
"Apa maksud dari mimpi ku tadi malam?" Batin Diya.
"Kenapa Ivan berkata seperti itu? Apa maksud dari perkataan Ivan? Apa Kak Ferdi telah mengkhianati?" Satu per satu pertanyaan mulai muncul di benak gadis itu.
"Kenapa kak Ferdi sama sekali tidak menghiraukan ku saat aku memanggilnya? Kenapa dia malah pergi bersama gadis itu? Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa mimpi malam tadi begitu terasa nyata?" Kata Diya dalam hati.
"Diya.." Panggil Yuli melihat sahabat nya tenggelam dalam lamunan.
"Diya" Sergah nya lagi membuat lamunan Diya hilang begitu saja.
"Eh, ada apa Yul? Kenapa?" Diya balik tanya.
"Kamu kenapa melamun sih? Aku kan mau curhat sama kamu tentang perubahan di wajah ku ini" Yuli cemberut.
"Iya ada apa?"
"Aduh Diy, kamu ini kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan melamun terus kamu nya? Ada apa? cerita dong" Pinta Yuli.
Diya menghela napas panjang. Ingin rasanya melepaskan beban pikiran nya saat ini. Namun, nyatanya hal itu masih membayangi di benak nya.
"Bengong lagi, melamun lagi" Cerutu Yuli.
"Aku bingung Yul mau cerita nya di mulai dari mana" Diya bersuara.
"Aduh masalah apa lagi sih Diy, gak kelar-kelar masalah mu. Pusing kepala ku" Jawab Yuli.
"Ya aku mau nya kelar sih Yul"
"Bisa kok kamu kelar kan masalah mu itu. Jangan kamu pikirin si Ferdi itu, coba move on ke Ivan yang jelas-jelas mencintai mu. Kamu sendiri yang membuat masalah mu yang tidak kelar" Protes Yuli.
Diya tampak berpikir apa yang di katakan Yuli. Mungkin benar apa kata Yuli. Aku sendiri yang membuat masalah ku tidak kunjung kelar selama ini. Pikirnya.
"Sekarang cerita apa yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
Diya berjalan meninggalkan Yuli yang memperhatikan kepergian nya. Diya duduk di kursi panjang yang ada di pinggir jalan tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Sesekali terlihat Diya berpikir bagaimana rangkaian kalimat yang harus di susun untuk menceritakan tentang mimpinya kepada Yuli sahabat nya itu.
"Yul, apa ya maksud dari mimpi ku tadi malam?" Akhirnya Diya bertanya setelah beberapa detik berdiam diri.
Yuli mengerut kening nya. Tidak mengerti mimpi apa yang di maksud Diya.
"Aduh Diya....kamu ini kalau ngomong jangan setengah-setengah. Aku yang comel tiada ketara ini kam jad bingung tidak mengerti" Canda Yuli.
"Comel? Kamu comel?" Diya kembali bertanya keheranan.
"Hahaha.....iya comel kan aku?" Yuli berkata dengan PD (percaya diri) nya.
"Oke, iya kamu comel" Diya mengalah. Saat ini hati dan pikiran nya sedang kacau. Jadi tidak ingin berdebat dengan siapa pun saat ini.
"Sudah jangan di bahas lagi. Sekarang kamu cerita apa yang membuat sahabat ku satu ini melamun seperti ini. Aduh Diy, lama-lama kamu bisa jadi tua lo. Apa nama istilah kedokteran nya penuaan dini. Usia baru segini tapi sudah seperti mak-mak yang lebih parahnya seperti nenek-nenek" Yuli berceramah.
"Gitu ya Yul?" Tidak bisa berpikir, Diya menerima begitu saja ucapan Yuli.
"Nah itu yang mau aku ceritakan"
"Kenapa? Ada apa dengan Ivan? Apa dia mengungkapkan perasaan nya?" Yuli tampak bersemangat. Mata nya kelihatan begitu berbinar-binar.
"Kenapa kamu yang jadi semangat begitu Yul? Seperti Ivan yang mengungkapkan perasaan nya ke kamu saja" Seru Diya.
