Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Ratu


__ADS_3

"Sayang, besok jadi kamu dan ibu pulang ke kampung halamanmu?" Tanya Ivan kepada istri nya saat mereka hendak Sarapan bersama.


"Insya Allah jadi dong sayang, aku kan sudah janji sama ibu akan membawa ibu pulang ke kampung besok. Lagian aku dan ibu juga sudah sangat merindukan suasana di kampung pada saat acara-acara besar seperti ini" Jawab Diya.


"Besok kamu di anterin sama pak Jarwo ya"


"Pak Jarwo siapa?" Tanya Diya tidak mengerti karena dia baru mendengar nama yang disebutkan oleh suaminya itu.


"Supir kamu besok sayang, kan kamu mau pulang ke kampung halaman. Jadi aku meminta pak Jarwo untuk mengantar kamu ke kampung halaman kamu dan untuk menyetir mobilmu. Kamu kan belum bisa membawa mobil. Ya untuk sementara ini pak Jarwo lah yang mengantar kamu ke mana-mana. Karena pak Udin akan selalu bersamaku saat ke kantor nanti. Terlebih lagi dalam waktu beberapa hari ini aku sangat sibuk mengurus proyekku yang bekerjasama dengan klien dari Singapura kemarin"


"Ya sudah, terserah kamu saja.. Mana yang terbaik untuk kita" Ujar Diya.


"Oh ya, ibu kemana ya? Apa ibu belum bangun juga?" Tanya Ivan mulai mencari keberadaan mertuanya.


"Ibu tadi sih katanya mau jalan-jalan pagi ya. Katanya mau menikmati udara di pagi hari ini dan mau menggerakkan otot-otot yang merasa tegang karena terlalu lama berada di rumah" Jelas Diya.


"Iya ya, kamu benar. Selama ibu pindah bersama kita, kita belum pernah membawa Ibu jalan-jalan keliling kota untuk melihat keramaian kota" Ujar Ivan baru ingat bahwa selama ini dia belum pernah membawa mertuanya untuk melihat keadaan kota asalnya.


"Iya ya Aku juga baru ingat akan hal itu"


"Ya sudah, besok setelah kamu dan ibu pulang dari kampung, aku akan meluangkan sedikit waktu untuk mengajak kalian jalan-jalan ke kota. Menikmati pemandangan di kota agar tidak terlalu bosan di rumah" Ujar Ivan.


"Iya sayang, oh ya Ibu juga belum pernah kan jalan ke rumah mama dan papa. Jadi apa salahnya kita membawa ibu untuk berkunjung ke rumah mama dan papa kamu. Ya mereka kan sudah besanan"


"Kamu bener sayang mereka hanya beberapa kali bertemu ketika kita sebelum menikah dan juga pada acara resepsi pernikahan kita. Selebihnya mereka tidak pernah bertemu kembali. Jadi besok kita akan membawa ibu jalan-jalan ke rumah papa dan mama ya" Jelas Ivan lagi.


Diya tersenyum dan mengangguk setuju mendengar rencana suaminya itu untuk mempertemukan mama dan papanya bersama ibu.


"Assalamualaikum" Mirna memberi salam.


"Waalaikumsalam. Ibu sudah pulang? Ayo kita sarapan bersama-sama bu" Ujar Ivan.


Tanpa ditawar dua kali karena duduk di kursi yang biasanya ia duduk untuk makan. Wanita paruh baya itu mengambil nasi goreng merah yang telah disiapkan oleh Diya untuk mereka sarapan.


"Diy, besok kita jam berapa berangkat pulang ke kampung?"


Tanya Mirna.


"Ya ampun buk, kita pulangnya kan besok Kenapa bisa bertanya sekarang semangat banget sih mau pulang kampung nya" Ujar Diya.


"Iya dong nak, Ibu sudah kangen banget dengan suasana di kampung. Banyak kenangan-kenangan yang indah di kampung halaman kita itu nak terutama bersama ayahmu" Ujar Mirna membayang kan suasana kampung.


***


"Sayang, empat hari lagi ada acara pernikahan Yuli sahabatnya Diya tapi acaranya itu berada di kampung halaman ku di desa Sejangat" Ujar Ferdi kepada Sonia saat mereka sedang duduk bersantai di taman rumah nya.


