
Virda masih terbaring tidak sadar kan diri.
"Permisi pak. Saya akan periksa pasien nya dulu ya" Ujar seorang dokter yang datang bersama dua orang perawatnya.
"Baik silah kan" Jawab Ivan mempersilahkan dokter tadi untuk memeriksa Virda.
"Bagaimana keadaan nya dok? " Tanya Ivan tampak khawatir. Khawatir bukan berarti cinta ya mak. Ivan mencemaskan Virda karena sedikit banyak nya Ivan telah menganggap Virda sebagai adik nya sendiri. Wajar saja bukan seorang abang mencemaskan keadaan adik nya. Walaupun adik nya itu nyeselin. Kurang lebih tujuh tujuh mereka menjalin persahabatan. Tidak mungkin semudah itu rasa persahabatan ini hilang.
"Dia baik-baik saja. Operasinya berjalan dengan lancar. Sebentar lagi dia pasti akan sadar kok" Jelas dokter tadi.
"Oh ya pak, hasil tes DNA nya sudah keluar dan sudah bisa di ambil ya pak" Ujar Dokter itu lagi.
"Baik, terima kasih ya dok" Jawab Ivan.
Dokter tadi pergi meninggalkan Ivan dan Virda di dalam ruangan itu.
"Vir, hasil tes nya sudah keluar. Jika kamu membohongi ku, aku memang tidak akan pernah memperdulikan kamu lagi. Aku benar-benar menganggap mu sebagai musuh" Ujar Ivan kepada Virda yang masih pingsan.
Ivan keluar dari ruangan itu untuk mengambil hasil tes DNA yang telah di periksa sebelum nya.
***
"Ini pak hasil tes nya" Ujar salah satu perawat yang berjaga di sana.
"Terima kasih" Ivan mengambil amplop yang berisikan kertas hasil tes DNA nya.
Deg, deg, deg....
Jantung Ivan tidak karuan.
"Aduh, kenapa aku jadi gugup gini ya?" Batin Ivan.
Dengan perlahan namun pasti Ivan membuka hasil tes DNA nya.
Betapa kaget nya Ivan seakan tidak percaya atas apa yang ia lihat.
Padahal ia yakin betul bahwa diri nya memang tidak melakukan hal sekeji itu kepada Virda.
Tapi mengapa hasil tes DNA nya menunjukan 99℅ positif. Artinya bayi yang ada di dalam kandungan Virda adalah mutlak anak nya.
Ivan terduduk lemas di lantai rumah sakit tempat nya masih berdiri.
"Tidak mungkin, ini semua tidak mungkin. Pasti ada yang salah" Batin Ivan.
"Maaf mbak, bisa di lakukan tes ulang, seperti nya hasil dari tes ini salah mbak" Ujar Ivan kepada perawat yang salah tadi.
"Maaf pak, itu susah mutlak. Hasil yang keluar adalah hasil yang sebenarnya" Ujar perawat itu lagi.
"Gak mungkin, aku tidak yakin aku tidak pernah melakukan apa pun kepada Virda. Aku tidak mungkin merusak sahabat ku sendiri" Batin Ivan bergejolak.
"Bagaimana mungkin hasil nya bisa positif seperti ini?" Tambah nya lagi.
Ivan melangkah dengan lesu menuju kamar tempat dimana Virda terbaring tak berdaya.
***
"Ya Tuhan, apa benar aku telah merusak sahabatku sendiri? Jika itu benar, betapa kejam nya aku tidak mengakui bahwa anak ini adalah anak ku. Tapi bagaimana mungkin. Aku hanya tertidur aku bukan mabuk" Batin Ivan mukai goyah. Ia kini mulai ragu atas pendirian nya bahwa ia tidak pernah melakukan itu kepada Virda.
Tapi jika ia tidak melakukan itu, bagaimana hasil tes DNA itu menyatakan bahwa hasilnya adalah positif 99% menyatakan bahwa Ivan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Virda.
Ivan benar-benar pusing dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Dia bingung sangat-sangat bingung harus bagaimana. Di hatinya sangat yakin bahwa ia tidak melakukan itu kepada Virda. Namun hasil tes DNA itu membuktikan bahwa ia pernah melakukan itu kepada Virda sehingga membuat Virda hamil anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika Diya tahu? Diya pasti akan pergi meninggalkan aku. Tidak, aku tidak mau Diya pergi meninggalkan ku. Aku tidak mau kehilangan Diya. Aku sangat mencintai Diya. Ini pasti ada yang salah. Aku harus menyelidiki ini semua. Pasti ada yang tidak beres dengan semua ini" Ujar Ivan dalam hati dan masih menatap gadis blasteran yang belum juga sadarkan diri.
Perlahan Virda sadar dari pingsannya. Ia berusaha membuka matanya yang sedikit terasa berat. Iya memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing akibat obat bius saat ia melakukan operasi tadi.
"Sss.... Aduh... " Virda meringis.
"Vir, kamu sudah sadar?" Tanya Ivan dengan suara datarnya.
__ADS_1
"Van, kamu masih di sini?"
