Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Masuk tampa izin


__ADS_3

"Ivan.....Kamu sudah siap?" Teriak Virda dari luar kamar Ivan.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Virda mengerutkan kening nya merasa heran akan hal itu.


"Van?" Lagi-lagi ia memanggil dan mengetuk pintu kamar. Namun, masih tidak ada jawaban dari dalam.


"Ivan kemana ya? Kenapa dia tidak menjawab? Apa Ivan ketiduran ya?" Satu per satu pertanyaan mulai berdatangan dalam otak nya.


"Van" Teriak Virda.


"Van, kamu sedang apa sih? Kamu di dalam gak ni? Aku masuk ya!" Teriak Virda dari luar.


Virda membuka pintu kamar Ivan gadis indobel itu sedikit merasa heran karena di kamar Ivan tidak ada si pemilik kamar.


"Kemana sih pergi nya tu orang?" Batinnya.


"Van?" Panggil nya.


"Ivan. Kamu di mana?" Pandangan nya menyelusuri di setiap jengkal ruangan kamar Ivan.


"Hmm,,,, Bagus juga kamar nya. rapi, bersih. Yah kamar Ivan tampak sangat rapi dan bersih. Kamar yang luas dengan gaya amerika style. Dinding yang berdomisi warna putih dan coklat begitu pun dengan tempat tidur nya. Di hadapan tempat tidur nya terdapat sebuah lemari pakaian besar berwarna putih dan di pinggir-pinggir lemari tersebut berwarna putih keemasan. terdapat karpet bulu-bulu yang lembut juga di bawah di sana.


Virda berputar pelan mengamati setiap isi ruangan kamar lelaki impian nya.


Ketika berbalik, tiba-tiba Virda di buat kaget


"Aaaa" Virda menjerit histeris mendapati Ivan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk dan bertelanjang dada.


Tubuh kekar berotot dan badan sixpack sungguh membuat Virda terpesona. Virda membuka lebar bola matanya melihat pemandangan indah itu.


"Virda, kamu ngapain sih di sini?" Ucap Ivan malu berusaha menyembunyikan tubuh yang kekar di balik pintu kamar mandi.


"Berbalik gak??" Ucap Ivan.


Virda tersenyum.


"Ngapain sih kamu yang malu Van? Santai aja lagi" Ucap Virda Membelakangi Ivan.


"Ya malu lah tidak sepantasnya kamu masuk ke kamar laki-laki tanpa seizin ku" Ucap Ivan dengan nada marah tertahan. Ivan sangat marah Virda semakin seenak nya bertindak.


Dia sangat malu mendapati Virda telah masuk di kamarnya tampa izin. Apa lagi Virda merasa biasa saja saat dirinya melihat Ivan bertelanjang dada seperti itu. Mungkin gadis indobel itu sudah terbiasa dengan melihat laki-laki seperti itu.


Lain dengan Ivan. Baru kali ini tubuh nya yang setengah telanjang di lihat oleh seorang gadis. Ia merasa sangat malu dan marah. Mungkin beda saat hal itu di lihat oleh Diya. Gadis yang ia sukai mungkin ia akan bersikap lain mungkin akan biasa saja atau bersikap santai saja.


"Kamu ngapai sih masuk ke kamar ku" Ulang Ivan.


"Aku sudah memanggil mu berkali-kali dari luar. Tapi kamu tidak menjawab ku. Aku pikir kamu tidur dan melupakan janji kita malam ini" Ucap Virda membelakangi Ivan.


"Lihat aku sudah siap ini" Ucap nya berbalik.


"Eitt...ded ded ded ded....jangan berbalik" Ivan masih sibuk menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kamar mandi. Hanya kepala nya saja yang keluar.


Virda kelihatan memang sudah siap untuk melewati malam-malam nya bersama Ivan. Dirinya berdandan cantik dan anggun malam ini. Dengan rok mini selutut berwarna putih dengan Belahan satu senti di samping nya dan sweater berwarna peach membaluti tubuh nya yang ramping itu. Rambut yang panjang nya sebahu di biarkan terurai. Make up natural menghiasai wajah nya yang oval itu.


