Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Kedatangan gadis Indobel lagi


__ADS_3

"Diy, gimana tidur mu? Apa nyenyak?" Tanya Yuli melihat sahabatnya yang keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan untuk menyantap sarapan pagi.


"Nyenyak kenapa?" Balas Diya acuh tak acuh langsung menyambar roti dan mengoleskan selai coklat pada roti tersebut.


"Gak, bukan apa-apa. Takut saja tidur mu tidak nyenyak kan karena peristiwa semalam"


"Gak kok nyenyak. Malahan nyenyak sekali. Sampai aku bermimpi ada pangeran berkuda putih datang menjemputku" Ucap Diya sedikit menghayal.


"Mulai deh ngayal nya" Yuli memutarkan kedua bola matanya karena bosan mendengar khayalan tingkat tinggi sahabatnya.


"hahahaha......Kamu ini, kamu yang bertanya di jawab malah begitu ekspresi nya" Diya terbahak.


"Habis nya menghayal sih. Aku kan jadi sebel" Ucap Yuli.


"Tapi bener sih ada pangeran yang selalu mendatangi kamu. Tapi gak pakai kuda putih, melainkan mobil putih" Tambahnya lagi.


Diya mengerut keningnya.


"Ivan...." Seru Yuli tersenyum menggoda.


"Apa kamu mimpiin Ivan ya tadi malam?" Goda nya lagi.


"Jika benar kenapa? Salah?" Ucap Diya cuek.


"Jadi benar kamu mimpiin Ivan?" Ulang Yuli.


"Enggak lah Yul. Gimana sih harus ya aku mimpiin Ivan. Orang Ivan nya gak mau datang kok dalam mimpi aku. Capek nih aku memikirkan dia" Diya keceplosan sedang memikirkan Ivan.


"Ha?" Yuli membulatkan mata nya. Kaget mendengar kejujuran dari sahabatnya.


"Kamu memikirkan Ivan? Cie....seperti nya ada yang sedang jatuh hati nih" Lagi-lagi Yuli menggoda.


"Ya biarin aku mikirin Ivan. Dari pada mikirin suami orang"


Yuli mengajukan kedua jempol nya tanda setuju.


"Tapi, apa kak Ferdi baik-baik saja ya? Gimana ya keadaan dia sekarang? Apa dia sudah siuman?" Pikir Diya.


"Tapi ngapain sih aku mikirin dia lagi. Dia kan sudah menjadi suami orang. Barusan aku sok-sokan sama Yuli tidak memikirkan suami orang. Eh malah kepikiran balik sama kak Ferdi. Aduh Diy, bodohnya kamu. Kak Ferdi sudah lupa sama kamu. Dia pasti di jagain oleh istrinya. Bodoh, bodoh" Maki Diya pada dirinya sambil menggeleng-geleng kepalanya untuk membuang pikiran tentang Ferdi.


"Kamu kenapa Diy?" Tanya Yuli merasa heran dengan sikap sahabatnya.


"Gak kok, cuma pusing aja sedikit" Sahut Diya kembali menyuapi sepotong roti di dalam mulut nya.


"Ya sudah aku duluan ya Diy. Ini ayang mbeb aku udah di depan" Ucap Yuli melihat notifikasi di layar ponsel dari pacarnya.


"Oke hati-hati ya" Sambut Diya.


Diya melanjutkan kegiatan sarapan nya.


***


"Assalamualaikum" Terdengar suara salam dari luar rumah.


"Eh, itu pasti Ivan" Diya berkata pada dirinya sendiri. Mencuci tangan nya yang sepat terkena sabun cuci piring karena mencuci piring kotor yang mereka gunakan untuk sarapan tadi.


Diya pergi menuju pintu depan tepat dimana Ivan berada.


"Walaikumsalam" Sambut Diya membuka pintu.


Ivan tersenyum melihat gadis nya. Bagitu pun dengan Diya.


"Gimana? Sudah siap untuk ke kantor?" Tanya Ivan basa-basi.


"Iya, aku sudah siap kok. Ayo" Balas Diya menutup pintu rumah nya dan mengunci nya.


