
Lalu menggapai ponsel yang tergeletak di atas meja di samping kasur nya.
"Hallo?" Jawab nya dengan suara yang serak dan menguap lebar.
"Hallo... Diya...." Jawab orang yang ada di seberang.
"Kak Ferdi" Gadis itu kaget. Kantuk yang menyerang matanya hilang seketika bila tahu siapa yang menelefon nya. Malam-malam seperti ini timbul pertanyaan di benak nya.
"Iya...Aku" Jawab Ferdi singkat. Nada bicaranya terburu-buru sepertinya ada masalah.
"Ada apa kak? kok menelefon malam-malam begini?" Tanya Diya jadi cemas lalu bangun dari rebahan nya dan duduk di tepi kasur.
"Gak ada apa-apa Diya. Aku hanya mau memberi tahu kepada mu, jika besok aku sudah tidak ada lagi di pakning"
"Emang nya, kenapa? kakak mau kemana?" Tanya gadis itu was-was. Perasaan nya jadi tidak enak.
"Gak tahu Diya, aku gak tahu mau kemana" Jawab Ferdi berat.
"Apa kak Ferdi bertengkar lagi dengan orang tua kakak?" Tanya dia lagi.
Pemuda itu tidak menjawab. Hanya terdengar desah nafas dari ponsel itu.
__ADS_1
"Iya" Jawab Ferdi setelah lama terdiam.
"Dan aku memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pergi dari desa ini"
"Tapi kenapa kak?"
"Biasa lah Diy, orang tua ku tidak merestui hubungan kita. Dan memaksa ku untuk bertunangan dengan Kethrine. Yah....Dari pada dari pada....Kan, lebih baik lebih baik...." Jawab Ferdi bisa juga bercanda.
"Tapi, kak Ferdi mau kemana? Udah larut begini. Aku takut akan terjadi sesuatu sama kakak"
"Gak apa-apa kok Diy, aku bisa jaga diri kok. Oh iya, jika nanti orang tua ku datang dan menanyai tentang aku, bilang saja kamu tidak tahu. Dan jangan katakan bahwa aku pernah menghubungi mu"
"Sudah lah jangan membantah. Pokok nya kamu harus janji ya jangan bilang apa-apa" Diya mendesah berat. Kekawatiran tiba-tiba menyelinap di hatinya.
"Sekarang kak Ferdi mau kemana?" Ulang Diya lagi. Hatinya benar-benar cemas dan fikiran nya jadi galau.
"Gak tahu Diy, tapi aku janji setelah aku dapat tempat tinggal, dan berada dimana. Akan aku kabari lagi ya...Udah dulu ya Diy. Sepertinya pulsa ku mau habis. Jaga diri baik-baik. Aku selalu mencintaimu. Da....Da...." Ferdi memutuskan telfon nya. Diya kaget dan sadar.
"Kak...Kak Ferdi...Kak...." Panggilnya. Sunyi, senyap cuma terdengar suara tulalit saja di ponsel itu.
"Kak Ferdi...." Diya menangis meratapi kepergian kekasihnya yang tiba-tiba.
__ADS_1
...Oh Tuhan........
...Lindungilah kekasih ku,...
...Lapangkan lah perjalanan nya,...
...Dan berikan lah dia ketabahan,...
...Dalam mengarungi hidup ini,...
Gadis itu memejamkan matanya sambil memeluk foto pemuda itu. Hati gadis itu benar-benar sedih, kegelisahan dan kekawatiran bermain dibenak nya.
"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa kepada kak Ferdi. Dan selalu dalam lindungan ALLAH SWT. Aamiin"
Karena terlelah menangis, akhirnya Diya tertidur juga sampai siang.
Diya terbangun ketika dirasakan nya ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Pelan-pelan di buka matanya. Dan di lihat ibunya sedang duduk dan tersenyum lembut di sampingnya.
"Bangun Diya, sudah siang....Biasannya kamu tidak pernah bangun sesiang ini. Kenapa? Capek bergadang tadi malam?" Tanya ibunya membantu melipat selimut anak nya.
"Emang sudah jam berapa buk?" Tanya Diya masih dengan menguap lebar.
__ADS_1