Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Kau, aku dan kenangan kita


__ADS_3

Tiba lah di mana liburan bulan madu Ivan dan Diya. Hari ini mereka berangkat menuju ke pelabuhan untuk berlibur ke kapal pesiar.


"Buk, aku dan Ivan pergi dulu ya. Ibu baik-baik di rumah selama kami pergi.. Jaga kesehatan dan ingat pesan dokter apa kemaren" Ujar Diya menasehati ibu nya.


"Iya nak kamu tenang aja. Ibu pasti akan menjaga diri dan juga menjaga kesehatan ibu agar penyakit ibu nggak kambuh lagi" Ujar Mirna menenangkan hati putrinya.


Diya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Yul, tolong jagain ibu ya.. Aku titip ibu sama kamu" Ujar Diya lagi kepada sahabat nya.


"Iya Diy, kamu tenang saja. Aku pasti akan jagain ibu dengan baik" Ujar Yuli.


Diya sedikit merasa lega karena Yuli untuk menjaga ibunya.


"Kamu juga Yul harus jaga kesehatan ingat sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang" Goda Diya kepada sahabatnya.


"Iya, iya kamu tenang aja aku akan menjaga kesehatanku. Kamu jangan khawatir ya pokoknya kamu dan Ivan harus menikmati masa bulan madu kalian di kapal pesiar agar aku secepatnya akan mendapat ponakan" Ujar Yuli penuh semangat.


"Aduh Yuli kamu ikut-ikutan deh seperti ibu" Ujar Diya.


"Lah, harus begitu dong Diy, Setelah menikah pasti semua orang akan memimpikan momongan. Jadi ya aku dan ibu hanya mendoakan semoga kamu dan Ivan akan segera diberikan momongan. Agar rumah ini dihiasi dengan tangisan dan juga tawa anak kecil mungil Ya untung-untung seperti aku"


"Aamiin" Ujar mereka serempak.


***


"Wah, bagus kapal pesiar nya. Ternyata lumayan ramai juga ya orang yang mau berlibur menikmati suasana keindahan laut" Ujar Diya melihat orang-orang yang hilir mudik di kapal yang sama.


"Ya dong sayang mereka juga ingin menghilang kesentuhkan mereka dengan berliburan dan mereka juga ingin refreshing pikiran yang sedang mumet karena terlalu sibuk bekerja di kantor. Dan ada juga yang ingin menghabiskan masa berdua dengan kasih hatinya untuk menikmati bulan madu mereka seperti kita" Ujar Ivan mengedip kan sebelah mata nya untuk menggoda.


"Jangan mulai deh sayang. Masa di tengah ramai orang seperti ini kamu mulai menggoda" Ujar Diya.


"Kenapa? Istri sendiri kok nggak boleh digoda" Ujar Ivan.


"Malu aja di depan ramai orang seperti ini kita bermesra-mesraan Apa kata mereka nantinya sakit aja di bahan omongan" Ujar Diya.


"Ya sudah kalau begitu kita bermesra-mesraannya di kamar kita saja"


Diya tersenyum dan mengganggu setuju.


***


Diya duduk di atas meja hias untuk menghapus make up yang melekat pada wajah nya. Wanita yang sudah bergelar sebagai seorang istri itu memang biasakan diri untuk membersihkan wajahnya ketika ia hendak tidur.


Ivan mendekati istrinya. Ia memeluk tubuh mungil. istrinya dari belakang.


"Van, aku masih membersihkan make up ku" Ujar Diya.


"Sayang" Ujar Ivan dengan lembut mengartikan ingin di layani oleh sang istri.


Diya berdiri dan menatap Ivan.


Seperti biasa Ivan memulai mencium pucuk kepala istri nya.


Perlahan Ivan menurunkan ciuman nya ke kening, hidung dan berhenti di b*birnya Diya.


B*bir mereka saling menyatu. B*bir Ivan yang tebal dan hangat menyatu dengan B*bir Diya yang lembut dan manis. B*bir ini sekarang sudah menjadi candu bagi Ivan. Laki-laki bertubuh kekar itu memang selalu merindukan b*bir istri nya.


.


Lama mereka saling *******, hingga saling bertukaran saliva. Hingga l*dah kedua nya kini bertemu dan saling bersatu. Bergelut di dalam rongga mulut mereka masing-masing.


