
Bu Ajeng dan pak Herman menatap heran kepada Ivan dan bergantian saling menatap satu sama lain nya.
"Loh, kenapa ma? Apa ada yang salah?" Tanya Ivan cuek.
"Merasakan masakan apa? Emang Diya sudah jadi istri mu apa?" Canda buk Ajeng.
"Memang belum sih ma, tapi bakal doain ya ma"
"Masakan apa sih yang kamu mau rasakan dari tangan gadis itu?"
"Kepurun" Jawab Ivan spontan.
sontak membuat kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu tertawa terbahak.
"Kepurun? Masakan apa itu Van? Namanya saja sudah lucu. Apa rasanya juga lucu?" Tanya pak Herman masih dalam tertawanya.
"Kepurun itu sama dengan papeda ma. Makanan khas Papua. Di sana kampung Diya juga ada makanan seperti itu hanya saja namanya kepurun" Jelas Ivan.
"Kemaren waktu aku ada proyek di Bengkalis, aku pernah memakan makanan itu. Enak sih ma unik gitu rasanya" Tambahnya lagi.
"Oh gitu. Seperti orang ngidam saja kamu kepengen makan ini itu" Cerutu buk Ajeng.
"Kemaren waktu melihat story teman di instagram ma, jadi kepengen makan itu juga. Dan untungnya Diya bisa buat masakan itu. Jadi yah bisa deh aku merasakan masakan itu lagi. Apa lagi dari tangan gadis impian ku ma, pasti rasanya lebih istimewa" Seru Ivan kembali.
"Ada-ada saja ya kamu Van. Masa kamu ngidam, seperti orang hamil saja" Pak Herman berkomentar.
"Kepengen pa, bukan ngidam. Masa aku gak boleh sih ingin makan itu" Protes Ivan.
"Ya sudah, ya sudah, sudah selesai sarapan nya? Sekarang pergi sana temui Diya kasihan sudah lama Diya menunggu" Pinta buk Ajeng meleraikan kedua ayah anak itu mengeluarkan argumen masing-masing.
Ivan melirik jam tangan nya.
"Hmm...iya ma. Kalau gitu aku pergi dulu ya" Ivan meneguk segelas jus jeruk lalu mencium pipi mama dan menyalami papa nya serta berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Van, jangan lupa kapan-kapan bawa Diya ke sini ya Mama sama papa mau kenalan sama calon mantu mama" Teriak buk Ajeng.
Ivan menoleh dan melingkar kan ibu jari dan telunjuk nya sebagai tanda Oke lalu tersenyum dan memberi kiss bye kepada mama nya.
"Anak itu sudah besar ya pa?" Seru buk Ajeng masih menatap kepergian putranya. Pak Herman mengerut keningnya mendengar penuturan istrinya dengan pandangan yang heran.
"Loh, kenapa pa?" Tanya buk Ajeng ketika melihat suami nya menatapnya seperti itu.
"Jadi selama ini kamu tidak sadar jika anak kita sudah besar?" Tanya pak Herman dengan tatapan yang masih keheranan.
"Bukan gitu maksud mama pa, ya anak kita akhirnya menemukan cinta nya pa. Seneng deh, tapi ada sedihnya juga pa. Jika mereka sudah menikah, pasti meninggalkan kita pa" Seru buk Ajeng sedih.
"Harus gimana lagi ma, memang begitulah lumrahnya ma" Seru pak Herman.
"Ya sudah ya ma, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Masih ada papa yang selalu temenin mama. Sekarang papa mau mandi dulu ya, mau siap-siap ke kantor" Tambahnya mengambil tisu dan membersihkan sisa makan yang sedikit menempel di mulut nya.
"Siap-siap kemana pa?"
"Ngantor ma"
"Ngantor? Papa kan sudah gak kekantor" Lanjut buk Ajeng.
"Hahaha" Tawa Riang pak Herman pecah melihat ekspresi buk Ajeng yang lucu.
