
"Maksudmu bulan madunya di atas kapal persiar?" Diya mengangguk.
"Dengan segala perlengkapan, serta kecanggihan peralatan mekanisnya. Yah....Pokoknya semua serba canggih dan modern sekali. Bila pagi tiba, aku akan melihat matahari terbit di ufuk timur memancarkan sinarnya di air laut seperti melihat taburan mutiara ditengah-tengah laut. Dan bila senja, cakrawala akan menampakan megahnya yang menghiasi langit dan aku juga ingin melihat bebas bintang-gemintang yang bertaburan di langit. Dan tentu saja dengan bulan purnamanya. Wah...Itu pasti sangat indah dan menarik. Betulkan?" Kata Diya mengakhiri ceritanya. Gadis itu mengerut keningnya.
"Kak....Kak Ferdi kenapa?" Tanya nya melihat pemuda itu tampak bengong.
"Permintaanku terlalu berlebihan ya?" Katanya lagi.
"Gak..." Jawab Ferdi singkat.
"Aku senang mendengarnya. Mudah-mudahan impian kita akan terkabul" Diya tersenyum.
"Kak Ferdi percaya dengan perkataanku tadi?"
"Iya...Kenapa?" Diya tersenyum lagi malahan ia tertawa lepas.
"Ya gak lah kak...Mana mungkin gadis seperti aku bisa berfikir seperti itu"
"Kenapa tidak? Aku akan membuktikan nya nanti"
__ADS_1
"Tidak kak...Tidak....Aku tidak mau semua itu, aku hanya ingin kamu selalu di sampingku. Dengan sebuah rumah kecil yang hanya kita berdua saja disana. Yah....Cuma itu saja yang aku mau"
"Benarkah?" Diya mengangguk lalu merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.
"Yah...Hanya itu yang aku mau kak, tidak yang lain"
"Mudah-mudahan apa yang kita impikan akan terlaksana, kita hanya merencanakan tapi ALLAH lah yang menentukan. Betulkan?" Kata Ferdi mengelus lembut rambut gadis itu. Diya mengangguk.
"Tapi kita harus berdoa agar impian ini akan terlaksana" Sambungnya, kini giliran Ferdi yang mengangguk. Keduanya sama-sama tersenyum, sama-sama mempererat pelukan nya masing-masing. Merasakan betapa hangatnya kebersamaan mereka saat ini.
Ferdi merogoh sakunya saat mendengar ponsel berdering. Pemuda itu mengerut keningnya.
"Bukan ponsel ku yang berdering, lalu ponsel siapa ya?" Tanya Ferdi heran.
"Sepertinya di dalam tas kamu Diy"
"Apa? Didalam tas?" Diya mengerut kening heran.
"Kapan aku punya ponsel?" Fikirnya.
__ADS_1
"Benarkan? Kamu baru beli ponsel Diya?" Tanya Ferdi mengambil ponsel itu dan mengelurakan nya dari dalam kotak.
"Ivan? Siapa Ivan?" Tanya Ferdi heran melihat di dalam ponsel itu tertulis nama seorang pemuda bernama Ivan. Ya...Ivan. Diya kaget lalu menggeleng.
"Aku tidak tahu kak"
"Tidak tahu?" Ulang Ferdi curiga.
"Jika kamu tidak tahu, kenapa ponsel ini ada di dalam tas kamu?"
Diya baru ingat, bukankah Ivan yang memberikan sebuah kotak kecil sebagai hadiah atas nama persahabatan mereka. Diya benar-benar tidak tahu kalau isi didalam kotak itu adalah sebuah ponsel. Duh....Gusti....
Melihat Diya tidak menjawab, Ferdi semakin yakin bahwa Diya dan Ivan ada apa-apanya.
Ah....Ferdi tidak mau memikirkan nya.
"Kalau kamu ingin punya ponsel ngomong saja. Jangan mau dibeliin sama orang lain, aku gak suka itu" Dengan rasa kecewa dan cemburu Ferdi membuang ponsel yang masih berdering itu keluar jendela bus yang masih terbuka.
"Nih....Pakai ponsel ku saja. Aku mau kok memberikan mu hadiah, tapi tidak dengan orang lain"
__ADS_1
"Tapi kak, aku benar-benar tidak tahu kalau itu isinya ponsel" Kata Diya
"Apa maksudmu?" Ferdi menahan emosi agar teman-temanya tidak mendengar pertengkaran mereka.