"Mari" Ivan mempersilahkan Diya untuk berjalan duluan dan masuk ke dalam mobilnya


***


"Selamat pagi sayang. Bagaimana keadaan mu pagi ini?" Tanya Sonia datang ke rumah sakit tempat dimana Ferdi di rawat. Sonia menyalami suami nya. Ferdi menyambutnya dengan ekspresi dingin.


Sonia Menarik nafasnya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat. Seakan-akan membuang beban masalah terhadap suaminya yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat.


"Aku baik" Jawab Ferdi tampa ekspresi


"Kapan aku boleh pulang?" Tambahnya.


"Biar doktor memeriksa kamu dulu ya sayang. Untuk memastikan bahwa kamu memang sudah baik-baik saja" Jawab Sonia dengan lembut.


Ferdi hanya mengangguk.


"Kamu sudah sarapan? Aku bawain kamu bubur untuk sarapan. Kamu makan ya" Tawar Sonia dengan nada yang sangat lembut.


"Aku belum lapar"


"Ini sudah lewat waktu sarapan lo sayang. Katanya mau pulang. Harus makan tepat waktu biar cepat sehat nya" Bujuk Sonia.


"Kamu makan ya. Aku suapi" Tambahnya lagi.


Ferdi mengalah. Ia mengangguk tanda setuju.


Sejujurnya dia sedikit bingung dengan perasaan nya. Di sisi lain hatinya masih mencintai Diya. Namun di sisi satunya lagi ada istri yang begitu mencintainya. Hati nya kacau saat ini. Dia di lema tidak tahu harus berbuat apa.


Tapi, satu yang dia tahu untuk saat ini dia harus bertemu dengan Diya dan menjelaskan semua nya agar Diya tidak membencinya.


Sonia menyuapi Ferdi dengan telaten. Mengelap sisa makanan yang ada di bibir Ferdi dengan lembut. Ferdi menatap perilaku istrinya. Jujur dia sedikit menyesal dengan perlakuan nya tadi malam yang bersikap dingin dengan istrinya. Istrinya tidak tahu apa-apa atas semua ini.


"Sonia" Panggil Ferdi saat ia selesai sarapan.


"Iya"


"Aku minta maaf atas perilaku ku tadi malam. Aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku benar-benar bingung. Aku butuh waktu untuk menerima semua keadaan ini"

__ADS_1


Sonia tersenyum lembut.


"Tidak apa-apa kok sayang. Aku tidak marah sama kamu. Aku ngerti kamu memang sulit menerima semua ini. Dan ini semua bukan salah kamu. Jadi aku tidak mempermasalahkan itu"


"Termasuk jika aku bertemu Diya?"


Degg......


Terasa petir menyambar di tengah terik matahari. Begitulah perasaan Sonia mendapati Ferdi menyebut nama gadis lain di hadapan nya bukan namanya.


"Diya?" Ulang Sonia.


"Iya, Diya gadis yang pernah singgah di hati ku. Aku ingin menjelaskan semua kejadian ini kepadanya. Aku ingat waktu aku belum pingsan aku ketemu sama Diya di bioskop" Ucap Ferdi lagi.


"Fer, begitu dalam kah kenangan mu bersama gadis itu? Sampai-sampai kamu begitu mencemaskan nya bahkan kamu tidak memikirkan perasaan ku. Meski ku tahu kamu hanya ingin menjelaskan hal ini semua kepadanya, tetap saja hati ku terasa perih saat mendengar nama itu" Ucap Sonia dalam hati.


"Sonia? Kenapa bengong?" Tanya Ferdi melihat Sonia melamun.


"Eh enggak" Sonia sadar.


"Apa kamu tidak mengizinkan aku bertemu dengan nya? Tolong berikan aku waktu untuk menerima semua ini dan menjelaskan semua nya kepada Diya. Aku benar-benar merasa bersalah kepadanya"


"Gak Fer, aku gak setuju kamu bertemu dengan Diya apa pun alasan nya. Istri mana yang rela melihat suaminya bersama gadis lain apa lagi bersama mantannya. Tidak, bukan mantan nya kekasih lama yang ceritanya belum kelar tepatnya" Ucap Sonia lagi dalam hatinya.


