
"Yuli...." Ujar nya senang dan langsung bangkit dan memeluk sahabatnya.
"Kapan kamu datang?" Tanya nya tersenyum senang dan mengahapus air matanya yang sempat meleleh.
"Sudah dari tadi kok" Jawab Yuli acuh dan melepaskan pelukan nya.
Wajah Diya tiba-tiba berubah murung.
"Pasti kamu melihat keadaan ku tadi. Iya kan?" Ucap nya sedih dan duduk di tempat nya kembali yang di ikuti Yuli duduk di samping nya. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama larut dalam fikiran nya masing-masing.
"Terus terang Diy," Ujar Yuli memecahkan keheningan.
"Aku kasihan sama kamu, sampai kapan kamu menunggu kepulangan kak Ferdi? Sedangkan kamu tidak tahu dimana dia berada sekarang" Kata Yuli ikut prihatin dengan nasib sahabatnya.
__ADS_1
"Aku yakin Yul, jika suatu saat nanti kak Ferdi akan kembali kepadaku" Jawab Diya menatap lurus kedepan.
"Tapi sampai kapan Diy? Sampai kapan kamu harus begini? Hampir tujuh tahun kamu menunggu kepulangan nya. Tapi apa yang kamu dapatkan. Hanya kekecewaan dan penantian yang tidak pasti" Kilah Yuli lagi.
Diya tidak menjawab. Gadis itu masih menatap pemandangan sore dibelakang rumahnya yang banyak di tumbuhi ilalang. Bagi Yuli itu tidak lah menarik untuk di perhatikan.
"Aku tidak tega melihat mu yang hanya melamun dan memikirkan kak Ferdi. Tanpa melakukan hal yang bermanfaat bagimu atau ibumu" Ceramah Yuli lagi.
"Kamu fikir, ibumu tidak cemas melihat mu seperti ini? Sudah pasti Diy, aku yakin itu" Sambung Yuli lagi jadi sedih.
Sejak kejadian hampir tujuh tahun itu terjadi, gadis itu banyak diam dan melamun. Keceriaan dan senda guraunya selama ini yang menghiasi pribadinya menjadi sirna dengan kepergian Ferdi yang meninggalkan dirinya tanpa kabar. Tapi Diya yakin kalau kekasihnya itu akan kembali kepadanya. Karena itu dia tidak mau pergi kemanapun dari rumah bahkan desa itu. Walau apa pun yang terjadi. Diya bertekad untuk tetap setia dan menunggu Ferdi kembali.
Yuli menghela nafas panjang dan menggeleng kepalanya mendengar penuturan sahabatnya yang sungguh ia tidak setuju.
__ADS_1
Hampir tujuh tahun Ferdi pergi entah kemana. Selama hampir tujuh tahun itu juga Ferdi tidak pernah memberi kabar tentang keberadaan nya. Namun Diya yakin kalau Ferdi akan kembali. Yah...kembali kepadanya.
"Kamu benar-benar keras kepala ya Diy" Ujar Yuli menyesal. Menyesal dengan sikap sahabatnya yang teguh pendirian untuk menunggu kekasihnya yang jelas tidak tahu dimana rimbanya hidup atau mati. Yuli mendesah lagi.
Gadis yang sedikit gemuk itu tidak tahu harus berbuat apa lagi menyakin kan sahabatnya untuk melupakan Ferdi. Bukan nya Yuli bermaksud jahat untuk memisahkan mereka. Akan tetapi yang di nanti tidak tahu pasti kemana dan berada dimana sekarang.
"Aku tidak tahu lagi harus bilang apa Diy, sepertinya aku sudah kehabisan kata-kata untuk menasehati mu. Yah...Semua terserah padamu. Kamu tahu pasti apa yang mesti kamu lakukan. Iya kan?" Tekan Yuli pasrah.
"Tapi tolong kamu baca surat ini" Kata Yuli lagi menyerahkan sebuah amplop putih yang bersegel.
"Apa ini?" Tanya Diya heran dan menatap sahabatnya.
"Buka dan baca!" Sahut Yuli acuh.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan mu Yul? Apa baik-baik saja?" Tanya Diya merubah topik pembicaraan sambil membuka isi amplop itu.