
"Tahu" Jawab Diya cuek.
"Kalian bertengkar ya?" Tebak Yuli curiga.
"Bertengkar kenapa?"
"Merebut kak Ferdi"
"Hus...Jangan ngaco kamu ya" Diya berubah pias.
"Terus, kenapa mereka sinis begitu?"
"Duh.....Yuli kamu tu ya jangan cerewet begitu kenapa sih" Sergah Diya sebal dengan sikap Yuli yang banyak tanya seperti wartawan saja.
"Aku kan cuma pingin tahu aja Diy"
"Aku gak tahu....Kalau kamu masih penasaran juga, mendingan kamu tanya aja sendiri sama mereka, Kenapa mereka sinis begitu? Udah deh Yul jangan kamu fikirin lagi. Mau mereka marah kek, atau apa kek itu urusan mereka. Lagian kenapa kamu ambil pusing begitu?"
"Kamu ini tensi juga ya Diy"
"Terserah kamu deh yang menilai" Ketus Diya meninggalkan Yuli yang masih terbengong disitu.
__ADS_1
"Sorry ya" Yuli mengejar sobatnya itu dan meminta maaf.
*****
"Gue cari dimana-mana ternyata di sisi lo nongkrong nya Fer?" Ujar Taufik saat menemui Ferdi yang lagi duduk melamun sendirian di belakang sekolah dimana tempat mereka selalu kumpul disitu. Ferdi sedikit kaget.
"Minum?" Taufik menyugukan teh es yang dipegangnya. Ferdi menyambutnya.
"Terima kasih" Ucapnya setelah minum beberapa teguk, lalu menyerahkan kembali kepada Taufik.
"Yang lain pada kemana?" Tanya Ferdi heran melihat Taufik sendirian.
"Lo kenapa Fer?" Tanya Taufik setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Selama beberapa hari ini gue lihat lo banyak diam, Suka melamun dan menyendiri. Emangnya ada masalah apa yang membuat lo berubah total begini?" Tanya Taufik hati-hati.
"Teman-teman kita juga heran lihat lo begini Fer" Tambahnya lagi.
"Gak...Gak ada apa-apa kok Fik" Jawab Ferdi tersenyum.
"Terus, apa yang membuat lo jadi begini?" Tanya Taufik penasaran. Ferdi tidak menjawab beberapa kali ia menghembuskan nafas berat. Seberat beban fikiran nya saat ini.
__ADS_1
"Gue tau, lo berat untuk menceritakan masalah lo. Tapi sebagai teman, gue wajib bantu sekiranya gue mampu"
"Lo memang teman yang baik Fik. Gue tau lo pasti berfikir kalau gue punya masalah sama kalian. Tapi sebenarnya tidak" Jawab Ferdi tersenyum walau kelihatan senyuman itu terpaksa sekali.
"Jika bukan dengan kami, lalu sama siapa?" Taufik bertanya lagi. Cowok itu jadi tidak enak atas perubahan sikap sahabatnya itu.
"Gak dengan siapa-siapa kok Fik" Jawab Ferdi setelah lama terdiam.
"Gue cuma ingin sendiri saja" Tambahnya lagi.
"Iya...Biasanya lo gak pernah seperti ini. Ayo lah Fer...Gue ini kan teman lo, Gue tau lo sedang mikirin sesuatu. Siapa tau gue bisa membantu lo dalam memecahkan masalah lo itu" Pujuk Taufik lagi. Ferdi tidak menjawab. Beberapa kali pemuda itu tampak menarik nafas panjang dan di hembusnya kuat-kuat. Taufik sabar menunggu. Ia tahu kalau fikiran sahabatnya lagi kalut.
"Gue mikiran Diya Fik" Kata Ferdi setelah lama berfikir. Ferdi tahu kalau Taufik adalah satu-satunya teman yang senang di ajak ngobrol, curhat, dan perhatian sekali.
"Mungkin benar kata Taufik, jika gue ceritakan masalah ini mungkin akan cepat teratasi" Fikirnya.
"Sudah gue duga. Kalau lo sedang mikirin cewek itu" Kata Taufik menanggapi.
"Emangnya kenapa dengan Diya?" Tanya nya lagi.
"Diya selalu menghindar jika gue deketin. Gue gak tau kesalahan gue hingga dia berubah total seperti itu" Jelasnya.
__ADS_1