Diya memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat dari suami nya. Ini kali pertama mereka akan melakukan hal ini di kapal pesiar seperti yang di impikan Diya selama ini. Kini suami nya kembali menepati janji untuk membawanya bulan madu ke kapal pesiar.


Diya melingkarkan lengan nya ke leher Ivan. Sentuhan demi sentuhan dari Ivan membuat nya terbuai.


Detak jantung kedua nya semakin berdetak cepat. Seperti baru selesai berlari 100 km.


Kedua nya berjalan perlahan menuju tempat tidur tampa melepaskan c*uman hangat yang telah beberapa menit terjalin.


Ivan menekan tengkuk Diya agar c*uman yang mereka lakukan semakin dalam dan dalam lagi.


Seketika tangan Ivan mencoba perlahan memainkan aksi nya. Mere mas dengan lembut bukit kembar nan kenyal yang ada di hadapan nya.


Diya melenguh ke enakan. Untuk yang kesekian kali nya dia merasakan sentuhan demi sentuhan yang membangkitkan keinginan nya melakukan lebih lagi dan lebih lagi. Terbuai dengan sentuhan sentuhan yang dilakukan Ivan kepadanya.


Diya memejamkan matanya. menikmati permainan yang dimainkan oleh suaminya terhadap t*buh nya.


Ivan menurunkan c*uman nya di le*er jenjang istrinya. Ia menjelajahi setiap jengkal demi jengkal le*er yang memang menjadi candu bagi nya. Setiap apa yang ada di tibuh nya Diya memang kini sudah membuat nya semakin candu.. Wangi tubuh Diya yang semerbak akibat suhu badan nya yang meningkat membuat Ivan semakin kecanduan dengan aroma itu.


Diya memberikan ruangan membuka lebih lebar lehernya dengan cara mendongak kepalanya ke atas agar memberi ruang yang cukup luas untuk suami nya bermain dan menyapu dengan bib*r dan l*dah nya.


Secara tidak sadar, Diya mer*mas rambut Ivan dan memeluk kepala suami nya dengan erat.. Sungguh diri nya kini merasa seperti di alam mimpi yang sangat indah.


Setelah puas bermain di gunung kembar yang masih di baluti dengan baju, kini tangan nakal nya Ivan mulai menyelinap masuk ke dalam kain yang menutupi t*buh istrinya. Bersentuhan kulit dengan kulit membuat Diya semakin terbuai dan pasrah.

__ADS_1


Jari jemari Ivan berhenti di sebuah permen berwarna merah muda yang terdapat di puncak kembar nya Diya. Di sama ia memijit, menggosok, dan memerasnya dengan penuh kelembutan. Membuat Diya semakin menggelinjang ke enakan.


Puas bermain di bagian atas, tangan nya Ivan mencoba untuk bermain lebih ke bawah lagi hingga mencapai lembah surga kenyal dan padat di sana. Berbentuk donat yang terdapat yang sangat menggairahkan dan sangat enak jika di cicipi.


Mengusap dengan lembut jari jemari Ivan di sana. Menikmati larva panas yang tampak membasahi lembah surga itu.


Setelah terasa cukup basah, Ivan membuka satu persatu helai kain yang menutupi t*buhnya dan t*buh istrinya.


Hingga tampak lah dada bidang nan kekar di hadapan Diya. Dan terdapat juga sebuah tiang penopang yang telah berdiri tegak siap untuk menyelusuri area lembah surgawi nya.


Ia kini bermain gunung kembar yang terdapat permen kecil di puncak nya dengan menggunakan l"dah nya. Men jilat, men yapu, dan sesekali meng hisap dengan lembut permen kecil itu.


Semakin tergelinjang lah Diya di buat oleh permainan suami nya itu.


Diya memejamkan matanya dengan kuat. Untuk menantikan tiang penopang itu masuk ke tempat nya.


Dengan sekali hentakan gawang Diya berhasil di tembus oleh Ivan. Karena Ivan selalu bermain di gawang nya Diya. Hingga akan sangat mudah bagi Ivan untuk menerobos masuk menembus pertahanan Diya.


Ivan memompa dengan pelan dan lembut saat melihat istri nya mengigit bib*r bawah nya menikmati alunan cinta yang di tunjukan oleh suami nya.


Kembali ia melancarkan aksi nya men jilati kuping Diya dan berbisik "I LOVE YOU sayang. Punya mu memang sempit dan rapat." Ujar nya memuji.


Mendapati kuping nya di ji lati oleh Ivan, Diya semakin menggelinjang.


