
"Aduh, kenapa suasana makan malam yang aku harapkan berjalan dengan lancar malah terjadi keributan seperti ini sih" Pikir Ivan.
"Aku jadi gak enak sama Diya. Harus nya malam ini adalah malam pertemuan Diya dan kedua orang tua ku menjadi spesial dan berkesan bukan malah berantakan seperti ini" Tambahnya lagi.
"Ayo Diy, di tambah dong makanan nya. Tante sengaja lo masak banyak karena Ivan bilang kamu mau datang ke sini" Ucap Ajeng dengan manis.
"Iya tante. aku udah kenyang" Ucap Diya dengan sungkan.
***
Virda membanting pintu kamar nya karena merasa kesal dengan sikap Herman dan keluarganya.
"Si*al, bisa-bisa nya om berkata seperti itu di depan gadis kampungan itu. Kenapa sih semua orang pada bela-belain tuh cewek. Om dan tante juga ngapain juga ikut-ikutan membela Diya. Semakin besar kepala tuh cewek. Padahal mereka baru saja kenal dengan tuh cewek kampungan." Ucap Virda dengan amarah yang menggebu-gebu mondar mandir dari tadi di depan tempat tidur nya.
"Nah sekarang, pakai acara mengusir ku dari rumah dengan alasan yang tidak masuk akal pikiran ku. Aku benar-benar tidak terima dengan semua ini. Aku akan membuat perhitungan sama Diya. Aku akan membuat dia menyesal karena telah membuat ku jauh dari orang-orang yang aku sayangi di sini" Ucap Virda menggenggam erat tangan nya.
***
"Diy, maaf ya atas makan malam yang berantakan seperti tadi. Aku benar-benar tidak enak sama kamu" Ucap Ivan merasa bersalah dengan kejadian tadi di meja makan saat mereka berada di samping mobil ingin mengantar Diya pulang.
"Gak apa-apa Van. Aku tidak mempermasalahkan hal itu" Ucap Diya tersenyum.
"Emang benar ya Virda berhenti kerja? Berarti Virda pindah ke kota ini dong" Tanya Diya memastikan.
"Iya, benar Diy. Aku juga tidak habis pikir dengan apa yang dia inginkan. Kenapa bisa semuda itu dia melepaskan pekerjaan nya yang selama ini begitu susah payahnya ia bangun" Ucap Ivan menyesali keputusan dari Virda.
"Dia melakukan itu semua karena aku Diy, maafkan aku tidak bisa jujur kepada mu tetang alasan yang sebenarnya kenapa Virda bisa memilih tetap tinggal di kota ini. Aku takut nanti kamu pasti semakin merasa tidak enak sama Virda. Dan aku takut kamu akan menjauh dari ku. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku sangat mencintai mu Diy" Batin Ivan.
"Ya sudah, aku anterin kamu pulang ya. Sudah malam juga" Ajak Ivan.
Diya mengangguk. Ivan membuka pintu mobil untuk Diya. Diya tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil nya Ivan.
Ivan menyalakan mesin mobil nya dan melaju membelah jalan raya.
"Diy, nanti saat kita pulang kampung bertemu dengan orang tua mu, pakai mobil ku aja ya. Bilang sama Yuli dan zaki agar kita berbarengan aja pergi ke sana" Ucap Ivan menawarkan.
"Kamu beneran mau ikut Van?" Tanya Diya.
"Ya iya lah Diy, aku mau bertemu dengan ibu mu. Jujur aku baru tahu bahwa kamu tidak memiliki ayah. Selama ini aku tidak mengambil tahu tentang keluarga mu. Aku terlalu sibuk dengan mengejar cinta mu" Ucap Ivan.
Diya hanya tersenyum menanggapi.
"Diy, sebelum pulang aku mau membawa mu ke sesuatu tempat"
"Kemana?"
"Nanti juga kamu tahu" Ucap Ivan.
Beberapa menit kemudian mobil Ivan berhenti di sebuah taman.
"Kita sudah sampai" Ucap Ivan.
"Lo ngapain kita di sini Van?" Diya masih tidak mengerti.
Ivan membuka pintu mobil untuk Diya.
"Ada hal yang mau aku tunjukin ke kamu"
Diya turun dari mobil. Mengikuti langkah kaki Ivan.
Sekian menit kemudian sampailah mereka di tengah taman. Di sana telah di hiasi dengan berbagai bungan indah dengan lilin dan lampu kelap kelip membentuk hati. Sangat indah dan sangat romantis. Ternyata Ivan telah menyiapkan semua ini untuk Diya.
Diya berdecak kagum dengan penampakan di depan nya.
"Bagus gak? Kamu suka?" Tanya Ivan menggenggam jari lentik gadis itu mengajak nya untuk berdiri di tengah-tengah tempat yang ia siapkan itu.
__ADS_1
"Bagus banget Van. Aku suka" Ucap Diya menyelusuri setiap jengkal pemandangan yang indah itu.
"Ini semua aku siapkan khusus untuk mu gadis impian ku"
Diya tersenyum mendengar nya.
