Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Kekasih lama


__ADS_3

"Van, setelah ku pikir-pikir, bagaimana jika kamu membawa Diya ke caffe ku saja. Tidak enak jika aku datang ke kantor mu hanya untuk urusan pribadi ku" Pesan Dari Ferdi masuk ke ponsel Ivan yang tergeletak di atas tempat tidur nya.


Ivan mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk nya setelah dirinya selesai memakai pakaian rumahan nya. Melihat ponsel nya menyala, Ivan langsung menyambarnya dan membaca isi pesan itu.


"Oke, besok setelah pulang dari kantor aku dan Diya akan ke caffe mu" Balas Ivan.


"Van, ayo makan. Makan malam nya sudah siap?" Virda berteriak dari luar kamar mengetuk pintu kamar.


"Iya, sebentar lagi aku turun" Balas Ivan sedikit berteriak. Kali ini Ivan mengunci pintu kamar nya. Takut kalau nanti Virda dengan seenak nya menerobos masuk seperti pada kejadian kemaren.


"Gadis itu, ku pikir dirinya akan marah besar kepadaku karena aku bersikap seperti tadi. Ternyata aku salah sangka kepada nya" Ucap Ivan merasa bersalah karena Virda tidak dendam kepadanya.


Ivan meletakan kembali ponsel nya di atas tempat tidur dan keluar dari kamar nya.


"Van" Tegur Virda berdiri di depan pintu kamar Ivan.


"Kamu, ngapain?" Ucap Ivan kaget tiba-tiba gadis itu muncul begitu saja di hadapan nya.


"Nungguin kamu"


"Ngapain di tungguin. Aku bisa kok pergi sendiri ke meja makan. Aku tahu sendiri ko di mana tempat nya gak perlu kamu tuntun" Ucap Ivan merasa risih sangat sangat risih dengan Virda yang yah masih bertingkah seenak nya.


"Van, maaf ya tentang tadi sore" Ucap Virda dengan ekspresi wajah bersalah.


"Ya gak apa-apa. Aku juga minta maaf karena tadi berbicara dengan nada yang tinggi kepada mu" Balas Ivan.


"Besok aku akan keluar dari rumah ini. Karena itu aku minta maaf ya" Ucap nya seraya tersenyum manis.


Ivan merasa lega karena Virda pada akhirnya keluar dari rumah nya. Artinya ia akan terbebas dari gadis itu.


"Iya, aku juga minta maaf ya Vir. Ya sudah, ayo kita makan. Mama dan papa pasti sudah nungguin kita" Ajak Ivan.


Mereka pun pergi menuju meja makan di rumah megah itu.


***


"Diy" Yuli mengetuk pintu kamar Diya.


"Masuk aja Yul gak di kunci kok" Ucap gadis manis itu.


Yuli membuka pintu kamar sahabat karib nya itu.


"Chattingan sama siapa? Ivan ya?" Tebak Yuli melihat Diya duduk manis di atas tempat tidur nya dan bersandar di pinggir kasur sambil bermain ponsel nya.


Yuli duduk di tepi kasur sahabat nya.


"Gak, cuma lihat-lihat story orang-orang di instagram" Jawab Diya masih sibuk dengan ponsel nya.


"Eh Diy, kamu mau cerita nih sama kamu"


"Cerita apa? Tentang kamu sama pacar mu? Cerita aja"


"Gak Diy, bukan aku tapi tentang kamu"


Diya menghentikan kegiatan nya. Menatap Yuli dengan penasaran.


"Tentang ku? Apa?" Tanya nya.


"Sebenarnya aku malas sih mau kasih tahu kamu. Malas ah mau bahas tentang masa lalu mu yang tidak enak itu"


"Kamu ya, udah buat aku penasaran malah gak mau bercerita. Jika gak mau bercerita ya jangan memberi tahu ku. Jadi nya aku gak penasaran seperti ini" Kesal Diya.


Yuli nyengir seperti kuda nil.