"Bengong lagi" Protes Ferdi.


Sonia menarik napas nya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat.


"Terserah kamu saja sayang. Apa pun yang membuat kamu senang lakukan lah. Aku akan memberimu ruang untuk itu. Tapi tolong jangan terlalu melampaui batas mu" Ucap Sonia dengan berat hati.


"Terima kasih ya Sonia. Aku benar-benar sangat berterima kasih dengan mu" Ucap Ferdi memegang kedua tangan istrinya.


Sonia hanya tersenyum. Meski terlihat senyuman itu sedikit dipaksakan. Wajahnya bisa terlihat baik-baik saja namun tidak dengan hatinya. Hatinya hancur saat ini mendapati suami nya yang sedang memikirkan gadis lain.


Namun, apakan daya ini semua demi kebaikan dan mengambil hati suami nya kembali. Harus ia korbankan perasaan nya untuk memberi ruang kepada suami nya agar bisa menerima semua ini.


"Semoga saja semua akan kembali seperti semula" Ucap Sonia dalam hati penuh dengan harapan.


"Aku harus mencari Diya di mana ya? Kemana Diya tinggal saat ini" Ucap Ferdi dalam hati.


"Apa aku minta bantuan Ivan saja untuk menemukan Diya?" Pikirnya lagi. Tampa mengetahui bahwa Ivan tahu semua tentang masa lalu mereka. Iya jelas saja Ferdi tidak tahu, toh selama ini dia tidak pernah bertemu dengan Ivan dan Diya. Dan dia tidak tahu bahwa gadis itu bekerja di tempat Ivan.


"Ah, jika aku keluar nanti dari rumah sakit ini, aku akan ke tempat Ivan untuk meminta bantuan nya. Siapa tahu Ivan bisa membantu ku" Ucap nya lagi penuh keyakinan.


"Selamat pagi pak, buk maaf mengganggu saya periksa keadaan bapaknya dulu ya" Kata doktor yang masuk untuk memeriksa keadaan Ferdi.


"Baik dok silahkan" Ucap Sonia.


Doktor tadi tampak memeriksa keadaan Ferdi dengan sangat teliti


"Bagaimana perasaan bapak pagi ini?" Tanya doktor tadi setelah selesai memeriksa.


"Baik kok dok" Jawab Ferdi.


"Jadi, kapan saya bisa pulang?" Tanya Ferdi tidak sabar.


"Sore ini sudah bisa pulang kok pak. Dan tolong selesaikan administrasi nya dulu di depan ya"


"Baik dok terima kasih" Ucap Sonia.


"Kalau begitu saya permisi dulu" Doktor tadi pergi meninggalkan mereka berdua.


Mereka berdua mengangguk sebagai respon.


"Akhirnya, aku bisa pulang. Besok aku bisa langsung ke tempat Ivan untuk meminta bantuan. Diy, tunggu aku. Dan tolong jangan membenci ku" Ucap Ferdi penuh harapan tidak mengetahui bahwa Diya sudah mengetahui bahwa dirinya amnesia waktu itu sehingga membuatnya tidak mengingat sedikit pun tentang gadis itu.


"Ya sudah aku ke depan dulu ya ngurusin administrasi nya" Sonia berlalu meninggalkan Ferdi.


***


"Hallo ma" Sapa Sonia saat ponsel nya berdering saat dirinya selesai mengurus semua administrasi nya Ferdi.


"Bagaimana keadaan Ferdi saat ini?"


"Alhamdulillah baik-baik saja ma. Dan sore ini boleh pulang kok"


"Syukurlah jika begitu"


"Iya ma, aku senang sekali Ferdi bisa pulang. Kami bisa berkumpul lagi. Junior pasti senang banget melihat papa nya pulang. Tapi....." Sonia menggantungkan perkataan nya.


"Tapi kenapa sayang?" Tanya Mira penuh dengan penasaran.


"Apa aku cerita saja ya sama mama jika Ferdi ingin bertemu dengan Diya?" Sonia tampak berpikir.


