Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Ku turuti kemauan mu


__ADS_3

"Sebentar ya..." Katanya mengambil ponsel di saku celananya.


"Ada apa lagi Keth?" Tanya nya saat tahu siapa yang menelepon. Diya memasang kupingnya lebar-lebar saat Ferdi menyebut nama gadis itu. Bukan kah nama itu yang disebut Yuli sebagai pacar Ferdi.


"Ya...Ya...Nanti kita bahas lagi tentang itu"


"Iya...Da..." Ferdi menutup ponselnya. Pemuda itu tersenyum memandang gadis di hadapannya.


"Maaf ya...Ada gangguan sedikit" Katanya tersenyum hambar.


"Udah kamu fikirkan?" Tanya Ferdi menyambung ceritanya tadi yang sempat terganggu. Lagi-lagi gadis itu mengangguk.


"Ya udah, jika itu sudah menjadi keputusan mu. Aku nurut aja" Ujarnya kecewa atas keputusan Diya tadi.


"Sampai ketemu besok ya" Ujarnya lagi menaiki motornya langsung pergi meninggalkan Diya yang terbengong.


Diya memandang hampa lurus ke depan saat pemuda itu hilang dari pandangan matanya. Ada kekesalan yang tiba-tiba muncul dari lubuk hatinya. Kesal atas keputusan nya yang tadi. Kesal atas sikapnya yang membuat pemuda itu kecewa. Gadis cantik berlesung pipi itu menghembuskan nafas panjang berkali-kali.


"Apakah keputusan tadi itu benar ikhlas dari lubuk hatiku ya?" Tanya nya pada dirinya sendiri. Padahal ia ingin dekat selalu dengan pemuda itu. Pingin duduk berduaan, curhat, pokoknya ia ingin berduaan saja dalam keadaan apapun. Tapi gadis itu sadar, bahwa pemuda yang sangat di idamkan nya itu sudah mempunyai pendamping, sudah ada yang punya. Tidak mungkin ia mendekati dan merusak hubungan mereka yang sudah lama terbina. Diya merasa panas disudut matanya, rusuh hatinya. Tanpa terasa dua butir air bening meleleh disudut mata gadis itu. Air mata kesedihan, air mata kecewa. Diya berdoa dalam hatinya.


...Tuhan.......

__ADS_1


...Jika dia memang untukku,...


...Dekatkanlah ia padaku,...


...Jika tidak.......


...Jangan kecewakan hati ini....


Gadis itu memejamkan matanya yang semakin panas. Panas dengan linangan air mata yang meleleh di pipi. Lama gadis itu memejamkan matanya. Tanpa di sadari sedari tadi Siti memperhatikan tingkah lakunya.


"Diya...Kamu kenapa?" Tanya Siti sedikit bingung melihat sikap Diya yang murung. Diya kaget cepat-cepat menghapuskan air matanya.


"Gak...Gak ada apa-apa kok kak" Jawabnya gugup.


"Udah keluar debunya? Sini biar kakak lihat" Kata Siti datang mendekati Diya.


"Mata yang mana?" Tanya nya cemas.


"Yang kanan" Diya berbohong lagi


"Gak ada apa-apa" Ujar Siti setelah puas mengamati.

__ADS_1


"Mungkin udah keluar kak" Katanya nya menggosok-gosok matanya.


"Pakai obat tetes aja ya? Biar kakak ambilkan"


"Gak usah deh kak" Jawab Diya cepat.


"Biar Diya aja" Tambahnya lagi berlalu di hadapan Siti yang masih terbengong.


"Bisa sendiri?" Diya menoleh lalu mengangguk.


"Ibu mu kemana?" Tanya Siti mengikuti Diya masuk kekamarnya.


"Ke pasar belanja"


"Kakak kedapur dulu ya" Ujarnya setelah melihat Diya mengobati matanya. Gadis itu mengangguk, Siti pun berlalu dari kamar gadis itu. Dengan seribu pertanyaan yang masih bergelayut dibenaknya. Tapi dia gak mempersoalkan nya lagi.


*****


"Kamu jalan kaki lagi Diy?" Sambut Yuli bila melihat sobatnya datang sendirian kesekolah.


"Iya..." Jawab Diya singkat langsung masuk ke kelas.

__ADS_1


"Kenapa? kak Ferdi gak mau nganterin?" Tanya Yuli penasaran mengikuti langkah sobatnya.


"Gak...Aku aja yang melaran dia jangan nganterin aku lagi"


__ADS_2