Memang sangat cantik si Virda pasti setiap laki-laki melihat nya akan sangat terpesona. Begitu pun dengan Ivan. Memang laki-laki itu mengagumi kecantikan gadis yang di anggap sebagai adik angkatnya itu. Namun mengagumi hanya sebatas itu tidak lebih. Hati nya tetap di miliki oleh satu orang yaitu Diya.


"Aku lagi mandi Vir. Maka nya aku gak dengar kamu panggil aku" Ivan kesal.


"Udah ah keluar kamu. Aku mau memakai pakaian ku dulu" Usir Ivan lagi.


"Ya pakai aja, aku di sini gak ganggu kamu kok. Aku cuma diam aja di tempat gak ganggu kok" Ucap Virda santai.


"Kamu apa-apaan sih. Kamu memang gak ganggu aku, tapi aku yang merasa terganggu dengan kehadiran mu. Baru kali ini ada gadis yang masuk seenaknya di kamar ku. Kamu dulu gak gini lo kelakuan nya? Kenapa kamu bersikap seenak nya" Ivan menahan amarah nya.


"Aku masih sama seperti dulu kok Van" Virda malah duduk di pinggir kasur Ivan.


"Keluar Virda! Nanti jika mama sama papa lihat mereka akan pikir kita berbuat hal yang bukan-bukan"


"Ya, bagus dong jika mereka berpikir begitu" Bantah Virda.


Ivan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembusnya kuat-kuat meredakan hati yang sangat panas saat ini akibat ulah Virda gadis indobel yang sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat itu.


"Vir, jika kamu masih di kamar ku, dan masih tidak mau keluar, aku pastikan malam ini kita batal jalan nya" Ancam Ivan.


"Kok gitu sih Van?" Kembali Ivan berbalik menatap Ivan.


"Sudah ku bilang jangan berbalik" Bentak Ivan tertahan. Virda kembali menatap ke depan.


"Makanya kamu keluar" Ucap Ivan lagi.


"Oke, aku akan keluar. Kamu cepat siap-siap ya. Aku gak mau lama menunggu mu. Nanti make up ku luntur lagi" Virda keluar dari kamar Ivan.


Virda menutup pintu kamarnya Ivan. Saat berbalik Virda kaget mendapati Ajeng sudah berada di belakang nya.


"Lo Vir, kenapa ngapain di kamar Ivan?" Tanya Ajeng heran.


"Eh tante. Ngagetin aja" Virda cengengesan.


"Ngapai kamu masuk ke kamar Ivan?" Kembali Ajeng bertanya.


"Itu tante, anu, tadi aku sudah panggil-panggil Ivan di luar kamar. Terus aku juga udah ngetuk pintu kamar dia berkali-kali. Tapi dia nya gak ada respon dari dalam. Aku pikir dia tidur dan lupa dengan janji nya malam ini kepada mu untuk mengajak ku jalan-jalan. Ya sudah aku masuk saja. Eh tahu-tahunya dia sedang mandi" Virda menggaruk kepala nya yang tidak gatal salah tingkah.


"Oh gitu, tapi lain kali kamu jangan masuk sembarangan ya di kamar laki-laki. Gak sopan seperti itu" Ajeng menasehati.


"Iya tante, maaf ya" Virda merasa bersalah.


"Aku permisi dulu ya tante, aku mau tunggu Ivan di bawah aja" Ucap nya berlalu dari hadapan Ajeng.


Ajeng hanya tersenyum kecut melihat gadis itu.


"Anak itu sekarang benar-benar sudah berubah ya. Dulu sangat sopan dan sungkan. Beberapa kali juga pernah menginap di sini dan tidak pernah dia menyelonong masuk ke kamar Ivan. Kenapa kali ini sikap nya berbeda. Apa karena pengaruh di tempat tinggal dan kerja nya yang sekarang ya?" Ajeng menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan gadis itu.


Melihat Virda sudah keluar dari kamar nya, Ivan pun bergegas mengambil pakaian nya di lemari.


