Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Pertemuan pertama dengan Diya


__ADS_3

Dilihatnya seorang gadis berjongkok-jongkok mengambil sesuatu dibawah kursi bus tersebut. Ia tampak kesulitan. Ivan tidak sampai hati.


"Boleh saya bantu?" Tegurnya membuat gadis itu kaget dan tidak pelak lagi saat gadis itu ingin melihat siapa yang menegurnya tadi, kepalanya terjedot kursi.


"Aduh..." Kata gadis itu meringis. Ivan kaget.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya nya mendekati gadis itu.


"Iya...Gak apa-apa" Jawab gadis itu menggosok kepalanya yang sakit. Angin sepoi-sepoi meniup masuk dari jendela bus yang terbuka. Diya menyibak rambutnya yang menutupi wajahnya hingga tidak menghalangi pandanganya terhadap orang yang menegurnya tadi.


Ivan terkagum memandang gadis itu.


"Cantik sekali" Katanya dalam hati.


"Anda siapa?" Tanya Diya sedikit heran melihat pemuda itu terbengong.


"Oh...Sorry saya Ivan...Irvan Saputra panggil Ivan saja. Saya ketua OSIS disekolah ini" Kata pemuda itu sadar.


"Oh...Saya Diya, Diya Nuraniza" Balas Diya tersenyum. Mereka berjabat tangan.


"Senyuman nya sangat menawan membuat jantungku berdegup kencang. Ah...Ada apakah gerangan?" Fikir pemuda itu gelisah.


"Sepertinya kamu mau mengambil sesuatu di bawah kursi" Tanya Ivan basa-basi untuk menenangkan gejolak hatinya yang tak karuan.

__ADS_1


"Iya...Jam tanganku"


"Biar aku bantu mengambilkan nya ya"


"Terima kasih" Ucap Diya ketika Ivan menyerahkan jam tangan itu kepadanya.


"Kamu kelas berapa?" Tanya Ivan lagi setelah mereka lama terdiam.


"Kelas satu" Jawab Diya memasang kembali jam tangannya.


"Oh..." Ivan mengangguk.


"Yuk kita turun" Ajak Diya melihat pemuda itu masih terbengong dan menghalangi jalannya.


"Biar aku bantu membawa tasnya"


"Gak usah...Gak apa-apa. Aku bisa kok" Elak Diya keberatan.


"Ayo lah Diy....Aku ikhlas kok" Ujar pemuda itu sedikit memaksa. Tapi Diya tampak keberatan Ivan sudah meraih tas dari tangannya.


"Sebelumnya terima kasih ya karena terlalu merepotkan kamu"


"Ah...Gak apa-apa kok. Malahan aku senang bisa membantu orang. Apa lagi cewek secantik kamu"

__ADS_1


Diya menghentikan langkahnya mendengar pemuda itu berkata seperti itu. Ivan sadar.


"Eh...Maaf jika aku berkata kurang sopan" Katanya tersenyum kecut. Diya membalas dengan senyuman kecut juga.


*****


Sesampainya di luar bus.


"Terima kasih atas bantuan nya" Ujar Diya meraih tasnya dari tangan Ivan.


"Eh...Iya sama-sama" Jawab pemuda itu menyerahkan tas Diya dengan senyuman yang khas menggoda siapa saja yang memandangnya. Tapi, ini Diya. Diya gadis manis yang setia. Setampan apa pun wajahnya, semanis apa senyumannya gak bakalan akan tergoda. Karena Diya telah jatuh cinta dengan seseorang yang telah menyentuh hati dan perasaannya.


"Permisi...." Gadis itu berlalu dihadapan pemuda yang masih menancapkan senyuman yang mengancam. Tapi pemuda itu sadar.


"Diya..." Panggilnya.


Diya menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Jika butuh sesuatu, kamu cari saja aku. Aku siap membantu mu" Katanya penuh harap. Diya tidak menjawab, dia hanya menjawab dengan anggukan dan sedikit senyum tersungging di bibirnya itu sudah cukup untuk membalas kata-kata pemuda itu tadi.


"Yes....Yes..." Sorak pemuda itu kegirangan seperti Syah Rukh Khan dalam Film Bablo Dan Manu saja tingkahnya. Diya mendengarnya lalu menoleh kebelakang. Gadis itu mengerut keningnya.


"Kamu kenapa?" Tegur Diya heran. Ivan sadar cepat-cepat menghentikan tingkahnya.

__ADS_1


"Gak...Gak ada apa-apa" Jawabnya tersipu malu dan salah tingkah. Diya tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya serta berlalu dari situ.


__ADS_2