
"Hati-hati sayang" Ujar Ferdi menuntun Sonia masuk ke dalam rumah nya.
Yah, hari ini Sonia sudah di perboleh kan pulang ke rumah nya oleh dokter karena keadaan nya sudah mulai membaik.
"Mau langsung ke kamar?" Tanya Ferdi.
"Iya, aku mau ke kamar saja istirahat"
Ferdi menuntun Sonia untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
Sebelum menaiki tangga, tragedi itu kembali terulang berputar di memorinya Sonia. Di mana ia kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya terpeleset dan terjatuh sehingga membuatnya kehilangan bayi nya.
Kembali Sonia menangis membayangkan kejadian itu.
"Sayang, sudah jangan kamu ingat-ingat kejadian itu" Ujar Ferdi memberi semangat agar tidak terlalu meratapi kesedihan itu lagi.
"Ayo sayang, istirahat di kamar ya" Ujar Ferdi dengan lembut.
Sonia mengangguk dan menaiki tangga.
"Pelan-pelan sayang" Ujar Ferdi membantu Sonia untuk berbaring di tempat tidur nya.
"Sayang kamu butuh apa? Mau makan, atau apa? Biar aku siap kan" Ujar Ferdi lagi.
"Gak perlu sayang, aku gak butuh apa-apa" Ujar Sonia.
"Aku hanya ingin istirahat" Tambah nya lagi.
"Ya sudah kamu istirahat saja di sini. Aku mau menjemput Junior dulu di sekolah nya"
"Iya kamu hati-hati ya"
***
"Papa" Junior berlari menuju papa nya.
"Sayang papa, jagoan papa" Ujar nya menggendong anak nya yang paling ia sayangi itu.
"Bagaimana sekolah nya hari ini? Apa seru?"
"Seru pa, tadi di sekolah aku di suruh menggambar keluarga kita. Dan di suruh juga untuk menceritakan tentang keluarga kita. Jadi ini hasil nya" Ujar Junior memperlihatkan hasil gambar nya.
"Wah bagus sekali hasil gambar anak papa. Pinter sekali anak papa menggambar nya" Puji Ferdi untuk anak sulung nya.
"Iya dong pa, nanti ketika aku sudah besar aku ingin menjadi pelukis pelukis terkenal"
"Tapi aku juga mau jadi dokter seperti oma, agar nanti ketika mama dan papa sakit, aku bisa mengobati mama dan papa. Aku yang akan merawat mama dan papa" Tambah nya lagi.
"Wah, mulia sekali cita-cita mu nak, semoga nanti cita-cita mu tercapai ya. Kamu harus rajin belajar agar jadi anak yang pinter untuk mencapai cita-cita mu" Ujar Ferdi.
"Pasti pa, aku pasti akan rajin berlajar untuk mencapai cita-cita ku"
"Pinter anak papa. Ayo kita pulang, hari ini mama sudah pulang dari rumah sakit"
"Mama pulang?"
"Iya sayang, ayo kita temenin mama di rumah"
"Oke pa, kita harus siaga untuk mama" Ujar nya lagi penuh dengan semangat.
Ferdi tersenyum melihat putra nya itu.
***
"Diy, aku pamit ya. Hari ini aku dan Zaki mau pulang ke kampung untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan kami di sana" Ujar Yuli berpamitan kepada Diya.
"Iya kalian hati-hati di jalan nanti nya ya. Aku, ibu dan Ivan akan pergi ke sana lusa ya"
"Iya Diy, besok kami harus melakukan penataran ulang di kantor KUA di daerah kita. Jadi ya harus pulang sekarang. Lagi pun ada beberapa persiapan yang harus di siapkan di sana. Kamu tahu sendiri lah kan adat melayu itu gimana"
"Iya kamu benar, kemaren aku juga mengusung tema melayu. Tapi berhubungan aku buat acara di sini, jadi gak perlu bolak-balik deh"
"Iya sih Diy, aku sih rencana nya juga mau buat acara nya di sini. Tapi harus bagaimana lagi keadaan ibu ku yang mabuk dengan mobil itu yang membuat ku jadi gak tega sama dia. Apa lagi ayah ku juga gak bisa tinggalin rumah dengan lama lantaran perternakan nya. Jadi yah mau tidak mau aku buat acara nya di sana. Belum lagi saudara-saudara ku yang sebagian gak bisa datang ke sini"
"Iya Yul, ya sudah aku doain acara nya nanti lancar ya. Oh ya Zaki nanti tidur di rumah kamu juga?"