"Apa-apaan sih Virda. Keterlaluan, ngapain juga dia masuk seenak nya" Ucap nya dalam hati.


"Semakin ke sini semakin menjadi-jadi tuh anak" Ucapnya lagi.


"Untung saja ia hanya semalam di sini. Jika masih lama, bisa-bisa aku stres sendiri melihat perlakuan nya" Ivan menggeleng kepalanya dan melanjutkan kegiatan nya memakai pakaian nya.


Pakaian nya malam ini terpilih yaitu baju sweater berwarna hitam panjang dan celana jeans berwarna biru


melekat di kakinya. sepatu sneaker berwarna hitam putih di kakinya


"Van, kamu di dalam?" Tanya Ajeng mengetuk pintu kamar putra nya.


"Iya ma? Masuk aja" Jawab Ivan sembari berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya.

__ADS_1


Ajeng masuk dan menutup kembali pintu kamar putranya.


"Van, Virda dari kamar mu?" Tanya Ajeng.


Deggg....


Ivan kaget karena ketahuan bahwa mamanya mengetahui Virda yang baru saja keluar dari kamar nya. Ia takut mamanya akan berpikir bal yang bukan-bukan tentang mereka.


Ivan berbalik menoleh ke arah mamanya.


"Mama tadi lihat dia keluar dari kamar mu" Ucap nya lagi.


"Iya ma, hanya memastikan aku masih mengingat janji ku dan tidak melupakan hal itu" Ucap Ivan.


"Iya mama tahu. Dia juga ngomong gitu tadi sama mama" Ajeng mendekati anak nya.


"Van, semakin ke sini, mama perhatikan si Virda semakin keterlaluan ya. Mama gak suka sama dia sekarang" Ucap Ajeng dengan nada khawatir


"Iya ma, aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga tidak menyangka sikap nya berubah seperti ini" Ivan tampak sedikit simpati dengan perubahan sahabatnya.


"Apa hal itu di karenakan tempat tinggalnya yang sekarang ya? Atau dengan pergaulan nya yang sekarang yang membuat dirinya seperti ini?" Ajeng tampak berpikir.


"Gak tahu juga sih ma. Sudah lah ma jangan di pikirkan lagi. Lagian Virda besok juga akan pulang" Ucap Ivan tidak mau larut dalam pikiran yang tidak seharus nya ia pikirkan.


"Iya ya Van. Kamu benar besok juga dia akan pulang" Ajeng tersenyum lembut kepada anak semata wajang nya.


"Ya sudah ma, aku pergi dulu ya. Cepat pergi, cepat juga pulang nya. Terlanjur janji sama Virda." Ucap Ivan merasa terpaksa jalan bersama gadis indobel itu.


Baru saja Ivan beberapa langkah berlalu dari hadapan mamanya.


"Van" Tegur Ajeng menghentikan langkah anak nya.


Ivan menoleh.


"Jika tidak salah, ada seorang gadis yang berhasil mencuri hati anak mama ini, dan gadis itu juga sudah berhasil membuat anak mama satu-satunya merasa dunia ini milik berdua" Sindir Ajeng.


Ivan tersenyum mengerti dengan ucapan mamanya.


"Jadi mama sempat bertanya-tanya nih dan menunggu kapan ya kira-kira anak mama satu-satunya itu membawanya ke rumah untuk berkenalan dengan mama dan papanya?" Ajeng menyindir dengan menjelingkan matanya me arah anak lelakinya itu.


Ivan mendekati mamanya dan memegang kedua bahu mama tercinta nya.


"Aku juga mempunyai pikiran yang sama ma. Aku juga ingin membawa Diya ke rumah ini. Mengenalkan mama dan papa kepada nya. Aku hanya perlu mengatur waktu yang tepat untuk memperkenalkan Diya bersama kalian" Ucap Ivan penuh keyakinan.


"Oke, mama akan menunggu. Tapi gadisnya bukan Virda kan Van?" Tanya Ajeng memastikan.


Ivan tertawa terbahak mendengar mamanya bisa menebak bahwa gadis itu adalah Virda.


