
"Hallo" Jawan Virda saat ada nomor baru yang masuk ke ponselnya.
"Halo Sayang,sekarang aku sudah berada di Indonesia. Aku akan mencari kamu di manapun kamu berada. Sampai ke lubang cacing pun aku akan mencari kamu karena urusan kita belum selesai" Ujar orang yang menelepon Virda tadi.
"Astaga, ternyata si tua bangka berhidung belang ini" Batin Virda.
"Urusan apa lagi yang belum selesai? Aku sudah tidak ada urusan lagi bersama perusahaan bapak dan juga aku sudah tidak ada urusan lagi sama bapak. Urusan kita sudah selesai malam itu juga" Tegas Virda.
"Belum dong sayang, kita masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan urusan kita. Karena aku tidak bisa melupakan moment malam itu. Kehangatan yang kamu berikan kepadaku itu, sangat membuat aku kecanduan. Jadi aku minta kamu melakukannya lagi kepadaku. Jika tidak aku akan menuntut kamu atas dasar membatalkan kontrak pekerjaan kita secara sepihak" Ancam Bos nya itu.
"Nggak bisa begitu dong pak. Aku sudah menuruti keinginan bapak, aku sudah memenuhi nafsunya bapak. Jadi bapak harus melepaskan aku dengan sukarela. Jangan bertindak seenaknya seperti ini dong pak. Perjanjian kita...."
"Perjanjian yang mana maksud kamu? Potong mantan bos nya itu.
"Kamu ingat kan Virda, kita melakukan itu tidak ada perjanjian ataupun. Surat-surat yang perlu kita tanda tangani juga tidak ada. Jadi jika kamu menuntut aku jelaskan tidak bisa, karena apa? Karena kamu tidak mempunyai bukti apapun. Sedangkan kontrak yang kamu tanda tangani atas kerjasama di perusahaanku itu nyata adanya. Tentu saja aku bisa menuntut kamu jika kamu tidak mau memenuhi keinginanku. Bagaimana?" Ujar bos itu.
"Sial, mengapa aku bisa seceroboh itu? Mengapa aku tidak membuat surat perjanjian ketika malam itu? Jadinya ketika dia menuntut aku untuk melakukan hal itu lagi aku bisa menuntutnya balik. Tapi kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bisa-bisa aku malah di penjara nantinya. Dan jika nantinya Ivan tahu tentang kebenarannya? Aduh...harus ngomong apa?" Batin Virda sangat cemas.
Dengan perasaan yang takut di hati. Virda menutup ponselnya tampa berkata apa pun kepada bos nya itu.
"Hallo, hallo" Ujar bos nya tadi.
"Kurang ajar kamu Vir, kamu tutup ponsel mu dengan seenak nya seperti ini. Awas saja jika ketemu, aku akan membuat kamu tidak berdaya seperti malam itu" Ujar bos nya tadi tersenyum nakal.
"Aduh....Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?Laki-laki tua bangka itu benar-benar sudah nekat mencariku ke sini. Aku harus bersembunyi di mana? Dan aku harus meminta pertolongan sama siapa? Tidak mungkin aku mengatakan semuanya kepada Ivan dan meminta pertolongannya. Pasti dia akan tahu sebenarnya. Ya Tuhan aku harus berbuat apa?" Ucap Virda kepada dirinya sendiri.
"Apa saat ini aku tinggal di rumah Ivan aja ya? Jika di sana aku merasa lebih aman. Karena ada papa dan mamanya Ivan menjagaku di sana. Jika aku disini aku hanya sendirian dan aku tidak tahu apa yang akan berlaku kepadaku nantinya ketika situa Bangka itu sudah menemui aku di sini" Ujar Virda.
