
"Kemana sih Ivan, dari tadi malam aku hubungin malah gak aktif ponsel nya" Ujar Virda merasa geram.
"Mentang-mentang aku memberikan waktu untuk nya bersama si Diya gadis kampung itu, bukan berarti dia seenaknya mengabaikan aku seperti ini" Ucap nya lagi.
"Awas aja Van, seperti nya aku harus memberikan nya pelajaran agar Ivan tahu bahwa ancaman ku tidak main-main" Ucap nya lagi menggenggam jari jemari nya.
***
Diya dan Ivan sedang asyik sarapan bersama di restoran hotel yang terletak di lantai bawah.
"Hay" Ujar seseorang menegur mereka.
"Boleh gak aku bergabung bersama kalian" Ucap nya lagi.
Diya dan Ivan melihat orang itu dengan bingung.
"Boleh dong ya aku duduk di sini. Lagian gak mungkin kan Van kamu tega biarin aku sarapan sendirian" Ujar Virda menyindir.
"Boleh kan Diy?" Tanya nya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Ha, boleh" Jawab Diya tersenyum kecut.
Sebenarnya gadis yang telah berstatus sebagai seorang istri itu merasa keberatan dengan kehadiran Virda di sana. Secara mereka tengah menikmati masa-masa indah bersama sebagai pengantin baru. Masa ada pengganggu yang terus mengikuti mereka kemana pun mereka pergi.
Namun, karena Diya masih memikirkan bahwa Ivan adalah sahabat nya Virda dan sudah Ivan anggap sebagai adik sendiri mau tak mau dia mempersilahkan Virda untuk bergabung dengan mereka. Meski pun ia tahu bahwa Ivan tidak begitu perduli dengan Virda seperti dulu. Namun tetap saja ia harus menjaga sikap nya di hadapan suami nya.
"Van, pesenin aku makanan dong. Kamu kan tahu seleraku apa"
"Pesan aja sendiri. Lagian kamu ngapain sih di sini menganggu orang sedang berduaan saja" Ucap Ivan merasa risih.
"Ngapain kamu bilang? Beneran mau tahu jawaban nya? Jangan nyesel lo" Ucap Virda terdengar mengancam.
Ivan menarik napas nya dalam-dalam. Lalu di hembuskan nya kuat-kuat.
"Sebentar ya aku mau ke toilet" Ujar Diya beranjak dari sana.
Ke toilet adalah alasan yang tepat untuk nya menghindar beberapa saat dari gadis yang bernama Virda itu. Dan setidak nya bisa menenangkan sedikit hati nya yang perih karena kehadiran gadis indobel itu.
Diya berlalu dari hadapan Ivan dan Virda.
Melihat Diya sudah tidak terlihat lagi.
"Van, kamu kemana saja sih. Aku hubungin kamu dari tadi malam gak bisa-bisa. Aku kan juga butuh perhatian kamu" Protes Virda.
"Perhatian apa sih yang kamu harap kan dari aku. Pertama kamu bukan istri ku, kedua kamu selalu membuat aku kesal dengan tindakan-tindakan kamu yang seenak nya seperti ini. Ngapain kamu ke sini?"
"Aku ke sini karena aku gak bisa hubungin kamu tadi malam. Tadi malam perut ku kram, jadi aku membutuhkan kamu untuk menemani aku" Ucap Virda lagi.
"Vir, kamu ini bertingkah selayak nya aku sebagai suami mu. Minta di perhatikan dua puluh empat jam. Hei sadar aku juga mempunyai kehidupan ku sendiri. Apa lagi tadi malam adalah malam pertama kami. Tentu saja aku tidak mau di ganggu oleh pengacau seperti kamu" Ucap Ivan emosi.
