
"Wah kelihatannya enak nih makanannya kamu yang masak ya sayang?" Ujar Ivan memuji istrinya saat melihat Diya sibuk menyiapkan makan malam untuknya.
"Iya aku yang masak kok untuk kamu kamu makan ya. Sini duduk biar aku ambil nasinya" Ujar dia tersenyum manis membuat hati suaminya semakin cinta.
"Segini cukup" tanya Diya memperlihatkan nasi yang baru saja diambilnya ke dalam piringnya Ivan.
"Sudah sayang cukup, segitu saja dulu"
"Wah ternyata enak juga yang punya seorang istri. Semua serba dilayani. Makan diambilkan, kopi disiapin, pakaian untuk kerja juga sudah disiapin ketika pagi-pagi hari. Apalagi aku mempunyai istri yang jago masak dan juga cantik seperti kamu. Aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. " Puji Ivan.
Bukannya bahagia dipuji oleh Ivan, hati Diya terasa semakin curiga karena dia mempunyai firasat bahwa Ivan memujinya hanya untuk menutupi sesuatu kepadanya.
Namanya juga firasat seseorang istri. Feeling seorang Istri memang tidak pernah salah bukan?
"Van, apa kamu sudah menyembunyikan sesuatu dariku? Atau kamu sedang menghadapi masalah? Coba kamu cerita sama aku! Bukankah kita sudah mempunyai kesepakatan bahwa tidak ada rahasia di antara kita?" Ujar Diya.
Ivan menghentikan kegiatan makan malam nya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Gak, aku merasa tidak enak. hati saja hari ini kepada mu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Lagian jika ada masalah pun alangkah baik nya kita menghadapi nya bersama-sama" Ujar Diya.
Ivan tampak berpikir. Diya memang mempunyai niat untuk menceritakan masalah Virda kepada Diya.
Tapi apa Diya akan percaya kepadanya? Batin Ivan mulai gelisah. Meski dia tidak melakukan nya? Tapi tetap saja dia takut bahwa Diya akan meninggalkan nya.
"Gak, gak ada apa-apa kok sayang. Hanya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan besok pagi" Ivan berbohong.
"Aku tahu Van kamu sedang berbohong. Kamu tidak berani menatap. mata ku" Ujar Diya.
"Sayang gak kerasa seminggu lagi kita akan melaksanakan resepsi pernikahan. Tadi aku sudah menghubungi pihak Wo. Katanya persiapan nya sudah hampir matang.. Aku juga sudah memastikan keinginan mu yang menikah dengan mengikuti adat melayu. Itu semua sudah di persiapkan" Ivan mengalih pembicaraan nya.
"Benar kah? Wah, aku gak sabar untuk menjadi ratu sehari" Ujar Diya terlihat senang.
"Setelah selesai menikah, kamu mau bulan madu ke mana?" Tanya Ivan.
Deg....
Wajah Diya kembali berubah pias. Seketika saat Ivan menanyakan tentang bulan madu itu, gadis berambut sepinggang itu kembali teringat tentang rencana liburan bulan madu nya bersama Ferdi saat mereka pulang Tour dari kota Pekanbaru.
"Maksudmu bulan madunya di atas kapal persiar?" Diya mengangguk.
"Dengan segala perlengkapan, serta kecanggihan peralatan mekanisnya. Yah....Pokoknya semua serba canggih dan modern sekali. Bila pagi tiba, aku akan melihat matahari terbit di ufuk timur memancarkan sinarnya di air laut seperti melihat taburan mutiara ditengah-tengah laut. Dan bila senja, cakrawala akan menampakan megahnya yang menghiasi langit dan aku juga ingin melihat bebas bintang-gemintang yang bertaburan di langit. Dan tentu saja dengan bulan purnamanya. Wah...Itu pasti sangat indah dan menarik. Betulkan?" Cerita nya lagi.
"Diy, kenapa. kamu bengong?" Tanya Ivan menyadarkan istri nya.
"Kamu mau liburan kemana?" Tanya nya lagi.
"Aku mau liburan bulan madu nya di kapal persiar" Ujar Diya.