"Tapi apa Papanya Ivan setuju ya aku tinggal di sana? Aku akan coba bertanya sama mamanya Ivan. Kemarin mereka tidak setuju aku tinggal di sana karena Ivan masih lajang. t
Tapi sekarang, Ivan kan sudah menikah bersama Diya. Dan kata mamanya Ivan kemarin Ivan itu tinggal bersama Diya di rumahnya otomatis aku bisa tinggal bersama mereka untuk sementara waktu sampai aku merasa aman nantinya" Ujar Virda lagi.
Virda menekan nomor mama nya Ivan di ponsel nya.
Terdengar nada sambung di ponsel nya.
"Hallo tante" Ujar Virda.
"Iya Vir, ada apa?"
"Tante, boleh gak aku kerumah? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama tante" Ujar Virda.
"Oh, tentu saja boleh tante ada di rumah kok sekarang. Jika kamu mau ke rumah, silakan saja tante tunggu ya" Ujar Ajeng dengan ramah nya.
"Oke tante aku ke sana sekarang ya" Virda menutup ponsel nya.
***
"Ibu" Tegur Diya saat dirinya masuk ke kamar Mirna.
"Gimana keadaan ibu? Apa merasa baikan?"
__ADS_1
"Alhamdulillah nak, ibu sudah agak baikan kok. Kepala ibu juga sudah tidak terlalu pusing lagi seperti tadi"
"Alhamdulillah aku senang mendengarnya bu" Ujar Diya dengan perasaan yang senang.
"Bu, jika Ibu masih belum baikan, jika Ibu masih sakit seperti in,i Aku dan Ivan sudah memutuskan untuk menunda honeymoon kami" Ujar Diya.
"Jangan nak, Jangan ditunda honeymoon nya. Kalian pergi saja ibu nggak apa-apa kok.. Ibu sekarang sudah merasa baikan. Lagian juga sudah ada Yuli kan di rumah ini bersama ibu. Jadi kamu jangan khawatir sama ibu. Ibu pasti baik-baik aja" Jelas Mirna menenangkan hati putri nya.
"Ya tetap aja bu, aku nggak mungkin tinggalin ibu dalam keadaan seperti ini. Lagian Yuli kan kalau pagi sampai sore nggak ada di rumah otomatis ibu akan tinggal sendiri di rumah. Jika terjadi apa-apa sama ibu ketika ibu tinggal sendiri nanti gimana?" Ujar Diya.
"Ibu baik-baik aja kok nak, kamu jangan khawatir gitu sama ibu. Lagian beberapa hari lagi juga kita pasti akan pergi cek kembalikan ke rumah sakit tadi. Semoga saja keadaan Ibu semakin membaik dan kalian bisa terus melakukan bulan madunya di kapal pesiar sesuai keinginan kamu. Dan ibu harap ketika kalian pulang nantinya ibu akan mendapat kabar baik dari kalian berdua yaitu ada Ivan atau Diya junior di rahimmu. Ibu sekarang sudah tua nak, jadi ibu mau secepatnya memang cucu. Ibu juga ingin merasakan bagaimana mempunyai seorang cucu nantinya seperti kebanyakan nenek-nenek yang lain" Jelas Mirna.
"Ibu masalah bulan madu atau cucu itu, kita bicarakan nanti saja yang terpenting saat ini adalah keadaan ibu, kesembuhan ibu, itu yang nomor satu yang harus Diya pastikan" Ujar Diya.
"Nak, coba kamu lihat ibu. Sudah membaik bukan? Tidak seperti tadi. Jika di suruh ibu membuat bakso satu kampung ibu pasti sanggup ini" Ujar Mirna sedikit bercanda.
"Mentang-mentang dulu penjual bakso terkenal di desa Sejangat. Malah semangat mau membuat bakso untuk satu kampung" Goda Diya.
"Habisnya kamu gak percaya sama ibu"
"Iya, iya. Kita lihat saja hasil cek ulang nya nanti ya. Jika kata dokter sudah membaik, maka kami akan melakukan honeymoon. Tapi jika dokter bilang kalau keadaan ibu masih seperti tadi, dan harus banyak-banyak istirahat Diya nggak mau sama sekali untuk pergi honeymoon seperti apa yang ibu bilang tadi" Tegas Diya.
