
"Syukurlah kamu masih ingat dengan ku" Ujar Ivan tampak bahagia.
"Yah...Apa kabar mu Diy?" Tanya nya.
"Seperti yang kamu lihat sekarang" Jawab Diya dengan tersenyum dan membalas uluran tangan Ivan. Mereka pun berjabat tangan.
"Kamu tidak banyak berubah masih seperti dulu. Sederhana, dan makin cantik. Aku sangat senang bertemu kembali dengan mu"
"Aku juga" Jawab Diya membalas senyum Ivan. Ada rasa canggung di antara mereka.
"Kamu yang banyak berubah sekarang. Gaya mu, penampilan mu, dan yah...Sudah memimpin sebuah perusahaan lagi" Puji Diya dengan ikhlas.
"Yah...Ini semua bukan apa-apa Diya. Aku hanya di percayai papaku untuk memimpin perusahaannya. Yah....Beginilah aku gaya hidup ku. Gue gitu loh..." Canda Ivan. Merekapun sama-sama tertawa untuk mencairkan suasana.
"Oh ya....." Ujar Ivan memberi saran.
"Gimana kalau aku traktir kamu makan siang hari ini. Yah....Untuk merayakan pertemuan kita. Gimana? Kamu setuju?"
"Tapi...Bagaimana dengan interview ku?"
"Itu bisa di atur. Kamu tenang aja. Aku yakin kok kamu pasti di terima di perusahaan ini" Kata Ivan.
__ADS_1
"Tapi...Yang lain?"
"Tunggu sebentar" Ivan mengangkat telfon suara panggilan nya.
"Tolong kamu urus calon-calon pelamar ke tempat Maneger utama ya...Bilang kalau aku ada urusan penting. Oke" Ivan menutup telfon nya.
"Yah...Bereskan?" Katanya lagi tersenyum.
"Tapi...."
"Kenapa? Kamu tidak percaya sama aku?" Diya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ayo..." Kata Ivan membukakan pintu untuk Diya. Mereka pun sama-sama keluar dari kantor bahkan gedung itu.
Di dalam perjalanan Diya tidak banyak bicara. Hanya Ivan yang banyak bertanya tentang gadis itu.
"Diya...Diya...." Kejut Ivan saat gadis itu tidak menjawab pertanyaan nya.
Diya kaget dan cepat-cepat menguasai suasana.
"A....Ada apa?" Tanya Diya tergagap.
__ADS_1
"Kamu melamun apa sih?" Tanya Ivan.
"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya nya masih dengan menyetir mobil.
"Gak....Gak ada apa-apa kok" Jawab Diya mencoba tersenyum.
"Cuma memikirkan tentang ibuku"
"Emang nya sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengan ibumu?"
"Baru dua hari aku meninggalkan nya dan aku sangat merindukan nya" Jawab Diya menatap lurus kedepan.
Ivan tersenyum.
"Berarti baru dua hari kamu tinggal di kota ini?" Diya mengangguk.
"Jadi kamu belum pernah kemana-mana. Gimana nanti setelah selesai makan siang kita jalan-jalan. Dan aku akan membawa mu ke tempat favorit ku. Kamu pasti akan menyukainya"
"Gak usah repot-repot Van. Aku gak apa-apa kok. Lagian kamu kan sibuk ngurusin pekerjaanmu" Tolak Diya tidak enak. Lagian gadis itu tidak mau mengenang masa lalu bersama pemuda itu.
"Gak apa-apa. Semua sudah beres. Tinggal angkat telfon, dan beres deh" Jawab Ivan masih suka bercanda seperti dulu.
__ADS_1
Diya tersenyum. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan Ivan kembali. Pemuda yang selalu mengejarnya saat dirinya berkunjung ke sekolah pemuda itu. Pemuda itu terang-terangan mengungkap kan cinta padanya tampa rasa sungkan di saat Diya sudah mempunyai kekasih yaitu Ferdi. Yah...Ferdi pemuda yang sangat ia cintai yang sampai sekarang tidak pernah memberi kabar dimana rimbanya hidup atau mati. Diya menarik nafas panjang lalu di hembusnya kuat-kuat bila mengingat kisah cintanya bersama pemuda yang bernama Ferdi itu.