"Gak ma, papa mau pergi melenturkan otot-otot di tubuh papa. Kelamaan di rumah buat semua otot-otot papa jadi tegang. Papa mau bermain golf. Sudah janji sama pak Suseno" Jelas pak Herman berlalu meninggalkan istrinya yang masih melanjutkan sarapan nya.
Sesaat mau membuka pintu kamar, pak herman baru teringat sesuatu dan berlari kembali menuju istrinya yang masih sibuk dengan sarapan nya.
"Ma, mandi bareng yuk" Bisik pak Herman di telinga istrinya dengan nada yang sedikit menggoda. Buk Ajeng kaget hampir kedua bahu nya sontak naik ke atas.
"Ya Allah pa, bikin kaget aja. Mama sudah mandi pa" Seru Buk Ajeng kembali dengan aktifitasnya sarapan.
"Ayo lah ma, kita kan sudah lama tidak mandi bareng. Mengingat masa-masa kita baru nikah dulu ma. Mama kan paling suka jika kita mandi bareng. Mama gosok pundak papa, papa gosok pundak mama bergantian" Pak Herman mulai menghayal.
"Aduh papa, mama sudah mandi pa. Mama masih banyak kerjaan ini pa. Nih lihat mau beres-beres sarapan kita ini loh pa...." Elak buk Ajeng.
"Mama.....ma....mama....ma....." Rengek pak Herman seperti anak kecil yang minta di belikan mainan saja. Memanjang kan mulut nya dengan ekspresi yang memohon.
Buk Ajeng menghela nafas kuat-kuat. Sepertinya suami kesayangan nya mengalami masa puber yang kedua kalinya. Pikir buk Ajeng.
"Ya sudah ayo pa kita mandi sama-sama" Buk Ajeng mengalah. Dari pada dia minta mandi bareng dengan wanita lain nanti nya. Lebih baik dia turuti saja kemauan suami nya. Pikir buk Ajeng.
Tanpa berkata kedua kalinya, pak Herman langsung menarik tangan istrinya.
__ADS_1
"Papa...." Teriak buk Ajeng ketika tangan nya di tarik.
Tidak peduli akan sikap istrinya pak Herman terus menarik tangan putih mulus itu hingga sampai di kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi. Pak herman menatap tajam kepada buk Ajeng pertanda bahwa ia minta sesuatu yang bisa di katakan surga dunia.
"Aduh, suami ini. Tidak tahu situasi deh. Pagi-pagi sudah ingin bercinta" Cerutu buk Ajeng.
***
Di tempat lain
"Assalamualaikum" Terdengar suara mengucapkan salam dari arah luar rumah nya.
"Waalaikumsalam" Sambut Diya membuka pintu.
Ivan tampak kagum melihat Diya dip pagi itu. Hanya dengan memakai baju kaos yang sedikit ketat memperlihatkan bentuk tubuh ideal nya dan di padu padankan dengan celana jeans dan rambut yang di ikat kuda terurai di belakang nya menambah pesona nya terpancar
Begitu pun dengan Diya, ia pun nampak mengagumi ketampanan Ivan. Hanya saja ia malu untuk mengungkapkan dan mengakui nya (malu tapi mau).
Ivan memperhatikan Diya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Melihat itu Diya pun turut memperhatikan dirinya sendiri.
"Ada yang aneh?" Tanya Diya heran.
"Gak ada yang aneh, kamu kelihatan sempurna. Cantik alami aku suka" Jawab Ivan sedikit menyunggingkan senyuman nya yang khas.
Diya tersenyum malu saat di puji Ivan. Pipinya mulai keluar rona warna merah seperti kepiting rebus.
"Menghina atau menghibur ni" Seru Diya dengan tatapan yang menggoda.
"Gak menghina, gak juga menghibur tapi ini adalah fakta dan kenyataan nya" Jawab Ivan mantap.
Diya menunduk, kembali senyuman malu terukir di wajah cantik gadis itu.