"Bagaimana hasil tes nya?" tanya Virda lagi.
"Hasil sudah keluar kok" Ivan kembali bersikap dingin kepada Virda.
Ivan masih bersikap dingin dan masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Memang hasil dari tes DNA itu menunjukkan bahwa Ivan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Virda. Namun tetap saja hatinya masih ragu untuk mengakui bahwa itu adalah memang anaknya.
"Apa hasilnya Van?" Tanya Virda penasaran.
"Kamu lihat aja sendiri" Ivan menyerahkan amplop yang berisi hasil tes DNA itu kepada Virda.
Virda tersenyum puas melihat hasil tes DNA itu sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Sekarang, sudah terbukti kan fan bawa anak ini memang anak kamu dan kamu masih mau menyangkalnya?" Virda mulai berakting seolah-olah ia telah menjadi korban atas keegoisannya Ivan yang tidak mengakui anaknya sendiri.
"Puas kamu Van, puas kamu sudah meragukan anak ini dan puas juga kamu sudah menuduh aku telah berbohong kepada kamu. Aku tidak mungkin membohongi kamu Van kita memang pernah melakukan itu. Dan hasilnya kamu lihat, kamu lihat hasilnya ini di sini menyatakan kamu adalah ayah biologis dari anak yang aku kandung" Virda menangis mengeluarkan air mata buayanya melihatkan hasil tes DNA itu dihadapan Ivan.
Ivan hanya terdiam tidak bisa berkomentar apa pun. Hati nya yakin bahwa diri nya benar. Namun bukti menunjukan bahwa diri nya salah.
"Van, sekarang semua sudah jelas. Aku tidak berbohong kepada mu. Jadi aku minta kamu harus menikahi ku dan bertanggung jawab atas kehamilan ku" Ujar Virda menuntut pertanggung jawaban dari Ivan.
Ivan masih sibuk dengan pikirannya yang tak karuan.
Harus bagaimana dia saat ini harus bagaimana ia harus menjelaskan kepada Diya jika Virda sedang mengandung anaknya.
Meskipun ia menyangkal atas kehamilan Virda. Namun tetap saja bukti telah menunjukkan kebenaran nya.
"Van, jawab dong jangan diam saja" Ujar Virda meminta kejelasan.
"Aku tidak mungkin menikahi mu"
"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang akan bertanggung jawab jika semua nya sudah jelas. Dan ini, bukti ini sudah jelas ada nya Van"
"Iya aku tahu, tapi aku akan menikah dengan Diya secara hukum dalam waktu beberapa hari ke depan. Tidak mungkin aku menikahi mu" Seru Ivan.
"Jadi kamu lebih mementingkan Diya dari anak mu sendiri? Baik, jika itu mau mu. Aku akan memberi tahu ke samua orang termasuk Diya dan keluarga mu bahwa aku sedang mengandung anak mu. Kamu tahu, Diya pasti akan kecewa setelah tahu semua ini. Dan aku pastikan Diya akan pergi meninggalkan mu" Kata-kata ancaman keluar lagi dari mulut nya Virda.
"Jadi bagaimana? Apa kamu masih menolak nya?" Tanya Virda.
"Baik, baik aku akan menikahi mu. Tapi beri aku waktu"
"Waktu? Waktu apa maksud mu?"
"Aku akan menikahi Diya dalam. waktu beberapa hari ke depan. Jadi aku mohon sama kamu biarkan aku menikah Diya dulu. Dan beri aku sedikit waktu untuk bersama Diya ya sekitar sebulan atau dua bulan setelah itu aku akan menikahi kamu agar anak yang ada di dalam kandungan kamu itu mempunyai ayah" Ivan bernegosiasi.
"Van kamu minta waktu lagi dari aku? Kamu tahu kan semakin hari perutku semakin membesar. Aku tidak mau perutku semakin membesar dan aku masih tidak mempunyai suami apa kata orang-orang nantinya mereka memandang ku sebelah mata" Mulai meminta simpati kepada Ivan.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kamu harus menikahi ku sekarang juga" Ujar Virda lagi.
"Jangan memaksa seperti ini dong Vir. Aku akan bertanggung jawab.. Tapi tolong beri aku waktu. Aku sudah mempersiapkan pernikahan bersama Diya. Jadi aku mohon tolong mengerti" Ujar Ivan.
"Jika kamu masih bersikeras untuk memintaku menikahimu sekarang, Aku akan pastikan aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama kamu. Terserah kamu mau melakukan apapun mau kamu publikasikan hasil tes DNA itu atau kamu memberitahu kepada Diya atau keluargaku tentang hasil tes DNA itu. Terserah, tapi satu yang pasti kamu sama sekali tidak akan pernah menjadi istriku. Dan aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang menimpa kamu. Jadi aku mohon kepada kamu berikan aku sedikit waktu untuk bersama Diya setelah itu aku akan mendapati janjiku kepada kamu" Kini giliran Ivan yang mengancam.
"Aduh gawat, jika Ivan sama sekali tidak mau bertanggung jawab. Artinya aku tidak akan pernah memiliki Ivan selama nya dong. Jadi pengorbanan ku sia-sia" Batin Virda.