"Pengacau, pengacau kamu bilang. Eh Van kamu lupa ya aku ini sedang mengandung anak mu. Jadi sewajarnya dong aku butuh perhatian dari ayah dari anak yang ku kandung"
"Vir, tanpa kamu ingat kan, aku juga sudah masih ingat jika kamu sedang mengandung. Yang jadi pertanyaan ku, aku masih meragukan anak itu. Pertama aku tidak merasa melakukan hal itu kepada mu, kedua jika benar anak itu adalah anak ku, jelas aku akan merasakan ada ikatan yang kuat antara aku dan anak itu" Ucap Ivan membela diri.
"Ya, iya lah kamu tidak merasakan ikatan batin sama anak ini. Secara kamu saja tidak ada waktu untuk anak ini. Kamu sibuk mengurusi istri kamu yang kampungan itu"
"Virda, cukup ya. Jangan kamu hina Diya seperti itu. Meski pun Diya gadis kampung, tapi dia tidak kampungan dan lebih terhormat dari mu"
"Maksud kamu apa? Kamu bilang aku tidak terhormat seperti apa? Kamu pikir aku menyerahkan diri ku untuk orang lain begitu?" Ujar nya.
"Bisa di bilang begitu, kamu lihat saja bukti nya kamu hamil tapi tidak tahu anak siapa"
"Cukup ya Van, aku melakukan itu hanya sama kamu. Dan anak ini sah anak kamu. Hasil tes DNA itu sudah bisa membuktikan semua nya" Ujar Virda menangis karena telah di hina oleh Ivan.
"Jangan kamu keluarkan air mata buaya mu itu. Aku tidak akan pernah termakan sama air mata buaya mu. Dan satu lagi hasil tes DNA itu bisa saja kamu telah menipu lasi hasil nya bukan. Aku kenal kamu Vir. Kamu tipe orang yang keras kepala dengan penuh ambisi untuk mendapatkan keinginan mux kamu rela melakukan apa pun" Ucap Ivan.
"Van, aku bisa saja menuntut mu. Kamu telah mencemarkan nama baik ku" Ucap Virda kembali mengancam.
"Mau menuntut ku, oh silahkan aku tidak keberatan. Dan asal kamu tahu ya Vir, aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti bisa membuktikan siapa ayah dari anak yang kamu kandung" Ucap Ivan pergi dari restoran itu meninggalkan Virda sendirian.
"Lo Van sudah mau pergi? Kita kan belum selesai makan" Tanya Diya saat berpas-pasan dengan Ivan ketika Diya baru balik dari toilet.
"Gak apa-apa, kita cari tempat lain saja. Di sini udaranya terasa panas" Ujar Ivan menarik tangan istri nya untuk keluar dari sana.
Virda masih duduk di tempat nya. Napas Virda terhengah-hengah menahan emosi yang bergejolak di hati. Kini Ivan berbalik mengancam nya.
__ADS_1
"Kurang ajar. Berani-berani nya dia mengancam ku seperti ini. Tapi bagaimana jika dia berhasil mencari tahu siapa ayah dari anak ini? Bisa-bisa aku semakin di benci oleh Ivan. Dan pasti nya aku akan kehilangan nya" Batin Virda.
"Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus bertindak. Aku nggak boleh ketinggalan satu langkah pun dari Ivan. Aku harus selangkah lebih maju darinya. Tunggu saja Ivan, tunggu pembalasanku" Ujar Virda menggenggam jari jemari nya.
***
"Hallo, bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Tanya Ivan kepada seseorang di seberang sana.
"Maaf bos saat ini kami beru mendapatkan informasi alamat tempat tinggal nya Virda, dan tempat nya bekerja dulu pak Kami akan menyelusuri dan menyelidiki nya lebih lanjut" Ujar orang suruhan Ivan.
"Bagus, aku harap kalian bisa bekerja dengan cepat dan teliti. Karena aku sudah muak dengan Virda yang selalu menganggu dan mengusik ketenangan ku dan juga Diya" Ucap nya lagi.
"Baik pak, kami akan berusaha sebisa kami"
"Bagus" Ivan menutup ponsel nya.
"Telfon dari siapa?" Tanya Diya muncul dari arah pintu yang langsung mengarah balkon kamar nya.
