
Sesampainya di rumah sakit. Ferdi langsung di larikan ke ruang UGD.
"Maaf, kalian di harapkan tunggu di luar ya. Biarkan kami yang menangani pasien" Ucap salah satu perawat yang ada di sana mencegah Ivan, Diya, Sonia serta Junior untuk masuk.
Mereka menuruti perintah dari perawat tersebut. Menunggu dengan cemas di luar ruangan.
"Sonia, kamu duduk dulu. Istirahatkan diri mu. Jangan terlalu banyak pikiran. Kasihan bayi yang ada di dalam perut mu. Ferdi pasti baik-baik saja" Ucap Ivan mendekati Sonia yang hanya berdiri diam. Ivan menuntun Sonia untuk duduk di kursi yang berada di luar ruangan UGD tersebut.
Sonia memeluk Junior dan terus menangis. Tampak wanita itu sesekali mencium pucuk kepala putra sematawangan nya dengan penuh kasih sayang.
Diya yang dari tadi berdiri bersandar di dinding tepat di depan Sonia hanya terdiam.
Hati dan perasaan nya masih tidak percaya atas apa yang terjadi saat ini. Mendapati bahwa Ferdi telah memiliki keluarga. Sakit dan hancur itu lah yang di rasakan oleh Diya.
Diya menangis dalam diam tanpa bersuara namun air mata terus mengalir deras di pipinya.
"Diy, aku tinggal sebentar ya. Aku mau beli air dulu untuk kamu dan Sonia agar kalian merasa lebih tenang" Ucap Ivan meminta izin. Diya hanya mengangguk mengizinkan.
Tentu saja mereka sama-sama syok saat ini. Diya syok karena mendapati kenyataan yang sangat pahit terlebih lagi saat mereka bertemu Ferdi malah keadaan pingsan seperti ini. Sedangkan Sonia syok melihat suami tersayang nya pingsan. Terlebih lagi dalam akhir-akhir ini Ferdi sering mengeluh merasakan nyeri di kepala nya.
Tentu saja Sonia takut mendapati hal yang buruk akan terjadi kepada suami nya.
Mereka tidak saling menyapa. Mereka hanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga Ivan kembali dengan membawa beberapa botol minuman mineral.
"Sonia, ini minum dulu" Kata Ivan memberi sebotol air mineral.
Sonia mengambil dan langsung meneguk air tersebut.
"Diy, ini untuk mu" Ucap Ivan membuka tutup botol dan menyerahkan botol yang telah di bukanya kepada Diya.
Diya tersenyum dan meminum air tersebut.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian.
"Sayang bagaimana keadaan Ferdi" Ucap Mira mamanya Ferdi datang langsung menghampiri menantu kesayangan nya.
"Opa" Teriak Junior berlari menuju Agus ayah dari papanya. Agus mengendong cucu kesayangan nya dan mencium lembut di pipi anak kecil itu.
"Belum ada kabar ma, Ferdi masih di tangani oleh dokter" Jawab Sonia memeluk mama mertuanya.
"Tenang ya sayang, Ferdi pasti baik-baik saja"
"Mama dan papa....." Tanya Sonia menggantung pertanyaan nya. heran mendapati mama mertua nya berada di rumah sakit itu. Padahal ia belum memberi kabar kepada mertua nya tentang apa yang terjadi.
"Dokter Putri memberi tahu mama" Jawab Mira.
Dokter Putri adalah teman Mira. Mereka merupakan teman satu satu fakultas saat itu. Saat lulus mira mendapat tugas di desa Sejangat. Sedangkan Putri memang sedari dulu di tempatkan di rumah sakit itu. Hingga pada akhirnya, saat kejadian kecelakaan Ferdi memutuskan Mira dan Agus untuk pindah di kota Pekanbaru agar Ferdi tidak berhubungan dengan Diya dan tidak mengingat gadis itu lagi.
Dan di sana lah Putri dan Mira bertemu kembali. Hanya saja Mira pindah di rumah sakit yang lain. Tidak sama dengan Putri.