"Gak dong, Zaki nginep di salah satu rumah saudara aku yang gak jauh dari rumah itu. Mereka tugas nya untuk menampung keluarga Zaki" Seru Yuli.
__ADS_1
"Wah, pasti akan seru sekali Yul acaramu kelak. Acara pernikahan yang paling aku sukai nya ketika rewang nya itu lo. Apa lagi pembentukan panitia remaja. Ngumpul-ngumpul sama teman-teman di kampung. Pasti akan sangat menyenangkan" Ujar Diya membayangkan suasana kemeriahan di kampung.
Memang biasanya jika ada acara pernikahan di kampung Diya dan Yuli yaitu tepat nya di desa Sejangat, akan di bentuk panitia remaja. Di mana para remaja lah sebagai anggota di dalam nya. Mereka akan membagi beberapa kelompok untuk sebagai panitia di acara tersebut.
Ada yang bertugas sebagai pencuci piring, ada yang bertugas sebagai penyambut tamu, ada yang bertugas sebagai mengangkat hidangan, ada yang bertugas sebagai mendekorasi pentas, ada yang bertugas menjaga hidangan, dan masih banyak lagi.
Pokok nya mereka akan bekerja sama untuk kelancaran acara tersebut. Sedangkan para orang tua ditugaskan untuk menghidangkan makanan, memasak, menyiapkan bumbu-bumbu untuk bahan masakan dan masih banyak lagi.
Pokoknya di desa itu jika ada acara pernikahan dan makanannya itu disajikan secara hidangan untuk para tamu yang datang pasti akan terasa kemeriahan dan kebersamaan di rumah mempelai.
Berbeda jika hanya diadakan dengan hadap Prancis atau disebut makanannya itu ambil sendiri seperti acara yang di kota-kota besar di mana cerita akan diadakan di hotel dan makanannya itu disajikan di atas meja dan kita mengambilnya sendiri sesuai dengan selera kita maka kebersamaan itu tidak akan terasa karena mereka sudah menyajikannya secara catering atau memesan makanan di restoran atau di rumah makan.
"Iya Diy, itu lah yang aku rindukan di kampung. Suasana di kampung pasti sangat menyenangkan berkumpul bersama. Acara-acara seperti ini lah yang menggambarkan kebersamaan yang paling di inginkan"
"Benar itu Yul, oleh karena itu aku pun ingin segera pulang ke sana untuk merasakan kemeriahan di sana"
"Diy,. Itu Zaki sudah datang menjemput ku. Aku pamit dulu ya"
"Iya Yul, kalian hati-hati di jalan ya. Jika sudah tiba di sana kabari aku ya" Ujar Diya.
"Ya, nanti ku kabari ya" Ujar Yuli masuk ke dalam mobil travel yang dari tadi sudah ada Zaki di dalam nya.
***
"Selamat pagi menjelang siang pak Ivan" Ujar Bram yang sedang mengakan pertemuan dengan Ivan di kantor nya.
"Selamat pagi menjelang siang pak Bram. Bagaimana keadaannya?" Ujar Ivan bersalaman dengan Bram.
"Seperti yang ada lihat pak. Saya baik-baik saja" Ujar Bram.
"Iya silahkan duduk pak" Ujarnya.
Di sini lah awal pertama mereka bertemu. Dimana mereka membahas tentang kerja sama antara mereka. Yah karena Ivan merupakan GM di perusahaan yang bergerak di hidang properti, jadi karena itu lah Bram menemuinya untuk bekerjasama dalam membangun sebuah perusahaan yang nantinya akan dibangun untuk Virda dan juga calon anaknya.
Lama mereka saling berbincang tentang kerjasama antara kedua nya. Hingga pada akhir nya, Bram tertarik dengan kinerja dan persentasi Ivan dan memutuskan untuk memakai perusahaan nya untuk bekerjasama.
"Terima kasih pak Bram atas kepercayaan nya" Ujar Ivan kembali bersalaman dengan Bram.
"Iya pak Ivan, sama-sama. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik" Ujar nya.
"Habis ini bagaimana jika kita makan pergi untuk makan siang bersama" Ajak Ivan menawarkan.
"Wah, selamat ya pak atas kehamilan istri nya"
"Bagaimana dengan pak Ivan, apakah sudah menikah?"
"Oh, saya baru saja menikah yah hampir-hampir sebulan lah"
"Wah pengantin baru seperti nya"
"Bisa di katakan begitu" Jawab Ivan sedikit malu.
