
Ajeng masih tidak belum bisa mencerna atas apa yang terjadi kepada Virda. Yah jelas saja begitu. Sikap Virda menunjukan seperti ia sedang hamil saja. Tapi dengan siapa? Dan seakan tidak percaya bahwa Virda melakukan hal yang bodoh seperti itu bukan? Toh selama ini ia mengenal Virda. Anak nya baik dan mustahil hal itu terjadi.
"Sebaik nya aku menyusul nya di kamar mandi. Apa anak itu sedang sakit ya?" Ucap nya dalam hati. Ajeng bergegas menyusul Virda yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Vir, kamu kenapa? Kamu sakit?" Teriak nya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Gak apa-apa kok tante" Balas Virda dari dalam kamar mandi.
"Aduh, kenapa jadi mual begini ya? Emang seperti ini ya bawaan nya ketika orang sedang hamil?" Ujar Virda berdiri di depan kaca yang terdapat wastafel di bawah nya.
"Aduh....Mana kepala ku pusing lagi" Ujar nya lagi bergegas membersihkan mulut nya.
"Vir, kamu baik-baik saja?" Lagi-lagi Ajeng setengah berteriak di balik pintu kamar mandi.
"Aku gak apa-apa kok tante" Ujar Virda sambil membuka pintu.
"Kamu masuk angin ya? Terlalu capek kali kamu bekerja sehingga lupa makan kan jadi masuk angin seperti ini" Ujar Ajeng tampak cemas.
Virda memegang kepala nya yang terasa berat.
"Ada yang mau aku omongin sama tante. Hal penting tante" Ujar gadis indobel itu.
Deg....
Tiba-tiba jantung Ajeng yang tadi nya stabil menjadi tak karuan. Berdetak begitu kencang hingga hampir copot.
"Kenapa tiba-tiba perasaan ku gak enak? Tiba-tiba firasat buruk datang di hati ku" Batin Ajeng.
"Ya sudah, ayo kita ngomong di depan saja. Kamu kelihatan pucat seperti ini istirahat saja dulu" Ujar Ajeng.
"Atau gak kamu istirahat di kamar tamu aja ya. Nanti setelah agak mendingan, baru kita ngobrol ya" Saran Ajeng.
"Baik lah tante, aku istirahat aja dulu ya. Kepala mu terasa berat sekali" Ucap nya.
"Ya sudah tante anterin ke kamar ya" Ucap Ajeng menuntun Virda yang tampak lemah.
***
"Aduh, perasaan mu benar-benar gak enak. Lebih baik aku tanyakan saja ini kepada Ivan. Dia pasti tahu apa yang terjadi kepada Virda" Ucap nya setelah memastikan Virda istirahat di kamar tamu nya.
Ajeng duduk di sofa yang berada di ruang tamu nya. Berusaha mencari nomor ponsel putra kesayangan nya itu.
Terdengar suara tersambung dari ponsel nya.
"Hallo ma" Jawab Ivan dari seberang sana.
"Hallo, Van kamu sekarang lagi di mana?"
"Masih kantor ma, ada apa ma?" Tanya Ivan.
"Ini lo si Virda. Seperti nya dia sakit deh. Muntah-mutah tadi dia nya. Kamu bawa dia ke rumah sakit aja deh Van. Mama jadi khawatir deh sama dia. Lagian dia di sini sebatang kara hanya kita satu-satunya orang yang dia kenal. Lagian orang tua nya pun sudah menitipkan nya kepada kita" Jelas Ajeng.
"Virda ke rumah? Berarti dia benar-benar nekat untuk memberi tahu kepada mama dan papa" Batin Ivan.
"Kamu bisa pulang sekarang?"
"Sebaiknya aku ngomong secara langsung sama Virda. Gadis itu benar-benar gak waras sekarang" Batin Ivan lagi.
"Iya ma, sebentar lagi aku ke sana. Aku mau menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Nanggung tinggal sedikit lagi" Jawab Ivan.
"Oke mama tunggu. Tadi mama meminta nya untuk istirahat saja di kamar tamu. Dia pun tadi bilang ada hal penting yang mau di sampaikan kepada mama. Cuma gak jadi lantaran keadaan nya sangat pucat tadi jadi mama suruh aja dia istirahat" Jelas Ajeng lagi.
"Benar-benar gila ini orang. Dia rela melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang dia ingin kan. Oke, aku akan mengikuti semua permainan kamu. Sekalian aku akan menyelidiki siapa sebenarnya ayah dari anak yang kamu kandung" Ucap nya dalam hati.
"Aku yakin dan sangat yakin aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu kepada mu Vir. Aku menyayangi kamu seperti adik sendiri tidak mungkin aku menodai mu. Lagian pada malam itu aku tidur pulas jika aku melakukan hal itu aku pasti sadar. Aku bukan mabuk. Jika aku mabuk, mungkin aku bisa terima atas apa yang kamu tuduh kepada ku" Ucap Ivan dalam hati nya.
"Ya sudah ma nanti aku ke sana" Ucap Ivan dan menutupi ponsel nya.