"Kamu bisa aja" Masih dengan senyuman malu nya.
"Ya sudah, Ayo kita berangkat ke pasar" Ajak Ivan.
Diya mengangguk, menutup pintu dan pergi menuju mobil.
"Hmm....enak nya apa?" Ivan kembali bertanya.
"Ya terserah kamu. Ada gulai lemak hijau, gulai lemak merah, dan asam pedas" Jelas Diya.
"Beda nya apa?"
"Kalau lemak merah itu pakai santan masak nya dan cabe nya cabe merah. Kalau lemak hijau pakai cabe rawit. Nah kalau asam pedas pakai cabe merah dan tidak pakai santan. Beda nya di situ aja sih. Untuk bumbu lain nya sama saja" Jelas Diya.
Ivan mengangguk mengerti, meski pun dia tidak mengerti sangat karena dia tidak pernah ke dapur untuk memasak. Membedakan lengkuas dan jahe saja tidak bisa. Wajar lah ya laki-laki sibuk nya di kantor bukan di dapur hehehe....
"Mau yang mana?" Tanya Diya lagi.
"Yang enak apa?" Ivan balik bertanya.
"Kalau aku sih suka nya lemak hijau. Apa lagi ini kita beli ikan debuk (bagi yang tidak kenal ikan debuk, harap cari di google ya mak) Segar lagi ikan nya. Pasti manis dan gurih daging nya. Saat di padu padankan dengan kepurun, beh rasa nya mantap" Diya mulai menghayal dan ngiler.
"Oke itu saja" Setuju Ivan.
"Oke jika begitu. Mari kita mulai" Seru Diya.
"Oke, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Ivan sedikit bingung.
"Aku memotong bumbu-bumbu nya, kamu bersihkan ikan nya ya" Perintah Diya membagikan tugas.
"Siap Chef" Seru Ivan memberi hormat seperti pada komandan upacara.
Mulai lah mereka bergelut dengan tugas nya masing-masing. Saat tengah asyik memotong bumbu-bumbu, Diya kembali teringat di mana saat itu ia mengikuti lomba masak antara kelas saat tujuh belas agustus di sekolah SMA nya.
Ferdi sangat bersemangat saat itu memberi dukungan pada dirinya. Meski dirinya dari lokal lain, namun tetap saja ia memberi dukungan pada sang kekasih. Sampai-sampai ia pun ikut serta memasak bersama tim Diya.
Diya tersenyum mengingat hal itu masa indah itu kini hilang entah kemana. Ferdi sampai saat ini tiada kabar berita. Entah masih hidup, atau sudah mati. Hanya Tuhan yang maha pencipta saja lah yang tahu.
Diya menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Terlalu sibuk menghayal tidak di sadari pisau tajam yang di gunakan untuk memotong bumbu malah menggores jari lentik nya.
"Aduh" Diya meringis kesakitan. Mengibas-ngibas tangan nya yang di hantam pisau.
"Kenapa Diya" Tanya Ivan bergegas mendekati gadis itu.
__ADS_1
"Cuma tergores pisau" Seru Diya.
"Sini ku lihat" Pinta Ivan. Diya memberikan tangan nya. Terlihat darah segar mengalir di jari telunjuk gadis cantik itu Dengan sigap Ivan memasukkan jari lentik Diya ke mulut nya. Menghisap darah yang keluar itu.
Seketika Diya kaget dan membelalakkan matanya akan tingkah Ivan kepadanya.
"Tunggu sebentar ya Diy, aku mengambil kotak P3K di mobil dulu" Berlari tergesah-gesah menuju mobil nya"
"Enggak......" Jawab Diya tidak melanjutkan perkataan nya karena Ivan sudah pergi menjauh.
"Aduh Diy, kenapa kamu tidak berhati-hati sih. Jika begini jadi gak bisa masak kan?" Cemas Ivan mulai mengobati luka kecil pad jari lentik gadis di hadapan nya itu.