"Semoga pak Ivan dan istri segera mendapatkan momongan seperti saya ya pak. Jadi di rumah itu tidak terlalu sepi karena ada tangis tawa si buah hati"
"Iya anda benar pak Bram. Kami pun tidak menunda kehamilan sedikasihnya sama Allah jika cepat kami terima dengan senang hati, dan jika belum ada rezeki ya waktunya kami hanya menikmati masa kami berdua saat ini" Jawab Ivan.
"Ya sudah pak Ivan saya pamit dulu. Selamat siang" Ujar Bram
"Selamat siang pak Bram" Jawab Ivan.
***
"Sayang, sudah pulang?" Diya menyambut kepulangan suami nya.
"Iya sayang. Kebetulan tadi meeting bersama klien yang berasal dari Singapore berjalan dengan baik. Dan dia untung nya dia suka dengan persentase yang aku ajukan. Hingga yah kerja sama itu terjalin"
"Syukurlah sayang. Aku senang mendengarnya" Ujar Diya tersenyum manis.
"Iya sayang, kesuksesan ku tidak luput dari doa kamu sebagai istri ku. Terus doakan aku ya sayang"
"Pasti dong sayang. Aku pasti akan selalu mendoakan mu"
"Terima kasih sayang"
"Sama-sama"
"Oh ya kamu tahu gak pak Bram itu ingin membangun perusahaan itu untuk istrinya. Dia bilang jika terjadi sesuatu kepadanya maka istri dan anaknya ada tabungan katanya"
__ADS_1
"Bagus dong, dia memikirkan masa depan istri nya"
"Iya harus dia seperti itu. Karena istri nya yang ada di sini itu istri ke dua. Istri yang pertama nya ada nya di Singapure lagi sakit katanya"
"Sakit? Sakit apa?"
"Kangker kata nya"
"Wah kasihan istri pertamanya. Sedang sakit parah malah suami nya nikah lagi. Diam-diam pula" Ujar Diya.
"Sayang, jika nanti aku dalam keadaan yang sama seperti istri nya klien kami itu, apa kamu juga akan menikah lagi?" Tanya Diya.
"Ya gak dong sayang. Aku akan selalu setia sama kamu. Bagaimana pun kondisi kamu, aku akan selalu dampingi kamu dalam sedih mau oun senang"
"Bener?"
"Ya bener dong sayang. Masa ia aku bohong sama kamu"
Diya tersenyum senang mendengar apa yang di katakan suami nya.
"Semoga saja hati mu tidak berubah nanti nya sayang. Aku sangat mengharapkan apa yang kamu katakan ini akan jadi kenyataan" Ujar Diya dalam hati nya.
"Terus jika nanti aku yang seperti itu bagaimana? Apa kamu akan meninggalkan ku?" Ivan balik bertanya.
"Gak dong sayang, aku gak akan meninggal kan mu. Aku akan merawatmu dalam keadaan sakit, menemanimu dalam keadaan senang. Kita sudah berjanji akan selaku bersama. Setia ku hanya untuk mu bagaimana pun keadaan mu" Ujar Diya menatap dengan sendu ke mata suami nya.
Ivan tersenyum senang mendengar ucapan dari sang istri yang ia cintai itu.
"Itu lah guna nya kehidupan dalam berumah tangga saling mendukung, saling menjaga, saling pengertian, saling menyemangati" Ujar Diya dengan bijak.
"Kita sudah banyak melalui kehidupan bersama. Suka, duka sudah kita hadapi. Kamu selalu mendukung ku, selalu ada untuk ku menemani ku dalam keadaan apa pun. Gak mudah untuk ku bisa menerima kamu waktu itu. Masa lalu ku yang terus bersemayam di hati ini membuat aku tertutup kepada mu. Namun, kamu selalu saja tidak putus asa meyakin kan hati ini. Hingga pada akhirnya aku luluh dengan semua kebaikan mu. Semenjak itu, aku bertekat untuk selalu menemani mu, bersama mu dalam keadaan apa pun. Karena hati ini mencintai mu selalu" Ujar Diya lagi.
"Terima kasih sayang, aku pun tidak akan mudah berpaling dari mu. Karena mendapatkan mu butuh tantangan yang berat untuk ku. Tidak mungkin aku bisa melupakan dan melepaskan kamu begitu saja setelah pengorbanan ku dan penantian ku selama ini" Ujar Ivan.
