Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Rencana


__ADS_3

Degg....


Jantung Diya berdetak begitu kencang saat mengetahui jika Ivan ingin mengajak nya bertemu dengan mama dan papa nya.


Kembali Diya membulatkan mata nya menatap kaget kepada Ivan.


"Kamu,. kamu ingin memperkenalkan ku dengan kedua orang tua mu? Dalam rangka apa?" Tanya Diya deg-degan.


"Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda" Ucap Ivan kesal dengan Diya yang otak nya kini mulai somplak lagi.


"Ya jelas lah aku ingin memperkenalkan mu dengan orang tua ku. Kan sudah ku bilang tadi. Itu karena aku ingin serius kepada mu" Tambah nya lagi.


Diya diam dengan seribu bahasa. Ada perasaan senang dan takut di dalam hati nya yang menjadi satu. Yah, senang karena Ivan ingin memperkenal kan nya kepada kedua orang tua nya. Gadis mana yang tidak senang jika lelaki yang ia sukai mengajak nya ke rumah untuk bertemu kedua orang tua nya. Tentu saja semua gadis suka bukan. Berarti perlahan lelaki itu memperkenalkan bahwa ini lah calon pendamping hidupku yang kelak akan masuk ke dalam keluarga kita. Begitulah kira-kira ya mak.


Namun, Diya juga merasa takut bahwa hal yang terjadi selama tujuh tahun lalu itu akan terjadi lagi. Dimana orang tua lelaki idaman nya tidak menyukai nya. Dan sangat menentang hubungan mereka.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung harus bagaimana?" Ucap Diya gugub.


"Diy, kamu kenapa?" Tanya Ivan.


Diya kaget.


"Ha enggak apa-apa" Ucap nya berusaha mengukir senyuman diwajahnya.


"Kamu yakin?" Diya bertanya dengan keraguan. Trauma yang ia alami kemaren masih jelas terbayang di ingatan nya. Wajar saja ia merasa gugup untuk bertemu yang ke dua kali nya dengan orang tua lelaki yang telah mengisi kekosongan nya.


Ivan mengangguk penuh keyakinan.


"Dan di saat aku telah mengenalkan mu dengan ke dua orang tua ku, aku akan meminta mu untuk membawa ku untuk bertemu dengan orang tua mu"


Diya baru ingat kembali bahwa liburan ini ia dan Yuli berencana untuk pulang ke kampung halaman.


"Kapan kamu pulang? Aku mau ikut bersama mu" Ucap Ivan.


"Liburan ini aku dan Yuli berencana untuk pulang sih"


"Kalau gitu aku ikut" Ivan tersenyum.


"Karena libur beberapa hari lagi, jadi aku harus secepat nya membawa ku bertemu dengan papa dan mama"


Degg.....


Debaran di hati Diya semakin terasa.


"Tapi, aku belum siap" Ucap nya pelan.


"Belum siap bagaimana?"


"Aku, aku takut....." Diya menggantungkan perkataan nya.


"Takut? Takut kenapa?" Ivan merasa heran.


"Oh aku tahu kamu pasti merasa jika mama ku akan bersikap seperti tante Mira. Kamu pasti takut hal yang kemaren terulang lagi bukan? Aku yakin mama tidak akan seperti tante Mira. Mama ku tidak memandang siapa pun yang mau dekat dengan ku" Yakin Ivan.


Diya hanya diam dengan seribu bahasa. Gadis itu tampak berpikir atas apa yang Ivan katakan.


"Kamu masih tidak percaya kepada ku?" Tanya Ivan menatap lekat kepada gadis yang di samping nya.


"Bukan, bukan. Bukan begitu maksud ku. Aku percaya sama kamu kok" Diya merasa tidak enak hati.


"Ya sudah, aku akan membawa mu bertemu dengan kedua orang tua ku besok malam. Ba'da Isya aku jemput ya"


Diya mengangguk pasrah. Hati nya sedikit ragu untuk bertemu dengan kedua orang tua Ivan. Namun apa boleh buat. Ivan dengan kekeh meminta gadis itu untuk datang berkunjung kerumah utamanya.