Ivan menatap Diya dengan penuh cinta. Menggenggam kedua jari jemari lentik gadis itu. Mereka saling berhadapan menatap dengan penuh perasaan. Seketika getaran halus mulai muncul di hati kedua nya.
"Diy, Aku telah mempersiapkan ini semua untuk mu. Karena kamu adalah orang yang paling spesial dalam hidup ku. Diy, kamu mau gak jadi teman dalam hidup ku? Kamu tahu sendiri bahwa aku telah menunggu mu selama tujuh tahun. Dan selama itu perasaan ini masih tetap sama untuk mu. Kamu mau menjadi pendamping hidup ku? Di saat senang mau pun susah. Aku mau kita bersama-sama selama nya sampai maut memisahkan kita. Aku tidak meminta mu untuk menjadi pacar ku Diy, aku mau kamu menjadi pendamping hidup ku. Di usiaku yang sekarang tidak waktu nya lagi untuk ku berpacaran. Namun lebih tepat nya aku harus menjalani kisah cinta ini dengan serius bersama mu" Ucap Ivan dengan serius dengan rasa penuh cinta di dada.
Tak terasa beberapa butir air bening mengalir di pipi mulus gadis itu.
"Kami mau menjadi pendamping hidup ku Diy?" Tanya nya lagi.
"Aku mau Van. Aku mau menjadi pendamping hidup mu. Aku juga mencintai mu Van. Terima kasih untuk apa yang telah kamu lakukan untuk ku selama ini. Kamu telah membuat ku bisa move on dari masa lalu ku yang begitu menyakitkan" Ucap Diya masih dengan menangis nya.
"Jadi kamu menerima ku?" Tanya Ivan.
Diya mengangguk. Mereka pun saling berpelukan penuh dengan gejolak rasa di dada. Sungguh malam itu adalah malam yang paling spesial dalam hidup kedua insan itu. Dimana Ivan telah melamar Diya. Ivan mengeluarkan sebuah kotak yang di dalam nya berisi cincin berwarna putih dengan di hiasi mutiara putih di tengah nya.
Ivan menyematkan cincin itu di jari manis gadis impian nya.
"Aku telah melamar mu Diy. Nanti ketika aku bertemu dengan ibu mu aku akan meminta izin kepadanya untuk menjadi penjaga mu" Ucap Ivan.
"Penjaga, emang nya bodyguard" Canda Diya.
"Yah bisa di bilang begitu" Ucap Ivan mencubit hidung mungil gadis itu dengan penuh rasa cinta.
Mereka tertawa bahagia dan kembali berpelukan. Sungguh malam ini adalah malam yang sangat bahagia dalam hidup mereka. Dimana malam ini malam sebagai peresmian status baru di dalam hidup mereka masing-masing.
Suasana semakin romantis ketika para orang bayaran Ivan menyalakan kembang api yang menghiasi langit malam itu dengan sangat indah.
***
"Apaan sih Yul. Jangan menggoda deh"
"Menggoda gimana? Kelihatan lo Diy wajah kamu merona seperti itu. Yah terlihat seperti orang sedang jatuh cinta. Tuh, tuh, pipi nya memerah" Ujar Yuli lagi.
Diya tersipu malu menutup mulut nya karena kebahagiaan yang tiada ketara tadi malam.
Yuli salfok (salah fokus) melihat cincin berwarna putih dengan hiasan mutiara di tengah nya melingkar manis di jari manis Diya.
"Diy, cincin dari Ivan ya? Bagus nya" Yuli memegang jari jemari lentik sahabat nya itu memperhatikan dengan seksama cincin itu.
"Ya Yul, Ivan melamar ku tadi malam"
Yuli membulat kan mata nya. Mulut nya terbuka lebar mendengar apa yang keluar dari mulut sahabat nya itu.
"Bener Diy? Wah....senang nya. jadi apa jawaban kamu?"
"Aku terima lah, Ivan gak mau pacaran lagi Yul. Di usia nya sekarang tidak waktu nya lagi untuk pacar-pacaran. Ia lebih memilih untuk menjalani hubungan dengan serius yaitu meminta ku untuk menjadi pendamping hidup nya" Ujar Diya.
"Jadi dia mengungkapkan itu semua di depan kedua orang tua nya?"
Diya menggeleng.
"Gak Yul. Diya mengungkapkan itu ketika mau mengantar ku pulang. Di taman kota di hiasi dengan berbagai bunga warna warni dan lampu kelap kelip berbentuk hati di sana. Di sana lah Ivan mengungkapkan semua nya. Aku bahagia banget Yul. Dia juga mau meminta izin kepada ibu ku saat kita pulang kampung besok" Jelas Diya.
"Wah, sumpah Diy aku senang banget mendengar nya. Tapi gimana pertemuan mu dengan kedua orang tua nya? Apa mereka menyukai mu?"
Diya mengangguk.
"Mereka sangat welcome kepada ku Yul. Mereka tidak mempermasalahkan aku berasal dari keluarga yang bagaimana. Karena yang menjalani kehidupan bersama ku adalah Ivan. Jika Ivan bahagia, maka mereka juga akan bahagia" Ujar Diya.