Gadis blasteran itu tampak berpikir keras
"Lebih baik, aku mengalah saja untuk saat ini" Batin nya.
"Baik lah Van. Aku setuju akan memberimu waktu semalam satu bulan saja untuk bersama Diya. Setelah itu kamu harus menceraikan Diya dan menikah dengan ku" Ujar Virda mengalah.
"Bagus, akhirnya dia mau memberiku waktu untuk bersama Diya. Dengan waktu satu bulan ini, aku akan gunakan sebaik nya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi" Batin Ivan.
"Aku masih tidak percaya bahwa Virda mengandung anak ku" Tambah nya lagi.
"Semua sudah selesai sekarang, jadi aku mau pulang dulu" Ujar Ivan.
__ADS_1
"Van, aku masih terbaring di sini masak kamu tinggalin aku begitu aja sih"
"Aku masih ada pekerjaan. Jika kamu butuh apa-apa panggil saja suster" Ujar Ivan.
Ivan berlalu meninggalkan Virda yang masih terbaring lemas.
"Hallo" Jawab Virda saat ponsel nya berdering.
"Buk, semua sudah kerjakan sesuai keinginan ibu" Kata orang seberang yang menghubungi Virda tadi.
"Bagus, kamu memang bisa di andal kan. Nanti tolong kamu kirimkan nomor rekening ku agar aku bisa mentransfer uang nya ke kamu" Ujar nya lagi.
"Baik buk" Ujar Orang yang menelepon tadi yang tak lain adalah seorang petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit itu dan telah di bayar oleh Virda untuk menipu lasi hasil Tes DNA. nya tadi.
Virda menutup ponsel nya.
"Untung aku bergerak cepat. Aku sudah meminta petugas itu untuk menipu lasi hasil tes DNA itu. Aku yakin bahwa Ivan pasti akan meminta melakukan tes DNA itu segera. Dari pada aku kalah, Aku sudah mempersiapkan hal ini tempo hari sehingga ketika Ivan meminta untuk melakukan tes DNA aku sudah siapkan semuanya dan lihatlah hasilnya aku telah menang satu langkah dari Ivan. Dan Ivan secepatnya akan menjadi milikku seperti dulu" Ujar Virda tersenyum dengan penuh kepuasan.
"Nggak apa-apa aku sakit seperti ini. Yang penting aku telah menang dan Diya akan kehilangan Ivan. anak yang ada di dalam kandunganku ini akan memiliki ayah dan tentu saja pengorbananku selama ini tidak sia-sia" Tambah nya lagi.
***
"Van, sudah pulang?" Tegur Diya. Waktu baru menunjukan pukul empat sore. Tidak biasanya Ivan pulang secepat ini. Pikirnya.
Biasanya paling cepat pulang nya jam lima sore.
"Iya sayang, Aku kangen sama kamu" Ivan memberi alasan.
Diya tersenyum mendengar godaan dari suami nya.
"Tiap hari juga ketemu. Masa kangen lagi sih"
"Nama nya juga sedang di mabuk asmara. Tentu saja setiap detik kangen sama istri ku ini. Cantik, pinter masak, baik hati" Puji Ivan lagi.
"Menghina atau menghibur ni?"
"Gak menghina, gak menghibur. Ini lah faktanya" Ujar Ivan meyakini.
"Iya deh iya. Ya sudah kamu bersih-bersih dulu, aku buatin teh hangat ya untuk kamu"
"Ini ni, yang buat aku selalu kangen sama kamu. Aku di sambut hangat saat pulang kerja. Jadi lelah seharian di kantor jadi hilang melihat senyuman ini" Kata Ivan tersenyum. menggoda.
"Bisa saja sih kamu Van. Sudah ayo bersih-bersih"
"Baik bos"
Ivan memberhentikan langkah nya saat melihat Diya berjalan menuju dapur.
"Diy, aku takut kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Bagaimana mungkin Virda mengandung anak ku. Kau harus bagaimana? " Batin Ivan kembali bimbang.
"Lebih baik aku menyuruh orang yang aku percaya untuk menyelidiki Virda" Akhirnya Ivan bisa berpikir jernih.
"Yah, baru aku ingat aku kenal dengan salah satu orang besar di rumah sakit tadi. Aku bisa meminta bantuan nya untuk melakukan tes DNA ulang"
Ivan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
***
"Ini teh hangat nya" Ujar Diya menyerahkan segelas teh hangat yang ia buat kepada Ivan yang sibuk dengan ponsel nya. Laki-laki itu tampak duduk di tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Dari raut wajah nya dapat Diya lihat bahwa suami nya itu sedang bertukar informasi penting melalui pesan nya.
"Serius amat Van" Tegur Diya.
"Iya, ini ada beberapa proyek yang dalam masalah" Ujar Ivan berbohong.
"Masalah?"
"Iya sayang, ada beberapa klien yang komplen dengan" Tambah nya lagi
Diya hanya mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya sayang, terima kasih ya teh hangat nya" Ujar Ivan meletakan ponsel nya dan menyedu teh yang du bawa istrinya tadi.