"Ayo kita pulang" Ucap Ivan menyalakan mesin mobilnya dan membelah jalan raya kota itu.


***


"Van" Sambut Virda berlari kegirangan melihat sosok Ivan masuk ke rumah nya. Ternyata sedari tadi gadis itu memang menunggu Ivan pulang.


Ivan kembali kaget melihat gadis itu.


"Kenapa ini anak masih di sini? Katanya mau pulang hari ini. Apa gak jadi lagi?" Batin Ivan dengan tatapan memalas ke arah Virda.


"Lihat" Virda menyerahkan sepucuk surat kepada Ivan dengan tersenyum senang.

__ADS_1


Ivan mengambilnya dengan rasa heran dan penasaran.


"Apa ini?"


"Baca aja" Sahut Virda tidak mau memberi tahu apa isi surat itu.


Ivan membuka surat yang gadis itu berikan kepadanya dan membacanya.


Ivan membulat kan mata nya. Merasa kaget atas isi surat tersebut.


"Kamu kerja di kantor ini?"


Virda mengangguk dengan masih tersenyum senang.


"Kenapa?"


"Kenapa apa nya? Kamu bilang di kantor mu tidak ada lowongan kerja. Jadi aku berinisiatif untuk melamar kerja di kantor lain. Dan hasil nya aku di terima. Yah meski gajinya tidak sebesar dengan gaji ku di kantor lama, tapi ini lumayan untuk memenuhi kebutuhan ku. Dan yang paling penting, aku akan tetap berada di kota ini bersama mu" Virda tersenyum mencolek dagu Ivan.


Kembali lagi Ivan memijat kepala nya yang terasa pusing karena ulah sahabat nya itu. Ia tidak habis pikir dengan gadis itu. Orang lain mengharap kan kerja di kantor luar negeri di mana penghasilan di sana lebih besar dari pada di dalam negeri. Dia malah memilih kerja di kantor yang ada di negeri ini dimana penghasilan nya tidak sebanding dengan kantor nya yang lalu.


"Kamu ini bagaimana sih Vir, harus nya kamu itu bekerja di kantor yang lebih besar lagi di negara-negara maju. Jadi kehidupan mu lebih meningkat bukan malah turun seperti ini. Kamu tahu di indonesia hanyalah negara berkembang. Pendapatan di sini tidak sebanding dengan pendapatan yang di sana.


"Untuk apa aku bekerja di sana jika pikiran dan hati ku ada di sini" Ucap Virda jujur.


"Maksud kamu?" Ivan pura-pura tidak mengerti.


"Ya kamu lah Van. Bukan nya kamu mengetahui hal itu?"


Lagi-lagi lelaki itu memijit kepalanya yang kembali terasa pusing.


"Vir, bukan nya....."


"Ya aku tahu, aku tahu kamu tidak mencintai ku. Aku tahu semua nya. Kamu tidak perlu mengigat ku lagi tentang hal itu" Raut wajah Virda tampak kecewa.


"Jika kamu sudah tahu kenapa harus memaksa?"


"Aku tidak memaksa, tapi aku akan membuat mu kembali kepada ku. Mencintai ku sepenuh hati mu" Ucap Virda dengan keyakinan. Dan aku akan membuat kamu mengetahui siapa Diya, gadis yang sangat kamu dambakan itu" Ucap Virda dengan sinis nya.


"Terserah kamu saja lah Vir aku pusing meladeni mu. Tapi aku mohon jangan memandang rendah terhadap Diya" Tegas Ivan.


"Oh ya kapan kamu mulai kerja?" Ivan berbalik.


"Minggu depan" Ucap Virda.


"Jika benar kamu ingin bekerja di sini, aku mohon pengertian mu. Tidak mungkin kamu tinggal di rumah ini untuk selamanya. Kita tidak mempunyai ikatan apa pun" Ucap Ivan terdengar mengusir.


"Kamu mengusir ku?" Virda mulai tersinggung.


"Jika kamu merasa begitu, aku hanya tidak ingin jadi bahan omongan para tetangga" Ucap Ivan.