"Jadi apa cerita nya. Ayo ceritakan kepada ku" Pinta Diya.


"Tadi aku bertemu dengan Ferdi di salah satu caffe yang sangat viral di kota ini. Kamu tahu caffe itu dia yang punya lo Diy. Tadi sewaktu aku janjian ketemuan dengan klien di salah satu caffe ya aku bertemu dengan nya" Cerita Yuli dengan serius. Diya pun mendengarkan nya dengan serius pula.


"Waktu aku sudah selesai meeting dengan klien yah aku berpas-pasan dengan nya. Aku nya mau keluar, dia nya mau masuk caffe. Ku pikir dia gak ingat sama ku. Jadi aku pura-pura gak melihatnya. Eh ternyata Diya menegur ku Diy. Kaget dong aku" Tambah nya lagi.

__ADS_1


"Terus?"


"Terus dia mengajak ku ngobrol di caffe nya. Di situ aku tahu dia pemilik caffe itu. Dia juga sudah buka berbagai cabang di berbagai daerah pula. Termasuk yang baru di kota Bengkalis."


Diya tersenyum mendengar cerita Yuli.


"Ternyata kak Ferdi sudah menjadi Usahawan yang sukses" Ucap nya dalam hati.


"Kamu tahu apa yang membuat mu semakin kaget? Saat dia bertanya tentang mu"


"Lalu apa yang kamu katakan?"


"Yah aku bilang tidak tahu lah. Aku bilang saja kamu masih di kampung. Tapi dia tetap kekeh kamu ada di sini. Di kota ini, kata nya waktu ia pingsan di bioskop kemaren ia bertemu dengan mu" Lanjut cerita Yuli..


"Terus?"


"Aku bilang saja mungkin dia salah lihat orang" Ucap Yuli acuh tak acuh.


"Dia ingin bertemu dengan mu Diy. Dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada nya selama ini" Yuli merasa sedikit simpati.


Diya hanya terdiam tidak bisa berkata apa pun. Dirinya benar-benar tidak tahu harus berbuat atau berkata apa pun.


"Sebenarnya aku merasa kasihan sih sama Diya. Tapi tetap saja aku tidak ingin kamu bertemu lagi dengan nya. Dia kan sudah mempunyai keluarga nya sendiri. Kamu tahu Diy, dia sangat menginginkan kamu kembali. Itu yang sangat aku tidak sukai. Dia pikir aku tidak tahu apa dia sudah memiliki anak dan istri" Yuli kesal dengan permintaan Ferdi yang sangat tidak mungkin bagi nya.


"Dia tidak mengatakan jika dia sudah memiliki keluarga? Apa kamu tidak bertanya kepadanya?"


"Dia tidak mau menjawab nya Diy. Saat aku bertanya seperti itu, dia malah membahas hal yang lain"


"Nah itu yang membuat ku hilang rasa simpati kepada nya. Arti nya dia ingin kamu kembali meski sudah mempunyai anak dan istri. Ingin memiliki mu dan keluarganya sekarang. Emang nya kamu pelakor apa" Yuli kesal.


"Diy, jujur ya sama aku, kamu tidak akan kembali kan bersama Ferdi?" Yuli meminta kepastian dari Diya sahabat nya itu.


Diya tersenyum.


"Aku gak seperti itu kok Yul. Bukan kah sudah aku katakan aku tidak akan mungkin kembali bersama nya. Aku berusaha membuang semua perasaan ini untuk nya" Yakin Diya.


"Bagus lah Diy. Aku sangat mendukung itu, dan aku sangat berharap kamu dan Ivan bersatu. Semoga saja aamiin" Ucap Yuli menadahkan kedua tangan nya berdoa.


Diya salfok (salah fokus) dengan sebuah cincin yang melingkar di jari jemari Yuli.


"Yul, bagus sekali" Diya kagum.


