
"Sayang? Kamu kok bengong, dari tadi mama panggil-panggil kok gak ada jawab. Ternyata di sini" Ucap Mira datang berkunjung ke rumah anak nya. Sonia memang sedari tadi duduk melamun di teras samping rumah nya. Wanita hamil itu sedang memikirkan tentang apa yang dikatakan Virda tadi sore kepadanya.
"Eh mama, sendirian?" Sonia kaget bangkit dari duduk nya dan mencium punggung tangan mertuanya.
"Iya sendirian saja. Kangen sama Junior jadi mampir. Ini mama bawain dia mainan. Mana Junior cucu kesayangan mama?" Tanya Mira mencari sesosok mungil yang memang cucu kandung nya.
"Junior, Junior ada oma ni mau ketemu" Teriak Sonia memanggil anak nya.
Anak laki-laki berusia empat tahun itu berlari dari dalam rumah menuju tempat dimana dirinya di panggil.
"Iya ma" Sambut nya.
"Ini ada oma lo, oma bawain Junior mainan mobil-mobilan" Ucap Sonia tersenyum manis dengan anak sulung nya.
"Iya nih tadi oma mampir di toko mainan. Melihat mainan mobil-mobilan ini jadi mau beliin untuk cucu oma. Nih sayang" Mira memberikan mainan mobil-mobilan itu yang masih terbungkus rapi di dalam kardus nya.
"Wah, bagus sekali oma. Aku suka, makasih ya oma" Sambut Junior dengan antusias nya. Tampak raut wajah ceria di wajah anak laki-laki itu mendapati mobil yang cukup besar berwarna biru yang di bawa oleh oma nya.
"Iya sayang sama-sama. Junior main di dalam dulu ya sayang. Oma mau berbicara sama mama"
Junior mengangguk tampa di suruh ke dua kali anak itu langsung masuk ke dalam rumah megah nya.
Sonia dan Mira duduk di kursi yang berada di teras rumah nya itu.
"Ferdi mana Sonia? Dari tadi mama tidak melihat nya?" Ucap Mira mencari anak semata wayang nya.
"Masih di caffe ma. Semenjak dia pulang dari rumah sakit, Ferdi jarang berada di rumah. Ia menyibukkan diri di caffe ma. Tidak ada waktu untuk ku. Dan jika di rumah pun ia hanya bermain sebentar bersama Junior. Dengan ku dia bersikap dingin seperti pada orang lain" Cerita Sonia. Raut wajah kesedihan tampak di wajah wanita hamil itu.
"Aduh, maaf kan mama ya sayang. Semua gara-gara mama. Mama yang telah membuat Ferdi kecewa sehingga dia melampiaskan nya kepada mu. Mama benar-benar menyesal, sangat-sangat menyesal" Mira menyesali perbuatan nya.
"Sudah lah ma, tidak ada yang perlu di sesali lagi. Semua telah terjadi. Dan semua ini adalah takdir ma. Takdir telah menentukan kami untuk seperti ini. Sekarang, aku harus berusaha untuk membuat Ferdi kembali kepada ku" Ucap Sonia lirih.
"Mama doa kan semoga kamu dan Ferdi akan kembali seperti dulu lagi" Doa Mira penuh harapan.
"Ma, ada yang mau aku tanyakan sama mama. Berhubungan mama telah mengenali Diya sejak lama"
"Tanya apa sayang"
"Apa benar Diya itu anak seorang penjual bakso?"
"Iya, Diya memang anak penjual bakso. Yah tepat nya ibu nya dulu buka usaha warung bakso di depan rumah nya. Yah dulu warung bakso nya cukup terkenal di kampung kami. Oh ya dulu mama juga pernah dengar katanya warung bakso yang di buat oleh ibu nya Diya itu terbuat dari daging tikus. Ibu nya pernah masuk penjara lo" Jelas Mira padahal ia tahu bahwa sebenarnya tuduhan daging tikus itu karena ulah Khetrine dan Tio yang bekerja sama demi membalas dendam kepada Diya yang telah merebut Ferdi dari tangan gadis yang bernama Khetrine itu. Tio yang memang cinta kepada gadis itu dengan mudah nya terperdaya oleh rayuan gadis itu dan mau mengikuti apa yang di perintahkan oleh Khetrine.
"Benar ma? Ia benar. Jika tidak percaya tanya saja sama Ferdi" Ujar Mira dengan raut wajah yang serius.
"Berarti benar apa yang di katakan Virda"
"Virda? Virda sahabatnya Ivan itu. Yang gadis bule itu?" Tebak Mira.
"Virda bilang Diya anak seorang penjual bakso. Dia mempunyai maksud tertentu mendekati orang-orang kaya untuk kepentingan nya sendiri. Bahkan saat ini ibu nya yang sedang sakit-sakitan sangat membutuhkan uang. Jadi jelas lah untuk cepat kaya ia mendekati para orang kaya. Termasuk Ivan" Jelas Sonia.