"Aku sangat memimpikan ketika aku sudah menikah, aku ingin liburan bulan madu nya di kapal persiar. Menyaksikan gemerlapan bintang di malam hari, menyaksikan matahari terbit dari arah timur dan terbenam dari arah barat. Bila pagi tiba, aku akan melihat matahari terbit di ufuk timur memancarkan sinarnya di air laut seperti melihat taburan mutiara ditengah-tengah laut. Dan bila senja, cakrawala akan menampakan megahnya yang menghiasi langit" Kembali Diya menceritakan impian nya bersama suami nya.
Seperti Ferdi waktu itu, Ivan pun bengong mendengar impian liburan bulan madu istrinya.
"Kenapa kamu bengong Van? Apa ada yang salah dengan impian ku?" Tanya Diya.
"Gak kok, hanya saja aku tidak kepikiran kamu mempunyai mimpi seperti itu" Ujar Ivan.
Diya tersenyum.
"Enggak itu hanya impianku saja kok. Nggak seharusnya terpenuhi"
"Nggak apa-apa kok ini aku akan menuruti semua impian kamu .Aku akan berusaha untuk mewujudkan impian kamu itu di mana kita akan bulan madu nya di kapal pesiar"
"Beneran?"
"Tentu saja Sayang, aku pasti akan mewujudkan apapun yang kamu inginkan. Karena aku sangat mencintai kamu Diya. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku akan merasa sebagian nyawaku akan hilang bersamamu ketika kamu meninggalkan aku sayang. Aku mohon sama kamu tolong tetaplah bersamaku, tetaplah mencintaiku, dan tetaplah menghabiskan waktu bersamaku sampai hayat memisahkan kita" Pinta Ivan.
Diya merasa tersentuh, tak terasa beberapa butir air bening mengalir di pipinya.
"Ya Allah apa aku telah salah karena mempunyai prasangka buruk terhadap Ivan? Padahal aku mengetahui Ivan sangat mencintaiku. Tidak mungkin dia menghiyanatiku. Apa perasaan ini salah karena telah curiga terhadap suamiku sendiri? Ya Allah maafkanlah aku yang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap suamiku yang begitu mencintaiku dan takut akan kehilanganku" Batin Diya mulai merasa bersalah.
***
__ADS_1
"Pagi Diy" Sapa Yuli melihat Diya sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi Yul"
"Ibu mana?" Tanya Yuli melihat sekeliling dapur. Biasanya wanita paruh baya itu sudah berada di dapur jam segini.
"Ibu ke pasar" Jawan Diya.
"Sepagi ini?" Ujar Yuli.
Diya mengangguk.
"Ivan?"
"Ada di kamar sedang bersiap-siap" Ujar Diya.
"Diy, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Ujar Yuli.
"Apa?"
"Selamat pagi sayang" Tiba-tiba Ivan muncul dari arah kamar nya.
"Pagi Van" Jawab Diya.
"Boleh aku mencium mu lagi ini?" Goda Ivan.
"Ya ampun pengantin baru ini. Emang di kamar gak puas ya cium-cium. nya?" Sindir Yuli.
"Gak Yul, waktu nya sedikit" Jawab Ivan.
"Ya iya lah sedikit. Kamu sibuk sih sama si Virda itu. Maka nya waktu untuk Diya terbagi" Batin Yuli menatap sinis kearah Ivan.
"Yul, kata mu mau ngomong sesuatu sama aku. Apa?" Tanya Diya.
"Gak jadi, lupa tadi mau ngomong apa" Bohong Yuli.
"Gak mungkin aku menceritakan tentang suami mu saat dia bersama kita" Batin Yuli.
Kling....
[Sayang, kamu bisa kan menjemput ku untuk pergi ke kantor] Pesan dari Virda.
Ivan hanya membaca pesan itu tanpa harus membalasnya.
[Kok cuma di read sih. Ingat ya Van., kamu sudah berjanji untuk bertanggung jawab jangan kamu ingkari janji. Aku akan menggugurkan anak ini. Dan dosa. nya kamu yang tanggung] Ancam Virda lagi.