"Iya nak Insya Allah Ibu baik-baik aja kok"
"Aamiin"
***
"Tante" Tegur Virda saat dirinya sudah sampai di rumah orang tuanya Ivan.
"Ada apa Vir? Apa. yang mau kamu bicarakan sama tante.. Sepertinya serius amat" Ujar Ajeng merasa penasaran.
"Tan, maaf sebelumnya, sekarang Ivan kan sudah mempunyai keluarganya sendiri. Sedangkan aku hanya sebatang karang di sini. Aku tidak mengenal siapa-siapa di sini kecuali tante Om dan Ivan" Ujar gadis indobel itu mulai mengatakan maksud dan tujuan nya.
"Dan saat ini maksudku akhir-akhir ini aku sering merasa tidak enak badan tan. Aku juga sering merasa pusing. Aku mau minta izin kepada om sama tante boleh nggak aku tinggal di sini untuk sementara waktu bersama kalian? Lagian Ivan kan sudah tidak tinggal di sini lagi, dia kan sudah bersama keluarga barunya. Jadi tidak ada fitnah lagi antara aku dan Ivan bukan?" Ujar Virda merayu.
Ajeng tampak diam belum bisa memberikan keputusan apa pun.
"Gimana ya Vir, tante bukannya nggak setuju sama sekali kamu untuk tinggal di sini bersama kami. Justru tante merasa senang kamu bisa tinggal bersama kami. Yah setidaknya rumah ini tidak terasa sepi, ada kamu sebagai pengganti Ivan di rumah ini. Tapi berpulang lagi, tante harus bicarakan ini dulu sama om kamu. Apa kah om kamu mau menerima kamu tinggal di sini atau tidak. Tante sih mau-mau aja kamu tinggal di sini tapi nggak tahu sama pendapat om kamu. Jadi tante minta waktunya agar tante bisa ngomong sama om tentang masalah ini" Jelas Ajeng.
"Oke tante, aku ngerti kok.. Dan aku harap om bisa menerima aku tinggal bersama kalian" Ujar Virda penuh dengan harapan.
"Iya Vir,semoga saja om kamu juga setuju kamu tinggal di sini ya" Ujar Ajeng.
"Oh ya kemarin kata Ivan, kamu hanya masuk angin apa sekarang sudah baikan?"
"Oh iya tante, aku kemarin hanya masuk angin. karena itu aku merasa tidak enak badan dan sering mual-mual. Sekarang sih sudah mendingan tapi aku takutnya nanti bakalan kambuh lagi. Karena aku sudah beberapa kali seperti ini mungkin aku gejala maag kali ya" Jelas Virda.
"Tadi katanya masuk angin sekarang malah bilangnya gejala maag jadi mana yang bener" Ujar Ajeng penasaran.
"Aduh,,, kenapa aku bisa salah ngomong gini ya? Bisa-bisa nantinya tante curiga sama aku. Dan ketika tante tahu aku sedang hamil, pasti tante ingin mengetahui siapa ayah dari anak ini. Dan jika aku mengatakan ini anak nya Ivan, Ivan bisa marah besar sama aku. Jelas-jelas dia tidak akan mau menikahi ku dan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi sama aku. Karena aku sudah berjanji aku akan merahasiakan keadaanku ini" Batin Virda.
__ADS_1
"Kamu gak periksa lebih lanjut?" Tanya Ajeng menyelidiki.
"Iya tante, aku nggak periksa lebih lanjut kemarin. kami hanya pergi ke dokter praktek saja. Dan dokter itu bilang aku hanya masuk angin biasa. Tapi jika aku mau mengetahui penyakitku lebih lanjut, maka dokter itu menganjurkan ku untuk pergi periksa ke rumah sakit yang lebih mempunyai alat canggih agar mengetahui aku ini sedang sakit apa"
"Kenapa kamu gak periksa lebih lanjut?"
