Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Apakah ini mimpi?


__ADS_3

"Diy, gimana siang ini kita makan di luar" Ajak Ivan saat mereka telah sampai di kantor.


"Iya, boleh" Ucap Diya mengangguk.


"Oke. Selamat berkerja sweetie" Ucap Ivan tersenyum.


"Ha?" Diya kaget. Diya melihat sekeliling ruangan tempat nya bekerja. Takut jika mereka mendengar apa yang barusan Ivan sebut ke dia. Diya tidak mau nanti di pikir bukan-bukan tentang nya dan Ivan. Pasti teman-teman sekantor akan membuat cerita yang bukan-bukan tentang dirinya. Bisa jadi Diya di bilang sebagai penggoda untuk laki-laki tampan yang bernama Ivan itu.


Secara gadis desa dan kampung seperti dia bisa memikat hati pria tampan itu. Sedangkan Virda yang cantik blasteran tidak bisa memikat hati Ivan. Tentu saja karyawan kantor akan berpikir yang aneh. Begitu lah kira-kira yang di pikir Diya.


"Sudah, jangan sungkan. Santai" Ucap Ivan berlalu meninggalkan Diya yang masih terbengong.


***


Selesai makan siang mereka memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat untuk membeli beberapa cemilan.


Tanpa sengaja, saat Diya keluar dari minimarket tersebut, Diya melihat sesosok laki-laki yang sangat ia kenal di sebrang jalan. Diya mengerut kening nya. Ingin memastikan apa yang ia lihat benar atau tidak.


Mata di merem dan melek secara cepat. Masih sama, masih dia orang nya. Kemudian, Diya menggosok-gosok kedua matanya takut jika ini hanya halusinasi dia saja. Namun, orang itu masih sangat sama.


Orang itu memakai baju kemeja berwarna putih dengan lengan panjang baju tersebut di lipat setengah. Celana kain berwarna cream melekat di kaki nya. Tampak orang itu sedang menunggu seorang. Berkali-kali orang tadi melirik jam tangan nya dan melihat kesibukan di jalan menoleh kanan dan kiri. Tampa melihat di depan, dan di sebe.rang jalan ada sesosok gadis manis sedang memperhatikan gerak gerik nya.


"Kak Ferdi?" Lirih nya.


"Diy, sudah selesai?" Tanya Ivan keluar dari minimarket melihat Diya masih bengong di depan minimarket tersebut.


Diya menoleh sebentar melihat Ivan.

__ADS_1


"Ivan tunggu sebentar ya, aku mau ke..." Diya tidak jadi melanjut kan perkataan nya. Di depan tepat dimana orang tadi berdiri telah terparkir mobil alphard berwarna putih. Dan jelas saja orang tadi langsung masuk ke dalam mobil nya itu dan menghilang saat mobil itu melaju.


Ivan mengerut kening nya melihat gelagat Diya dan melihat ke depan ingin tahu apa yang Diya lihat.


"Kenapa?" Tanya Ivan bingung.


"Kamu mau kemana?" Tambahnya lagi.


Diya tampak mencari kemana sosok yang sangat di rindukan itu pergi.


"Diy, kenapa? Kamu mencari siapa?" Tanya Ivan sedikit bingung.


"Ha? Gak jadi. Bukan apa-apa" Seru Diya lemas.


"Ayo kita kembali ke kantor" Katanya lagi meninggalkan Ivan dan langsung menuju mobil Ferarri hitam milik Ivan.


Di dalam mobil Diya hanya sibuk dengan pikiran nya sendiri.


Ivan melihat Diya yang banyak melamun tidak berkata sepatah kata pun kepadanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Ivan.


"Ha? Gak, bukan apa-apa" Seru Diya melihat Ivan sekilas dan kembali memandang ke luar jendela mobil.


"Ada apa Diy, dari tadi aku perhatikan kamu aneh sekali perangai mu. Semenjak keluar dari minimarket tadi. Ada apa sebenarnya? Ada masalah?" Tanya Ivan dengan hati-hati.


"Coba lah cerita. Siapa tahu aku bisa bantu" Bujuk nya lagi.

__ADS_1


Diya hanya diam tanpa bersuara. Gadis itu masih sibuk dengan pikiran nya sendiri. Laki-laki yang ia lihat tadi merupakan kekasih hati yang selama ini dia tunggu kepulangan nya.


"Tapi apa benar itu kak Ferdi? Kemana ia selama ini? Kenapa sama sekali tidak memberi kabar kepada ku?" Kembali Diya bertanya dalam hati.


Ivan tidak mau menanyakan lagi. Laki-laki itu hanya diam dan beralih pandang ke luar jendela. Sesekali laki-laki itu menatap Diya yang masih setia dan diam nya.


"Sudah lah, lebih baik aku tidak usah memaksa nya untuk bercerita. Cepat atau lambat dia pasti akan menceritakan masalah nya kepada ku. Aku harus sabar dengan ini" Batin Ivan.


***


Sesampainya di kantor, Diya langsung keluar dari mobil tampa menghiraukan Ivan. Diya masih sibuk dengan pikiran nya. Entah perasaan apa yang harus ia gambarkan saat ini. Entah sedih, entah senang, entah kecewa ia pun bingung dengan perasaan nya.


Ada rasa senang di hati karena mengetahui bahwa Ferdi masih hidup. Kecewa karena selama ini dia tidak pernah memberi kabar kepada Diya. Dan sedih karena laki-laki itu telah melupakan nya.


Diya menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja nya. Mendongak kan kepala memandang langit-langit di ruang itu.


Tak terasa beberapa butir air bening mengalir di pipi mulus nya. Diya memejamkan matanya. Membayangkan sesosok laki-laki tampan bernama Ferdi itu di hadapan nya.


Sekilas, terbayang kembali masa-masa dimana mereka bersama. Dari awal pertemuan mereka saat Ferdi tidak sengaja menabrak nya sehingga membuat lutut dan siku gadis itu terluka.


Terbayang dimana laki-laki itu bertanggung jawab atas dirinya yang terluka. Terbayang di mana Ferdi membela dirinya dan ibunya saat Tio dan Khetrine telah memfitnah warung bakso ibunya, Terbayang saat mereka sedang romantis-romantisnya di dalam bus saat melakukan tour ke Pekanbaru, Terbayang saat mereka melakukan first kiss di roro dengan di saksikan oleh bulan sabit yang terlihat samar-samar di balik awan dan di sana lah tempat merek mengucapkan janji setia. Diya tersenyum membayangkan semua kisah manis nya bersama Ferdi.


Namun, senyuman itu menjadi hilang, kini hanya ada wajah cemberut dan sedih di wajah Diya mengingat bahwa mama Ferdi tidak pernah menyetujui hubungan mereka.


Dan pertemuan itu adalah pertemuan terakhir untuk mereka, malam itu juga Ferdi menghubunginya dan mengatakan akan pergi. Semenjak malam itu Diya dan Ferdi tidak pernah bertemu kembali sampai saat ini.


Diya menangis, tangan nya menutupi wajah nya yang penuh dengan air mata kesedihan.

__ADS_1


"Kak Ferdi, kenapa kamu datang kembali di saat aku sudah ingin melupakan mu? Kenapa kamu kembali saat hati ini mulai terbuka untuk laki-laki lain? Sungguh sakit rasa hati ini kak. Pilu rasanya. Entah rasa apa yang harus aku tunjukan saat ini? Aku bingung kak, bingung sekali" Diya masih menangis.


Diya kaget saat ia merasakan ada seseorang menyentuh bahu nya.


__ADS_2