"Bukan begitu Diy, aku bersemangat seperti ini karena kamu akhirnya bisa move on. Menemukan tambatan hati yang akan membuat mu bahagia"
"Seperti aku yang sudah menemukan tambatan hati" Yuli kelihatan malu-malu mengungkapkan hal itu. Timbul sedikit warna merah merona di pipi tembemnya.
"Tunggu, tunggu, kamu sudah menemukan tambatan hati? Siapa? Kapan? Jadi itu sebab nya kamu kelihatan bahagia sekali pagi ini"
Yuli mengangguk. Wajahnya menunduk malu.
__ADS_1
"Cie....selamat ya Yuli. Siapa laki-laki beruntung itu" Diya ikut senang.
"Bang Jeki" Kata Yuli masih menunduk.
"Jeki? Jeki siapa?"
"Kamu gak kenal Diy. Jeki itu teman sekantor ku. Kapan-kapan aku kenalkan dia sama kamu ya. Tadi malam dia mengungkapkan perasaannya kepada ku. Yah memang dia tidak seganteng dan segagah Ivan. Tapi dia yang bisa menerima ku selama ini dengan ketulusan hatinya. Dan selama ini dia yang selalu membuat hati ku nyaman" Cerita Yuli sambil membayangkan wajah lelaki yang bernama Jeki itu.
"Owh, akhirnya sahabatku sold out juga" Canda Diya.
"Kamu pikir aku barang apa" Protes Yuli.
"Canda Yul jangan masuk ke hati ya" Diya tersenyum manis.
"Gak kok Diy, saat ini aku sedang bahagia. Jadi tidak ada waktu nya untuk marah-marah. Sekarang giliran kamu ceritakan mimpi mu"
"Begini Yul, tadi malam aku bermimpi di sebuah pantai dengan pasir putih membentang di sana. Aku bertemu dengan kak Ferdi di ujung pantai itu. Aku berteriak memanggilnya. Namun, dia tidak menghiraukan ku. Dia terus berjalan meninggalkan mu Yul. Semakin jauh, semakin jauh. Aku terus mengejarnya Yul. Namun tidak kunjung dekat dengan nya. Semakin laju ku berlari, semakin jauh kak Ferdi dari ku Hingga langka ku terhenti saat kak Ferdi menghampiri seorang gadis" Tak terasa beberapa butir air bening mulai membasahi pipi Diya.
Diya menatap ke depan dengan tatapan yang kosong membayangkan mimpinya tadi malam.
"Kak Ferdi menggandeng tangan gadis itu Yul. Mereka pergi menjauh dari ku. Hingga pada akhirnya saat aku kesugukan menangis, Ivan datang menghampiri ku. Ia membantu ku berdiri Yul" Tambah Diya.
"Lalu?"
"Lalu, Ivan berkata jangan tangisi kepergian kak Ferdi. Air mata ku sangat berharga hanya untuk menangisi laki-laki yang tidak penting seperti kak Ferdi. Apa maksud dari mimpi ku itu Yul? Apa kak Ferdi telah menemukan gadis lain untuk mendampingi hidup nya? Apa dia mengkhianati janji nya pada ku?"
"Itu pertanda Diy, kamu harus move on lupakan kak Ferdi. Coba lah buka hati untuk Ivan. Mimpi mu sudah memberikan mu petunjuk siapa yang terbaik untuk mu" Ucap Yuli yakin. Diya menatap lekat sahabat nya itu meminta kepastian akan ucapnya barusan.
"Iya Diy, aku serius itu adalah pertanda" Ulang Yuli yakin.
"Aku tidak tahu Yul. Aku masih bingung. Selagi aku belum melihat dengan mata ku sendiri kebenaran tentang kak Ferdi, selama itu aku belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk siapa pun"
"Keras kepala ya kamu. Jadi perawan tua dong kamu jika begitu. Siapa tahu mimpi mu itu artinya kak Ferdi sudah memiliki keluarga kecilnya. Secara tujuh tahun ia menghilang tidak menutup kemungkinan kan kalau dia sudah berkeluarga" Kata Yuli.
__ADS_1
Diya tidak menjawab. Gadis manis itu tampak berpikir tentang ucapan Yuli.