"Ya Allah Van, luka nya cuma kecil kok Van. Masa sampai gak bisa masak. Lucu deh kamu Van" Protes Diya.
"Walaupun luka nya kecil tetap harus di obati bisa infeksi"
"Udah biasa Van kaya gini. Semua pekerjaan ada resiko nya. Ya termasuk masak kayak gini. Resiko nya yang terluka kena pisah dan di percik sama minyak goreng saat menggoreng. Belum lagi terkena wajan panas" Jelas Diya
"Iya juga ya Diy." Ivan selesai mengobati luka Diya
"Makasih ya" Seru Diya tersenyum manis. Lama mata saling menatap satu sama lain. Kembali getaran halus mulai muncul di hati kedua nya.
"Cantik" Seru Ivan masih menatap lekat gadis di hadapan nya. Diya sadar dan langsung memutuskan tatapan mereka.
"Ya sudah kita lanjutkan masaknya lagi ya" Kata Diya melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
***
"Tara.....Selesai" Sorak Diya menyajikan sepiring kepurun di atas meja makam yang sedari tadi telah Ivan tempati.
Diya duduk di hadapan Ivan.
"Bisa makan nya? Kan udah pernah makan ini kemaren di Bengkalis" Goda Diya.
"Masih dong, tapi coba kamu praktekkan dulu gimana makan nya Diy. Kayak nya aku mulai lupa"
"Tadi kata nya ingat"Seru Diya Ivan hanya nyengir menanggapi.
"Oke, cara makan nya. Tuangkan gulai lemak hijau ini ke dalam piring yang telah di isi oleh kepurun sampai tenggelam kayak gini dan siap untuk di santap. Nah makan nya itu lebih enak bersama dengan ikan debuk ini" Jelas Diya menyodorkan sesendok kepurun kedalam mulut nya yang di ikuti oleh Ivan.
.
"Gimana? Enak?"
"Hmm....Enak Diy, rasa nya unik. Di tambah ikan debuk ini jadi manis dan gurih gitu" Komentar Ivan terus melanjutkan makan nya.
"Ya dong siapa dulu chef nya.....Diya...." Bangga Diya berkata.
"Iya, karena itu rasanya lebih enak dari sebelum nya" Puji Ivan membuat kembali rona merah keluar dari pipi Diya.
"Diy, jadi besok Yuli pulang?"
"Jadi kok kalau gak ada halangan. Kenapa?" Diya masih sibuk dengan menyantap makanan khas itu.
"Hmm...."
"Kenapa? Kenapa ekspresi nya seperti itu? Kamu tidak suka ya jika Yuli kembali?" Tanya Diya.
" Suka kok, suka banget. Kamu gak sendirian di rumah. Aku lebih tenang jadi nya karena kamu sudah ada teman nya" Sela Ivan.
"Tapi kita gak bisa berduaan lagi seperti ini Diy" Batin Ivan.
"Besok berangkat ke kantor aku jemput ya seperti biasa" Ivan membersihan sisa makanan yang ada di mulutnya menggunakan tisu.
"Gak apa-apa Van kamu jemput aku terus? Aku udah banyak ngerepotin kamu lo. Udah biar aku pergi sendiri aja ke kantor. Aku bisa kok pesan taksi online" Elak Diya merasa sungkan.
"Gak apa-apa. Aku gak merasa di repot kan kok. Malah aku senang bisa terus di repot kan sama kamu" Kata Ivan mantap.
"Jadi bisa terus berduaan sama kamu nya" Tambah nya pelan mengatakan kepada dirinya sendiri.
"Apa?" Tanya Diya tidak begitu jelas omongan Ivan barusan.
"Gak, bukan apa-apa" Elak Ivan.
"Ya sudah jika itu mau kamu. Aku gak minta ya kamu yang jemput. Kamu sendiri lo yang mau" Protes Diya menunjuk ke arah Ivan.
"Iya, tenang aja. Santai"
__ADS_1