"Dari karyawan kantor. Ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani" Jawab Ivan berbohong.
"Oh gitu" Diya mengangguk dan duduk di kursi yang berada di balkon itu.
"Sayang, ada berita yang gembira untuk kita" Ucap Ivan.
"Apa?"
"Aku sudah menghubungi teman ku yang bekerja di kapal pesiar. Yah memang tidak kapal pesiar nya tidak semewah dan sebesar di kapal titanic sih. Tapi bisa lah untuk menampung ratusan orang di dalam nya."
"Aku sudah memboking untuk kita liburan bulan madu di sana sesuai dengan keinginan mu. Berlayar di laut lepas" Ujar Ivan lagi.
"Dan kita akan berangkat ke sana minggu depan" Tambah nya lagi.
"Beneran Van?" Diya tampak senang.
"Iya bener lah. Masa bohong" Ujar nya lagi.
"Untuk saat ini, kita hanya berlayar di laut indonesia dulu ya. Lain kali jika aku sudah benar-benar bisa liburan sepenuhnya dan tidak ada pekerjaan menumpuk seperti sekarang, aku janji. Aku akan membawa mu berlayar di luar negeri" Ujar Ivan lagi.
"Kamu lihat saja sekarang, baru juga menikah semalam, sudah ada aja kerjaan yang menunggu di kantor. Ini pun aku hanya mempunyai waktu cuma tiga hati untuk menikmati masa bulan madu kita" Jelas Ivan.
"Makasih ya sayang. Makasih sudah mengerti tugas ku"
"Iya sama-sama sayang. Kamu kan bekerja sesibuk ini untuk kita juga sayang. Untuk keluarga kita juga" Ucap Diya.
Ivan tersenyum senang mendengar nya. Ia menarik kepala istrinya dan di benamkan di dada bidang nya.
***
"Pak bos? Ngapain dia menghubungi ku lagi" Ujar Virda saat ponsel nya berdering.
"Hallo" Jawab nya.
"Vir, kamu di mana?"
"Aku di indonesia. Kenapa ya? Bukan kah urusan kita sudah selesai?"
"Iya memang urusan pekerjaan kita sudah selesai. Tapi ada satu urusan yang masih belum selesai. Aku merindui kamu Vir Aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Layanan yang kamu berikan kepadaku membuat aku ketagihan. Setiap malam aku selalu membayangkan lekuk tubuh mu yang indah itu" Ujar orang yang menelepon nya dari seberang. Yang tak lain adalah bos Virda terdahulu yang terkenal dengan hidung belang nya.
"Pak, saya sudah melakukan itu sesuai dengan keinginan bapak. Sebagai pertanda bahwa saya telah melepaskan diri dari bapak.. Jadi saya harap bapak jangan pernah menganggu hidup saya lagi" Ujar Virda emosi.
"Vir, bagaimana mungkin aku tidak menganggu mu. Aku selalu di hantui oleh diri mu setiap malam nya. Aku rindu dengan kamu Vir"
"Sudah ya pak, saya mohon jangan ganggu hidup saya lagi" Ujar Virda menutup ponsel nya.
"Hallo,. Hallo, Virda" Teriak bos nya tadi.
"Iss... Kurang ajar kamu Vir. Kamu lihat saja aku akan mencari mu kemana pun kamu pergi. Bahkan sampai ke lubang cacing pun kamu tetap ku kejar. Mana bisa aku melepaskan sentuhan kehangatan yang kamu berikan kepada ku waktu itu. Aku sangat ketagihan dengan sentuhan-sentuhan itu" Ucap bos itu lagi.
"Aduh, ni orang tua ngapain juga masih menghubungi ku. Pakai bilang nya rindu pula lagi. Enak aja dia meminta ku untuk melayani nya. Kemaren aku terpaksa melakukan itu hanya ingin terlepas dari perusahaan nya. Bukan berarti aku dengan senang hati melakukan itu. Dasar tua bangka sudah bau tanah masih saja kegatelan" Ujar Virda geram.