"Tapi jika aku cerita kepada mama, apa mama akan menerima nya? Pasti mama akan memaksa Ferdi untuk menjauhi Diya. Secara mama memang tidak suka sama Diya. Aku takut jika mama terus memaksa Ferdi, nantinya Ferdi semakin tertekan dan semakin dingin kepadaku. Secara dia baru sembuh dari amnesia nya. Aduh....aku harus bagaimana ya?" Lagi-lagi wanita hamil itu berpikir.


"Sonia, kenapa diam? Tapi kenapa sayang, ayo cerita sama mama. Apa Ferdi bersikap dingin lagi kepadamu?" Tebak Mira.


"Oh, gak kok ma. Ferdi udah bisa kok menerima aku. Tapi sewaktu sarapan saja dia mau aku suapi" Jelas Sonia.


"Sudah lah, lebih baik aku gak usah cerita sama mama. Dari pada mama akan berbuat nekat nanti nya dan akan membuat Ferdi semakin frustasi sehingga membenci ku. Tidak aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau kehilangan Ferdi. Dan aku tidak mau anak-anak ku kehilangan papa nya. Aku dan anak-anak sangat membutuhkan Ferdi. Aku harus bersabar untuk membuat Ferdi yakin bahwa aku memang mencintainya" Yakin Sonia dalam hati.


"Bagus lah jika begitu. Nanti siang waktu istirahat mama akan ke sana menjenguk sekalian menjemput Ferdi pulang"


"Baiklah ma" Sonia menutup ponsel nya.


***


Sepanjang perjalanan menuju kantor Diya hanya diam. Ia tampak berpikir. Meski Diya tahu dia tidak perlu memikirkan orang itu. Namun hati nya tidak bisa berbohong untuk tidak memikirkan nya.


"Kak Ferdi bagaimana ya keadaannya?" Batin Diya.


"Ferdi sudah siuman kok Diy" Ucap Ivan setelah mereka lama terdiam.

__ADS_1


"Ha?" Diya kaget mendapati Ivan bisa membaca pikiran nya.


"Iya, Ferdi baik-baik saja. Dia sudah sadar tadi malam. Dan dia sudah mengingat semua nya" Ucap Ivan sedikit ragu.


"Ha?" Lagi-lagi Diya hanya bisa merespon seperti itu. Mesin otak nya berhenti bekerja saat itu. Pikiran nya kalut tidak tahu harus bagaimana.


"Kak Ferdi sudah mengingat kembali semua nya? Apa dia akan mencari ku nanti? Jika benar itu terjadi, aku harus bagaimana? Jujur saja rasa cinta itu masih ada sedikit banyak nya untuk kak Ferdi. Tapi aku sadar aku dan dia bukan berjodoh. Aku harus bagaimana ya Allah" Ucap Diya dalam hatinya.


"Kamu kenapa? Mikirin Ferdi?" Tebak Ivan.


"Ha? Enggak kok" Elak Diya.


"Diy, jangan bohong kepada ku. Aku tahu apa yang kamu pikirkan" Ucap Ivan.


Diya menarik napasnya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat. Sungguh saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Harus jujur kepada Ivan bahwa dirinya memang sedang memikirkan Ferdi takut jika Ivan tersinggung. Jika tidak jujur, ia membutuhkan saran dari seseorang.


"Ya Allah kenapa kisah cinta ini begitu rumit seperti benang kusut" Ucap Diya dalam hati frustasi.


"Diy, aku tidak memaksa mu untuk berhenti mencintai Ferdi. Karena rasa cinta itu hak setiap manusia. Tapi aku meminta mu untuk berpikir lagi bahwa akan banyak yang akan menjadi korban"


Deggg....


Ucapan Ivan membuat Diya sedikit perih di hati. Bagaimana tidak dari gaya bicara nya Ivan bisa Diya tangkap bahwa Ivan memikirkan jika Diya ingin kembali kepada Ferdi.


"Van, apa kamu berpikir aku akan kembali bersama Ferdi?" Tanya Diya dengan nada yang gemetar menahan gejolak hati nya yang terasa perih.