Terdengar lah suara percikan cairan magma yang membasahi tiang penopang itu hingga mengakibatkan suara itu terdengar.


Kembali Ivan memompa dengan irama percikan yang terdengar di ruangan itu. Kamar itu merupakan sebagai saksi bisu perlepasan hasrat mereka untuk yang kesekian kali nya.


Semakin laju, semakin laju Ivan memompa.


Terdengar suara erangan yang keluar dari mulut mungil gadis yang ada di ba wah nya itu.


Diya meramas sprei yang berwarna putih yang menutupi kasur nya itu.


"Ivan.... Ah.... " Ujar Diya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sungguh ia merasakan kenikmatan yang tiada ketara nya. Seperti nya saat ini ia akan terbang ke awan putih yang lembut dan halus melewati taman bunga indah berwarna warni.


Mendengar Diya mengatakan itu, semakin cepat lah Ivan melancarkan pergerakan nya. Laju, laju, dan laju hingga akhir nya...


"Ah.... " Kedua nya mengerang panjang. Sama-sama mengeluarkan larva magma panas kenikmatan mereka masing-.masing.


Ivan berbaring di samping Diya. Napas mereka terhengah-hengah kecapean karena melakukan update untuk yang kesekain kali nya.


Keringat panas mengalir membasahi t*buh keduanya.


"Terima kasih sayang, kamu memang paling bisa membuat aku menjadi candu dengan mu" Ujar Ivan mengecup hangat puncak kepala istrinya.


Diya tersenyum mendapati perlakuan hangat dari suami nya.


"Iya Van. Sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melayani suami ku" Ujar nya tersenyum manis di hadapan suaminya.


Capek bertukang malam ini membuat kedua nya terlelap tidur.


***


Diya keluar dari kamar nya menikmati matahari pagi yang memancarkan cakrawala nya yang indah di tengah laut itu. Sungguh pemandangan yang sangat ia nanti kan selama ini.


Angin laut yang sejuk menerpa rambut nya yang tergurai membuat wajah nya tertutup oleh rambut nya.


Diya merapikan rambutnya agar tidak menghalangi pandangannya untuk menikmati pemandangan indah di pagi hari yang selama ini ia impikan.


Diya menarik nafasnya dalam-dalam menikmati sejuknya angin pagi yang menenangkan hati nya itu.


"Aduh Van, jika kamu sih gak mau ikut aku keluar menikmati pemandangan yang indah ini rugikan jadinya" Batin Diya.


"Mungkin ia capek lantaran bekerja lembut tadi malam" Bati nya lagi tersenyum membayang kan apa yang terjadi kepada mereka berdua malam tadi.


Ketika Diya ingin berbalik.


Tidak sengaja Diya menabrak seorang anak kecil yang sedang berlari-lari di kapal pesiar itu. Anak itu bersyukur jatuh ke lantai.


"Astagfirullah" Ujar Diya kaget dan membatu anak itu untuk berdiri.


"Sayang maaf ya. Tante tidak sengaja. Mana yang luka" Ujar Diya merasa cemas kepada anak itu.


"Gak apa-apa kok tante. Aku yang salah" Ujar anak itu lagi.


Diya menatap wajah anak itu. Betapa kaget nya ia karena anak itu anak yang pernah ia jumpai saat berada di bioskop.


"Junior" Ujar Diya.


"Tante Ivan" Ujar Junior.


"Kamu di sini juga?"


Junior mengangguk.

__ADS_1


"Papa mengajak aku dan mama untuk liburan di sini tante. Karena papa bilang kami sudah lama tidak liburan bersama.Jadi papa memutuskan untuk mengajak aku dan mama liburan di kapal ini" Celoteh anak laki-laki itu.


"Syukur lah" Batin Diya tersenyum mendengar apa yang di katakan anak yang berusia empat tahun itu.


"Tante di sini sendirian"


"Oh gak sayang, tante di sini bersama Om Ivan. Om Ivan nya lagi tidur di kamar" Jelas Diya.


"Wah, ada om Ivan juga ya? Asyik kita bisa liburan sama-sama nanti nya" Ujar Junior bersorak kegirangan.


Diya hanya tersenyum mendengar ocehan dari Junior.


"Junior, Junior" Teriak Ferdi menjadi putra sulung nya.


"Junior, Jun" Katanya lagi tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena melihat Junior bersama Diya. Gadis yang pernah singgah di dalam hidupnya.


