
"Ih...Ibu gitu sih, suka godain Diya, udah deh jangan di bahas lagi hal yang begituan. Lebih baik ibu siapin Diya makan, kan Diya lagi sakit jadi mau di suapin sama ibu" Gadis itu merayu ibunya.
"Ih...Dasar anak manja. Sudah segede ini masih mau di suapin. Malu dong sama nak Ferdi" Lagi-lagi bu Marni mencubit hidung bangir putrinya.
"Nah...Itukan mulai lagi"
"Iya deh...Iya...Ganti baju dulu sana. Nanti ibu ambilkan makanan nya ya" Bu Marni mengalah.
"Asyik...Di suapin" Diya bersorak kegirangan. Dengan langkah satu persatu, ia pun pergi meninggalkan ibunya. Wajah wanita paruh baya itu tiba-tiba murung.
"Seandainya ayah mu masih hidup, pasti ia bangga mempunyai gadis cantik sepertimu Diya" Tanpa terasa beberapa butir air bening meleleh dipipi wanita itu. Bu Marni menarik nafas panjang. Lalu di lepaskan nya kuat-kuat. Seakan-akan ingin melepaskan beban kesedihannya saat ini.
"Bu....Mana makan siangnya" Wanita itu kaget mendengar teriakan anak gadisnya yang semata wayang itu.
"Iya...Iya...Ibu ambilkan" Jawabnya sambil menghapus air matanya yang meleleh tadi. Ia tak ingin dilihat Diya bahwa dirinya sedang sedih. Pasti akan banyak pertanyaan yang keluar dari gadis itu yang tak ingin dia jawab saat ini.
*****
Malam itu warung bu Marni tampak ramai. Bu Marni dan Siti pembantunya sibuk melayani pesanan-pesanan orang yang makan maupun di bungkus untuk di bawa pulang.
Selain enak, bakso bu Marni terkenal murah, Mungkin karena itulah para pelanggannya tidak mau merubah selera mereka.
Ferdi memarkirkan motornya di pinggir jalan bersamaan dengan pengunjung-pengunjung yang lain.
"Selamat malam bu" Tegur pemuda itu saat melihat Siti gadis perawan yang sudah berumur itu lewat didepannya.
__ADS_1
"Malam" Balas Siti tersenyum manis saat melihat pemuda tampan menegur dan makan di warungnya.
"Mau pesan apa bang" Tanya nya lembut.
"Eng...Enggak, aku gak pesan apa-apa. Aku cuma pingin ketemu Diya" Siti mengerut keningnya.
"Diya"
"Iya...Diya...Anak ibu itu" Jawab Ferdi menunjuk ke arah bu Marni yang sibuk mengantar pesanan pelanggannya.
"Eh...nak Ferdi ya" Sapa bu Marni saat melihat Ferdi tersenyum kepadanya.
"Ya...Buk"
"Iya bu" Kata pemuda itu nyengir.
"Langsung saja kerumah, mungkin Diya ada di kamarnya"
"Terima kasih bu, permisi"
Ferdi keluar lewat pintu belakang warung tidak jauh dari rumah pemiliknya. Sejenak Ferdi berhenti melihat ke dalam saat pintu rumah tidak dikunci.
*****
Siti jadi penasaran, setelah pemuda itu tidak kelihatan lagi, baru lah ia bertanya.
__ADS_1
"Siapa dia kak?"
"Ferdi, teman Diya" Jawab bu Marni acuh.
"Teman Diya?" Ulang Siti lagi.
"Setau saya, Diya tidak pernah mempunyai teman laki-laki. Pacaranya kali"
"Hus...Apa-apaan sih" Sergah bu Marni.
"Teman sekolah Diya" Jelas wanita paruh baya itu lagi.
"Oh...Teman sekolah, kirain pacarnya" Siti nyengir.
"Baru kenal ya" Tanya gadis berumur itu lagi.
"Iya...Tadi pagi, anak itu yang menabrak Diya" Siti terkejut.
"Yang membuat kaki Diya luka?" Bu Marni mengangguk.
"Enak sekali dia datang santai seperti itu. Kenapa kakak tidak memarahinya?" Kata gadis berumur itu geram.
"Untuk apa di marahi? Toh dia udah mau bertanggung jawab atas perbuatan nya"
"Maksud kakak? Betanggung jawab bagaimana?
__ADS_1