Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Mantan narapidana


__ADS_3

"Selamat malam tante. Apa kabar?" Sapa Sonia berkunjung ke rumah Ivan. Menemui Ajeng dan Herman di sama.


"Selamat malam Sonia, tumben ke sini. Ayo silahkan duduk" Tawar Ajeng. mereka pun saling cipika cipiki.


"Iya tante, sudah lama aku gak mampir berkunjung ke rumah ini. Kebetulan lewat jadi aku mampir saja" Ucap Sonia basa basi.


"Dari mana kamu? Sendirian saja? Junior, Ferdi mana?" Tanya Ajeng melihat Sonia datang sendirian.


"Iya tante sendiri. Ferdi masih di cafe tan, sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pembukaan cafe baru nya kelak. Aku baru saja pulang dari sana. Kalau Junior ke rumah oma dan opa nya" Jelas Sonia berbohong. Padahal ia tidak pergi ke cafe nya Ferdi. Melainkan memang sengaja ingin ke rumah Ajeng dan Herman untuk merencanakan rencana nya yang pertama.


"Oh begitu. Bagaimana dengan kandungan mu? Apa baik-baik saja?" Tanya Ajeng mengelus perut ponakan nya itu.


"Alhamdulillah baik-baik saja tante. Sudah mau jalan lima bulan tante"


"Wah, sudah masuk trimester kedua ya. Gimana? Apa kandungan yang ini sama dengan saat mengandung Junior dulu.?"


"Gak sih tan, yang ini anteng-ateng aja tan. Gak seperti Junior dulu mual parah banget tan. Yang ini sih mual itu ada juga tapi gak separah Junior dulu" Jelas Sonia dengan kondisi kehamilan nya yang sekarang.


"Mungkin anak ini tahu papa nya sekarang telah berubah dengan bersikap dingin.tidak.terlalu memperdulikannya seperti saat ia mengandung Junior dulu. Yah memang sewaktu awal kehamilan Ferdi juga begitu perhatian sama kandungan nya yang kedua ini. Namun semenjak ia telah ingat kembali dengan semua kisah lalu nya ia berubah seperti sekarang ini. Dingin dan tidak sehangat dulu" Kata Sonia dalam hati.


"Lah kok bengong sih, kenapa sayang? Ada masalah?" Tanya Ajeng khawatir melihat perubahan raut wajah ponakan nya itu.


Soni tersenyum kecut.


"Aku harus mulai dari mana untuk mengatakan nya sama tante" Ucap Sonia.


"Mengatakan apa? Cerita sama tante. Siapa tahu tante bisa bantu" Ucap Ajeng khawatir.


"Iya tante. Aku ingin bertanya sama tante. Apa tante kenal sama Diya gadis yang dekat sama Ivan itu?" Tanya Sonia mulai menjalankan rencananya.


"Iya kenal. Kemaren baru saja Ivan mengenalkan nya sama tante dan om. Emang nya kenapa?" Ucap Ajeng.


"Gini lo tante, apa tante yakin sama gadis itu? Maksud ku apa tante beneran mau merestui hubungan mereka. Secara tante dan om belum begitu mengenali keluarga nya. Bisa saja kan tan gadis itu mempunyai maksud tertentu dalam mendekati Ivan. Yah karena Ivan kaya mungkin" Ucap Sonia.


"Kok kamu bisa ngomong seperti itu sih Sonia. Kenapa kamu bisa berpikir yang bukan-bukan tentang orang lain yang belum tentu ada benar nya" Ucap Ajeng.


"Tante, Diya itu tinggal di kampung yang sama dengan Ferdi sebelum Ferdi pindah di kota ini. Mama Mira juga membenar kan akan hal itu. Ibu nya Diya menjual bakso kan tante? Maksud ku memiliki warung bakso? Benar?" Tanya Sonia.


"Iya benar. Emang kenapa?"


"Tante, ibu Diya pernah masuk penjara lo tan lantaran ketahuan menjual bakso dari daging tikus"


Degg....