Ivan terdiam tidak memberi respon. Jujur saja dirinya sedikit kaget mendapati bahwa nada bicara Diya sedikit gemetar. Yah Ivan sadar bahwa perkataannya tadi telah melukai hati gadis impian nya.


"Aduh Van, bodoh sekali kamu. Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu" Maki Ivan dalam hati.


"Maaf kan aku Diy, aku tidak bermaksud membuat hati mu terluka. Aku benar-benar minta maaf Diy" Ucap Ivan merasa bersalah.


"Van, aku mengerti kenapa kamu bisa berbicara seperti itu. Yah setiap orang pasti mempunyai pikiran yang sama dengan mu karena yah memang aku memikirkan kak Ferdi. Memikirkan bukan berarti aku ingin kembali kepadanya. Kamu tahu sendiri dia pernah hadir dalam hidup ku. Dulu memang aku sangat mencintainya dan berharap dia kembali kepada ku" Jelas Diya.


"Tapi, setelah aku mengetahui semua ini bahwa dia sudah berkeluarga, aku tidak mungkin kembali kepadanya. Aku tidak mungkin merebut suami orang. Aku tidak mungkin merebut ayah dari seorang anak yang tidak bersalah. Bahkan anak yang belum sempat melihat wajah ayahnya. Jujur hati ini masih mencintai nya. Tapi aku ingin perasaan ini hilang dari hati ku. Aku ingin membuka hidup baru dengan laki-laki yang selama ini selalu ada untuk ku. Selalu berusaha membuatku bahagia. Selalu membantu ku. Aku ingin bersamanya. Dan aku harap laki-laki itu akan terus mencintai ku dan membantuku untuk melupakan masa lalu ku" Ucap Diya meyakinkan Ivan. Dan memberi kode bahwa laki-laki yang di maksud Diya adalah dirinya.


Ivan tersenyum senang mendengar itu. Ivan pun mengerti bahwa Diya telah memberi kode untuk dirinya melangkah lebih lanjut lagi.


"Aku yakin, laki-laki itu akan selalu membantu mu Diy. Karena rasa cinta laki-laki itu terhadap diri mu begitu besar. Bahkan nyawa pun sanggup ia korban kan untuk dirimu" Yakin Ivan.


"Tahu dari mana laki-laki itu mencintai ku begitu besar?" Canda Diya.


"Ya.....ya....laki-laki itu pernah hadir dalam mimpi ku. Dia bilang sangat mencintai mu" Balas Ivan.


Diya tersenyum senang mendengar nya. Ivan menatap lekat wajah Diya yang tersenyum begitu cantik nya gadis di samping nya jika tersenyum. Kecantikan nya berlipat-lipat jika tersenyum.


"Diy, betapa cantik nya kamu jika tersenyum seperti ini. Aku janji Diy, aku tidak akan membuat mu terluka. Aku lah yang akan menjadi orang terdepan untuk melindungi mu, aku lah yang akan mengobati luka mu saat kamu terluka, aku lah yang akan menjadi penawar saat kamu sedang tersakiti. Aku janji Diy, aku janji akan melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia. Bahkan nyawa pun sanggup aku korban kan untuk mu" Ucap Ivan mantap di dalam hati nya.


"Aku tidak kan membuat senyuman itu hilang dari wajah cantik mu" Tambahnya lagi.


Mobil Ferarri putih milik Ivan berhenti di depan gedung megah kantor nya Ivan. Mereka berdua keluar dari mobil tersebut.


"Ivan" Teriak seseorang dari seberang jalanan.


Ivan menoleh begitu pun dengan Diya.


"Virda" Sahut Ivan mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.


Gadis. indobel (Indonesia-Belanda) itu melambaikan tangan nya dengan senyuman yang sangat sumringah. Dia berlari kecil menuju kedua anak manusia yang berlainan jenis kelamin itu.


"Hai, Van. Hai Diya" Sapa nya ramah saat berada di depan kedua muda mudi itu. Lalu langsung cupika-cupiki dengan Ivan dan memeluknya untuk melepaskan rindu yang sekian lama tidak bertemu. Ivan membalasnya


Deggg.....