"Bukan ma, Virda hanya lah sahabat ku dan sudah ku anggap sebagai adik angkat ku. Perasaan di hati ku hanya itu untuk Virda tidak kurang dan tidak lebih" Yakin Ivan.


"Jadi siapa gadisnya?" Ajeng penasaran.


"Sekretaris ku ma" Ivan sedikit malu.


"Ha? Sekretaris mu? Namanya?"


"Diya" Ucap Ivan berbunga-bunga menyebut nama itu.


"Iya nama dia lah, gak mungkin mama tanya nama kamu. Gak lucu hah Van" Ajeng sedikit cemberut berpikir anak nya bercanda.


Ivan menepuk jidat nya.


Ajeng tertawa lepas kepada dirinya sendiri mendapati bahwa dia tidak connect dengan penjelasan nama dari gadis itu.


"Maaf Van. Mama gak tahu sama sekali. Mama pikir kamu tanya nama gadis itu. Ternyata nama nya adalah Diya" Ajeng masih tertawa.


"Nama nya unik ya Van. Baru kali ini mama dengar nama itu" Puji Ajeng.


"Iya ma, nama nya unik seunik orang nya" Ucap Ivan membayang kan wajah cantik gadis impian nya.


"Van, Lama banget sih. Udah siap belom?" Virda kembali mengetuk pintu kamar.


Ternyata gadis itu tidak sabar menunggu Ivan. Melhat Ivan tidak kunjung datang, dirinya memutuskan untuk pergi melihat dan memastikan Ivan sudah siap atau belum.


"Tuh ma, lihat gadis yang tidak sabaran itu datang lagi" Ucap Ivan.


"Iya ya Van. Sungguh sekarang gadis itu benar-benar tidak sabaran" Ucap Ajeng.


"Ya sudah ma, aku berangkat dulu ya" Ucap Ivan mencium kening mama nya.


"Iya hati-hati ya Van. Jangan pulang nya malam-malam"


***


"Sayang, ayo makan. Aku sudah masakin makanan kesukaan kamu" Sonia membuka pintu kamarnya melihat Ferdi yang duduk bersandar di pinggir kasur.


"Sebentar lagi. Aku masih belum lapar. Jika kamu lapar, kamu makan saja duluan" Ucap Ferdi tampa menatap ke istrinya. Matanya hanya tertuju pada televisi di depan nya. Yah di kamar nya terdapat televisi berukuran cukup besar di sana.


Sonia menghampiri Ferdi dan duduk di samping nya.


"Sayang, kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Kondisimu juga belum stabil sepenuhnya. Kamu kan masih tahap penyembuhan. Jadi kamu harus makan tepat waktu nya" Bujuk Sonia.


"Iya, nanti kalau sudah lapar aku pasti makan" Ferdi bersikap dingin.


Sonia menarik napasnya dan di hembusnya kuat-kuat sebagai memberi kesabaran yang berlipat-lipat ganda pada hati nya.


"Sayang, jangan begitu kamu harus makan. Aku gak mau kamu sakit. Ya sudah jika kamu tidak mau makan, aku juga tidak akan makan" Ucap Sonia pura-pura ngambek.


Ferdi melihat wajah cemberut istrinya. Menarik napasnya dalam-dalam melihat tingkah istrinya yang memaksa nya itu.


"Ya sudah ayo kita makan" Ferdi mengalah. Ia mengalah karena memikirkan kondisi Sonia yang tengah hamil yang membutuhkan asupan untuk calon bayi nya agar bayinya sehat.


Sonia tersenyum senang melihat Ferdi akhirnya mengalah.


Ferdi mematikan televisi turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar di ikuti Sonia.


"Papa" Tegur Junior yang dari tadi menunggunya turun untuk makan bersama.


"Hai jagoan papa" Ucap Ferdi mengecup pucuk kepala putra sulung nya.


"Papa lama sekali sih, aku kan lapar nungguin papa turun" Celoteh nya.


"Iya maaf ya sayang sudah membuatmu menunggu" Ucap Ferdi duduk di samping anaknya.


