Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Rasa


__ADS_3

Di dalam mobil saat Ivan mengantar Diya pulang ke rumah kos nya. Tempat dimana selalu setia akan menunggu kepulangan nya. Tempat berteduh dari terik nya matahari dan hujan badai.


Gadis itu kelihatan gelisah, pandangan nya lurus ke depan tanpa menoleh lelaki yang ada di samping nya. Sesekali ia menarik nafas panjang dan di hembus nya perlahan untuk menenangkan hati yang tengah bergemuruh.


Ivan menatap heran akan sikap Diya barusan. Lelaki itu mengerut kening nya melihat sekretaris cantik nya gelisah.


"Kamu kenapa Diy?" Tanya Ivan memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Ha?" Diya kaget.


"Kamu kenapa? Dari tadi saya perhatikan kami gelisah sekali. Kenapa?" Kembali Iva bertanya.


"Ha? Bukan apa-apa pak?" Kembali diam.


Sebenarnya Diya ingin bertanya apakah ia akan berkerja lagi besok hari mengingat ia telah mendengarkan percakapan antara Ivan dan Virda. Dimana Virda mau mengantikan posisinya untuk jadi sekretaris nya.


Namun, perasaan bimbang menghantui nya. Jika benar Virda akan mengganti posisinya, apa dia akan di pecat? Bukan kan lucu baru satu hari bekerja sudah di pecat? Atau ia akan berpindah di bagaian lain di perusahaan pemuda itu.

__ADS_1


Kembali Diya menarik napas panjang. Ia terus memainkan kedua ibu jari bergantian di remas nya untuk menghilangkan kegundahan. Di mulai dari manakah ia harus bertanya? Sungguh perasaan nya jadi bingung.


"Pak, eh Van" Kata nya memberanikan diri.


Ivan menoleh dengan tatapan yang sayu. Tatapan penuh rasa suka dengan gadis yang di samping nya. Diya jadi salah tingkah melihat Ivan menatapnya begitu.


"Gak jadi" Jawab gadis itu cepat.


Ivan tersenyum kecil melihat gadis di sampingnya salah tingkah. Ada rasa bahagia saat bersama dengan gadis impian nya selama tujuh tahun itu.


"Ha? Bukan" Jawab Diya cepat.


"Terus apa? .Kenapa gelisah sekali kamu?"


"Sa...ya....sa...say...." Diya terbata-bata.


"Aduh bagaimana ya?" Pekik batin gadis itu.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya di tanpa sengaja aku mendengarkan percakapan kamu dan Virda saat makan siang" Ivan tampak mengerut kening nya mendengar dengan serius apa yang di katakan oleh Diya.


"Virda ingin menjadi sekretaris mu? Apa aku di pecat? Soalnya kamu setuju atas permintaan nya. Apa besok aku masih bekerja?" Kata Diya dengan tegang. Ivan kembali tersenyum manis melihat tingkah polos Diya.


Ivan memberanikan diri memegang kedua pipi mulus gadis itu. Dia melihat mata Ivan dalam-dalam.


"Kamu sungguh polos Diya, tidak semudah itu aku menerima karyawan tanpa ada interview atau membuka lowongan kerja. Kamu tahu sendiri posisi yang aku sediakan di perusahaan ku telah terisi oleh mu" Kata Ivan.


"Begitu pun hati ku telah lama di isi oleh mu" Sambungnya dalam hati.


"Jadi maksud nya saya tidak di pecat?" Tanya Diya tersenyum senang. Ivan menggelengkan kepala nya.


"Tapi tadi Virda datang...."


"Diya hanya ingin berpamitan untuk pulang besok" Jawab Ivan dengan tangan yang .masih di pipi gadis itu.


Diya membiarkan nya, entah apa yang ada di hati gadis itu sekarang. Ia merindukan seperti ini, seorang lelaki yang berkata dengan lemah lembut kepada nya. Namun hanya saja lelaki itu sekarang entah kemana. Dan saat ini ia dapatkan dari Ivan.

__ADS_1


__ADS_2