Hati Diya mulai merasa perih melihat Ivan dan Virda sedekat itu. Yah meski Diya tahu bahwa Ivan hanya mencintai nya. Namun, tetap saja ia cemburu.


"Virda, kamu kapan datang ke Indonesia? Kenapa tidak memberi tahu ku?" Tanya Ivan melepaskan pelukan nya.


"Surprise......" Jawab Virda dengan ekspresi seperti orang memberi kejutan.


"Kamu liburan lagi?" Tanya Ivan.


"Enggak, kebetulan perusahaan ku melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan yang terkenal di Jakarta. Dan pekerjaan ku selesai kemaren di sana. Lalu malam nya aku langsung memesan tiket ke sini untuk bertemu dengan mu. Dan besok aku harus pulang lagi ke Singapura" Jawab Virda.


Diya sangat tidak nyaman berada di antara kedua orang itu. Dirinya seperti orang asing yang tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya Diya memutuskan untuk pergi masuk duluan ke dalam kantor.


"Maaf pak, saya permisi masuk dulu ya" Ucap Diya langsung meninggalkan Ivan.


Ivan hanya mengangguk sebagai respon.


"Jadi, cuma sehari kamu di sini?" Ulang Ivan.


"Iya hanya sehari. Nanti setelah istirahat kita makan siang bareng-bareng ya. Setelah itu malamnya kita dinner berdua. Temenin aku jalan-jalan ya Van. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Secara kita sudah lama tidak bertemu. Dan aku cuma mempunyai waktu sebentar kok bersama kamu. Oleh ya" Rengek Virda.


"Iya aku akan akan temani kamu jalan-jalan kok" Jawab Ivan. Yah sebenarnya ia sedikit ragu untuk menemani Virda. Namun, karena Virda telah datang jauh-jauh dan hanya mempunyai waktu sebentar bersama nya dengan berat hati ia pun menyetujuinya.


"Oh ya Van, hari ini aku temenin kamu ngantor ya. Aku gak tahu harus kemana saat ini. Aku gak ada kenalan selain kamu di sini"


"Aduh, gimana ya Vir" Ivan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit risih jika ada seseorang berada di dalam ruangan nya saat berkerja selain Diya. Jelas saja Diya adalah gadis nya tentu ia tidak risih dengan keberadaan gadis itu.


"Gini deh, aku akan bantu kamu kerja sekalian. Yah kapan lagi kan aku bisa membatu mu kerja. Hitung-hitung untuk belajar kerja di perusahaan mu kelak jika aku sudah kehabisan kontrak di tempat ku bekerja" Ucap nya lagi.


"Kamu yakin ingin bekerja di kantor ku Vir? Secara kamu kerja nya di luar negeri lo di Singapura. Dan aku yakin pendapatan mu lebih besar dari pendapatan ku sebagai General Manajer di sini. Aku gak sanggup menggaji mu Vir" Ucap Ivan bermaksud ingin mengelak agar Virda membatalkan niat nya. Yah meski kemaren-kemaren dia pernah bilang menerima Virda untuk bekerja di perusahaan nya. Hal itu hanya lah basa basi belaka. Tidak serius, tetapi Virda menganggapnya dengan serius.


"Aku yakin kok Van. Lagian tidak mengapa kamu memberiku penghasilan yang biasa kamu berikan kepada karyawan mu. Aku rela kok. Asal bisa terus bersama kamu"


Ivan tersenyum kecut mendengar nya.


"Aduh harus bagaimana lagi ya menolak Virda?" Batin Ivan.


"Ah sudah lah setidak nya waktu kontrak Virda di perusahaan nya masih lama. Dan Aku harap nanti setelah kontrak nya selesai, Aku dan Diya sudah menikah. Dan aku tidak lagi memperkerjakan Diya sebagai sekretaris ku.. Biarkan Virda melakukan itu semua. Secara Diya sudah menjadi istri ku. Yah tidak perlu melakukan pendekatan lagi bukan terhadap gadis ku" Batin Ivan.


"Ya sudah terserah kamu saja deh Vir" Ucap Ivan mengalah.

__ADS_1


"Asyik" Virda bersorak kegirangan.


__ADS_2