"Yuli?"


"Iya Yuli" Ulang Ferdi.


"Kamu belum pernah ya bertemu sama dia?"


Sonia menggelengkan kepala nya.


"Oh iya, lupa kalian memang belum pernah saling bertemu. Kamu hanya bertemu dengan Diya lantaran Diya itu istrinya Ivan sepupu mu" Ujar Ferdi baru ingat.


"Kebetulan Yuli mengundang kita untuk datang ke acara pernikahan menjadi kampung empat hari lagi. Kamu mau kita pergi ke sana?"


"Wah, kampung halaman kamu ya. Sepertinya seru dan menyenangkan. Kebetulan aku kan belum pernah pergi ke kampung kamu belum pernah melihat suasana di kampung kamu seperti apa. Sepertinya boleh juga kita pergi ke sana" Ujar Sonia setuju.


"Oh iya ya kita kan belum pernah pergi ke kampung halamanku. Aku juga mau memperkenalkan sama Junior tentang kampung halamanku. Agar dia tahu ayahnya ini tumbuh dan besar di kampung terpencil namun sangat menyenangkan tinggal di kampung halaman itu. Banyak kenangan-kenangan saat kecil di sana seperti mandi di sungai, berpetualangan di hutan, mandi di laut dan lain-lain sungguh indah suasana kehidupan di masa kecil saat itu" Ujar Ferdi mengingat kembali suasana di kampung halaman nya ketika ia masih kecil itu.


"Terlebih kisah cinta ku bersama Diya. Banyak kenangan yang sulit untuk di lupakan di sana" Batin nya. Namun itu semua hanyalah tinggal kenangan untuk mereka berdua.


"Iya sayang, seperti nya seru tuh memperkenalkan kepada Junior suasana hidup di kampung pada masa kamu"


"Iya sayang, tapi aku sekarang gak tahu keadaan di kampung ku sekarang seperti apa. Apakah banyak perubahan atau masih sama seperti yang dulu ketika terakhir kali aku meninggalkan kampung halamanku itu.


"Mudah-mudahan kampung halaman mu masih sama seperti yang dulu ya sayang. Sehingga kamu bisa memperkenalkan di mana tempat-tempat kamu bermain sewaktu kecil dulu kepada Junior" Ujar Sonia.

__ADS_1


"Gak mungkin dong sayang, pasti desaku itu sudah banyak perubahan karena banyaknya pembangunan pembangunan di desa itu. Gak mungkin dong desa itu masih tertinggal dan tidak berkembang selama aku pergi" Jelas Ferdi lagi.


"Walau pun begitu, aku pasti bisa memperlihatkan dan memperkenalkan tempat-tempat ku bermain sewaktu kecil dulu kepada Junior. Agar anakku tahu bahwa papanya yang ganteng ini adalah bocah petualangan saat kecil dulu" Ujar Ferdi bangga dengan pengalamannya dalam berpetualang sewaktu kecil.


"Iya deh, iya ngerti kok dengan bocah petualangan yang berasal dari kampung ini. Namun telah membuat hati ini terpikat dan terpesona" Ujar Sonia mencubit manja pipi sang suami.


Ferdi tersenyum mendapat cubitan manja dari sang istri.


"Papa... Mama" Ujar Junior berlari ke dalam pelukan mama dan papa nya.


"Eh sayang mama sudah pulang"


"Iya, ternyata jagoan papa juga sudah pulang ya" Ujar Ferdi memangku putra sulung nya.


"Udah dong ma, pa"


"Oh ya sayang, empat hari lagi papa mau mengajak kita pergi ke kampung halaman nya"


"Wah, benar pa?"


"Iya sayang, papa mau memperlihatkan dan memperkenalkan tempat-tempat papa bermain dulu sewaktu kecil kepada anak papa ini. Agar anak papa tahu bahwa papanya ini adalah bocah petualang dari kampung yang terpencil namun sangat menyenangkan" Jelas Ferdi dengan bangga nya.


"Wah, seperti nya seru tuh pa" Ujar Junior penuh semangat.


