
Saat dirinya larut dalam kesedihan dengan kenangan di masa lalu, Diya kaget saat bahu nya di sentuh oleh seseorang. Diya menoleh ingin mengetahui siapa yang menyentuh bahu nya saat itu.
"Ivan?" Seru nya. Tampa ragu Diya bangkit dari duduk nya memeluk erat dan menangis di dada bidang pemuda tampan itu.
"Ei, kenapa?" Tanya Ivan lembut membalas pelukan gadis itu dan mengelus rambut panjang sepinggang yang terurai manja.
"Sudah, jangan berkata bertanya dulu Van, biarkan aku merasakan kenyamanan di sini" Ucap Diya. Dulu kata-kata itu pernah di ucapkan saat Ivan menyatakan perasaannya. Bukan nya menjawab Diya malah lari meninggalkan nya dan Ferdi datang menemuinya saat ia menghindar dari Ivan. Diya langsung memeluk Ferdi dan mengucapkan hal yang sama.
Ivan tidak bertanya lagi. Dirinya terus memeluk dan mengelus rambut gadis impian nya. Jujur saja hati Ivan sangat bahagia saat Diya memeluk nya seperti ini. Namun, ada rasa sedih juga heran melihat gadis impian nya sedih seperti ini.
Lama mereka saling memeluk, untung saja para karyawan di kantor masih sibuk dengan istirahat siang mereka masing-masing. Jadi tidak ada orang di ruangan itu yang menyaksikan dua insan yang berlainan jenis kelamin itu berpelukan.
Diya memejamkan matanya. Hati nya sungguh terasa nyaman dan aman bersama Ivan. Kembali getaran halus mulai menyelinap masuk di dalam relung hati nya.
Diya melepaskan pelukan nya. Mengusap sisa air mata nya dan menunduk malu karena telah memeluk Ivan.
"Maaf kan aku Van. Aku lancang" Ucap nya terus menunduk tidak mau menatap bola mata lelaki berbadan sixpack di hadapan nya.
"Tidak apa-apa" Ucap nya lembut sambil tersenyum.
"Sekarang sudah mulai tenang?" Tanya laki-laki itu.
Diya mengangguk pelan.
"Mau cerita?"
Diya hanya diam. Sekarang gadis itu memberanikan diri untuk menatap bola mata laki-laki itu. Setelah menatap bola mata, kembali raut wajah Diya sedih. Diya menangis lagi.
"Ei, kenapa? Jika tidak bisa bercerita jangan di paksakan" Ucap Ivan lembut dan menghapus air mata gadis pujaan hatinya.
__ADS_1
"Aku.....Aku....." Diya menggantung ucapan nya.
Ivan masih sabar menunggu. Ia menatap Diya dengan lekat.
Diya menangis, tidak bisa menceritakan bahwa dirinya telah melihat Ferdi. Kekasih yang ia tunggu kedatangan nya.
"Ya sudah, kamu tenang dulu. Sekarang istirahat saja. Aku ke ruangan ku dulu ya" Ucap Ivan.
Baru saja Ivan melangkah, Diya menahan lengan Ivan membuat pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Van, boleh aku ikut bersama mu?" Ucap nya menatap iba.
Ivan tersenyum dan mengangguk.
***
"Sekarang, kamu duduk dan istirahat di sofa dulu" Ucap Ivan setelah mereka sampai di ruangan kerja Ivan.
"Boleh kamu duduk di sini menemaniku?" Pinta Diya. Lagi-lagi Ivan tersenyum mengangguk. Ivan duduk di samping Diya.
Diya menggeser duduk nya agar lebih dekat dengan Ivan. Diya menyandarkan kepalanya di bahu Ivan.
"Maaf kan aku ya Van, selama ini telah menyusahkan mu. Dan sampai saat ini pun saat keadaan ku seperti ini, aku masih menyusahkan mu" Ucap Diya lirih.
Ivan tersenyum lembut.
"Tidak mengapa, aku bahagia karena bisa membantu mu. Dan aku berharap aku bisa selalu membantu mu dan ada di sisimu saat senang mau pun susah. Bukan nya aku pernah mengatakan kamu orang yang spesial untuk ku" Ucap Ivan.