"Iya gak apa-apa kok pa" Junior tersenyum.


"Pa, aku boleh minta di suapin kan sama papa?"

__ADS_1


"Ya boleh dong sayang. Apa sih yang tidak untuk jagoan papa" Ucap Ferdi mencolek dagu anak nya.


"Asyikk..." Sorak Junior kegirangan.


"Sini piring nya yang" Ucap Sonia meminta piring Ferdi untuk mengambil nasi dan laok pauk.


Ferdi menyerahkan piring nya.


"Aaaa....ayo buka bulut mu sayang" ucap Ferdi kepada Junior.


Junior membuka lebar mulut mungilnya. dan sesuap nasi dari tangan sang papa mulus masuk di dalam mulut nya.


"Aaaa......Aku mau di suapin juga dong" Ucap Sonia duduk di samping suami nya dan membuka mulut nya.


Ferdi terlihat kikuk dan canggung melihat Sonia bersikap manja dengan nya.


Dengan terpaksa memikirkan kondisi Sonia yang tengah berbadan dua, mau tak mahu Ferdi pun menyuapi Sonia.


"Enak ya Junior. Makanan yang berasal dari tangan papa terasa lebih enak dan top kan sayang?" Puji Sonia.


"Iya ma, enak banget ma. Makasih ya pa udah mau suapin kita" Ucap Junior.


"Sama-sama" Ucap Ferdi.


***


"Diy, masak apa sih kamu? Bau nya sungguh menggugah selera" Ucap Yuli datang dari kamarnya menuju dapur mencium aroma yang sangat menggugah seleranya.


"Ini lagi masak ayam saos pedas manis" Ucap Diya.


"Hmm......dari aroma nya aja sudah enak ya. Semoga saja rasanya juga enak ya"


"Kamu ini meledek ku ya"


"Gak Diy, aku kan cuma berkomentar"


"Komentar mu seenak nya dan membuat ku tidak bersemangat untuk masak" Diya cemberut.


"Iya, iya maaf ya Diy. Aku cuma bercanda kok. Jangan di masukan ke dalam hati ya"


"Gak masuk ke dalam hati kok Yul, tapi masukin ke dalam jantung aja" Canda Diya.


Yuli tertawa.


"Udah mateng belum masakan mu Diy. Aku lapar Diy" Ucap Yuli menggosok perut nya yang keroncongan.


"Bentar lagi Yul" Ucap Diya mengaduk-aduk masakan nya.


"Aku siapin nasi dan piring di meja makan dulu ya" Ucap Yuli mengambil nasi dan piring di susunya di atas meja makan.


"Tara....ayamnya sudah siap" Ucap Diya menghidang kan sepiring ayam ayam yang ia olah tadi.


Tak menunggu di suruh Yuli langsung menyambar sajian ayam itu.


"Hmm.....enak, enak" Yuli berkomentar dengan manggut-manggut.


"Serius Yul? Menghina atau menghibur sih Yul?"


"Gak menghina, gak menghibur ini fakta apa ada nya" Mulut Yuli penuh dengan makanan yang ada di hadapan nya..


"Kami pinter masak ya Diy"


"Aduh Yuli, kamu lupa ya aku ini anak dari buk Mirna tukang bakso yang terkenal di desa bertuah Sejangat" Ucap Diya berbangga hati dengan ibunya.


"Iya, aku tahu kok Diy. Aku gak menyangka saja kamu pinter masak seperti ini. Setahu ku jika anak tukang bakso ya pintar nya bikin bakso doang gak masakan lain" Canda Yuli. padahal ia memang tahu bahwa sahabat nya itu jago memasak.


"Kan gak seharus nya anak tukang bakso pinter nya bikin bakso doang Yul. Aku dan ibu juga sering mencoba berbagai masakan di youtobe yah untuk menghilangkan kesuntukan. Apa lagi di saat aku down dulu, Ibu selalu membuat ku sibuk membantunya di dapur agar tidak kepikiran dengan kak Ferdi" Ucap Diya. Menyebut nama itu membuat Diya kembali teringat tentang kekasih lama nya itu.