"Oh jelas dong. meskipun kami dulu tinggalnya di kampung di desa terpencil. Tapi kebersamaan kami itu sangatlah menyenangkan. Di mana setelah pulang sekolah ketika air pasang laut, kami memutuskan untuk pergi ke laut berenang. Ketika di sana juga terjadinya hujan lebat dan menyebabkan banjir sehingga di sungai-sungai penuh dengan air. Kami memutuskan untuk berenang mandi bersama teman-teman di kampung. Meskipun airnya itu terlihat kotor Ya namanya juga mandinya di sungai dan di laut tentunya kotor. Tapi itu sangat menyenangkan sehingga kenangan-kenangan manis itu sulit untuk dilupakan" Jelas Ferdi lagi.


"Wah, ternyata seru ya tinggal di kampung halaman papa.. Aku jadi ingin dia tinggal di kampung halaman papa seperti papa agar aku jadi bocah petualang seperti papa bersama teman-teman" Ujar Junior semangat mendengar cerita dari sang papa.


"Kamu tenang aja sayang papa pasti akan membuat kamu jadi bocah petualang besok ketika kita pulang ke kampung halaman papa. Kita akan berpetualang bersama-sama menelusuri setiap pelosok desa. Dimana tempat papa bermain bersama teman-teman papa nantinya"


"Terus pa, apa aku juga boleh mandi di sungai seperti papa dulu?"


"Oh tentu saja boleh dong sayang. Kita aku menjadi bocah kampung yang bahagia besok"


"Asyik.... jadi nggak sabar aku mau pergi pulang ke kampung halaman papa"


"Iya, empat hari lagi ya Sayang. Kebetulan teman papa ada yang melaksanakan acara pernikahannya di kampung dan dia mengundang kita. Jadi kita akan pergi ke kampung halaman papa nanti bersamaan dengan hari pernikahannya"


"Ya sudah, sekarang kamu masuk ke kamar terus ganti baju kemudian kamu makan siang ya bersama bibi"


"Oke mama" Ujar Junior berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan makan siang.


"Tapi sayang, apa kamu nggak apa-apa melakukan perjalanan ke kampung halamanku nanti? Soalnya kan kamu masih belum terlalu sehat sedangkan perjalanan yang kita ketempuh akan memakan waktu 4 sampai 5 jam" Ujar Ferdi.


"Aku sudah mendingan kok sayang. Lagian kita kan melakukan perjalanan yang menggunakan mobil dan jangan bawa mobil itu menyebut-ngebut jika perlu kita pergi ke sana sebelum hari h-nya agar kamu lebih banyak mempunyai waktu untuk memperkenalkan dan memperlihatkan tempat-tempat mau bermain bersama Junior"


"Wah, Idemu bagus juga tuh sayang kita akan pergi dua hari sebelum hari H ke kampung halamanku agar aku bisa mempunyai uang banyak sekali waktu untuk menjadi anak kampung bersama Junior" Jelas Ferdi.


***


Di rumah Yuli masih dipenuhi dengan para undangan rewang untuk membantu meringankan pekerjaan-pekerjaan tuan rumah yang telah mengundang mereka.


Suasana hiruk pikuk terdengar di setiap ruangan yang ada di rumah itu. Tak kalah anak-anak kecil berlarian bermain bersama mereka yang hadir mengikuti kedua orang tuanya yang sebagai undangan rewang di rumah itu.


Begitulah suasana kemariahan di kampung halaman Ferdi Dan Dia serta Yuli saat acara pernikahan akan dilaksanakan. Kebersamaan dan kekompakan mereka satu kampung yang dirindukan oleh Diya dan Mirna.


"Sayang kapan Diya dan keluarganya datang ke sini?" Tanya Rahayu.


"Kata nya sih besok bu. Tapi yang datang duluan hanya Diya dan buk Mirna. Ivan sih belakangan" Jelas Yuli.


"Kenapa?"


"Maklum lah buk, namanya juga GM ya tentunya sibuk lah bu dengan pekerjaannya di kantor. Apalagi saat ini dia sedang mengurus beberapa proyek yang ia menangkan di tendernya jadi ya sibuk lah kan bu" Jelas Yuli.


"Oh gitu ya nak" Rahayu mengangguk mengerti.


"Iya buk, jadi Diya lah sama bu Mirna yang datang duluan ke acara pernikahan ku nanti bu" Jelas Yuli lagi.


