Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Rencana liburan ke kapal pesiar


__ADS_3

"Baik jadi kita sepakat bahwa pernikahan Yuli dan Zaki akan kita laksanakan bulan depan" Ujar papa Zaki.


"Ya pak, kita akan adakan acarnya nya bulan depan dan di kampung kami" Ujar Joko.


"Baik kami setuju" Ujar pihak Zaki.


"Silahkan di nikmati hidangan nya" Ujar Diya mengantarkan jamuan untuk menyambut kedatangan pihak Zaki.


"Terima kasih nak" Ujar papa nya Zaki.


Mereka masih ngobrol di ruang tamu.


Sedangkan Diya dan Yuli hanya duduk di ruang keluarga.


"Cie... Yang sebentar lagi akan menjadi istri nya orang" Ujar Diya menggoda.


"Apa sih Diy" Yuli malu.


"Oh ya Diy, aku baru ingat waktu itu aku pernah melihat Ivan sama cewek cantik berparas bule gitu yang kata kamu nama nya Virda kalau gak salah" Ujar Yuli mulai ingat.


"Kapan?"


"Sewaktu kamu bilang mama nya Ivan menghubungi mu karena Ivan mengantar Virda ke rumah sakit karena saat itu Virda nya lagi merasa tidak enak badan"


"Owh waktu itu. Emang kamu ketemu di mana?"


"Waktu itu aku dan Zaki sedang jalan ke daerah Rumbai ada sebuah rumah tempat menggugurkan kandungan"


"Menggugurkan kandungan? Emang kamu yakin?" Tanya Diya.


"Iya aku yakin Diy, soalnya Zaki pernah mengantar temennya dimana cewek temannya itu sedang hamil. Dan dia meminta Zaki untuk menemaninya untuk menggugurkan kandungannya di sana"


"Kelihatannya mereka ngobrol serius banget di waktu itu. Aku nggak tahu persis sih mereka ngobrolin apa tapi yang jelas aku melihat mereka berdua di daerah Rumah itu" Jelas Yuli lagi.


"Apa ini ada sangkut pautnya ya dengan kehamilan Virda?" Batin Diya.


"Sebenarnya malam itu aku mau bertanya sama kamu. Tapi aku lihat kamu sedang khawatir gitu dan sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Makanya aku nggak jadi ngomong itu ke kamu dan aku memutuskan untuk ngobrol sama kamu esok paginya. Tapi di saat aku mau ngobrol malah Ivan datang menempeli. Jadi nggak jadi lagi deh aku ngobrolnya sampai aku lupa dan sekarang aku baru ingat dan baru aku tanyakan sama kamu saat ini" Jelas Yuli.


"Kamu tahu deh apa yang terjadi sebenarnya" Tanya Yuli.


"Aku nggak tahu pasti sih. Nanti deh aku tanya ke semua ini sama Ivan" Ujar Yuli tidak mau membahas tentang kehamilan Virda kepada Yuli.


***


"Ah.... " Virda berteriak histeris di dalam apartemen nya. Semua barang yang ada di apartemen nya hancur karena di lempar ke lantai. Virda mengamuk. Gadis Indobel itu menangis sejadi-jadi nya. Rasa nya saat ini dunia telah hancur karena keburuk kan nya sudah di ketahui oleh Ivan dan keluarga nya.


"Ivan, kenapa kamu tega melakukan ini kepada ku? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Aku sudah banyak melakukan pengorbanan untuk mu" Ujar nya menangis histeris.


"Ivan, aku sangat mencintai kamu. Aku gak bisa hidup tampa kamu Van. Bagaimana aku bisa melalui hari-hari ku jika kamu tiada di sisi ku. Aku sudah cukup lama menunggu mu. Tapi mengapa, mengapa kamu tidak bisa membuka hati mu untuk ku" Ujar Virda lagi terus menangis. Kini diri nya terduduk lemah di lantai.


"Ivan.... " Teriak nya.


"Ivan... " Teriak nya lagi meraung penuh dengan kesedihan. Mungkin bagi siapa yang mendengar nya, pasti akan merasa iba dan kasihan kepada nya.


***


"Van, aku boleh aku menanyakan sesuatu sama kamu?" Tanya Diya saat mereka sudah berada di dalam kamar nya untuk tidur.


"Apa?" Tanya Ivan duduk di samping istri nya yang sedari tadi telah berada di atas kasur.


"Kemaren sewaktu mama meminta mu untuk mengantarkan Virda ke rumah sakit, apa benar kamu membawanya ke rumah sakit?" Tanya Diya.


Ivan menarik napas panjang lalu di hembus nya kuat-kuat.