Ajeng menutup mulut nya yang terbuka karena kaget dengan apa yang di katakan oleh ponakan nya itu.


"Yang benar kamu Sonia. Jangan menuduh begitu saja tampa kebenaran nya"


"Benar kok tante, Mama Mira yang bilang seperti itu. Dan semenjak itu warung bakso nya tutup. Tidak pernah di buka lagi"


"Tapi kata Diya warung nya tutup karena ibu nya yang sering sakit-sakitan dan Diya yang meminta nya untuk tidak berjualan lagi" Jelas Ajeng.


"Aduh tante,,,, tante percaya begitu saja deh sama orang yang baru di kenal. Mana ada maling yang ngaku jika telah berbuat kesalahan. Jika mengaku penjara bisa penuh lo tante"


Ajeng terdiam. Wanita paruh baya itu tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh Sonia barusan.

__ADS_1


"Tante, Ibu nya dia menghalal kan berbagai cara demi mendapat kan uang. Termasuk yang tadi menjual bakso dari daging tikus. Mereka mempunyai masa lalu yang buruk lo tante. Masa iya tante mau punya menantu yang ibu nya dulu bekas tahanan. Mau tarok di mana muka kita tante. Secara keluarga kita berasal dari keluarga yang baik-baik lo tan" Hasut Sonia semakin panas.


Lagi-lagi Ajeng hanya diam tidak bisa berkata apa pun Ia masih berpikir dengan semua yang di katakan Sonia.


"Jika tante tidak percaya, tanya saja dengan mama Mira. Tante di masa sekarang ini banyak lo orang-orang jahat berkedok sebagai orang lugu yang tidak tahu apa-apa untuk melancarkan rencana nya. Termasuk Diya mendekati Ivan karena sesuatu tujuan. Apa lagi ibu nya sedang sakit sekarang. Jelas dong ia sangat membutuhkan uang"


Ajeng terus berpikir sepertinya hasutan Sonia mulai termakan oleh nya.


"Satu lagi tante, Ferdi dan Diya dulunya pernah sebagai kekasih. Sekarang Ivan telah dekat sama Diya kan? Tante tahu apa yang di lakukan gadis itu? Diya kembali merayu Ferdi tante. Diya ingin merebut Ferdi dari ku. Membuat aku dan Junior kehilangan suami dan ayah nya"


"Apa? Yang benar kamu Sonia?"


"Iya tante, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Mereka sedang berpegangan tangan di minimarket sana. Diya adalah gadis yang tidak baik tante" Ujar Sonia.


"Lebih baik, tante dan om pikirkan lagi deh tentang hubungan Ivan dan Diya. Jangan sampai nanti nya keluarga kita menanggung malu. Ibu nya mantan narapidana dan anak nya seorang pelakor" Ujar Sonia.


Ajeng berpikir keras.


"Tante, kenapa tante tidak mendekat kan Ivan dengan orang yang telah jelas asal usulnya seperti Virda misalkan. Kita telah mengenal Virda sejak lama. Dan keluarganya kita juga sangat mengenal nya. Bibit, bobot keluarga Virda jelas dan tidak ada coret-coretan tentang narapidana dalam hidup mereka" Ujar Sonia. Virda yang sedari tadi berdiri di samping pintu depan rumah Ivan dimana pintu itu langsung terhubung dengan ruang tamu dimana tempat Sonia dan Ajeng ngobrol merasa puas dengan rencananya. Yah karena Sonia telah mendukung nya untuk mendapatkan Ivan.


"Bagus Sonia, terus kan mempengaruhi tante Ajeng agar tante bisa menghalangi Ivan dan gadis kampung yang tidak tahu diri itu" Batin Virda.


"Tante, aku tidak mau nantinya Ivan menyesal dan aku tidak mau juga kehilangan Ferdi. Aku tidak mau anak-anak ku kelak kehilangan papa mereka" Ujar Sonia dengan wajah yang sedih.