Diya tersenyum senang mendengar ucapan Ivan. Sedikit demi sedikit rasa sedih di hati nya tentang Ferdi berlahan hilang. Sungguh gadis itu telah bisa menerima Ivan saat ini. Meski belum sepenuhnya. Namun, sepertinya Ivan telah berhasil perlahan masuk di dalam hati gadis itu.
__ADS_1
Hati kedua nya mulai merasakan kenyamanan. Terdiam dalam suasana seperti itu dimana kepala Diya masih menyandar di bahu Ivan. Ivan memberanikan diri memegang jari lentik Diya.
Menggenggam erat seakan-akan tidak ingin melepaskan gadis itu walau sedetik pun. Perasaan aneh mulai muncul lagi di hati Diya. Sungguh lembut sentuhan itu. Kenyamanan di hati Diya semakin terasa. Diya membiarkan jari nya di sentuh dan membalas menggenggam tangan Ivan.
Ivan kaget, tentu saja kaget melihat Diya kini bersikap seperti itu. Kini dirinya semakin yakin bahwa cinta nya akan terbalas sebentar lagi. Sungguh penantian yang ia lalui selama ini akan membuahkan hasil.
"Terima kasih" Kembali Diya mengucapkan hal itu.
"Untuk?"
"Untuk rasa nyaman dan kelembutan yang telah kamu berikan kepadaku. Maaf aku belum bisa membalas sepenuhnya. Sejujurnya hati ini masih ragu" Ucap Diya.
Mungkin jika orang lain mendengar ucapan Diya, ia akan berpikir bahwa Diya gadis egois. Secara barusan ia memeluk Ivan dan merasakan kenyamanan di sisi pemuda itu di saat hatinya sedih. Namun, di saat hati nya mulai stabil kembali, gadis itu malah berkata belum bisa membalas perasaan Ivan.
Jelas-jelas tadi ia membalas genggaman tangan Ivan. Ivan tersenyum.
"Aku sabar kok menanti diri mu Diy. Aku tidak mau memaksa perasaan mu. Jika aku memaksanya jelas batin mu akan tersiksa. Jika kelak kamu telah menemukan tambatan hati lain dan orang itu bukan aku, maka aku ikhlas untuk melepaskan mu" Ucap Ivan dengan perasaan yang sulit untuk di ungkap kan oleh Diya.
"Aku tidak ingin memaksa hati mu Diy. Tapi kamu harus ingat satu hal. Perasaan ku ke kamu tidak pernah berubah. Dan aku akan selalu ada untuk mu" Tambahnya lagi. Sungguh perkataan Ivan sangat menyentuh hati Diya.
Bagaimana tidak, laki-laki itu telah banyak membantunya dan tidak mengharapkan pamrih dari nya. Dengan Ikhlas Ivan bisa melepaskan Diya saat telah menemukan tambatan hati.
"Ya Allah, aku telah bertemu dengan lelaki sebaik Ivan. Bukan aku tidak mau menerima nya. Bukan hati ini tidak mempunyai rasa untuk nya. Jujur saja hati ini menyukai nya. Tidak bukan suka, jika suka jelas rasa itu bisa timbul kepada siapa saja bahkan orang yang baru di kenal" Batin Diya.
"Namun ini tepatnya rasa kenyamanan. Dimana rasa itu akan muncul kepada orang yang benar-benar tulus. Dan jika kenyamanan itu sudah mulai muncul, otomatis rasa cinta dan sayang akan ikut serta bersamanya" Tambahnya lagi.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Nanti jika sudah tenang baru kamu lanjutkan pekerjaan mu. Aku mau melanjutkan pekerjaan ku dulu ya" Ucap Ivan merasa bahwa Diya sudah mulai tenang..
Diya mengangguk memberi izin Ivan melanjutkan pekerjaannya. Ivan menuju meja kerjanya.
__ADS_1
"Ya Allah, mantapkan lah hati ku untuk memilih di antara dua hati manusia ini. Berikan aku petunjuk mu agar aku tidak salah dalam memilih" Doa Diya dalam hati memperhatikan Ivan yang tengah sibuk dengan laptop di depan nya.