"Apa?. Diya mengincar Ivan juga?" Ucap Mira dengan kaget. Diri nya baru ingat saat di rumah sakit ada Diya dan Ivan di sana juga. Ia tidak berpikir bahwa Ivan dan Diya saling kenal. Ia hanya berpikir bahwa Ivan di sana karena mengantar Ferdi yang sedang pingsan atas permintaan Sonia.
"Pantesan Ivan begitu membela Diya saat mama marah sama Diya kemaren. Ternyata ada udang di balik batu toh" Ujar Mira menggelengkan kepala nya.
"Mama benar-benar tidak habis pikir sama gadis kampung itu. Bisa-bisa nya ia mendekati Ivan demi harta. Mama pikir selama ini mama yang salah karena telah berprasangka buruk terhadap gadis itu. Ternyata benar apa yang mama pikirkan selama ini" Tambahnya lagi.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Mira membuat Sonia semakin yakin untuk berkerja sama dengan Virda untuk menyingkirkan Diya dari kota ini.
Awal nya gadis itu ragu, belum yakin dengan penjelasan dari Virda tentang masa lalu Diya. Namun Mira membenarkan apa yang Virda katakan membuat nya semakin yakin untuk memberi perhitungan kepada Diya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ma? Bayang-bayang Diya masih tersimpan rapi di ingatan Ferdi membuatnya semakin menjauh dari ku. Terlebih lagi tadi ketika aku melihat Diya dan Ivan bertemu di minimarket. Mereka berpegangan tangan ma. Seperti saling akrab kembali. Pasti gadis kampung itu telah menggoda Ferdi kembali" Tuduh Sonia. Padahal apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti apa yang ada dipikiran nya saat ia melihat mereka seperti itu.
"Jadi Ferdi masih menemui Diya? Wah bahaya ini. Mama harus beri perhitungan sama gadis kampung itu" Ucap Mira merasa geram mendapati Diya yang ia pikir menggoda anak nya.
Pesan moral :
Jangan menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti yang jelas ya mak. Toh apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. ya mak nanti bisa timbul fitnah.
***
"Diy, ke pasar malam. yuk" Ajak Yuli malam itu.
"Ada pasar malam? Emang sudah buka ya?" Tanya Diya.
"Sudah dong emang kamu tidak membaca pengumuman nya di depan pagar pasar malam itu saat kamu pulang masuk komplek tadi?" Tanya Yuli.
"Enggak" Ucap Diya. Yah sepanjang perjalanan Diya sibuk memikirkan Ferdi yang bersikap begitu nekat seperti itu kepada nya sehingga tidak melihat kiri-kanan jalan saat pak Udin mengantarnya pulang tadi.
"Kamu sih Diy entah apa yang sedang kamu pikirkan. Tulisan sebesar itu tidak kamu perhatikan" Ujar Yuli.
"Pergi gak kamu? Ayok lah Diy, hitung-hitung refleksi kan pikiran yang mumet karena banyak pekerjaan. Belum lagi masalah yang bertubi-tubi datang selama ini" Ucap Yuli memberi saran.
"Benar juga sih Yul. dari di rumah membuat pikiran semakin mumet. Mending jalan-jalan mencuci mata dan menghibur diri dengan menaiki berbagai wahana di sana" Diya menyetujui ajakan sahabatnya itu.
"Sebenar ya aku siap-siap dulu"
"Oke jangan lama-lama ya Diy, keburu malam nanti nya" Terik Yuli menunggu di sofa ruang tamu.
"Ayo, aku sudah siap" Ujar Diya mengajak Yuli dengan semangat.
"Ayo" Sahut Yuli.
Mereka pergi ke pasar malam yang terletak di luar komplek perumahan mereka yang memang tidak jauh dari tempat tinggal nya sehingga mereka memutuskan untuk jalan kaki saja.
Di sepanjang perjalanan mereka ngobrol dan bercanda gurau seperti biasa nya. Bercerita banyak hal baik tentang pekerjaan, tentang kisah nya di kantor hari ini. Yah seperti itu lah mereka.
Ketika baru keluar komplek dan beberapa meter lagi sampai lah mereka ke tempat tujuan.
Tiba-tiba ada sebuah mobil Ferrari berwarna hitam berhenti menghadang jalan kedua gadis itu.
Sontak membuat kedua nya kaget dan penuh ketakutan.
"Siapa? Ada apa ini?" Batin kedua nya.
Keluarlah wanita paruh baya yang sangat mereka kenali.
"Tante" Ucap Diya lirih. Mata nya membulat mengetahui siapa yang datang menemuinya begitu pun Yuli.
Mira menghampiri Diya dengan sangat marah. Ketika sampai di hadapan gadis itu.
Plak.....
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus gadis itu.
Spontan Yuli kaget terlebih lagi Diya yang kena tamparan maut oleh wanita paruh baya itu.
"Tante apa-apaan sih, kenapa. tiba-tiba datang dan langsung menyerang begitu aja seperti ini?" Tanya Yuli marah sedangkan Diya hanya diam mematung memegang pipi nya yang kena tampar.
"Tiba-tiba? Tiba-tiba kamu bilang. Eh saya tidak akan marah jika tidak ada sebab nya. Tidak akan ada asap jika tidak ada apinya begitu bukan?" Ujar Mira.