"Lebih baik aku tidak memberi tahu kepada Diya tentang apa yang sedang di rencana kan Virda. Aku tidak mau membuat Diya kepikiran. Biar aku sendiri yang selesaikan masalah ini dan menyelidiki siapa sebenar nya ayah dari anak itu" Ucap Ivan pelan kepada diri nya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan selesaikan semua nya sendiri dengan cara ku. Aku benar-benar tidak menyangka Virda begitu kejam menuduhku seperti ini. Dia melakukan dengan siapa dan meminta pertanggung jawaban dengan siapa" Ujar Ivan lagi.
"Tapi, bisa jadi Virda berbohong tentang kehamilan nya. Aku akan membawanya me doktor kandungan untuk memastikan apa benar dia hamil atau tidak" Ujar Ivan lagi.
***
"Van, akhirnya kamu datang juga. Mama khawatir sama Virda"
"Virda nya masih di kamar ma?"
"Iya sudah dua kali dia muntah-muntah. Van, apa mungkin Virda hamil ya? Tingkah laku nya seperti orang sedang hamil saja" Tebak Ajeng.
Deg....
Ivan kaget dengan tebakan mama nya.
"Aku gak tau sih ma. Ya sudah aku mau bawa Virda ke doktor dulu ya ma. Biar di periksa dan memastikan apa yang terjadi sebenarnya kepada dia" Ucap Ivan langsung menuju kamar tamu tepat dimana ada Virda di sana.
***
"Ivan, akhir nya kamu datang juga. Aku benar-benar senang kamu datang. Aku merasa mual Van. Aku, Aku" Ucap Virda langsung memeluk tubuh Ivan.
"Sudah lah Vir, jangan bersikap seperti ini. Sampai kapan kamu bertindak sesuka hati mu seperti ini" Ucap Ivan melepaskan pelukan Virda dengan paksa.
"Untuk apa kamu datang ke rumah? Untuk memberi tahu mama jika kamu sedang mengandung anak ku? Vir, asal kamu tahu ya, saat itu aku tertidur pulas. Bukan mabuk, Jika aku dalam keadaan mabuk aku mungkin bisa terima atas apa yang kamu tuduhkan kepada ku. Tapi berbeda hal nya dengan kemaren. lagian aku merasa sangat menyesal maksud ku untuk menolong mu, malah kamu menjebak ku seperti ini" Ucap Ivan kesal.
"Van, aku tidak menjebak kamu, Hal itu benar ada nya?"
"Benar gimana maksud kamu?" Potong Ivan.
"Kamu jangan melemparkan kesalahan kepada mu seperti ini. Jika benar kamu hamil kenapa kamu tidak meminta pertanggung jawaban kepada orang yang telah menghamili kamu? Kenapa harus sama aku?" Ucap Ivan.
"Orang lain yang mendapat nangka nya dan aku yang mendapat getah nya? Aku benar-benar habis pikir dengan kamu Vir" Tambah nya lagi.
"Van, aku seperti ini karena kamu" Bela Virda.
"Kemana?"
"Ke doktor kandungan. Aku mau memastikan kamu beneran hamil atau tidak" Ucap Ivan.
"Oke, aku akan buktikan sama kamu jika aku beneran hamil" Sahut Virda.
***
"Van, tuntun Virda. Kelihatan nya dia masih lemas" Ucap Ajeng tampak cemas dengan keadaan Virda.
"Dia bisa berjalan sendiri kok ma. Lagian dia hanya masuk angin kayak nya" Ucap Ivan cuek.
Ajeng tampak bingung dengan sikap Ivan kepada Virda. Biasanya Ivan sangat baik dan memperhatikan Virda layak nya adik nya sendiri. Tapi sekarang kenapa seperti memperlakukan orang yang sedang bermusuhan.
"Tapi Van, aku benar-benar masih lemas" Ucap Virda.
"Bik" Teriak Ivan.
"Iya mas, ada apa"
"Tolong bantu Virda masuk ke dalam mobil ya" Ucap Ivan.
"Baik mas. Ayo non saya bantu"
"Kurang ajar Ivan. Dia benar-benar memperlakukan aku sedingin ini. Aku benar-benar tidak bisa terima dengan semua sikap nya kepada ku seperti ini" Batin Virda menatap sinis ke arah Ivan.
"Van, kamu kenapa? Kalian bertengkar?" Tanya Ajeng menarik lengan Ivan saat Ivan mau melangkah keluar rumah.
"Gak kok ma, hanya saja aku sedikit capek lantaran banyak kerjaan tadi" Ivan memberi alasan.
***
"Selamat ya pak, istri bapak sedang hamil. Dan usia kandungan nya sudah masuk empat minggu" Ucap Ivan.
__ADS_1
"Oh jadi beneran dia sedang hamil" Batin Ivan.
"Ini resep vitamin sama pil penambah darah nya ya. Silahkan ambil di apotik depan" Kata doktor kandungan tadi.
***
"Sekarang kamu puas? Puas dengan membuktikan aku benar hamil? Aku tidak berbohong. Dan kamu lihat saja usia kandungan ku sudah masuk minggu ke empat. Arti nya baru sebulan bukan?" Jelas Virda saat mereka sudah keluar dari apotik untuk mengambil resep obat yang di berikan doktor tadi.
