
"Kami bersahabat saja"
"Hanya itu?"
"Iya"
"Kenapa kamu gak terima dia aja? Rugi dong barang bagus begitu"
"Ih...Kamu sih..." Diya mencubit pinggang Yuli sampai Yuli meringis kesakitan.
"Kalian kemana aja sih? Ditungguin dari tadi" Sungut Ferdi melihat dua orang sahabat itu masuk ke dalam bus dengan telat.
"Sorry kak....Tadi aku kelamaan di wc, maklum mau nabung. Yah....Telat deh" Jawab Yuli seenaknya. Diya hanya diam.
"Ya udah....Duduk sana" Kata Ferdi lagi sedikit ketus.
"Yul, kak Ferdi ngelihat aku sama Ivan gak ya tadi" Bisik Diya cemas.
"Tahu, emangnya kenapa?"
"Sepertinya kak Ferdi marah sama aku. Nada bicaranya agak ketus begitu"
"Gwk mungkin lah Diy, kak Ferdi kan sibuk mengurusi barang-barang kita. Jadi aku rasa ia gak melihat kalian tadi"
__ADS_1
"Kamu yakin Yul?" Tanya Diya penuh harap sambil duduk di samping Yuli.
"Yakin...Seyakin-yakinnya" Jawab Yuli mantap. Diya tidak mau bertanya lagi. Gadis itu cuma berharap semoga apa yang di katakan Yuli tadi benar adanya. Diya menarik nafas panjang lalu di hembusnya kuat-kuat.
"Selamat tinggal Ivan" Katanya dalam hati. Pemuda itu benar-benar nekat dan tidak mudah putus asa. Diya tersenyum bila teringat bagaimana kegigihan pemuda itu dalam meraih cintanya. Rela bangun sepagi ini. Lagi-lagi Diya tersenyum.
"Benar-benar nekat kamu Van" Katanya dalam hati seraya memandang keluar jendela bus yang sejak tadi meninggalkan sekolah itu.
"Kamu sedang memikirkan apa?" Tegur seseorang yang dari tadi duduk disamping gadis itu dan memperhatikan tingkahnya.
"Gak....Gak ada apa-apa kok kak" Jawab Diya kaget dan cepat-cepat menguasai suasana.
"Aku senang aja kita pulang. Jadi bisa ketemu sama ibu, aku kangen banget sama ibu" Jawab Diya beralasan.
"Ayolah kak....Jangan bercanda ah" Ferdi tersenyum lalu meraih kepala gadis itu masuk kedalam pelukan nya.
"Kita pindah ke belakang yuk" Ajak Ferdi sadar.
"Kenapa?"
"Ayolah...." Kata Ferdi bangkit dan meraih tangan gadis itu. Diya tidak menolak lagi. Gadis itu pun mengikuti langkahnya tidak lupa ia membawa tas punggung dan meminta izin pada Yuli.
"Di sini kan enak, tidak canggung dilihat teman-teman. Benarkan?" Kata Ferdi mempersilahkan permaisurinya duduk duluan. Diya hanya tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang, gimana perasaan kamu?" Tanya Ferdi setelah mereka duduk santai di bangku belakang bus.
"Perasaan? Perasaan apa?" Tanya Diya tidak mengerti memandang ke wajah pemuda itu.
"Tentang kunjungan ini"
"Yah....Tentu saja senang" Jawab Diya menghembuskan nafas lega. Cemas juga mendengar pertanyaan Ferdi itu, jangan-jangan ia mengetahui hal yang terpendam difikirannya.
"Jika kamu masih ngantuk, tidur aja Diy....Perjalanan kita masih jauh" Kata Ferdi melihat gadis itu banyak diam dan merasa kalau mereka sudah jauh meninggalkan sekolah terfavorit itu.
"Belum ngantuk. Aku mau menikmati pemandangan diluar sana" Jawab Diya seraya memandang ke luar jendela.
"Kamu suka?" Diya mengangguk.
"Aku punya ide. Jika kita menikah nanti, kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Ferdi serius. Diya tersenyum geli mendengarnya.
"Aku serius Diy, bukan becanda"
"Iya...Iya..." Jawab Diya masih dalam tawanya.
"Diimana?"
"Diimana ya?" Gadis itu tampak berfikir.
__ADS_1
"Aku ingin pergi belayar ke seluruh dunia"