Diya dan Junior melihat Ferdi datang.


"Itu papa cariin" Ujar Diya.


"Papa" Junior berteriak berlari menuju papa nya.


"Sayang, kamu kemana saja. Papa sama mama cariin" Ujar Ferdi.


"Tapi aku main lari-lari sama temen aku pa. Tidak sengaja aku ketabrak sama tante Ivan" Jelas Junior.


Deg....


"Ketabrak?" Batin Ferdi.


Iya momen di mana ia pertama kali bertemu dengan Diya. Saat hujan mengguyur di desa Sejangat. Tidak sengaja ia menabrak gadis itu hingga membuat lutut dan siku nya memar dan berdarah.


Di situ lah awal pertemuan kedua insan berlainan jenis kelamin itu. Hingga mereka merajut cinta dan di pisahkan oleh takdir.


Momen-momen indah itu masih bermain di benak kedua nya. Namun apa lah daya itu hanya lah tinggal kenangan karena semua itu tidak akan mungkin terjadi lagi. Mereka sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing.


"Ivan mana Diy?" Tanya Ferdi memulai percakapannya.


"Ada di kamar" Jawab Diya seadanya.


Ferdi mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya" Ujar Ferdi.


"Tante, tante ayo sarapan bersama kami" Ajak Junior.


Diya tersenyum ramah.


"Maaf sayang, tante gak bisa. Tante harus temenin om Ivan sekarang.. Junior sarapan nya sama mama dan papa aja ya" Tolak. Diya merasa sungkan jika bergabung dengan mereka.


"Yah tante, gak seru dong. Jika sarapan nya ramai-ramai kan seru" Ujar Junior cemberut.


"Sayang, gak boleh gitu, tante Diya nya ada urusan. Jangan di paksain ya jika tante nya tidak bisa" Ujar Ferdi memberi pengertian kepada putranya.


"Ya udah deh tante kalau begitu. Tapi nanti kalau misalnya tante udah selesai urusannya, tante temuin kita ya. Kita akan kumpul bareng, makan bareng, Pasti seru" Ujar Junior penuh harapan.


Diya tersenyum dan mengangguk.


Tidak mungkin dia menghadiri liburan bersama Ferdi dan keluarganya. Karena Diya tidak ingin merusak kebahagiaan Ferdi bersama keluarganya.


Ia mengganggu seperti itu hanya tidak ingin membuat Junior kecewa karena menolak permintaannya.


"Ya sudah tante aku dan papa pamit dulu ya. Dadah tante." Ujar Junior melambaikan tangannya kepada Diya.


Diya membalas lambaian tangan Junior dengan tersenyum senang.


"Syukurlah kak kak Ferdi sekarang sudah benar-benar berubah. Ia benar-benar sudah bisa menerima keluarganya dan sepertinya mereka hidup bahagia. Aku turut bahagia melihat kebahagiaan keluarga mereka" Batin Diya tersenyum senang.


"Sekarang kisah kita hanya lah kenangan saja. Tidak akan bisa terulang kembali. Kita sudah mempunyai kehidupan kita masing-masing. Kini yang tinggal hanya lah Kau, aku dan kenang kita" Ujar Diya dalam hati nya.


***


"Sayang, dari mana saja?" Tanya Ivan saat melihat istri nya baru masuk ke kamar nya.


"Ke luar menikmati cakrawala matahari pagi yang indah. Menghirup udara segar di pagi hari yang cerah ini" Cerita Diya.


"Kenapa tidak bangunin aku sih? Aku juga pengen menikmati matahari pagi dan juga menghirup udara segar bersama kamu di sini"


"Aku nggak tega bangunin kamu. Kamu kelihatannya capek banget dan tidurnya pules banget. Jadi aku memutuskan untuk pergi keluar sendirian deh" Jelas Diya.


"Besok-besok jangan tinggalin aku sendirian lagi di kamar aku juga mau ikut bersama kamu menikmati matahari di pagi hari"


"Iya, iya besok pagi kita akan menikmati Cakrawala Mentari di pagi hari. Dan sekarang kamu mandi karena kita mau pergi sarapan di restoran bawah. Aku sudah lapar sayang" Ujar Diya dengan nada yang terdengar manja.


"Oke, sebentar aku mandi dulu ya" Ujar Ivan bergegas menuju kamar mandi yang ada di kamar tidur mereka.

__ADS_1


__ADS_2