Mereka pun saling tersenyum senang dan saling berpelukan meyakinkan keduanya bahwa mereka tidak akan berpaling satu sama lain dalam keadaan apapun.
"Diy, ternyata di sini" Ujar Mirna yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka.
"Eh ibuk" Ujar kedua nya melepaskan pelukan.
"Malah bermesraan di sini. Bermesraan nya di kamar aja ya nanti" Ujar Mirna.
"Sekarang lebih baik kita makan siang bersama. Sudah waktunya makan siang ini" Tambah nya lagi.
"Iya buk, ayo sayang kita makan bersama" Ajak dia.
***
"Ini kebetulan aku masakin ayam kecap kesukaan kamu" Ujar Diya menyajikan sepiring nasi dan lauk pauk dan tidak ketinggalan sayuran nya pun ikut serta di dalam piring yang ia sajikan untuk Ivan.
"Wah kelihatan nya enak ini. Kamu memang paling bisa membuat aku selalu betah di rumah" Puji Ivan.
"Iya dong sayang, aku memang harus bisa membuat suami ku betah di rumah, harus bisa membuat suami ku selalu rindu dengan masakan rumah yang ku buat dengan bumbu penuh cinta" Ujar Diya lagi.
"Iya, iya yang pengantin baru itu" Mirna menyempeli.
Mereka pun tertawa lepas mendengar ucapan Mirna barusan. Yah wanita paruh baya itu merasa seperti menjadi obat nyamuk untuk Diya putri nya dan Ivan menantunya.
"Oh ya Diy, kamu sudah kabari Yuli? Apa dia sudah tiba di kampung bersama Zaki?" Tanya Mirna.
"Yuli? Yuli pulang kampung?" Tanya Ivan tampak kaget.
"Kenapa gak bilang?" Tanya nya lagi.
"Ya Sayang aku saja baru mengetahuinya pagi-pagi ketika dia mau pamitan berangkat bersama Zaki. Katanya sih lusa dia ada penataran di di kantor KUA yang ada di kampung. Karena mereka kan melakukan resepsi dan akad nikahnya di kampung jadi harus diadakan Penataran dulu di sana"
"Oh ya sayang acara pernikahan Yuli kan seminggu lagi, jadi aku sama Ibu minta izin sama kamu Jika boleh kami mau pulang ke kampung sebelum 3 hari acara hari H di rumah Yuli. Aku rindu dengan suasana kampung gimana kalau acara pesta pernikahan seperti ini pasti akan sangat meriah saling kerja sama, gotong royong, saling bantu membantu pokoknya semuanya akan dikerjakan secara kekeluargaan dan kerjasama. Jadi aku sangat merindukan suasana di kampung Boleh ya sayang aku dan ibu pulang ke kampung. aku juga sudah lama tidak bertemu dengan sanak saudara yang berada di kampung." Ujar Diya meminta izin.
"Boleh dong sayang. Tapi aku minta maaf ya sayang Aku nggak bisa hadir dan nggak bisa menemani kamu pulang ke kampung halaman bersama ibu. Karena aku masih ada beberapa berkas yang harus aku siapkan untuk kerjasama aku dengan klien ku tadi. Jadi aku akan meminta Pak Udin Untuk mengantarkan kamu dan ibu ke kampung halamannya dan aku akan menyusul ketika satu hari sebelum hari H. Gak apa-apa kan?" Tanya Ivan.
"Gak apa-apa kok sayang. Aku ngerti kok dengan pekerjaan kamu. Dan aku tidak mempermasalahkan itu" Ujar Diya.
"Oh ya sayang, bagaimana besok kita pergi ke showroom mobil untuk membeli mobil kamu. Untuk keperluan kamu juga dan Ibu nantinya mau pergi ke mana gitu kan jadi nggak perlu pakai taksi atau travel lagi"
"Nggak perlu deh sayang aku sih belum membutuhkan mobil itu soalnya aku dan ibu nggak ada kemana-mana. Kami cuma di rumah aja. Dan kalau mau ke mana-mana pasti aku menunggu kamu jadi lebih baik nggak usah deh sayang" Diya merasa keberatan.
"Gak apa-apa sayang. Aku akan membelikan mu mobil. Yah sebagai hadiah pernikahan kita. Lagi pun aku juga telah memenangkan tendar untuk kerjasamaku bersama klien ku dari Singapura tadi"
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu. Jika kamu memaksa aku ikut aja mana yang terbaik" Ujar Diya.