"Nggak ada waktu tan. Aku sibuk dengan pekerjaanku di kantor. Jadi aku nggak sempet deh pergi ke rumah sakit untuk periksa keadaanku"
"Aduh Virda.......Kamu ini, selalu deh seperti itu. Kamu itu harus menjaga kesehatan kamu. Jangan dibiarkan penyakit itu merajalela di tubuh kamu. Nanti jika penyakitnya semakin parah bagaimana? Kamu sendiri kan yang bilang kamu hanya sebatang kara di sini jadi lebih baik kamu itu menjaga kesehatan kamu agar tidak mudah sakit nantinya dan tidak semakin parah penyakit kamu" Ujar Ajeng penuh perhatian.
"Iya tante nanti aku pasti periksa kok penyakitku ini tante tenang aja ya aku nggak apa-apa kok"
***
"Sayang" Ujar Ivan kepada Diya saat ia sudah pulang dari kantor nya. Tak lupa sekecup cinta menempel di dahi istri nya.
"Sudah pulang?" Tanya Diya.
"Iya, maaf ya aku pulang nya agak telat" Ujar Ivan.
"Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang" Tambah nya lagi.
"Iya aku ngerti kok sayang. Aku gak masalah akan hal itu" Jelas Diya.
"Terima kasih ya sayang atas pengertian nya"
Diya tersenyum dan mengangguk.
"Gimana keadaan ibu?" Tanya Ivan.
"Udah mendingan kok. Malahan ibu meminta kita untuk tetap pergi honeymoon di kapal pesiar dan dia juga mengharapkan cepatnya ada Ivan dan Diya junior di dalam rahimku" Jelas Diya.
Ivan mengerut kening nya merasa kaget atas permintaan ibu mertua nya itu.
"Ibu bilang begitu?"
"Iya Van. Dia bilang, ingin seperti nenek-nenek yang lain yang sudah mempunyai cucu. Sekarang usia nya sudah tidak muda lagi. Jadi ibu mau secepatnya menimang cucu" Jelas Diya.
Ivan tersenyum mendengar harapan dari mertua nya itu.
"Ibu tahu saja ya, keinginan ku juga sama. Jadi kita harus lebih sering lagi update nya. Jika boleh sehari itu tiga kali. Agar pembuahan nya cepat terjadi" Ujar Ivan dengan lirikan mata menggoda.
Diya mencubit manja lengan nya Ivan.
"Aduh" Ivan meringis kesakitan.
"Rasain, habis nya di pikiran nya gak ada yang lain sih. Lagian sehari tiga kali emang minum obat apa?" Ujar Diya.
"Lo, salah ya? Ibu bukan nya mau secepatnya menimang cucu. Jadi wajar dong kita harus sering update nya. Biar pembuahan cepat terjadi dan kita akan segera menjadi ibu dan ayah dan tentu saja ibumu mamaku dan papaku akan menjadi nenek dan kakek" Ujar Ivan lagi berhayal.
"Diy, kamu mau anak pertama kita apa?
__ADS_1
"Kalau aku sih maunya anak laki-laki. Jadi kalau anak pertama itu laki-laki, ia bisa menjaga adik-adiknya. Tapi jika nantinya perempuan dia belum tentu bisa menjaga adik-adiknya. Misalkan adiknya itu diganggu sama orang-orang jahat nah kalau laki-laki kan bisa berantem kalau perempuan belum tentu kamu bisa beruntung jadi karena itu aku lebih suka anak pertama itu laki-laki" Jelas Diya.
"Tapi apapun itu nantinya dikasih sama Allah baik laki-laki atau perempuan, aku tetap sayang sama anak kita karena dia merupakan titipan dari Allah yang harus kita jaga dan harus kita rawat sepenuhnya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus" Jelas Diya