Tampa di sengaja Mira melihat gadis yang berdiri di depan nya. Gadis yang tidak asing bagi nya. Gadis yang membuat anak nya menentang dirinya. Gadis yang sangat di benci nya.
"Kamu!" Mira berkata dengan wajah yang tidak bersahabat.
Diya kaget. Berlindung di belakang Ivan melihat Mira yang mulai marah. Tidak hanya Diya yang kaget. Sonia dan Ivan pun kaget dengan kejadian itu.
"Kamu ngapain di sini? Pasti kamu kan? Pasti kamu yang membuat anak saya seperti ini. Kamu benar-benar keterlaluan. Gadis Si*lan! Kamu hanya membawa sial untuk anak saya. Sekarang juga kamu keluar dari sini" Mira mendekati Diya ingin menyakiti gadis itu.
Namun hal itu di cegah oleh Ivan yang berusaha melindungi gadis impian nya.
"Maaf tante, saya harap tante menjaga perkataan tante. Diya bukan gadis si*lan. Jangan menghina gadis ku tan" Tegas Ivan membela.
"Kamu tidak tahu siapa gadis ini. Jadi kamu jangan sok tahu"
__ADS_1
"Saya kenal Diya. Dan begitu mengenalinya. Jadi saya harap tante jangan sekali-kali menjelekkan Diya seperti itu"
"Kamu telah di butakan oleh gadis miskin ini. Kamu hanya di manf...." Mira tidak jadi meneruskan perkataan nya karena dokter yang menangani anak nya keluar dari ruangan yang bertuliskan UGD.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Sonia cemas.
"Alhamdulillah suami ibuk baik-baik saja. Sakit kepala yang di rasakan saat ini hal biasa, karena proses pengembalian memori ingatan yang telah hilang"
Deggg.....
Mira dan Agus tampak kaget mendengar penjelasan dokter itu. Yah bagaimana tidak jika ingatan Ferdi kembali, jelas lelaki itu akan mengingat semua tentang gadis yang bernama Diya.
Ivan, Diya dan Sonia pun tidak kalah kaget nya. Mendapati Ferdi telah hilang ingatan selama ini.
"Jadi Ferdi telah hilang ingatan selama ini?" Batin Sonia.
"Selama menjalani biduk rumah tangga dengan nya, aku tidak tahu sama sekali tentang itu" Tambah wanita hamil itu lagi.
"Kak Ferdi hilang ingatan? Pantas saja selama ini dia tidak memberi kabar tentang dirinya kepadaku" Diya berkata dalam hati.
"Ternyata Ferdi hilang ingatan. Jelas saja hal seperti ini terjadi. Apakah Diya akan kembali bersama Ferdi mendapati lelaki yang ia tunggu keberadaan nya tidak bersalah seperti itu? Ferdi tidak salah dia tidak ingat atas apa pun tentang Diya. Maafkan aku Ferdi selama ini aku telah salah menilai mu" Batin Ivan.
"Boleh kami masuk?" Ucap Sonia.
"Silahkan, tapi jangan berisik ya dan harap sebentar saja karena pasien harus istirahat" Ucap doktor itu lagi.
"Terima kasih ya dok"
"Jika begitu, saya permisi dulu" Ucap doktor itu lagi dan berlalu meninggalkan mereka semua.
"Sonia, papa pulang dulu ya. Kasihan Junior sepertinya dia mulai ngantuk" Ucap Agus melihat cucu semata wayang nya terus menggosok kedua matanya.
__ADS_1
"Baik pa, tolong jaga Junior ya pa" Pinta Sonia. Agus mengangguk dan berlalu dari sana. Sonia langsung masuk ke dalam ruangan duluan meninggalkan Mira yang masih melihat sinis ke arah Diya.
"Kamu keluar dari sini dan jangan pernah menampakan diri mu di keluargaku. Ferdi telah bahagia bersama Sonia. Jangan kamu menjadi duri di dalam pernikahan mereka" Ucap Mira memberi kecaman yang sangat menyayatkan hati Diya. Setelah itu Mira masuk ke ruangan itu meninggalkan Diya yang hanya terdiam tidak bisa berkata apa pun.