Ajeng hanya terdiam membisu. Ia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa saat ini. Mulut nya terkunci sehingga tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Lebih baik aku bertanya kepada Ivan tentang hal ini nanti ketika ia sudah pulang" Batin Ajeng.


***


"Sonia pa" Jawab Ajeng.


"Tumben anak itu kemari. Sudah lama dia tidak datang kesini. Sendirian saja dia ma?"


"Iya pa, makanya dia cepat-cepat pulang takut Junior cariin" Ujar Ajeng.


"Ivan belum pulang ma?"


"Belum pa, tadi dia bilang ada kerjaan yang harus ia selesaikan jadi nya lembur deh pa. Sebentar lagi juga pasti akan pulang. Ayo pa kita masuk" Ajak Ajeng.


Mereka pun masuk ke rumah megah itu.


"Pa, kita tunggu Ivan di sini ya pa. Ada yang mau mama tanyakan sama anak itu" Ujar Ajeng mengajak suaminya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Ada masalah apa ma?" Herman mulai merasa cemas.


"Nanti saja pa tunggu Ivan pulang. Alangkah baiknya bercerita jika kita sudah lengkap" Pinta Ajeng.


Beberapa menit kemudian orang yang di tunggu pun pulang.


"Lo ma, pa tumben ngumpul di sini. Biasa nya di ruang keluarga" Tanya Ivan saat masuk ke rumah nya melihat kedua orang tua nya duduk santai di sofa menunggu kepulangan nya.


"Van sini deh, ada yang mau mama tanya kan sama kamu" Ucap Ajeng serius.


"Serius bener ma. Ada apa?" Ivan duduk di hadapan mama dan papa nya.

__ADS_1


"Van, apa benar ibu nya dia adalah mantan narapidana?"


Degg.....


Sontak hal itu membuat Ivan dan Herman kaget.


"Narapidana apa sih maksud mama?" Tanya Herman tidak mengerti.


"Mama dapat kabar bahwa ibu nya Diya dulu pernah masuk penjara karena telah menjual bakso dari daging tikus. Karena itu ia di tahan dan tidak pernah membuka warung bakso nya lagi" Jelas Ajeng.


"Mama tahu dari mana berita yang tidak benar itu?" Tanya Ivan.


"Sonia yang menceritakan hal ini sama mama. Keluarga Mira berasal dari kampung yang sama dengan Diya bukan. Jadi Mira mengetahui semua tentang keluarga Diya. Apa itu benar Van?" Tanya Ajeng lagi.


"Masalah itu aku belum tahu ma. Diya tidak menceritakan masalah itu kepadanya. Lagian, itu kan sudah masa lalu ma. Apa salah nya jika ibu nya Diya mantan narapidana? Toh yang penting ibu nya sudah insyaf" Ujar Ivan membela.


"Iya sih Van. Mama antara percaya dengan tidak sih dengan ucapan nya Sonia"


"Ma, Tante Mira pasti sudah menghasut Sonia agar memberi tahu yang bukan-bukan tentang keluarga nya Diya. Secara Diya dan Ferdi pernah menjalani hubungan dulu nya. Dan tante Mira sangat tidak menyukai Diya. Terlebih saat ingatan Ferdi sekarang sudah kembali sehingga Ferdi mengingat kembali masa lalu nya bersama Diya" Jelas Ivan.


"Maksud kamu Ferdi amnesia selama ini?" Tanya Herman.


"Iya pa, ma karena tante Mira tidak merestui hubungan mereka Ferdi lari dari rumah dan mengakibatkan kecelakaan itu terjadi membuat sebagian ingatan Ferdi hilang. Saat ingatan nya kembali Ferdi ingin kembali sama Diya"


"Apa Diya setuju?"


"Tentu saja tidak ma, Diya sekarang sudah menjadi kekasih ku. Dan jelas ia sangat mencintai ku. Mama tahu tadi saja tante Mira secara terang-terangan menampar Diya di muka umum ma. Tante bilang Diya lah yang telah merayu Ferdi. Tampa dia sadari semua ini terjadi karena ulah nya yang egois yang hanya melihat status orang dari hartanya" Ucap Ivan merasa geram.