[Atau kamu mau aku menceritakan semua ini kepada kedua orang tuamu? Atau kamu juga mau aku menceritakan semua ini kepada istri siri mu itu? Atau kamu juga mau aku mempublikasikan tentang apa yang kamu lakukan kepadaku sehingga nama baikmu bisa tercemar?" Lagi-lagi Virda mengancam.
"Aku yakin kamu pasti tidak akan bisa menolak keinginan ku saat ini jika aku mengancam seperti itu" Ujar Virda penuh dengan kemenangan.
[Lima belas menit lagi aku ke sana] Balas Ivan.
Kembali Virda tersenyum puas dengan kemenangan nya. Ivan kembali jatuh kedalam perangkap. nya.
***
"Hai sayang" Ujar Virda masuk ke dalam mobil nya Ivan saat telah sampai di halaman apartemen nya. Sedari tadi Virda memang sudah menunggu di lobi apartemen nya.
"Stop memanggil ku sayang" Ujar Ivan.
"Lo, kemana pak Udin? Biasanya dia selalu menemani mu" Tanya Virda.
"Hari ini ia sedang sakit. Maka nya gak masuk kerja" Jawab Ivan dengan nada dingin nya langsung melaju dengan mobil nya.
***
"Selamat pagi sayang" Ujar Ferdi mengecup lembut kening Sonia.
"Selamat pagi sayang" Jawan Sonia membuka mata.
"Kelihatan nya kamu masih lelah. Istirahat saja"
"Gak kok, aku harus memastikan Junior apakah dia sudah bersiap-siap atau belum untuk sekolah" Ujar Sonia berusaha bangkit.
__ADS_1
"Udah kamu tenang saja. Pagi ini aku akan menyiapkan Junior dan mengantarnya untuk sekolah. Kamu istirahat saja. Tadi malam kamu sudah terlalu banyak bekerja" Goda Ferdi.
Sonia tersenyum mendengar Ferdi menggoda nya.
"Tetap saja aku harus bangun. Aku harus bersih-bersih"
"Ya sudah kalau begitu. Kamu bersih-bersih aku akan melihat keadaan Junior. Dan hari ini, biar aku yang masak untuk sarapan kita. Karena kamu telah memberikan pijit plus-plus kepada ku tadi malam" Kembali Ferdi menggoda.
***
"Papa" Junior memeluk papa nya yang baru saja masuk ke kamar nya.
"Ayo jagoan papa sudah selesai apa belum"
"Udah kok pa" Jawab Junior. Yah memang Junior ada suster nya yang mempersiapkan segala keperluan nya. Namun tetap saja Sonia harus mempersiapkan anak sulung nya. Agar Junior tidak terlalu bergantung kepada susternya.
"Nah, karena jagoan papa sudah siap, Bagaimana kita siapkan sarapan di bawah. Biar nanti ketika mama sudah bangun, dia kaget dan senang melihat kita siapkan sarapan untuk nya" Ujar Ferdi memberi ide.
"Oke pa. Ayo kita ke dapur" Ajak Junior.
"Oke, Ayo jagoan papa. Sini naik ke pundak papa. Kita akan pergi menuju ke dapur" Ujar Ferdi penuh dengan semangat.
***
"Sayang" Ujar Virda yang tiba-tiba masuk ke ruangan nya Ivan.
"Virda, ngapain kamu ke sini?" Tanya Ivan merasa kaget.
"Aku datang untuk bertemu dengan ayah dari calon anak ku" Jawab Virda dengan santai nya.
"Ya ampun.... Apalagi sih ini? Tadi meminta ku untuk mengantarnya ke kantor. Terus sekarang dia malah datang ke kantor ku. Aku benar-benar pusing di buat oleh gadis ini" Batin Ivan kembali memijit kepalanya yang pusing.