"Aku ngerti kok Van. Besok aku akan mencari tempat tinggal baru untuk ku di sini. Kamu mau kan membantu ku?" Pinta Virda.


"Aku sibuk Vir. Pekerjaan ku banyak di kantor"


"Kamu kenapa sih Van? Kenapa kamu selalu menghindar kepadaku. Sekarang kenapa kamu sangat berubah? Sekarang kamu sama sekali tidak ada waktu untuk ku" Ucap Virda bergetar.


"Maaf kan aku Vir. Aku benar-benar sibuk. Jika kamu berpikir aku membuat mu sakit hati, aku minta maaf. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku tidak mau memberikan mu harapan. Di mana harapan itu akan membuat mu semakin tersakiti." Jelas Ivan.


"Oke kamu aku akui itu dan aku berterima kasih untuk itu. Tapi setidak nya bantu lah aku seperti dulu kamu yang selalu ada untuk ku. Setidak nya sebagai seorang sahabat" Ucap Virda dengan penuh harapan.


"Vir, kamu sendiri yang membuat persahabatan kita rusak dengan semua tingkah mu itu" Ucap Ivan.


"Maksud kamu?"


"Aku rasa, aku tidak harus menjelaskan nya. Kamu tahu sendiri apa yang kamu lakukan belakangan ini" Ucap Ivan meninggalkan Virda yang tidak mengerti.


"Apa sih yang aku lakukan? Apa aku tidak berhak untuk jatuh cinta?" Pikirnya.


Yah ungkapan cinta itu merupakan salah satu yang membuat persahabatan mereka seperti ini. Terlebih melihat Virda yang sekarang telah berubah di mana ia dengan sangat santai masuk ke kamar Ivan tampa izin. Selalu meminta di perhatikan, bahkan Virda sekarang terlihat bawal dan cerewet itu lah yang membuat Ivan risih.


***


"Diy kamu kenapa?" Tanya Yuli melihat Diya masuk ke rumah dengan loyo.


Diya menghempas kan tubuh nya di atas sofa yang terletak di ruang tamu.

__ADS_1


"Lagi bad mood" Ucap Diya.


"Kenapa? Lagi bertengkar dengan Ivan?" Selidik Yuli.


"Kamu tahu gak sih, sewaktu aku pulang dari kantor, Ivan mengajak ku untuk bertemu dengan seseorang. Kamu tahu itu siapa? Kak Ferdi" Diya mulai bercerita.


"Apa?. Kok bisa?"


"Ya bisa lah Yul, Kak Ferdi kan suami nya Sonia. Sonia adalah adik sepupunya Ivan. Dia meminta bantuan sama Ivan kalau ingin bertemu dengan ku"


"Lah kenapa begitu? Maksud ku, Ivan kan tahu bahwa Ferdi adalah kekasih lama mu. Kenapa dia sudi membantu nya.. Apa dia tidak cemburu melihat kalian bersama?"


"Kak Ferdi bilang sama Ivan hanya ingin meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi selama ini kepadanya. Agar aku dan dia tidak ada kesalah pahaman" Jelas Diya.


"Karena itu, Ivan mau membantu nya. Ivan bilang ada seorang gadis di kantor ku nama nya juga Diya. Siapa tahu Diya yang di kantor ku adalah Diya yang sama. Maka nya Ferdi mau memastikan jika itu adalah aku" Tambahnya lagi.


"Kenapa Ivan tidak mau jujur saja bahwa kamu memang gadis yang di cari oleh Ferdi? Kenapa harus beri alasan seperti itu"


"Nanti jika Ivan jujur, pasti banyak pertanyaan yang muncul nanti nya. Dari mana Ivan tahu bahwa aku lah kekasih lama nya kak Ferdi? Dan bla bla bla. Oleh karena itu Ivan memilih agar kami bertemu dan menceritakan serta menjelaskan tentang perasaan kami masing-masing"


"Terus?" Yuli terlihat serius.