"Iya, dari ayang mbeb Diy. Katanya secepatnya ingin melamar ku" Yuli tersenyum malu memegang kedua pipinya yang timbul rona warna merah.


"Cie....selamat ya Yul. Seneng deh mendengar nya" Ucap Diya memeluk dengan bahagia.


"Oh iya, liburan ini aku mau pulang ke kampung bersama ayang mbem ku. Yah memperkenalkan nya kepada keluarga ku Diy. Kamu ikut?"


"Oh Ya? Aku kau sih ikut. Aku juga kangen sama ibu" Ucap Diya.


"Aku ikut ya" Tambah nya lagi.


***


Diya dan Ivan masuk ke salah satu caffe yang terkenal di kota itu. Sejujurnya dia tidak tahu bahwa caffe itu adalah milik Ferdi. Yuli tidak menyebutkan nama caffe nya ia hanya bilang cafee yang viral.


Diya dan Ivan menuju ruang private seperti yang di janjikan oleh Ivan dan Ferdi.


"Kita tunggu di sini saja ya, ada seseorang yang mau bertemu dengan mu" Ucap Ivan.


Degg....


Hati Diya mulai gundah.


"Siapa yang ingin bertemu dengan ku? Apa kah orang tua Ivan? Apa kah mereka akan menyukai ku kelak? Atau bahkan bersikap seperti mama nya Ferdi dulu" Wajah gadis itu mulai pucat pasi memikirkan apa yang akan terjadi saat dirinya bertemu dengan orang itu.


"Siapa?" Tanya Diya sedikit gugup.


"Nanti juga kamu tahu" Ucap.Ivan tersenyum.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian orang di tunggu telah datang.


"Itu orang nya sudah datang" Ucap Ivan.


Diya yang duduk membelakangi orang itu pun menoleh.


Degg.....


Hati nya kembali bergemuruh mata nya membulat kaget mendapati siapa yang ingin bertemu dengan nya.


Diya beralih menatap Ivan yang tersenyum yang tampak di buat-buat.


"Kenapa?" Ucap Diya hanya dengan tatapan heran yang bisa di artikan seperti itu oleh Ivan.


"Dia hanya ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada mu agar tidak ada kesalah pahaman lagi antara kalian dan ingin meminta maaf kepada mu" Ucap Ivan mengerti.


"Ternyata benar apa yang di katakan Yuli tadi malam" Ucap Diya dalam hati.


Diya kembali bersikap seperti biasa saja.


"Sudah lama menunggu?" Sapa Ferdi saat ia telah sampai ke hadapan Diya dan Ivan.


"Belum lama kok" Jawab Ivan.


"Ya sudah kalian silahkan ngobrol. Aku tunggu di mobil saja" Ucap Ivan berdiri ingin beranjak pergi.


Diya menatap Ivan dengan tajam dan memberi kode agar jangan meninggalkan nya sendirian bersama Ferdi. Gadis itu tidak enak saat bertemu dengan laki-laki itu. Meski selama ini ia sangat menginginkan hal ini terjadi, namun itu semua sudah berlalu karena Ferdi telah memiliki keluarga nya sendiri. Tidak pantas rasanya jika mereka bertemu terlebih pernah mempunyai kisah lama yang belum terselesaikan.


"Gak apa-apa. Aku tunggu di mobil ya" Ucap Ivan dengan memberi kode.


Ivan keluar dari ruangan itu. Sebenarnya ia sangat berat hati meninggalkan gadis impian nya bersama yah bisa di bilang mantan nya. Takut hal yang terburuk terjadi. Tidak hanya nanti menyakiti hati nya, tapi juga kelak akan menyakiti hati adik sepupunya dan juga anak kecil yang masih polos yaitu Junior.


"Boleh duduk" Tanya Ferdi basa basi.


Diya mengangguk. Gadis itu terlihat canggung berhadapan dengan laki-laki itu. Seperti saat dirinya baru bertemu dulu dengan mantan kekasih nya itu.