"Dan aku yakin semua yang di katakan Sonia barusan adalah hasutan dari tante Mira agar mama pun ikut-ikutan tidak menyukai Diya" Tambah nya lagi.


"Benar itu Van, tadi Sonia juga bilang bahwa Diya menjadi pelakor karena telah merayu suami nya" Ucap Ajeng.


"Nah, karena itu ma. Mama dan papa jangan gampang percaya sama omongan mereka. Mereka sangat tidak menyukai Diya. Apa lagi tante Mira yang memang dari dulu sangat membenci Diya. Terlebih lagi Ferdi ingin Diya kembali di dalam hidup nya" Jelas Ivan.


Virda yang tadi menunggu di samping pintu di teras depan rumah Ivan merasa sakit hati karena Ivan terus saja membela dan tidak termakan oleh apa yang Sonia katakan. Dan kini Ajeng yang awalnya mulai ragu kembali percaya kepada Diya lagi. Memang gadis indobel itu sempat meninggalkan tempat nya berdiri sekarang saat Sonia pamit pulang. Namun ia tetap setia menunggu di samping rumah untuk memastikan bahwa Ajeng akan membuat Ivan dan Herma percaya akan cerita Sonia.


Melihat mobil Ivan pulang, ia pun kembali ke tempat dia berdiri sekarang.


"Si*al, Kenapa sih susah banget membuat mereka membenci Diya? Apa sih yang gadis kampung itu pakai sampai dia selalu mendapatkan hoki" Ujarnya dalam hati. Menggenggam erat tangan nya merasa sangat marah karena rencana nya gagal.


Yah ia pikir dengan menghasut Sonia yang merupakan keluarga dekat Ivan akan mempermudah nya untuk membuat Ajeng dan Herman tidak merestui hubungan Ivan dan Diya. Tapi rencana ini gagal karena Ivan begitu percaya kepada Diya dan menyakinkan kedua orang tua nya bahwa Diya bukan gadis yang gampang merayu laki-laki.


"Ma, aku akan melamar Diya ma. Liburan ini aku mau ke kampung halaman nya untuk bertemu kedua orang tua nya. Alangkah bagusnya mama dan papa juga ikut untuk melihat calon besan mama dan papa" Saran Ivan.


"Ha, apa tidak kecepatan Van?" Tanya Ajeng.


"Gak ma, aku tidak mau Diya di pandang rendah sama tante Mira. Dengan Diya yang sudah menjadi istri ku kelak aku akan leluasa menjaga nya. Tidak akan aku biarkan orang-orang merendahkan istri ku" Ucap Ivan mantap.


"Kamu mau menikah Van?"


"Iya pa, setelah kita ke kampung halaman Diya, kita akan mempersiapkan acara lamaran disini. Dan beberapa minggu setelah nya kita akan mempersiapkan acara pernikahan kami" Ucap Ivan menerangkan rencana nya.


"Ma, pa, tolong restui hubungan kami ya. Aku sangat mencintai Diya. Aku ingin memilikinya seutuhnya terlepas dari masa lalu nya yang dulu. Dan tentang ibu nya hang pernah masuk penjara, akan aku tanyakan hal itu kepadanya. Aku tidak mau ada yang ia sembunyikan dari ku. Sebelum kita menikah aku mau Diya jujur tentang hal yang terburuk sekalipun" Ucap Ivan lagi.


"Mama dan papa akan merestui kamu kok Van. Apa pun keputusan kamu yang membuat kamu bahagia, mama dan papa akan merestui itu" Ucap Herman.

__ADS_1


"Apa, Mereka akan menikah? Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku tidak terima gadis kampung itu menang dari ku" Ucap Virda geram menahan emosi yang semakin menggebu-gebu.


__ADS_2