"Tuh kan Diy, aku bilang juga apa. Tidak semua orang bersikap. sama. Terbukti jika kedua orang tua Ivan sangat berbeda dengan orang tua nya Ferdi bukan" Ujar Yuli.
__ADS_1
"Iya Yul kamu benar. Aku sangat senang bertemu mereka. Mereka sangat baik kepada ku"
"Aku senang banget deh Diy, seneng banget melihat mu seperti sekarang ini" Ujar Yuli dengan wajah yang begitu bahagia.
"Terima kasih ya Yul. Kamu sahabat terbaik ku. Kamu selalu saja support aku dalam keadaan apa pun Dan di saat aku terburuk kemaren, kamu yang selalu ada untuk ku mengajak ku untuk ke kota ini sehingga bertemu dengan Ivan dan yah seperti ini lah takdir menentukan kami. Semua karena kamu Yul" Ucap Diya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama Diy, aku pun bersyukur dengan takdir kalian. Apa lagi si Ivan. Aku sangat kagum sama dia yang setia menunggu kamu selama ini" Ujar Yuli berdecak kagum.
Diya tersenyum saat nama kekasih nya di sebut oleh sahabatnya itu.
"Oh ya Yul, Ivan bilang besok kita pulang kampung pakai mobil dia aja ya. Pulang bareng ramai-ramai pasti seru"
"Wah, bagus dong aku senang banget Diy. Berarti irit ongkos dong untuk pulang kampung"
"Itu kan memang kesukaan mu Yul"
Yuli nyengir kayak kuda nil.
"Diy, si zaki mau bertemu kedua orang tua ku untuk memperjelas hubungan kami. Dan Ivan juga begitu, Jadi nanti apa kita bagusnya melaksanakan pesta pernikahan barengan juga ya Diy, terus bulan madu sama-sama, hamil sama-sama bahkan melahirkan juga sama-sama. Jadi anak kita pun besar nya sama-sama" Yuli berkhayal.
"Hahaha.....Khayalan mu terlalu jauh deh Yul. Lucu deh kamu"
"Lo kan memang benar Diy, jika kita menikah nya sama-sama pasti semua nya juga sama-sama"
"Iya tahu, tapi kan jika masalah hamil sama-sama aku gak bisa menjamin sih. Kemungkinan kamu dan aku hamilnya berbeda. Kan masa subur setiap wanita berbeda lo Yul. Bisa Allah memberikan rezeki anak kepada ku duluan atau kepada mu duluan" Ujar Diya.
"Kan kita hanya merencanakan Diy, semua kan terserah sama yang di atas"
"Iya, di aamiinin aja semoga kita bisa berbarengan ya tentang semua nya seperti apa yang kamu ingin kan" Ujar Diya.
"Iya aamiin"
***
Diya merasa heran dengan seikat bunga berwarna merah tergeletak manis di meja kerja nya. Saat itu Ivan telah berada di ruangan nya. Jadi tidak melihat bunga yang tergeletak di meja Diya.
"Lo kok ada bunga di sini. Bunga siapa?" Batin Diya mengambil bunga itu dan mencari sumber dari mana bunga itu berasal.
Terlihat di selip-selip bunga itu ada sepucuk surat. Diya mengambil dan membaca nya.
"Selamat pagi cantik ku.....
aku kirimkan bunga ini untuk mu kekasih yang aku rindukan. Semoga hari mu penuh keceriaan seperti ceria nya warna bunga ini. Aku mencintai mu selalu" Ferdi"
Degg....
Sontak membuat Diya menjatuhkan kembali bunga yang di pegang nya di atas meja.
"Apa-apaan sih kak Ferdi. Aku sudah mengatakan dengan jelas kemaren bahwa kita tidak mungkin bersama.. Kenapa dia berbuat seperti ini. Jika Ivan tahu pasti Ivan akan marah besar sama dia. Secara dia telah mengkhianati Sonia adik sepupunya Ivan dan juga telah mendekati ku yang sekarang telah menjadi kekasih nya Ivan. Bisa jadi perang dunia ketiga ini. Lebih baik aku buang saja bunga ini dan merahasiakan nya kepada Ivan Aku tidak mau Ivan dan kak Ferdi bertengkar hebat nanti nya" Batin Diya.
"Mbak. tolong bunga ini di buang saja ya mbak" Ujar Diya kepada salah seorang Office girl yang kebetulan lewat saat itu.
"Lo kenapa mbak? bunga nya masih bagus lo mbak. Kenapa harus di buang. Kan sayang mbak" Ucap. office girl itu.
"Jika kamu mau ambil saja. Saya tidak mau bunga ini" Ucap Diya menyerahkan bungan itu kepada office girl yang masih berdiri di hadapan nya.
"Benar mbak? Bunga ini untuk saya?" Yakin Office girl itu.
"Iya ambil saja"
"Boleh saya bawa pulang? Yah hitung-hitung untuk hiasan di rumah kos saya"
"Terserah mau kamu apain ini bunga. Yang penting aku tidak melihat bunga ini"
"Baik mbak. Terima kasih banyak ya mbak. Saya permisi dulu" Office girl tadi pun berlalu dari hadapan Diya.
__ADS_1