"Yah kejadian itu pun hampir sebulan lama nya. Sesuai dengan usia kandungan Virda" Batin Ivan.
"Oke aku percaya sekarang ka.u hamil. Tapi tetap saja aku belum bisa terima itu anak ku atau bukan" Ucap Ivan.
"Aku akan membuktikan bahwa ini adalah anak mu"
"Terserah kamu saja" Ucap Ivan mulai merasa sebel dengan peringai Virda langsung masuk ke dalam mobil nya.
"Untung saja usia kehamilan ku sesuai dengan apa yang terjadi pada malam itu, Jika tidak, pasti Ivan semakin tidak percaya bahwa aku ini memang mengandung anak nya" Batin Virda.
Pikiran Virda kembali di kejadian beberapa minggu lalu dimana diri nya ingin berhenti bekerja di tempat nya yang lama di perusahaan Singapura. Namun karena ia telah menandatangani surat perjanjian prakerja di mana ia harus bertahan selama masa kontrak itu. Jika memutuskan secara sepihak, maka ia harus mengganti kerugian sebesar tiga kali lipat dari gajinya selama masa ia kerja.
Tentu saja Virda tidak mempunyai uang sebanyak itu. Hingga akhir nya ia nekat. Merayu bos nya dengan cara menyerah harga dirinya nya agar dia bisa terlepas dari perusahaan itu dan berada di kota ini.
Maksud hati ingin bekerja di kantor nya Ivan, malah ia tidak di terima. Karena sudah terlanjur berada di kota ini, dan tidak mau pengorbanan nya sia-sia, mau tak mau ia terpaksa mencari pekerjaan di tempat lain untuk menyambung hidup nya.
Dan meski pun gajinya tidak sebesar di perusahaan nya dulu, dia tetap bertahan dan menerima nya hanya karena ingin terus bersama Ivan.
Asal kan Ivan bersama nya, diri nya rela melalui hal sesulit apa pun.
Namun, pengorbanan nya kini telah sia-sia. Ivan kini telah memilih Diya sebagai istrinya. Bagaimana dengan pengorbanan nya yang telah menyerahkan harga diri nya hanya karena ingin terlepas dari perusahaan lama nya agar bisa bersama Ivan? Tentu ia tidak bisa terima semua ini. Oleh karena itu dia meminta Ivan untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada nya.
Meski pun ini semua atas kemauan nya sendiri bukan Ivan meminta nya melalukan hal itu. Tapi tetap saja, Virda ingin Ivan bertanggung jawab atas semua pengorbanan nya.
"Malah bengong, ayo masuk mau aku tinggalin kamu sendirian di sini?" Ucap Ivan.
Virda sadar, ia bergegas masuk ke dalam mobilnya Ivan.
Meski pun Virda nyeselin, tapi Ivan juga masih mempunyai hati. Tidak tega juga dia membiarkan Virda berkeliaran malam-malam begini apa lagi dia sedang hamil.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis" Tanya Ivan saat melihat Virda menangis.
"Aku tidak tahu Van, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku hamil, semakin hari perut ku akan semakin membesar. Sedangkan aku tidak mempunyai suami. Apa kata orang-orang memandang ku" Ucap Virda mulai berakting.
"Bagaimana harus aku jelaskan kepada papa dan mama tentang keadaan ku. Sedangkan ayah dari anak ku sama sekali tidak mau bertanggung jawab" Sindir Virda.
"Maksud kamu aku? Aku pasti akan bertanggung jawab jika benar itu adalah anak ku. Dan aku merasa kita memang melakukan hal itu. Masalahnya sekarang aku tidak tahu itu benar anak ku atau bukan" Ujar Ivan terus fokus dengan mobilnya.
"Berhenti Van, berhenti" Ucap Virda.
"Ngapain?" Ucap Ivan.
"Berhenti ku bilang" Virda mulai emosi.
Ivan memberhentikan mobil nya.
Virda keluar dari mobil Ivan.
"Vir, kamu kenapa? Mau ngapain kamu?" Ujar Ivan ikutan keluar.
"Mau kemana kamu?" Tanya nya lagi melihat Virda berjalan sendirian.
"Taksi" Teriak Virda saat melihat sebuah taksi lewat.
"Mau kemana kamu" Tanya Ivan lagi.
"Kamu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan ku. Jadi untuk apa aku mempertahankan anak ini. Lebih baik dia enyah dari dunia ini. Aku akan menggugurkan anak ini. Kamu tidak perlu lagi bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada ku. Dan semoga saja dengan aku melakukan ini, aku pun bisa ikut pergi bersama anak ku" Kini kembali kalimat ancaman dari mulut Virda keluar lagi. Virda langsung masuk ke taksi yang sempat ia berhentikan tadi.
"Virda, jangan gila kamu. Vir..." Teriak Ivan.
Virda tidak menanggapi ucapan Ivan tadi. Dia langsung meminta supir taksi itu mengantarnya ke suatu tempat dimana tempat itu biasanya menerima wanita yang mau mengugurkan kandungan nya.
__ADS_1