, kenapa mama memberikan aku pilihan begitu sulit? Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka sama mama dan papa. Tapi aku juga sangat mencintai Diya ma, pa, Aku tidak ingin kehilangan Diya" Ferdi berkata pada dirinya sendiri. Begitu terpukul perasaan cowok macho itu hingga ia meneteskan beberapa air bening di pipinya.
Entah lah, saat ini ia tidak tahu arus pergi kemana. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran nya sungguh kalut.
Lama Ferdi berdiam diri di kursi taman itu. Mengotak atik ponsel nya. Melihat sebuah foto bersama gadis impian nya.
Di foto itu tampak Diya memakai baju kaos berwarna putih dengan coretan berwarna merah di hidungnya seperti badut. Yah foto itu di ambil saat mereka tour di Pekanbaru.
Malam itu Ferdi dan Diya bertemu di taman sekolah. Yah Diya hanya ingin memberikan semangat kepada kekasihnya untuk pertandingan basket besok harinya. Jadi ia melingkarkan warna merah di hidungnya. Dan dua buah pom pom terdapat di kedua tangan nya. Ia melompat lompat seperti kelinci. Dan jalam di tempat seraya kedua tangan nya di putar-putar.
"Kak Ferdi, Kak Ferdi semangat, semangat" Begitu lah sorak sorai Diya malam itu yang membuat hati lelaki tampan itu bahagia.
Ferdi tersenyum saat mengingat peristiwa itu.
"Diy, maaf kan aku. Aku janji akan selalu ada untuk mu. Kamu dan aku tidak akan terpisahkan. Aku akan meyakinkan kedua orang tua ku untuk setuju dengan hubungan kita. Aku janji Diy" Ucap nya sambil mengusap wajah Diya di ponsel nya.
Ferdi menyalakan motornya dan pergi dari taman itu. Saat di jalan ia menghubungi Diya dan berkata akan pergi.
Setelah itu, Ferdi melaju dengan kecepatan sedang dan di simpang tiga jalan raya terdapat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Saat Ferdi melintas jalan, truk yang berasal dari arah jalan yang lain muncul. Karena pikiran Ferdi kalang kabut dan tidak fokus, membuat nya tidak konsentrasi dalam berkendara. Hingga truk tersebut menghantam motor yang di kendarai Ferdi membuat Ferdi terpental beberapa meter dan kepalanya terbentur dengan tumpukan batu di pinggir jalan. Dan motor yang ia kendarai terseret oleh truk itu.
Di situ Ferdi tidak sadarkan diri. Bayang-bayang Diya mulai hilang dalam ingatan nya.
***
"Pa, sudah malam seperti ini, Ferdi kemana?" Mira tampak cemas.
"Biarkan saja ma. Paling besok juga pulang"
"Pa, perasaan mama gak enak. Mama tidak pernah merasakan hal seperti ini pa. Mama takut nanti hal yang buruk terjadi kepada akan kita"
"Gak akan terjadi apa-apa ma. Ferdi bisa apa tampa kita"
Terdengar suara ponsel milik Mira berdering.
"Hallo" Mira mengangkat ponsel nya.
"Apa? Bagaimana keadaanya sekarang?" Mira gemetar.
"Baik, terima kasih informasinya. Saya akan ke sana sekarang" Tampak sekali raut wajah gelisah dan cemas di wajah Mira.
"Ada apa ma?" Tanya Agus.
"Tadi salah satu perawat di rumah sakit ku telfon. Katanya Ferdi kecelakaan pa. Sekarang Ia koma. Ayo kita ke sana sekarang"
__ADS_1
***
Karena luka yang di alami Ferdi cukup parah di kepalanya sehingga membuatnya koma beberapa bulan. Mira dan Agus memutuskan untuk membawa Ferdi ke Pekanbaru untuk berobat di sana. Karena di sana peralatan nya lebih lengkap. Semenjak Ferdi koma itu lah mereka memutuskan untuk pindah di kota tersebut. Terlebih lagi mendapati Ferdi mengalami Selective Amnesia hingga membuat mereka semakin yakin untuk pindah agar bayang-bayang Diya tidak ada dalam ingatan Ferdi.