"Aku jelaskan tentang semua yang terjadi kepada ku selama ini. Bagaimana keadaan ku, tapi yang membuat ku tidak habis pikir adalah kak Ferdi menginginkan ku untuk kembali kepada ya"


"Ha" Yuli menganga kaget mendengar apa yang Diya katakan.


"Bukan kah dia sudah mempunyai istri? Terus apa jawaban mu"


"Ya aku tolak lah. Emang aku ini cewek apaan masa iya jadi pelakor dalam kehidupan mereka. Aku dan kak Ferdi adalah masa lalu. Dan itu akan tetap menjadi masa lalu"


"Dan sekarang sudah ada Ivan untuk masa depan mu benar?" Sambung Yuli.


"Iya benar" Diya tersenyum.


"Ivan tahu bahwa Ferdi ingin kembali kepada mu?"


"Tahu, aku yang cerita sama dia. Dia marah, jika dia tahu bahwa Ferdi ingin mengatakan hal itu, Ivan tidak akan membiarkan kami bertemu. Dia membantu karena kak Ferdi beralasan lain yaitu meminta maaf dan menjelaskan semua nya"


"Ferdi itu apa-apaan sih. Bisa bisa nya dia meminta mu kembali. Dia tidak berpikir apa dengan perasaan istrinya. Apa lagi istrinya sedang hamil" Geram Yuli.


"Gak tahu aku Yul. Aku juga kesal sama dia. Dia pikir aku gadis apaan. Sudah lah Yul jangan membicarakan tentang dia lagi"


"Oke, sudah tamat cerita tentang Ferdi" Canda Yuli.


"Oh ya Yul, masalah kita pulang ke kampung, Ivan juga ingin ikut. Dia juga mau berkenalan dengan ibuk"


"Serius?"


"Iya Yul. Bahkan sebelum itu terjadi, ia ingin aku bertemu dengan kedua orang tua nya"


"Oh ya?. Kapan?"


"Sebelum kita pulang kampung Yul. Jujur aku takut Yul. Takut jika mama dan papa nya Ivan tidak suka dengan ku. Seperti mama nya kak Ferdi dulu." Diya terlihat sedih.


"Kamu jangan berpikir buruk gitu dong Diy. Semua orang kan mempunyai sifat yang berbeda. Siapa tahu mama dan papa nya Ivan malah welcome dengan mu"


"Iya juga sih Yul, tapi tetap saja aku takut Yul. Yah kamu tahu perbedaan status ku dan Ivan seperti langit dan bumi Yul" Ucap Diya.


"Diy, jika kalian sudah berjodoh, pasti akan di permudahkan kok.. Bagaimana pun status perbedaan kalian. Dan sekuat apa pun masalah yang menghalangi cinta kalian, pasti semua nya akan di permudahkan kok. Percaya deh sama aku"


"Ya Yul, aku percaya kok. Doain aku yah besok malam ketika aku bertemu dengan kedua orang tua nya Ivan akan baik-baik saja" Ucap Diya penuh harapan.


"Aamiin....Aku pasti akan mendoakan yang terbaik untuk mu kok Diy. Bagaimana mungkin aku tidak mendoakan yang terbaik untuk kamu Diy. Kamu adalah sahabat yang paling aku sayangi. Aku turut bahagia melihat mu bahagia....hmmm senang nya. Sepertinya akan ada yang melangkah ke pelaminan" Sindir Yuli.


"Hahaha....Doain aja" Balas Diya.


"Ya sudah aku mau bersih-bersih dulu. Gerah ni" Ucap Diya bangkit dari sofa menuju kamar tidur nya.


"Oke mandi gih sana. Sudah asem bau mu" Canda Yuli.


"Enak saja. Masih wangi kok bau ku" Diya mencium lengan nya memastikan bahwa tubuh nya tetap wangi.


Yuli tertawa lepas melihat Diya bertingkah seperti itu.


"Aku senang deh Diy melihat mu sekarang yang lebih ceria. Hidup mu sekarang lebih berwarna karena kehadiran Ivan" Batin Yuli tersenyum melihat punggung Diya yang semakin jauh meninggalkan nya.

__ADS_1


__ADS_2