"Belum lagi masalah ku dengan Ivan yang belum selesai. Masa sekarang datang lagi masalah baru" Ucap nya lagi.
***
"Assalamuakaikum" Ucap Ivan dan Diya saat mereka telah sampai di rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" Jawan Mirna.
"Eh sudah pulang nak. Ayo masuk"
Yuli tersenyum menggoda kepada Diya. Alis nya tampak turun naik.
Diya membalas pandangan itu dengan tatapan sinis nya.
Namun orang yang di tatap tampak cuek saja.
"Diy, sini dulu" Ujar Yuli menarik Diya ke luar teras.
"Apaan sih Yul. Aku capek mau istirahat" Ujar Diya.
"Capek kenapa? Bergadang ya tadi malam?" Tanya Yuli menyelidiki.
"Bergadang gimana sih Yul. Udah deh jangan macam-macam tanya nya. Aku masuk dulu ya"
"Tunggu dulu Diy" Yuli kembali menarik tangan Diya.
"Apa lagi sih Yul"
"Ayo lah Diy, cerita sama aku. Tadi malam bagaimana? Sukses?"
"Yuli, udah deh jangan bahas itu"
"Aku kan cuma pengen tahu aja Diy"
"Iya, tapi yang kamu pengen tahu itu tidak seharus nya kamu tahu" Ujar Diya.
"Udah ya jangan kepo seperti itu" Diya meninggalkan Yuli.
"Diy, Diya... Ayo dong Diy, cerita sama aku" Teriak Yuli. Namun tidak di pedulikan oleh Diya.
"Diya, tega banget sih sama aku. Masa gak mau berbagi pengalaman nya sama aku. Harus nya sebagai sahabat yang baik, berbagi pengalaman tentang begituan agar aku gak kaget nanti nya" Ujar Yuli.
***
Diya dan Mirna sibuk menyiapkan makan malam untuk semua penghuni yang ada di rumah itu.
"Yul, kamu mau kemana dandan rapi begitu?" Tanya Mirna.
"Mau keluar buk sama kekasih hati ku" Jawan Yuli.
"Mau ngajakin aku dinner kata nya" Tambah nya lagi dengan tersipu malu.
"Oh, jadi makan di luar nih ceritanya" Tanya Diya.
"Iya Diy, biasa lah orang sedang kasmaran" Jawab Yuli.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, Zaki sudah di depan kayak nya" Ujar Yuli.
"Iya, hati-hati ya Yul" Ujar Diya.
Yuli menyatukan jari telunjuk dan ibu jari nya membentuk huruf O sebagai ucapan Oke.
"Ivan mana Diy?" Tanya Mirna melihat menantunya belum. juga kelihatan.
"Ada di kamar buk, ada beberapa email yang harus ia periksa malam ini" Ujar Diya.
"Udah malam gini masih kerja juga?" Tanya Mirna.
"Iya buk, minggu depan kami akan pergi bulan madu di kapal pesiar selama tiga hari. Jadi, Ivan harus selesai kan pekerjaan beberapa proyek nya yang ada masalah itu buk. Semoga saja sebelum kami pergi besok, semua perkerjaan ini selesai sehingga saat liburan nanti Ivan tidak memikirkan pekerjaan nya lagi" Jelas Diya.
"Oh gitu ya Diy, Tapi kemana tadi? Kapal pesiar?" Ulang Mirna.
"Iya buk kapal pesiar"
"Kapal yang besar-besar itu ya nak? Seperti di film-film orang barat itu. Apa tu nama film nya yang tenggelam itu lo?" Tanya Mirna mencoba mengigat nama film yang ia maksud.
"Titanic maksud nya buk"
"Nah itu, itu maksud ibu"
"Kurang lebih seperti itu lah buk. Hanya saja ini lebih kecil lagi buk. Ivan bilang hanya bisa menampung ratusan orang saja" Jelas Diya.
__ADS_1