"Iya, aku mengantarnya kerumah sakit waktu itu" Jawab Ivan jujur.


"Terus kenapa kalian pergi ke daerah Rumbai"


Deg....


Ivan kaget. Dari mana Diya tahu masalah diri nya bersama Virda pergi ke daerah Rumbai.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Ivan.


"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kalian pergi ke daerah Rumbai"

__ADS_1


"Oke aku akan menceritakan semuanya. Memang waktu itu mama memintaku untuk membawa Virda ke rumah sakit. Aku menuruti kemauan ama membawa Virda ke rumah sakit waktu itu tepatnya di praktek dokter kandungan. Karena Virda mengaku dirinya hamil dan aku ingin memastikan saja apakah benar dia itu memang sedang hamil? Dan ternyata benar dia sedang hamil" Jelas Ivan.


"Karena dia terus-terusan meminta pertanggung jawaban kepadaku atas anak yang ia kandung ini. Dan dia juga bilang bahwa malam itu telah terjadi sesuatu kepadanya sehingga terjadilah kehamilan itu. Tapi aku selalu menyangkal karena aku merasa aku tidak melakukan itu bersamanya. Jadi dia memintaku untuk menghentikan mobil ku sewaktu kami mau pulang dari praktek itu. Dan dia pergi menggunakan taksi ke daerah Rumbai di mana rumah itu tempat aborsi. Dan dia mau mengancam bahwa dia akan menguburkan kandungannya di tempat itu karena aku tidak bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Dan dia juga bilang bahwa aku adalah orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada dirinya nanti setelah dia melakukan aborsi. Aku mengikutinya sampai ke rumah itu untuk mencegah dia melakukan hal nekat itu. Bukannya Aku mengakui bahwa anaknya di kandungmu itu adalah anakku melainkan Aku hanya takut terjadi hal sesuatu kepadanya Bukankah melakukan aborsi itu mempunyai Resiko yang tinggi di mana akan terjadi pendarahan nantinya kepada Virda dan juga kerja dalam membunuh anak yang tidak berdosa yang ada di dalam kandungannya"


"Aku juga berpikir bagaimana jika nanti terjadi suatu kepada Virda. Dan bagaimana juga aku harus menjelaskan hal itu kepada kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya telah menitipkan Virda kepada kami di sini dan percaya kepada kami. Oleh sebab itu aku membujuk Virda untuk Jangan melakukan hal nekat itu" Jelas Ivan lagi.


"Hingga pada akhirnya dia memintaku untuk menikahinya dan aku mau tidak mau berbohong kepadanya aku akan menikahinya. Namun aku minta waktu untuk melakukan hal itu karena aku ingin mencari bukti-bukti. Bukti apakah benar anak itu adalah anakku. Dan sekarang sudah terbukti semuanya bahwa anak yang dikandung oleh Virda bukan anakku"


"Maaf kan aku ya sayang aku tidak menceritakan hal ini kepadamu. Aku benar-benar minta maaf" Ujar Ivan merasa bersalah.


"Gak apa-apa kok Van. Yang penting sekarang semuanya sudah jelas. Kamu sama sekali tidak bersalah atas kehamilannya Virda Dan aku selalu percaya padamu dan tentunya akan selalu mendukung kamu apapun yang terjadi karena kamu adalah suamiku" Ujar Diya tersenyum dengan manis.


"Terima kasih ya sayang" Ujar Ivan membenamkan kepala istrinya dalam dada bidang nya. Tak lupa sekecup ciuman hangat di puncak kepala istri nya.


***


"Terima kasih ya Mirna, Diya dan Ivan sudah bersedia memberikan kami tumpangan di rumah kalian untuk membahas pernikahan Yuli. Jika tidak ada kalian, mungkin kami tidak tahu entah kemana kami harus bersandar" Ucap Joko.


"Benar apa yang di katakan pak Joko Mirna. Terlebih selama ini Yuli tinggal di sini bersama kalian Jadi kami merasa berhutang banyak sama kalian" Ujar Rahayu.


"Aduh pak Joko Rahayu. Jangan ngomong seperti itu. Yuli sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Jadi tidak masalah jika hanya berbuat sekedar nya seperti ini. Lagi pun Diya dan Yuli sudah bersahabat sejak lama. Dan sudah seperti kakak adik jadi jagan merasa sungkan seperti itu" Balas Mirna.


"Iya buk, pak jangan ngomong seperti itu. Saya di sini karena Yuli juga. Yuli yang mengajak ku untuk mengadu nasib di kota ini. Dan hasil nya saya mendapatkan jodoh di kota ini. Berkat Yuli aku dan Ivan di pertemukan" Ujar Diya.