"Apa sekarang kak Ferdi sudah pulang ya?" Ucapnya pelan.


"Apa?" Tanya Yuli.


"Gak bukan apa-apa. Lanjut makan nya" Ucap Diya salah tingkah. Yuli melanjutkan makan malamnya. Sungguh gadis gendut itu makan dengan rakus sekali seperti orang yang tidak di kasih makan satu minggu.


"Pelan-pelan Yul. nanti....." Belum sempat Diya melanjutkan perkataan nya.


"uhuk, uhuk, uhuk, uhuk" Yuli tersedak.


"Tu kan keselek. Belum selesai aku ngomong udah terjadi" Ucap Diya memberikan segelas air putih kepada Yuli.


Yuli menyambar cepat minuman itu dan langsung meneguk nya sampai habis.


"Ah...."


"Pelan-pelan Yul makan nya. Seperti org kelaparan aja kamu"


"Habisnya ini enak sih Diy. Selera makan ku sedang naik Diy jadi ya gini lah aku jika sedang nafsu-nafsunya makan. Nanti jika makan nya dengan perasaan hilang nafsu makan ku Diy.. Kamu seperti gak kenal aku aja" Jelas Yuli.


Diya memang kenal Yuli seperti apa dan bagaimana. Tentu saja dia paham betul luar dalam gadis gendut sebagai sahabat nya itu.


"Diy, besok kamu masak apa lagi? Bisa gagal diet aku Diy" Ucap Yuli kembali menyantap makanan nya.


"Belum tahu, lihat mood ku lah Yul. Jika mood ku membaik, ya aku masak. Jika gak, ya kita beli aja makan di luar" Ucap Diya.


"Wah berarti hari ini mood mu lagi bagus dong? Ada kejadian apa saja di kantor?" Tanya Yuli.


Pertanyaan itu sontak membuat Diya teringat kembali tentang Ivan dan Virda yang menghabiskan waktu berdua dalam ruangan yang sama di kantor nya.


Diya menghentikan makan nya.


"Lo, Diy, kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?" Yuli heran.


"Yul, aku bingung dengan perasaan ku Yul. Aku harus gimana?" Diya menatap kosong.


"Bingung kenapa?"


"Kamu tahu gak, tadi di kantor ada gadis cantik indobel yang datang ke kantor. Kamu tahu dia siapa? Dia adalah Virda sahabat nya Ivan sewaktu mereka kuliah di Australia. Aku tahu Virda itu mempunyai perasaan yang lebih terhadap Ivan. Terbukti dia begitu sinis ya kepadaku saat mengetahui Ivan begitu perhatian kepada ku. Kamu tahu, seharian mereka satu ruangan. Yah di ruangan nya Ivan" Jelas Diya.


"Jadi Ivan gak marah? Atau risih gitu"


"Awal nya enggak sih, tapi lama ke lamaan Ivan nya jadi risih. Tapi ya harus bagaimana. Ivan juga menjaga perasaan Virda agar tidak tersinggung. Ya itu karena ia sesekali datang ke sini. Seperti tadi ia datang ke sini dan besok udah pulang lagj ke singapure untuk bekerja"


"Jadi kaitan nya dengan perasaan mu apa? Kamu cemburu? Ciie....cie....Udah ada getaran cinta nih ye untuk Ivan" Goda Yuli.


"Nah itu dia yang aku bingung. Aku cemburu melihat Ivan sama Virda. Tapi aku belum bisa sepenuhnya menerima Ivan karena bayang-bayang kak Ferdi masih ada di otak ku. Hanya sebatas di otak ku ya, tidak bermaksud juga untuk kembali" Yakin Diya.


"Sudah lah Diy, jangan lah di pikir kan lagi si Ferdi itu. Sudah jelas-jelas ada si Ivan yang sudah mapan, tampan, dan yang pasti dia bukan suami orang" Ucap Yuli yang memang benar adanya.

__ADS_1


"Aku tahu kok. Nih udah ada Ivan di hati ku" Yakin Diya tersenyum.


__ADS_2