Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Hadiah Persahabatan


__ADS_3

"Diya...." Panggil Ivan langsung menghampiri mereka. Diya dan Yuli kaget, mereka saling pandang tidak percaya.


"Ivan? Kamu kenapa pagi-pagi ke sini?" Tanya Diya heran. Begitu juga dengan Yuli.


"Aku pengen ngomong sesuatu ke kamu" Jawabnya lalu beralih pandang ke Yuli.


"Oh....Kalau begitu aku pergi dulu ya" Kata Yuli mengerti lalu meninggalkan mereka. Diya tampak keberatan, tapi gadis itu berusaha bersikap sebiasa mungkin.


"Ada apa?" Tanya nya heran.


"Apakah kamu sudah dapat jawaban atas pertanyaan ku kemaren?" Tanya Ivan penuh harap. Diya tersenyum kecut.


"aaku ingin kepastian dari mu Diy. Agar aku tidak tergantung-gantung" Katanya lagi. Diya bingung tidak tahu harus berkata apa.


"Sebenarnya aku....Aku...." Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Diya sangat gelisah, Ivan menunggu dengan tidak sabar.


"Diya.....Buruan....." Teriak Yuli.


"Aku...Aku...." Diya tidak bisa berkonsentrasi karena Yuli memanggilnya.


"Maaf aku harus pergi" Kata Diya buru-buru.


"Tapi Diy" Ivan tampak kecewa.

__ADS_1


"Kamu tidak mau melihat ku ketinggalan bus kan?" Kata Diya meninggalkan Ivan.


"Justru aku senang" Ivan mengikuti langkah nya.


"Apa?" Diya berhenti melangkah diikuti Ivan.


"Aku senang jika kamu ketinggalan bus. Berarti aku bisa ngomong bebas dengan mu"


"Itu tidak mungkin" Kata gadis itu mempercepat langkahnya. Ivan berfikir keras agar ia tidak kehilangan jejak dan kontak bila ia sampai di kampung nya nanti.


"Diya tunggu" Ivan menarik tangan Diya agar gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Diya tidak senang.


"Apa ini?" Tanya nya.


"Hadiah kecil dari ku. Agar kamu dan aku tidak kehilangan kontak"


"Tapi, aku tidak bisa menerima pemberian dari orang" Kata Diya menolak.


"Please Diy, Terima lah...Aku ikhlas kok" Diya tampak berfikir.


"Please....Sebagai tanda persahabatan kita" Kata Ivan lagi memohon.

__ADS_1


"Diya....Buruan....Bus nya mau berangkat tu" Teriak Yuli lagi cemas, takut kalau-kalau mereka ketinggalan bus. Yuli tidak mau naik duluan karena tidak ingin di tanyai sama Ferdi macam-macam tentang Diya yang sering telat.


"Cepatan...." Lagi-lagi Yuli teriak bimbang.


"aoke...aoke...Aku terima sebagai tanda persahabatan kita" Kata Diya akhirnya, tidak mau terlalu memikirkannya lagi. Karena ia harus buru-buru takut ketinggalan bus.


"Terima kasih" Jawab Ivan senang melihat gadis itu mau menerima pemberiannya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Da....Selamat tinggal"


"Selamat jalan, ingat Diya aku selalu mencintaimu selamanya" Kata Ivan penuh yakin. Diya membalas nya dengan senyuman kecut, lalu berlari meninggalkan Ivan yang sempat kecewa.


"Tapi...Sudah lah jika ia memang tercipta untuk ku, Diya akan menjadi milikku selamanya" Kata nya dalam hati dengan penuh pengharapan.


"Kenapa kamu tidak naik bus duluan?" Tanya Diya mengejar langkah Yuli dari belakang.


"Aku gak mau di introgasi sama kak Ferdi. Di tanyain macam-macam seperti maling yang tertangkap basah" Jawab Yuli seenaknya.


"Benar juga ya" Kata Diya dalam hati.


"Ntar jadi masalah lagi" Gadis cantik itu menghembuskan nafas panjang.


"Eh...Gimana? Benar kan apa yang aku fikirkan kalau Ivan naksir kamu" Tanya Yuli tersenyum menggoda. Diya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Terus apa jawaban mu?" Tanya Yuli bersemangat.


__ADS_2