"Apa maksud tante? Kenapa menampar Diya seperti ini?"
"Eh, harus nya kamu tanya sama teman kamu ini apa yang dia lakukan sampai membuat saya marah seperti ini?"
"Apa sih maksud tante" Tanya Diya heran. Diya benar-benar tidak mengerti apa asal sebab terjadi nya penyerangan seperti ini.
"Jika saya ada salah, saya minta maaf tante" Ujar Diya dengan penuh kesopanan.
"Apaan sih Diy, harus nya dia yang meminta maaf bukan kamu" Yuli kesal.
"Loh, memang harus gadis kampung ini yang meminta maaf karena telah mengganggu ketentraman keluarga putra ku. Anak samata wayang ku" Ujar Mira menyalahkan Diya.
"Menganggu bagaimana maksud tante? Aku tidak pernah menganggu hubungan Ferdi dan Sonia" Ujar Diya membela.
"Iya, jangan asal tuduh dong tante jika tidak ada bukti yang jelas. Nanti bisa timbul fitnah" Bela Yuli untuk sahabatnya.
"Karena ada bukti aku berani bertindak seperti ini Eh asal kamu tahu ya, kamu adalah gadis pembawa si*al dalam hidup anak ku. Semenjak kejadiran kamu kehidupan anak ku tergganggu dulunya. Dan sekarang kamu datang lagi dalam kehidupan nya dan malah merusak ketenangan dan ketentraman keluarga nya Ferdi dan Sonia. Apa tidak ada laki-laki lain yang kamu kejar selain Ferdi ha? Jangan menjadi pelakor dong di dalam rumah tangga orang" Jelas Mira dengan marah.
"Apaan sih tante. Diya tidak seperti itu. Diya tidak pernah bertemu dengan Ferdi. Tante jangan asal tuduh dong" Yuli masih membela Diya.
"Tidak ada ketemuan kata mu. Coba kamu tanyain sama gadis ini. Apa yang ia lakukan tadi sore di depan minimarket? Bertemu dengan siapa dia" Ucap Mira menunjuk ke arah muka nya Diya.
Degg....
Diya kaget. Apa pertemua yang tidak di sengaja tadi sore di lihat oleh Mira. Pantas saja dia begitu marah dan bertindak seperti ini. Pikir Diya.
"Eh tante, asal tante tahu ya, Diya tidak pernah meminta Ferdi untuk kembali di dalam hidip nya. Ferdi nya saja keganjenan yang selalu meminta Diya untuk kembali. Jika ada yang harus di salahkan yaitu tante dong. Tante lah yang membuat semua ini terjadi" Ucap Yuli.
"Kurang ajar. Kenapa kamu malah menyalahkan ku?" Mira menatap Yuli dengan mata memerah. Menahan amarah yang begitu menggebu-gebu.
"Lah memang benar kan semua ini terjadi akibat tante yang dulunya tidak merestuai hubungan Diya dan Ferdi yang membuat Ferdi kabur dari rumah hingga semua nya terjadi seperti sekarang. Dan asal tante tahu ya, Diya tidak menggoda anak tante. Anak tante yang selalu memohon kepada Diya agar Diya mau kembali kepada nya. Tante harus salah kan anak tante dong jangan bertindak seenak nya seperti ini" Celoteh Yuli dengan marah.
Diya hanya diam dengan seribu bahasa air mata kini mulai menetes di pipinya. Mulut nya terkunci sehingga tidak bisa berkata sepataha kata pun. Tangan dan kakinya terasa lemah seperti tidak ada tenanga sama sekali.
"Eh wanita kampungan. Kamu harus ingat ya, kamu dan Ferdi tidak akan pernah bersatu. Ferdi mendekati mu dahulu nya adalah sebuah kesalahan terbesar. Kamu dan Ferdi tidak pantas bersama. Jangan berharap dan bermimpi menjadi cinderella di siang bolong. Karena mimpi itu tidak akan terwujud di dalam hidup mu" Ancam Mira.
"Satu lagi, ini merupakan peringatan untuk mu. Jika nanti aku tahu kamu masih menggoda anak ku, aku tidak akan segan-segan membuat mu menghilang dari muka bumi ini" Ucap nya lagj penuh dengan ancaman.
Mira meninggalkan keda gadis itu menaiki mobilnya dan membelah jalan raya.
Kini Diya terjatuh di tepi jalan. Ia benar-benar tidak mempunyai tenaga saat ini.
Air mata terus mengalir deras di pipinya.
"Diy,.. kamu gak apa-apa kan?" Tanya Yuli memegang bahu Diya yang bersimpuh di jalan.
Harus nya malam ini adalah malam untuk menenangkan pikiran bagi mereka, malah mengalami kejadian seperti ini. Untung saja kejadian itu terjadi beberapa meter dari lokasi pasar malam sehingga membuat para pengunjung tidak melihat adegan mereka tadi.
__ADS_1
Jika hal itu terjadi di pasar malam itu, mau tarok di mana muka Diya saat di hina seperti itu oleh Mira.
Diya meraung menangis. Yah dia benar-benar syok saat itu.