"Oh ya, ini ibu bawakan lulur untuk kamu. Sini ibu usap kan ke seluruh tubuh kamu ya" Ujar Rahayu.

__ADS_1


"Ini lulur untuk merawat kulit kamu sebelum menjadi pengantin. Ketika sudah menjadi pengantin nanti kulit kamu akan terlihat cerah dan aura-aura bahagia akan terpancar dari wajah kamu" Jelas Rahayu.


"Oke buk, ini usapkan ya buk" Ujar Yuli.


"Ternyata enak juga ya menjadi calon pengantin apa-apa semua serba di layanin. Kerja nya Hanya duduk di kamar, baring di kamar pokok nya serba di kamar" Ujar Yuli.


"Begini lah mungkin ya ketika aku menjadi seorang Ratu yang hidup pada zaman kerajaan atau pada cerita dongeng-dongeng yang ku baca sewaktu aku kecil dulu. Semuanya serba dilayani" Ujar Yuli lagi.


"Yey, mau nya kamu tu" Ujar Rahayu mencubit pipi tembem putri nya.


Ibu dan anak itu tertawa bahagia.


***


"Diy, kita beli hadiah apa ya untuk Yuli?" Tanya Mirna saat mereka packing baju-baju mereka ke dalam tas.


"Aku juga bingung buk mau kasih kado apa untuk dia"


"Gimana kita pergi berbelanja aja yuk mencari kado untuk Yuli" Ajak Mirna.


"Wah ide yang bagus juga tu buk. Ayo kita ke mall, Siapa tahu ada barang yang cocok hadiah untuk Yuli" Ujar Diya.


"Iya bener juga" Ujar Mirna.


"Ya sudah selesai beres-beres, kita langsung siap-siap untuk ke mall. Sekalian merasakan mobil baru" Ujar Diya lagi.


"Iya bener itu" Ujar Mirna.


***


"Hallo sayang, aku mau bilang sama kamu dan mau minta izin. Bahwa aku dan ibu mau ke luar ke mall membeli hadiah untuk Yuli" Ujar Diya saat diri nya sudah selesai berdandan kemudian langsung menghubungi suaminya.


"Oh, ya udah pergi saja. Aku izin kan. Lagian ibu bisa berjalan-jalan di mall melihat suasana di mall. Kasihan ibu selalu di rumah" Jawab Ivan.


"Oke sayang, terima kasih ya"


"Iya sama-sama. Hati-hati di jalan"


"Oke sayang Love you" Diya menutup ponsel nya.


"Love you too" Jawab Ivan.


***


"Ibu, lihat deh. Ini sepertinya bagus untuk Yuli" Ujar Diya memperlihatkan pakaian lingerie bewarna merah kepada ibu nya.


"Apa ini Diya? pakaian seperti apa ini tipis banget" Ujar Mirna tidak mengerti.


"Aduh ibu, ini pakaian haram untuk sang suami buk"


"Aduh, Diy, pakaian haram bagaimana? Sudah tahu haram masih juga mau kamu beli untuk Yuli"


"Ibu maksudnya itu Ini pakaian haram untuk orang yang melihat dan halal untuk suami yang melihatnya bu. Ini pakaian yang akan membuat suami kita berpikir tidak karuan ketika dia melihat kita memakai baju ini. Cocoklah ini untuk pengantin baru bu" Jelas Diya.


"Jadi ini pakaian untuk sang suami"


Diya mengangguk membenarkan.


"Aneh-aneh saja pakaian sekarang ini" Ujar Mirna.


"Ya sudah, kita beli yang ini aja ya buk"


"Terserah kamu lah, ibu gak ngerti dengan pengantin baru sekarang. Pakaian seperti ini ternyata ada di sini. Ibu pikir hanya ada di negara barat sana"


Diya tersenyum geli mendengar ucapan ibu nya.


"Sekarang sudah zaman modern buk. Semua jenis pakaian pun sudah bebas masuk ke negara kita" Jelas Diya.


Mirna mengangguk-ngangguk mengerti.

__ADS_1


"Ibu mau cari hadiah yang lain saja lah. Gak mau ibu hadiah seperti ini" Ujar nya lagi mencoba mencari hadiah lagain.


__ADS_2