"Baik lah, kami berangkat dulu ya. Kami titip Yuli lagi bersama kalian" Ujar Joko saat mobil travel mereka telah tiba. Hari ini mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Karena pertemuan antara keluarga Zaki dan Yuli telah selesai.


"Aduh pak, sebenar nya saya gak mau pulang pakai mobil. Jika bisa kita pulang nya menggunakan motor saja ya" Ujar Rahayu merasa keberatan pulang menggunakan mobil karena ia mabuk darat.


"Aduh buk, jika kita pulang menggunakan motor, motor siapa buk? Dan bapak juga tidak tahu jalan dari sini ke kampung kita. Bisa-bisa nantinya kita nyasar bu" Ujar Joko.


"Iya juga ya pak. Aduh pak cukup sekali ini kita pergi ke sini ya pak, jika mau datang ke sini lagi, menggunakan motor saja pak. Ibu kapok naik mobil" Ujar Rahayu.


"Ibu, ibu rencana nya bapak ingin membeli mobil satu untuk kita.. Agar kita bisa jalan-jalan ke kota ini lagi. Secara anak kita satu-satunya menikah dengan orang yang tinggal di kota ini. Jadi apa salahnya kita jalan ke rumah anak menantu kita kan. Tapi jika ibunya kapok seperti ini, bapak batal niat mau beli mobil" Canda Joko membuat semua nya tertawa.


Mereka pun saling berpelukan sebagai tanda perpisahan.


"Ibu sama bapak hati-hati ya. Nanti jika sudah tiba di kampung kabari ya" Ujar Yuli meneteskan air matanya. Yah bagaimana pun sedih juga berpisah dengan kedua orang tua seperti Yuli.


"Iya nak, pasti kami akan kabari kamu jika sudah tiba di kampung" Ujar Joko.


Yuli dan Diya mencium punggung tangan Joko dan Rahayu bergantian.


"Iya buk" Jawab Yuli menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi.


Mereka pun melambai tangan saat mobil travel yang di tumpangi kedua orang tua Yuli perlahan meninggalkan rumah nya Diya dan Ivan.


***


"Diy" Panggil Yuli saat mereka sedang duduk di ruang keluarga.


"Apa" Jawab Diya.


"Kamu sudah tanya sama Ivan tentang masalah kemaren?"


"Sudah" Ujar Diya singkat.


"Jadi ngapain dia ke sana?"


"Ada urusan sedikit"


"Urusan apa?"


"Kamu mau tahu aja sih Yul. Urusan mereka berdua"


"Iya urusan apa?"


"Pokok nya urusan mereka berdua"


"Jadi Ivan gak cerita urusan nya apa sama kamu?"


"Gak" Diya berbohong. Istri Ivan itu tidak mau menceritakan ng masalah Virda yang sedang hamil yang kini tidak tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung dan meminta pertanggung jawaban kepada Ivan.


Bagi Diya tidak ada guna nya menceritakan aib orang kepada Yuli. Meski Yuli adalah sahabatnya, namun tetap saja itu merupakan aib untuk Virda. Dan nantinya akan membuat Virda malu jika semua orang tahu bahwa Virda sedang hamil dan tidak tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung.


Jadi Diya memutuskan untuk tidak menceritakan masalah ini kepada siapa pun. Cukup lah yang tahu masalah ini Ivan, dirinya, Ajeng dan Herman.

__ADS_1


"Diy, ada yang kamu sembunyikan dari ku" Tanya Yuli tidak percaya.


"Sembunyikan? Sembunyikan apa maksud kamu?" Diya balik tanya.


"Aku nggak yakin deh kalau Ivan tidak menceritakan kenapa dia pergi ke daerah Rumbai itu bersama kamu. Nggak mungkin deh Ivan merahasiakan hal itu kepada kamu. Dia pasti menceritakan kan apa urusannya pergi ke daerah itu" Yuli tidak percaya.


"Aduh Yul, tidak semua hal Ivan menceritakan nya kepada ku.. Mungkin dia belum siap untuk menceritakan masalah itu kepadaku. Jadi aku tidak mau memaksanya. Aku memberinya waktu dulu jika dia sudah siap, ?pasti dia akan menceritakannya kepadaku. Jadi sabar aja" Ujar Diya.


Yuli terdiam tidak tahu harus berkata apa lagi. Sejujurnya diri nya tidak yakin Ivan mengatakan apapun kepada Diya. Namun, apa boleh buat jika sahabatnya itu tidak mau menceritakan masalahnya.


"Ternyata di sini kalian" Ujar Mirna.


"Ada apa buk?" Tanya Diya.