"Bagaimana pendapat mu dengan caffe ku" Ucap Ferdi mencari bahan bicara untuk mencairkan suasana yang terasa canggung itu.


Diya memperhatikan dengan seksama ruangan itu.


"Bagus kok, bersih dan nyaman" Diya memberi komentar.


"Ternyata ini caffe yang viral punya kak Ferdi yang Yuli ceritakan tadi malam" Batin nya.


"Aku gak menyangka kita bisa bertemu. Ternyata sekretaris Ivan adalah kamu. Ivan pernah bilang bahwa di kantor nya juga ada gadis yang bernama Diya. Jadi aku ingin bertemu dengan mu memastikan bahwa gadis yang di maksud Ivan adalah kamu atau bukan. Ternyata benar ini adalah kamu" Ferdi tersenyum dengan khas nya. Senyuman yang sangat memikat hati Diya. Senyuman yang dulu pernah di rindukan nya. Senyuman yang membuatnya menantikan lelaki itu selama ini.


"Oh ya, kemaren aku juga bertemu dengan Yuli. Yuli bilang kamu di kampung. Apa Yuli tidak mengetahui jika kamu di sini?" Tanya Ferdi.


"Aduh, aku harus jawab apa ya?" Diya bertanya pada dirinya sendiri.


"Gak sih, kami sudah lama tidak berkomunikasi. Nomor kontak nya Yuli hilang. Jadi gak bisa saling komunikasi. Dan selama aku kerja di sini aku juga belum sempet bertemu dengan nya karena sibuk" Diya mencari alasan walau alasan itu tapak di buat-buat. Namun gadis itu berharap alasan nya bisa di terima oleh lelaki di hadapan nya.


Ferdi mengangguk mengerti. Diya merasa lega karena alasan yang ia buat ternyata di terima oleh Ferdi.


Lama mereka saling terdiam Ferdi tampak berpikir merangkai kata untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada ya selama ini. Dia tampak bingung harus dari mana ia bercerita.


"Diy, aku minta maaf karena selama ini aku telah menghilang dari hidup mu. Aku tidak memberi kabar sama sekali untuk mu.. Aku benar-benar minta maaf Diy. Bukan maksud ku untuk melakukan semua ini. Takdir telah membuat ku begini" Jelas Ferdi tampak sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi.


Diya hanya diam menunduk tidak berani menatap mata lelaki yang di hadapan nya itu. Meski gadis itu sudah tahu sebenarnya yang terjadi. Namun ia tidak ingin memotong penjelasan dari Ferdi. Ia hanya memilih diam untuk mendengarkan apa yang ingin di katakan Ferdi.


"Malam itu, malam di mana aku menelefon mu untuk memberikan tahu kepada mu bahwa aku akan pergi, di malam itu juga kecelakaan telah terjadi kepada ku hingga membuatku hilang sebagian memori ku. Membuat ku kehilangan memori tentang mu. Saat aku koma, mama dan papa membawa ku pindah ke kota ini untuk memisahkan kita Diy. Dan saat aku bertemu dengan mu di bioskop kemaren aku memingat kembali semua nya. Semua tentang kita Diy. Aku benar-benar minta maaf untuk semua ini" Jelas Ferdi dengan raut yang sangat sedih.


Diya merasa simpati. Jika Ferdi masih sebagai kekasihnya ingin rasanya gadis itu memeluk dan menenangkan hati lelaki itu agar lebih tenang. Namun, hal itu tidak mungkin ia lakukan saat ini karena Ferdi adalah suami orang. Tidak mungkin ia memeluk suami orang dan ayah dari anak yang tidak berdoa seperti Junior.


"Diy, aku masih mencintai mu Aku sangat mencintai mu Dari dulu hingga sekarang perasaan itu sama. Hati ini masih milik mu"


Degg.....


Sepontan Diya menatap Ferdi dengan membulatkan mata nya. Ia benar-benar benar tidak menyangka Ferdi bisa mengatakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2