"Aku sedang bekerja tolong jangan menganggu ku"
"Sayang, sekarang kan sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Masa kamu masih kerja lagi sih. Lebih baik kita sekarang pergi untuk makan siang bersama. Kamu harus jaga kesehatan loh. Jangan terlalu sibuk bekerja aku nggak mau loh nanti ayah dari calon anakku sakit" Ujar Virda.
"Aku nggak ada waktu untuk pergi makan siang bersama kamu. Lebih baik kamu makan siang aja sendiri"
"Kok kamu gitu sih Van, aku jauh-jauh loh datang dari kantorku untuk makan siang bersama kamu. Kamu masa mengabaikan aku seperti ini. Si mana hati kamu Van? Aku ini sedang hamil loh, sedang ambil anak kamu. Masa kamu enggak ada perhatiannya sih sama aku"
"Anak aku lagi, anak aku lagi. Kan aku sudah bilang sama kamu aku belum sepenuhnya percaya bahwa bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu adalah anakku. Jadi stop menuduhku sebagai ayah dari anak yang kamu kandung" Ujar Ivan mulai kesal.
"Jadi kamu menuduh bahwa aku sudah membohongi kamu? Kan aku sudah bilang, aku bisa kok melakukan tes DNA sekarang untuk membuktikan bahwa aku memang sedang mengandung anak kamu. Kamu aja yang nggak mau mengizinkan aku untuk melakukan tes DNA"
"Aku melarangmu karena aku memikirkan keselamatan kamu jika terjadi pendarahan saat kamu melakukan tes DNA bagaimana?"
"Tapi aku kan melakukan itu demi membuktikan bahwa aku ini benar mengandung anak kamu. Dan kamu tidak menuduh aku lagi berbohong atas apa yang terjadi kepada diriku ini"
"Terserah ya Vir. Terserah Kalau kamu mau melakukan tes DNA itu sekarang aku akan mengizinkanmu. Sejujurnya aku telah capek, aku sangat lelah dengan semua yang kamu lakukan terhadap aku" Ujar Ivan tampak emosi. Yah, kelihatan nya laki-laki ganteng itu sudah bosan dan lelah dengan ancaman demi ancaman dari Virda.
Deg...
Virda merasa kaget karena Ivan kini tidak melarangnya lagi untuk melakukan tes DNA.
"Waduh, celaka enam belas Ivan tidak lagi menghalang ku. Bisa ketahuan jika aku berbohong. Aku kehilangan Ivan. Tapi aku tidak boleh menarik kembali kata-kata ku. Bisa-bisa Iva semakin curiga kepada ku" Batin Virda.
"Aku harus melakukan tes DNA itu. Dan apa pun hasil nya nanti, aku tidak peduli. Aku harus tetap meyakini Ivan bahwa anak ini benar anak nya" Tambah nya lagi.
"Baiklah kalau itu kemauan kamu aku akan melakukan tes DNA sekarang Ayo ikut aku ke rumah sakit" Ajak Virda.
"Oke, Ayo" Ujar Ivan.
"Mungkin dengan memastikan bahwa Virda tidak sedang mengandung anak ku akan membuat hati ku merasa tenang Dan aku tidak perlu berbohong lagi kepada Diya" Batin Ivan
***
Hati Virda semakin merasa gelisah saat dirinya dan Ivan sampai di rumah sakit.
Mereka pun masuk ke sebuah ruangan di mana Virda akan melakukan operasi untuk janin nya.
Beberapa jam Virda masih tidak menyadarkan diri.
Ivan duduk dengan setia menunggu Virda yang masih tidak sadarkan diri. Untung saja operasi itu berjalan dengan lancar. Dan tidak terjadi pendarahan atau hal yang buruk kepada Virda dan janin nya.
__ADS_1
Meski Ivan merasa kesal kepada Virda, tetap saja hati nya tidak tega membiarkan Virda terbaring sendirian di sini. Lagian Ivan juga mau menunggu hasil tes DNA itu. Untuk memastikan kebenaran sebenar nya.
"Virda, jika janin itu bukan dari anak ku, aku harap kamu tidak menganggu hidup ku dan Diya lagi. Biarkan aku dan Diya hidup dengan tenang dan bahagia" Ujar Ivan..