Mirna duduk di samping putri kesayangan nya.


"Diy, Kemarin kan kita kan sudah cek ke dokter. Dan kata dokter ibu kan sudah membaik. Ibu mau tanya apa kalian melanjutkan untuk pergi honeymoon ke kapal pesiar seperti apa yang kalian rencanakan?" Tanya Mirna.


"Oh, masalah itu. Insha allah jadi buk. Kami akan berangkat hari sabtu besok" Jelas Diya.


"Syukur lah jika jadi kalian pergi. Ibu jadi senang mendengarnya"


"Tapi beneran Ibu nggak apa-apa kami tinggal?" Tanya Diya merasa keberatan.


"Iya nggak apa-apa nak, ibu kan sudah baikan. Lagi pun kan ada Yuli yang bisa menjaga ibu. Kalian juga perginya kan tidak lama hanya 3 hari. Jadi jangan khawatirin Ibu, kalian nikmati saja bulan madu kalian di kapal pesiar" Ujar Mirna.


"Iya Diy, kamu tenang aja. ibumu biar aku yang jagain kamu dan Ivan nikmati masa-masa kalian berdua" Ujar Yuli menempeli.


"Ya udah kalau gitu Yuli tolong jagain ibu ya. Kamu juga harus kontrol makanya ibu. Biar Ibu nggak sembarangan makan agar penyakitnya kamu lagi" Ujar Diya.


"Iya nak, kamu tenang aja Ibu pasti akan menjaga makan ibu juga pasti akan istirahat yang cukup agar penyakit Ibu nggak kambuh lagi. Karena ibu ingin melihat setelah kalian pulang dari bulan madu akan memberikan kabar baik untuk ibu dan juga kedua orang tua Ivan di mana ada Ivan atau Diya Junior" Ujar Mirna lagi menggoda putrinya.


"Aamiin doain aja ya buk. Lagi pun jika sudah di izin sama Allah gak tunggu bulan madu juga pasti jadi" Jawab Diya.


***


"Papa" Ujar Junior saat melihat papa nya tiba menjemputnya sekolah.


"Hai sayang" Ferdi menggendong jagoan.


"Papa ada kejutan untuk kami dan mama"


"Apa pa?" Tanya Junior antusias.


"Nanti setelah kita sampai di rumah. Papa akan kasih tahu kalian berdua. Dan papa yakin kalian pasti senang mendengar nya" Ujar Ferdi.


"Sekarang ayo kita meluncur pulang" Ujar Ferdi menggendong putranya untuk masuk ke dalam mobil nya.


***


"Sayang, sudah pulang" Sambut Sonia dengan hangat.


Ferdi mengecup hangat puncak kepala istri nya.


"Sayang sini dulu. Ada yang mau aku bicarain sama kamu dan Junior" Ujar Ferdi berwajah serius.


Kedua ibu dan anak itu tampak serius pula mendengarkan apa yang mau di bicarakan oleh Ferdi.


"Jangan serius gitu dong kalian nya" Ujar Ferdi melihat wajah kedua orang yang paling ia sayang seperti itu.


"Kamu sih memasang wajah serius seperti itu. Kami kan jadi ikut-ikutan" Ujar Sonia.


"Oke, oke maaf ya sayang. Begini papa mau tunjukin sesuatu sama kalian" Ferdi mengeluarkan tiket dari saku celana nya.


"Tara... " Ujar nya.


"Apa itu?" Tanya Sonia.


"Ini adalah tiket liburan di kapal pesiar. Kebetulan kapal itu akan berlabuh ke pelabuhan kota ini hari minggu besok. Jadi aku mempunyai rencana untuk mengajak kalian liburan selama 3 hari di kapal itu. Meskipun nggak sampai ke mana-mana sih hanya sekitar-sekitar sini saja berlayarnya. Tapi yang penting kita mempunyai waktu liburan bersama sebagai satu keluarga. Kita kan sudah lama tidak liburan bersama jadi aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk kita menikmati masa-masa liburan kita sebelum kamu nya melahirkan nanti" Ujar Ferdi.


"Benar pa? Kita akan naik kapal pesiar?" Tanya Junior dengan semangat.


"Benar dong sayang"


"Asyik.... Aku seneng banget mendengar nya" Ujar Junior.

__ADS_1


"Gimana sayang, apa kamu setuju kita liburan di kapal pesiar?" Tanya Ferdi kepada Sonia.


"Setuju dong sayang. Aku senang bangat kamu mau meluangkan waktu untuk liburan kita sekeluarga. Terima kasih ya sayang" Ujar Sonia memeluk suami nya.


__ADS_2