Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Bertemu dengan mu lagi


__ADS_3

"Doain ya agar aku di terima"


Diya tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk meyakinkan gadis yang bekacamata itu.


Setelah Vivi hilang dibalik ruangan interview, Diya menghembus nafas panjang. Ada sedikit keraguan yang bergelayut di benaknya. Apakah ia akan di terima atau tidak di perusahaan yang cukup terkenal di ibu kota provinsi itu.


Sedangkan calon saingan nya bukan lah dari kalangan bawah. Mereka semua bergelar serjana dan lainnya. Sedang kan Diya, yah hanya mengandalkan ijazah SMA dan sertifikat komputernya yang telah di ikuti selama dua tahun.


Lagi-lagi gadis itu menghela nafas panjang.


Apa lagi ia melihat Vivi teman yang baru ia kenal tadi keluar dengan wajah yang murung.


Diya memberi isyarat kepadanya bertanya apakah ia di terima atau tidak. Vivi menggeleng dengan raut wajah sedih dan langsung keluar dari ruangan itu.


"Duh...Kasihan Vivi" Katanya dalam hati dengan perasaan yang sungguh tidak mengenakkan dalam hatinya.


"Diya Nuraniza" Panggil sekretaris cantik itu. Tapi yang di panggil tidak ada yang menjawab.


"Diya Nuraniza" Ulangnya sekali lagi.


"Mbak" Tegur seseorang membuyarkan lamunan gadis itu.


"Y...Ya..." Jawab Diya gelagapan.


"Tu di panggil" Katanya lagi.


"Ya...Terima kasih ya..." Jawab nya dengan tergopoh-gopoh ia bangkit dan merapikan pakaian nya sejenak.


"Anda Diya Nuraniza?" Tanya sekretaris itu melihat gadis itu menghampirinya.

__ADS_1


"Iya" Jawab Diya tersenyum.


"Silahkan anda masuk"


"Terima kasih" Jawab Diya deg-degan.


"Duh....Kenapa perasaan ku jadi tidak enak. Apakah aku akan diterima atau...."


Setelah menenangkan hati dan perasaan nya, barulah Diya berani mengetuk pintu.


*****


"Masuk...."Sahut suara dari dalam.


Dengan hati-hati sekali gadis itu membuka pintu dan masuk.


"Bukan siang, sekarang masih pagi" Jawab General Maneger itu terus sibuk dengan berkas-berkas yang harus di tanda tanganinya dan tidak memperhatikan siapa calon kariawan nya.


"Maaf pak" Jawab Diya jadi malu.


"Kamu pasti baru pertama kali melamar pekerjaan? Betulkan?" Tanya General Maneger itu. Diya membenarkan.


"Pantas kamu gugup sekali" Katanya lagi masih tidak memperhatikan perubahan wajah calon kariawan nya.


"Silahkan duduk" Katanya lagi sambil membaca surat lamaran yang dipeganginya.


"Siapa nama kamu?" Tanya nya sambil membolak-balik map-map yang bertumpuk didepanya.


"Diya pak"

__ADS_1


"Panjangnya?"


"Diya...Diya Nuraniza" Sahut Diya gugup. Tapi gadis itu bisa menguasai agar perasaan gugupnya tidak terlihat di depan calon bosnya.


"Diya Nuraniza" Ulang General Maneger itu.


"Seperti nya aku pernah mendengar nama itu. Tapi...."


Di pandangi gadis yang tertunduk didepan nya itu. Pemuda itu kaget. Bukan kah dia...


"Kamu Diya kan?" Tanya nya penuh yakin.


"Iya pak" Jawab Diya masih dengan tertunduk.


"Kamu masih ingat dengan aku kan Diy?" Tanya General Maneger itu semangat sekali. Ia begitu kelihatan senang. Diya mengerut kening nya dan memberanikan diri untuk menatap General Maneger yang di depannya.


"Ingat saya kan?" Tanya nya lagi.


"Kamu...." Diya tidak jadi meneruskan kalimatnya.


Sepertinya ia pernah ketemu dengan pemuda itu. Tapi dimana ya? Diya berfikir keras.


"Kamu pasti melupakan ku ya? Karena hampir tujuh tahun kita tidak ketemu. Atau berhubungan lewat telfon" Kata pemuda itu melepaskan kacamatanya.


"Oh..." Diya baru ingat.


"Ivan kan?" Katanya lagi dengan perasaan gembira.


Ivan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2